เข้าสู่ระบบ“Dok, pasien di ruang 3... dia enggak bernapas!”
Aku baru saja mengganti baju jaga ketika suara panik itu menghantam telingaku. Seorang perawat muda dengan wajah pucat nyaris tersandung saat masuk ke ruang staf. Nadanya gemetar, dan tangan yang memegang tablet digitalnya berkeringat.
Aku tak menjawab. Kakiku bergerak lebih dulu dari otakku, seolah ada sesuatu di dalam diriku yang menarikku menuju ruang 3 tanpa perlu berpikir.
Lorong rumah sakit pagi itu masih lengang. Lampu neon di langit-langit berkedip samar, dan aroma antiseptik terasa lebih menyengat dari biasanya. Tapi yang paling mencolok adalah keheningan. Tak ada suara—hanya desing samar seperti dengung listrik di kepala.
Langkahku mempercepat, lalu berhenti di depan ruang 3.
Di dalam, seorang wanita tua terbaring lemas. Selang oksigen terpasang, tapi dadanya tak naik-turun. Monitor detak jantung menunjukkan garis lurus. Wajahnya pucat kebiruan. Seorang dokter residen dan dua perawat sudah mencoba CPR, tapi tidak ada respons.
“Apa sudah diberi adrenalin?” tanyaku cepat.
“Sudah, 1 miligram. Tak ada reaksi,” jawab dokter residen sambil menekan dada pasien dengan ritme yang makin terburu.
Aku menatap tubuh wanita itu. Tak ada detak. Tak ada napas.
Tapi ada sesuatu.
Aku mendekat, perlahan. Mengangkat kedua tanganku, lalu menempatkan telapak tangan kanan di atas kening pasien.
Tidak untuk CPR. Bukan untuk menekan. Hanya menyentuh.
Dan saat itu terjadi, dunia menjadi diam total.
Semua cahaya di ruangan itu meredup. Suara teredam. Dan aku kembali berada di tempat itu—gelap, hening, kosong.
Tapi kali ini, aku tidak sendirian.
Di depanku, samar-samar, muncul sosok anak kecil dengan wajah pucat. Matanya besar, tak berkedip. Ia duduk bersila di udara, seperti melayang di ruang kosong. Tangannya menunjuk ke arahku.
“Dia belum mau pergi. Tapi tubuhnya... hampir menutup jalur pulang.”
Suaranya bukan seperti suara anak-anak biasa. Ia seperti gema yang menggema dari dalam dadaku. Seolah aku yang berbicara, tapi dengan lidah orang lain.
“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku—atau berpikir? Aku bahkan tak tahu apakah aku benar-benar mengeluarkan suara.
Anak itu tersenyum.
“Buka gerbangnya. Dengan napasmu.”
Dan seperti itu, semua kembali.
Aku tersentak. Ruangan 3 kembali seperti semula—lampu menyala, mesin berbunyi, perawat menjerit. Tapi dadaku terasa berat, seperti ada batu besar yang mengendap di dalam paru-paruku. Napasku memburu.
“Aku butuh waktu,” kataku pelan.
Lalu, entah kenapa, aku membungkuk. Wajahku mendekat ke wajah wanita tua itu. Dan aku mengembuskan napas, sekali—pelan dan panjang—tepat di atas mulutnya.
Perawat di sebelahku melotot. Dokter residen berhenti menekan dada pasien.
Dan tiba-tiba...
Detak.
Satu garis lurus berubah menjadi dentuman tunggal.
Detak. Detak. Detak.
Mesin monitor kembali hidup. Paru-paru wanita itu mengembang. Dadanya bergerak.
Suara napas pertama seperti ledakan di telingaku. Perawat menjerit pelan, tak percaya. Dokter residen mundur dua langkah, matanya penuh ketakutan.
“A-apa... barusan... kau—”
“Aku enggak tahu,” potongku cepat. “Tapi dia hidup.”
