LOGIN"Uhuk! Uhuk!" Aku seketika terbatuk hebat karena tersedak ludah sendiri.Dalam hatiku bergumam gelisah, 'Bisa-bisanya Mas Raka meminta hal yang justru sudah direncanakan oleh Steafen.'Tapi, aku tidak mau Mas Raka sampai tahu soal kesepakatan kencan itu. Kalau tidak, dia pasti akan salah sangka dan masalahnya akan semakin panjang."Nggak mungkinlah, Mas. Aku kan sudah mau menikah," kelitku berusaha tenang sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil.Mas Raka terkekeh kecil, seolah menganggap penolakanku hanya angin lalu. "Ya sudah kalau itu keputusanmu. Tapi, aku akan sangat mendukung kalau kamu memberi kesempatan pada Steafen, sebelum kamu dan Jefri benar-benar menikah."Aku membuang muka dengan bibir mengerucut sebal. "Hhmm... itu sih maunya Mas Raka saja."Ia kembali terkekeh sambil fokus mengendalikan kemudi. "Aku memang sangat ingin menjodohkanmu dengan Steafen," ucapnya lugas sambil menoleh padaku sejenak. "Steafen lebih kaya dari Jefri. Perusahaannya lebih kuat di banya
Hanya sekali kencan, bukan? Lagipula, Steafen tidak mungkin jatuh cinta padaku. Orang sepertinya hanya sekadar penasaran dan ingin memuaskan egonya dalam menaklukkan wanita. Yang penting kami tidak menjalin hubungan apa pun setelahnya.Mas Jefri juga sedang di London. Asal aku mengikuti permintaan pria ini, semua rahasia akan aman dan urusan selesai. Setelah itu, aku tidak perlu lagi berhubungan dengannya."Baiklah..." jawabku akhirnya dengan nada pasrah.Steafen seketika menyunggingkan senyum puas penuh kemenangan. Ia mengangkat ujung alisnya sambil mencuil daguku dengan ujung jemarinya. "Bagus, Nona..."Sialan! Padahal aku sudah berdoa agar tidak dipertemukan lagi dengannya. Tetapi, Tuhan justru mengabulkan permintaan pria ini yang ingin kembali bertemu denganku.Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, lalu memberikannya padaku. "Cepat, simpan nomor kamu di sini," pintanya tanpa melepaskan tatapan dariku."Untuk apa?!" tolakku dengan nada tinggi.Steafen menghela napas lelah
"Wow... kejutan sekali, Nona. Apa kamu mengejarku sampai ke sini karena rindu?" goda Steafen dengan senyuman miringnya yang menyebalkan.Aku langsung membuang muka, sama sekali tidak berniat meladeni godaannya. Di dunia yang seluas ini, aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi di sini. Ah, tidak. Apa mungkin Steafen adalah sahabat yang dimaksud Mas Raka?Aku menatap Mas Raka dengan wajah tegang, berharap mendapat jawaban darinya. Namun, Mas Raka sendiri tampak kebingungan melihat interaksi kami."Steafen, Erika... kalian sudah saling kenal?" tanyanya sambil menunjuk kami berdua bergantian.Aku mengalihkan pandangan sambil meremas sisi gaunku, bingung harus menjelaskan situasiku dan Steafen dari mana. Tidak mungkin aku jujur tentang kejadian di London.Steafen tanpa canggung meletakkan sikutnya di pundak Mas Raka. "Tentu saja aku mengenalnya," ucapnya sembari menatapku dengan tatapan buaya yang sangat kukenali.Sepertinya benar dugaanku, mereka memang bersahabat. At
"Baru saja pulang. Haruskah langsung kembali lagi?" rengekku, menatapnya dengan wajah sendu.Mas Jefri menggengam tanganku semakin erat. "Sayang... saat saya pergi, keadaan kantor benar-benar sedang kacau. Saya memaksakan diri ke Indonesia karena khawatir sama kamu."Aku mengalihkan pandangan, merasa ucapan Mas Jefri hanya omong kosong belaka. Dengan segala alasannya yang mungkin benar, entah kenapa hatiku masih saja ragu.Ia merangkul pinggangku, menatap mataku lekat. "Erika... Maafkan saya kalau selalu mengecewakan kamu. Apa... Kamu masih belum percaya sama saya?" tanyanya menelisik, seolah bisa membaca apa yang aku rasakan."Dua Minggu bukan waktu yang sebentar buat saya, Mas," ucapku tak mau menatap matanya. "Tiga bulan lagi kita akan menikah. Tapi... sampai saat ini, kita tidak punya waktu untuk membahas tentang persipannya."Mas Jefri membalik wajahku lembut, memaksa mata kami saling bertatapan. "Sayang... saya minta Niken buat temani kamu, ya?"Aku menarik wajah cepat, kembali
"Sebenarnya... dia adalah pria yang menolong saya saat keguguran," jawabku akhirnya dengan suara yang nyaris tertelan keheningan kamar.Mas Jefri mendadak bangkit dari ranjang. Ia berdiri kaku di samping tempat tidur sambil menatapku dengan mata membelalak lebar. "Apa? Kamu hamil?!" teriaknya dengan suara yang bergetar hebat.Aku beringsut, duduk bersila di atas ranjang berhadapan dengan Mas Jefri. "Sebenarnya... saya menyusul ke London untuk memberi kejutan tentang kehamilan itu," bisikku dengan air mata yang kembali menderu. Hatiku kembali nyeri mengingat janin yang baru saja aku ketahui keberadaannya, namun sudah pergi selamanya.Mas Jefri terlihat sangat syok. Wajahnya kaku, matanya berkaca-kaca menatapku penuh ketidakpercayaan."Tapi... saya justru melihat hal lain di kantor kamu," lanjutku sembari menahan isak yang menyesakkan dada. "Saya stres berat... dan tidak sanggup mempertahankan janin itu."Air mata Mas Jefri akhirnya jatuh. Untuk pertama kalinya aku melihat pria itu beg
Pak Jefri baru berhenti setelah beberapa detik menciumiku dengan brutal. Ia menangkup pipiku kasar hingga kepalaku terjengat ke belakang. Tatapan matanya penuh bara dengan rahang yang mengeras sempurna."Katakan! Siapa pria yang bersamamu?!" tuntutnya tajam dengan napas yang memburu.Seluruh tubuhku bergetar, air mata menetes tanpa bisa kutahan. "Apa saya perlu menjelaskannya padamu?" balasku dingin dengan napas memburu.Sorot mata Mas Jefri semakin membara. Ia kembali melumat bibirku kasar, merangkulku dengan erat tanpa kelembutan sama sekali. Ia menyentak mantelnya hingga terlepas dan mengoyak jaket yang kukenakan secara kasar.Aku berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari kungkungannya meski tak berhasil. Tenaganya terlalu kuat.Mas Jefri semakin beringas. Kecemburuan telah membuatnya kembali menjadi monster seperti sebelumnya. Ia mengangkat tubuhku paksa sambil terus melumat bibirku tanpa sedikit pun kelembutan. Ia menjatuhkan tubuhku ke sofa, lalu menindihku sambil membuka se







