Share

SALAM PERPISAHAN

last update publish date: 2026-09-03 17:47:21

Di ruang pemulihan, perawat membantu Alessandro berbaring di tempat tidur. Infus terpasang di lengannya. Wajahnya masih pucat, tetapi napasnya stabil. Elara duduk di kursi di samping tempat tidur.

Beberapa menit berlalu, akhirnya Alessandro membuka suara. “Kamu datang.”

“Aku bilang akan menemani sampai selesai,” jawab Elara pelan dengan tatapan penuh perhatian.

Alessandro menatap langit-langit. “Marco bilang kamu mengancam Tuan Thomas semalam.”

Elara tidak menyangkal. “Aku sudah bilang ke kamu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   ALESSANDRO NGEDROP

    Elara baru saja melangkah keluar dari ruang pemulihan ketika sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya. Ia kaget dan berbalik.Marco berdiri di hadapannya, wajah tegang. Jelas sekali pria itu baru saja mengawasi dari celah pintu.“Marco? Kamu—”“Ikut aku,” potong Marco pelan tetapi tegas. Ia menarik Elara ke sudut koridor yang lebih sepi, jauh dari telinga perawat yang lalu-lalang. “Aku dengar semuanya.”Elara menghela napas, melepaskan lengannya. “Kalau begitu kamu sudah tahu. Aku akan pergi setelah Alessandro stabil.”Marco menatapnya dalam. “Kamu serius? Setelah semua yang baru saja terjadi di dalam sana?”“Justru karena itu,” jawab Elara dingin. “Aku sudah bilang ke dia. Aku gak mau lagi jadi penengah. Aku capek, Marco.”Marco mengusap wajahnya, terlihat frustasi. “Tuan Thomas sudah bilang dia gak akan lagi memaksa. Kael juga sudah dilarang menghubungimu. Alessandro baru saja mendonorkan sumsum tulangnya. Dan sekarang kamu mau hilang begitu saja?”Elara menatapnya tajam. “Aku buka

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   SALAM PERPISAHAN

    Di ruang pemulihan, perawat membantu Alessandro berbaring di tempat tidur. Infus terpasang di lengannya. Wajahnya masih pucat, tetapi napasnya stabil. Elara duduk di kursi di samping tempat tidur.Beberapa menit berlalu, akhirnya Alessandro membuka suara. “Kamu datang.”“Aku bilang akan menemani sampai selesai,” jawab Elara pelan dengan tatapan penuh perhatian.Alessandro menatap langit-langit. “Marco bilang kamu mengancam Tuan Thomas semalam.”Elara tidak menyangkal. “Aku sudah bilang ke kamu soal itu. Aku marah karena nggak ingin kamu dibatasi oleh urusan mereka.”Alessandro terdiam sejenak. “Aku tetap donor. Bukan karena ancamanmu. Karena aku sudah berjanji.”Elara mengangguk. “Aku tahu.”Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Hanya bunyi monitor yang terdengar. Alessandro akhirnya menoleh ke arah Elara.“Kamu mau pergi, kan?”Elara terkejut. Ia tidak menyangka Alessandro langsung bisa menebak. “Dari mana kamu tahu?”“Dari caramu duduk. Dari caramu menatapku. Seolah ini pertemuan

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   HITUNGAN MUNDUR

    Elara mendorong pintu tangga darurat dan turun dua tingkat dengan langkah cepat. Napasnya masih belum stabil. Di lantai dasar, ia langsung menuju area parkir karyawan. Dari kejauhan, ia melihat mobil Alessandro masih terparkir di tempatnya.Alessandro berdiri di samping mobil, punggung bersandar pada pintu pengemudi, tangan disilangkan di dada. Wajahnya masih tegang di bawah cahaya lampu parkir yang kuning.Elara mendekat pelan. “Ale!”Alessandro tidak langsung menoleh. Ia hanya menghela napas panjang. “Kamu turun juga.”“Aku sudah menyuruh Kael masuk ke ruangan,” kata Elara cepat. “Aku juga sudah menelepon Marco. Aku bilang ke dia supaya Om Thomas kendalikan Kael. Kalau tidak, aku ancam mereka soal donor.”Alessandro akhirnya menoleh. Matanya masih dingin, tetapi ada sedikit kelelahan di baliknya. “Kamu ancam mereka dengan sumsum tulangku?”Elara mengangguk, menunduk. “Aku tidak tahu cara lain. Aku takut kamu benar-benar pergi.”Alessandro terdiam beberapa detik. Lalu ia membuka pint