Beberapa menit kemudian, ruangan dipenuhi dengan dokter dan kepala departemen. Aku duduk di sudut, menatap lantai. Tanganku masih gemetar. Bukan karena takut—tapi karena rasa asing yang mengalir dalam tubuhku seperti arus listrik halus.
Seorang perawat senior mendekatiku.
“Kau tadi... menarik napas pasien dengan... napasmu?” tanyanya hati-hati.
“Tidak. Aku hanya—” Aku terdiam. Bahkan aku tak yakin bagaimana menjelaskannya. Rasanya bukan seperti sihir, bukan juga ilmu kedokteran. Tapi nyata. Sangat nyata.
Kepala IGD, Dr. Wira, memanggilku ke kantornya.
“Apa yang sebenarnya terjadi tadi?” tanyanya, menatapku dari balik meja kerjanya yang berantakan.
Aku menunduk. “Saya hanya... menyentuhnya. Lalu merasa seperti... masuk ke tempat gelap. Saya melihat sosok. Anak kecil. Dia bilang tubuh pasien hampir menutup jalur pulang. Lalu saya... mengembuskan napas.”
“Dan dia hidup kembali?” Wira menyipitkan mata.
“Ya.”
Dia terdiam lama, lalu mengangguk. “Kau istirahat dulu hari ini. Jangan cerita ini ke siapa pun. Kalau perlu, anggap ini tidak pernah terjadi.”
Aku mengangguk, lalu berdiri. Tapi di ambang pintu, aku menoleh.
“Pak... kalau ini terjadi lagi, apa yang harus saya lakukan?”
Wira tak menjawab. Ia hanya menatapku lama, lalu berbalik menghadap jendela.
Sore hari, aku kembali ke kamar kontrakan.
Langit mendung. Aroma hujan masih tertinggal di udara. Aku duduk di kasur sambil menatap telapak tanganku.
“Apa kau bagian dari tubuhku sekarang?” bisikku lirih. “Atau kau... sesuatu yang lain?”
Tak ada jawaban.
Tapi di ujung kuku jariku—aku melihat satu garis halus berwarna keperakan. Nyaris tak terlihat jika tak diperhatikan.
Aku memejamkan mata, mencoba memanggil kembali sosok anak kecil yang tadi kulihat. Tapi yang muncul hanya gelap biasa. Tidak ada yang spesial.
Mungkin ini hanya efek trauma. Atau... mungkin tidak.
Saat malam mulai turun, aku mendapat pesan dari rumah sakit.
"Mas Raditya, pasien ibu Sri tadi siang tiba-tiba mencari Anda. Dia ingin bicara. Sekarang. Katanya... dia mimpi sesuatu.”
Aku menatap layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya bangkit dan mengambil jaket.
Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya.
Langkahku pelan tapi pasti, meninggalkan kamar kontrakan menuju tempat yang mulai terasa asing: rumah sakit.
Tapi saat aku sampai di IGD, perawat di depan ruangan menghampiriku dengan ekspresi bingung.
“Maaf, Mas Radit... Ibu Sri, pasien yang tadi hidup kembali... dia barusan—”
Dia terhenti. Lalu menunduk.
“Dia sempat pingsan lagi, nyaris meninggal... tapi sebelumnya dia menulis sesuatu. Untuk Anda.”
Aku terdiam.
Perawat itu menyerahkan selembar kertas kecil. Kertas yang terasa panas di tanganku, meski jari-jari ini sedingin batu.
Aku membuka lipatan kertas itu perlahan.
Di dalamnya, hanya ada satu kalimat, ditulis dengan tangan yang gemetar:
"Bukan kau yang menyembuhkan aku. Tapi sesuatu yang menunggu untuk keluar dari dalam dirimu."
