Share

Bab 21

Author: Any Anthika
last update publish date: 2026-05-05 21:31:46

Keputusan itu tak menunggu lama untuk diberitahukan kepada Emma.

Kini, ia kembali duduk di tempat yang sama, dengan punggung tegak menegang. Kedua tangannya menggenggam erat, menguatkan dirinya sendiri untuk mendengar hal yang paling buruk sekalipun.

Di hadapannya, dosen dan para staf berjejer dengan raut wajah datar, dan Emma bisa menebak kalau mereka memang tak memihak padanya.

“Setelah mempertimbangkan pelanggaran yang terjadi,” ujar salah satu dosen dengan nada formal, “kami memutuskan untu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 22

    Emma menyeka sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menarik napas panjang sekali lagi—lebih dalam, lebih teratur. Seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia masih bisa berdiri, masih bisa berjalan, masih bisa menghadapi semuanya.Perlahan, kakinya melangkah menuruni undukan tangga. Langkahnya pelan, hampir ragu. Setiap pijakan terasa seperti proses turun dari kemarahan, kekecewaan, dan rasa tidak adil yang sejak tadi ia pendam."Kamu hebat, Emma. Sekali lagi kamu hebat." Dia kembali memberikan apresiasi kecil sebelum langkahnya benar-benar sampai di lantai bawah. Kali ini perasaannya jauh lebih baik daripada sebelumnya. Emma memutuskan untuk membersihkan diri. Begitu melihat dirinya di pantulan cermin, nyaris saja Emma tertawa. "Astaga. Badut ancol jauh lebih lucu dari penampilan kamu sekarang." Ucapan itu entah untuk menghibur hatinya, atau memang itu kenyataannya. Air dari keran mengalir tipis saat Emma berdiri di depan wastafel. Tangannya bergerak otomatis

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 21

    Keputusan itu tak menunggu lama untuk diberitahukan kepada Emma.Kini, ia kembali duduk di tempat yang sama, dengan punggung tegak menegang. Kedua tangannya menggenggam erat, menguatkan dirinya sendiri untuk mendengar hal yang paling buruk sekalipun.Di hadapannya, dosen dan para staf berjejer dengan raut wajah datar, dan Emma bisa menebak kalau mereka memang tak memihak padanya.“Setelah mempertimbangkan pelanggaran yang terjadi,” ujar salah satu dosen dengan nada formal, “kami memutuskan untuk memberikan skorsing selama satu minggu.”Kalimat itu terasa ringan bagi yang mengucapkan, tapi berat bagi yang menerima.Meski sudah menyiapkan diri, Emma tetap saja terpaku sesaat. Tak ada reaksi spontan darinya.Sebagai mahasiswa beasiswa, posisinya selalu rapuh. Satu kesalahan kecil bisa terasa seperti dosa besar. Tidak ada ruang untuk negosiasi, tidak ada ruang untuk pembelaan panjang. Ia bukan siapa-siapa di kampus ini.Ia bukan anak pejabat, donator, ataupun mahasiswa populer yang bisa “

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 20

    Ruang Kemahasiswaan terasa lebih dingin dari biasanya. Emma duduk di salah satu kursi, punggungnya tegak, tangannya saling menggenggam di pangkuan. Di depannya, meja panjang membentang, memisahkan dirinya dengan Naomi, Olivia, Alicia dan mahasiswa-mahasiswi yang ikut dalam perang saling melempar makanan.Dosen di ujung meja membuka map di tangannya, lalu mengangkat kepala. Tatapannya bergantian ke masing-masing dari mereka.“Saya ingin dengar kronologi kejadiannya.”Belum sempat Emma bicara, Olivia sudah lebih dulu. “Pak, dia dorong teman saya sampai jatuh dan kena pecahan kaca,” ucapnya cepat. Suaranya terdengar cemas. Naomi menunduk sedikit, tangannya masih memegangi perban di lengannya. “Saya cuma mau ambil barang, tiba-tiba dia nyenggol saya.”Alicia tidak ikut bicara. Dia hanya duduk santai seolah menonton sebuah pertunjukan. "Benar begitu, Emma?" tanya dosen menoleh ke arahnya. Spontan Emma menggelengkan kepalanya cepat. "Saya tidak mendorong siapa pun, Pak.""Bohong! Jelas-