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   KEMARAHAN ALESSANDRO

    Di koridor yang sepi, langkah Elara terdengar tergesa. Di dalam hatinya, ia tahu keputusan ini akan membawa konsekuensi. Namun malam ini, ia hanya ingin pergi.“Elara!”Tiba-tiba terdengar suara Kael.Elara membeku di tempat. Napasnya tertahan. Ia pelan-pelan berbalik. Di ambang pintu ruang isolasi, Kael berdiri tegak. Satu tangan menenteng botol infus yang masih tersambung ke lengannya.Sementara tangan lainnya memegang tiang infus agar tidak goyah. Wajahnya yang semula pucat kini tampak segar. Matanya jernih. Napasnya stabil. Tidak ada tanda-tanda orang yang baru saja koma dan kritis beberapa jam lalu.Elara membelalak dengan tubuh terpaku. Ia tidak bisa mempercayai penglihatannya. “Kael…?”Kael tersenyum tipis, meski masih sedikit pucat di bibir. “Kamu mau ke mana?”Elara mundur satu langkah, jantungnya berdegup kencang. “Kamu sadar? Bagaimana bisa? Dokter bilang kamu koma—”“Aku gak tahu,” potong Kael pelan. Ia melangkah keluar koridor dengan hati-hati, botol infus bergoyang di ge

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   ELARA DI PERSIMPANGAN

    “Ada perubahan pada respons neurologis pasien," ucap perawat tersebut.Elara terkejut sekaligus penasaran. “Perubahan apa?”Perawat menatap layar monitor, lalu berkata dengan suara pelan.“Sepertinya pasien mulai memberikan respons.”Thomas langsung mendekati kaca.“Kael?”Di dalam ruangan, jari Kael kembali bergerak. Kali ini lebih jelas.Kemudian secara perlahan, monitor menunjukkan pola aktivitas otak yang sebelumnya hampir tidak terlihat. Dokter mengerutkan kening, lalu berkata,“Ini aneh.”“Apa yang aneh, Dok?” tanya Alessandro.Dokter tidak langsung menjawab. Namun tatapannya terpaku pada hasil monitor.“Secara medis, seharusnya belum ada respons seperti ini.”Elara menatap Kael dengan napas tertahan. Kemudian layar monitor di samping tempat tidur tiba-tiba menampilkan angka yang berubah cepat.Dokter mendekat, lalu berkata,“Jangan sentuh pasien!"Semua orang terdiam. Itu pertama kalinya sejak Kael kehilangan kesadaran, bibir pria itu bergerak.Hanya satu kata yang keluar. “Elar

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   ANTARA DUA PRIA

    Tubuh Elara menggeliat pelan di bawah mulut Alessandro. Setiap isapan membuat perutnya berdenyut. Putingnya semakin sensitif, basah oleh lidah dan air liur Alessandro.Ketika Alessandro menggigitnya pelan lalu langsung mengisap lagi, Elara menggigit bibirnya sendiri, menahan suara yang hampir lolos lebih keras.Elara menahan napas, tubuhnya sedikit menggeliat. “Ale... Aaah."Jemari lentik Elara meraba milik Alessandro yang mengeras di balik celana.Sementara tangan Alessandro menyusuri pinggang Elara, lalu turun lebih rendah. “Kamu sudah basah,” bisiknya serak.Elara mendesah. "Punya kamu juga. Aah..besar ...tegang, Honey.""Kamu menginginkan juga, Sayang?"tanya Alessanndro.Elara mengangguk lemah, menariknya lebih dekat. “Iya… masukin. Aku mau rasain kamu.”Alessandro mengecup bibirnya kasar, lalu membuka baju dan celana. Elara pun melepaskan kain yang tersisa di tubuh.Tampak batang Alessandro yang tegang dan berurat. Ia membuka kedua paha Elara, lalu mendorong miliknya masuk perlah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status