“Jangan menoleh.”Suara itu terdengar jelas di dalam kepalaku.Bukan melalui telinga. Bukan pula seperti bisikan yang datang dari balik dinding. Suara itu muncul begitu saja, seolah sudah lama tinggal di pikiranku dan baru memilih waktu yang tepat untuk berbicara.Aku mematung di depan pintu bernomor 039.Pantulanku di cermin kecil masih berdiri tanpa bergerak. Matanya tidak berkedip. Wajahnya tetap datar, jauh lebih tenang daripada diriku yang sebenarnya.“Radit...”Intan menyentuh lenganku pelan.“Ada apa?”Aku tidak langsung menjawab. Tenggorokanku terasa mengering.“Jangan menoleh,” bisikku.“Apa?”“Barusan... ada yang bicara.”Wajah Intan langsung berubah tegang.“Dari mana?”Aku menunjuk cermin.“Dari situ.”Ia ikut mendekat.Namun ketika ia melihat ke dalam cermin,
“Rumah sakit ini... cuma punya enam lantai.”Suara Intan nyaris pecah. Jemarinya masih mencengkeram lenganku, dingin seperti baru saja direndam air es. Di lorong yang kini kosong, gema pengumuman itu terdengar berulang, memantul dari dinding ke dinding hingga sulit ditebak dari mana asalnya.Aku menelan ludah.“Kalau memang hanya ada enam lantai...” kataku perlahan, “berarti lantai ketujuh memang tidak pernah diperuntukkan bagi orang biasa.”Arlan masih berdiri beberapa meter di depan kami.Ia tidak bergerak. Tidak berkedip. Wajah pucatnya tetap menghadap lurus ke arahku.Aku memberanikan diri melangkah mendekat.“Arlan?”Tak ada jawaban.“Kalau kamu memang Arlan Prakoso... katakan sesuatu.”Beberapa detik berlalu.Lalu bibirnya bergerak sangat pelan.“Jangan... terlalu dekat.”Suaranya terdengar seperti dua orang berbicar
“Intan... jangan bergerak.”Suaraku nyaris tidak terdengar. Tenggorokanku mendadak kering ketika mataku terpaku pada layar ponsel. Foto itu masih terpampang jelas. Aku, Intan, dan sosok pasien yang berdiri beberapa langkah di belakang kami.Yang membuat bulu kudukku berdiri bukan hanya keberadaan pria itu.Melainkan waktu pengambilan fotonya.Satu menit yang akan datang.“Ada apa?” tanya Intan pelan.Aku mengangkat ponsel tanpa menjawab.Ia mendekat, lalu membaca tulisan di layar.Kulihat wajahnya perlahan kehilangan warna.“Ini... editan?”Aku menggeleng.“Ponselku mati sejak tadi.”Belum sempat kami mencerna apa yang kami lihat, detik di pojok layar mulai bergerak.00:59Hitung mundur.Aku dan Intan saling berpandangan.“Kalau foto ini benar...” bisik Intan.“...ber
“Langitnya... kenapa merah?”Suaraku terdengar serak. Bahkan aku sendiri nyaris tak mengenalinya. Tenggorokanku masih terasa kering setelah akhirnya membuka mata di ruang perawatan itu. Aroma antiseptik memenuhi udara, bercampur dengan bau hujan yang merembes masuk dari jendela yang sedikit terbuka.Intan tidak langsung menjawab.Ia mengikuti arah pandangku ke luar jendela. Wajahnya perlahan kehilangan warna. Jemarinya yang semula menggenggam tanganku mulai mengencang tanpa ia sadari.“Aku...” katanya pelan. “Aku juga baru melihatnya.”Aku mengerutkan dahi.Langit benar-benar merah.Bukan merah senja. Bukan pula merah karena cahaya matahari yang dipantulkan awan. Warna itu pekat, seperti lapisan darah tipis yang membentang di seluruh cakrawala. Anehnya, orang-orang di halaman rumah sakit tetap berlalu-lalang seperti biasa. Perawat mendorong kursi roda. Seorang petugas kebersihan menyapu daun. Dua keluarga pasien berbincang di bawah pohon.Tak seorang pun mendongak.“Mereka tidak melih