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 19

    Beberapa orang langsung bergerak mendekati Emma. Kursi bergeser kasar, suara langkah tergesa mengelilingi Emma. Suasana yang tadinya cuma panas berubah jadi seperti menunggu ledakan besar. Mereka tidak akan melepaskannya begitu saja. Namun, yang terjadi sebaliknya, Emma bukannya mundur. Ia tidak lari. Justru berlutut.Pelan tapi pasti, dia memilih untuk meraup nasi di lantai dan menaruhnya dengan hati-hati ke dalam kotak makan. Butiran putih itu bercampur debu, saus, dan jejak sepatu. Namun, Emma tetap mengangkatnya, memasukkannya kembali ke dalam kotak makan yang sudah penyok.Seolah itu bukan nasi jatuh, tapi sesuatu yang harus diselamatkan. Setiap butirnya adalah keringat Ayah yang sudah bekerja seharian mengumpulkan botol bekas untuk ditimbang dan dijual dengan upah yang tak seberapaIa mengambil tempe. Lalu ayam goreng yang sudah terinjak sebagian. Disusun rapi dengan sangat hati-hati. Kantin mendadak hening beberapa detik.Bukan karena iba, tapi karena bingung.“Serius lo?” Sua

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 18

    Tiga cewek berjalan mendekat dengan langkah yang terlalu percaya diri untuk diabaikan. Sepatu mereka nyaris tak bersuara, tapi kehadiran mereka langsung mengubah suasana.Alicia di depan. Tenang, rapi. Senyumnya tipis. Bukan ramah, lebih ke mengukur lawan di depan.Di kanan, Naomi. Tatapannya terang-terangan menilai, dari ujung kepala sampai kaki. Menyelidik Emma lebih tepatnya, seakan dia adalah seorang kriminal.Dan di kiri, Olivia, yang sudah terlihat paling siap bicara bahkan sebelum sampai. Lipstik anti luntur tujuh turunan menghiasi bibirnya yang tipis.Olivia berhenti tepat di depan Emma, sedikit memiringkan kepala. “Jadi, ini yang berani debat sama Raka ketua The Crown ?”Emma tidak langsung menjawab. Hanya menatap balik.Naomi terkekeh kecil. “Nggak kelihatan spesial sih. Malah lebih ke norak gitu.”Alicia melangkah setengah langkah lebih dekat. Tidak menyentuh, tapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa sempit. “Tapi lumayan berani juga ya.”Emma akhirnya bicara.

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 17

    Kantin kampus siang itu tetap ramai seperti biasa. Suara obrolan, canda tawa, dan denting alat makan saling bersahutan, menciptakan hiruk-pikuk yang seolah tak pernah benar-benar reda.Di antara keramaian itu, ada satu sudut yang terasa berbeda.Lebih luas, tenang, rapi dan jelas tidak sembarang orang bisa duduk di sana.Area itu milik The Crown.Raka sudah duduk di kursinya, bersandar santai. Namun, berbanding terbalik dengan isi kepalanya. Perdebatan di kelas sastra tadi pagi masih terngiang jelas. Cara Emma menatapnya tanpa gentar. Cara gadis itu membantah setiap argumennya tanpa ragu. Bukan sekadar berani, tapi juga tepat sasaran.Kai duduk di hadapan Raka, laptop kesayangannya masih tetap menyala, seolah tidak terganggu dengan hidangan yang sedang dia nikmati. Sedangkan Arsen, mulutnya penuh dengan bakso kesukaannya. Empat sendok sambal sudah bercampur di mangkuknya, membuat warna kuahnya berubah merah menyala.Dia menyendok lagi tanpa ragu, lalu meniupnya asal sebelum langsung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status