"Radit..."Suara Intan terdengar samar, seperti melintasi lapisan-lapisan kaca tebal. Tubuhku yang berbaring di ranjang tampak tenang. Tapi aku, entah siapa versi aku yang sedang berdiri di sini, hanya bisa memandang tanpa mampu menyentuh.Aku mencoba mendekat.Tapi ruangan itu seperti menolakku.Setiap kali aku mengambil langkah, jaraknya tak berubah. Seolah ada jarak tetap antara aku yang berdiri dan tubuhku yang terbaring."Kenapa aku tidak bisa kembali?" tanyaku pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri.Anak kecil itu muncul lagi di sampingku, kali ini duduk di lantai putih, memainkan serpihan kaca kecil yang memantulkan cahaya redup.“Karena dia belum selesai menggunakanmu,” katanya.Aku menoleh cepat. “Siapa?”“Yang memanggil semua ini jadi mungkin.”Kata-kata itu menggantung di udara. Sunyi. Lalu bergema, seperti bayangan dari tempat lain.“Siapa yang memanggil?”Anak kecil itu berhenti bermain, memandangku dengan mata kosong.“Kamu.”Segalanya kembali runtuh.Ruang rumah
Cahaya.Itu hal pertama yang menyambutku saat aku membuka mata. Bukan cahaya matahari, bukan pula lampu ruang rawat yang biasa. Ini lebih seperti semburat putih susu yang melingkupi segalanya. Datar. Tak ada arah. Tak ada bayangan.Aku terbaring di atas ranjang besi, tangan dan kakiku tidak diikat, tapi aku juga tidak bisa bergerak.Rasanya… seperti tubuhku tidak sepenuhnya milikku.“Radit.”Suara itu memanggilku, tenang dan lembut, seperti suara yang sudah lama kukenal tapi tak bisa kuingat.Aku menoleh pelan. Seseorang duduk di sudut ruangan yang kini mulai terlihat. Ia mengenakan pakaian putih sederhana. Matanya menatapku, lekat, tapi tidak menghakimi.“Siapa kamu?” tanyaku.“Nama tidak penting di sini,” jawabnya. “Yang penting adalah kamu akhirnya bangun.”Aku mencoba duduk. Leherku berat. Suaraku serak.“Di mana ini?”Ia tersenyum. “Di antara semua kemungkinan.”Kalimat itu langsung membangkitkan ingatanku akan suara terakhir yang kudengar sebelum semuanya padam.“Kami baru saja
“Kau sudah melihatku, Radit. Sekarang kau harus memilih.”Suaranya tak terdengar melalui udara. Tapi muncul dari dalam dada, bergema seperti bisikan dari ruang sempit. Dalam gelap, mata itu tetap menatapku tanpa berkedip. Tak ada wajah, tak ada tubuh—hanya sepasang mata yang diam, namun membuat kul
“Aku tahu ini sulit dipercaya. Tapi aku tidak sedang mengada-ada.”Aku menatap Intan dalam diam. Kata-katanya barusan masih bergema dalam kepala—bahwa dalam mimpinya, dia melihat sosok menyerupai diriku… dengan mata yang bukan milik manusia.Lorong tempat kami berdiri terasa makin sunyi. Bahkan sua
“Aku tidak menulis itu...”Aku mengangkat kepala. Suara itu lirih, pelan seperti desir angin melewati celah pintu, tetapi cukup jelas untuk membuatku menahan napas. Ibu Sri, wanita tua yang tadi siang kutolong dari kematian, duduk lemah di ranjangnya, matanya menatap kosong ke jendela.“Tapi tulisa
“Aku minta maaf, Radit. Tapi kamu bukan tipe laki-laki yang bisa kuandalkan untuk masa depan.”Kalimat itu menghantam dadaku seperti palu godam yang dipukulkan dengan senyum. Aku menatapnya, Sofia, perempuan yang selama ini kupikir akan bersamaku sampai akhir. Tapi malam itu, di restoran yang tak s







