MasukEmma menatap Kai sebentar, lalu kembali memeluk tubuh Ayahnya yang dingin. Meratapinya sampai suaranya parau. Bila perlu, dia akan menangis sampai air matanya kering. Rosalinda dan Kai berdiri di samping kiri dan kanan, sesekali ibu Rosalinda membelai rambut Emma dengan lembut. "Emma, gue boleh bilang sesuatu?" tanya Kai pelan. "Kalau kamu hanya mau menghibur aku saat ini, nggak ada gunanya, Kai. Biarkan aku menangis sampai puas." "Nggak, gue bukan mau hibur lo, tapi gue mau nunjukin sesuatu." Dari saku jas mewahnya, Kai mengeluarkan sebuah lkertas foto tebal yang sudah agak menguning di bagian pinggirnya. Terlihat ada keraguan di wajahnya, tapi akhirnya Kai mengulurkan kertas itu pada Emma dengan jemari yang sedikit gemetar. "Emma … coba kamu lihat ini sebentar." Suara Kai terdengar berat dan sangat hati-hati. Emma menatap kertas di tangan Kai dengan pandangan kosong, lalu perlahan menerimanya. Itu adalah foto seorang anak perempuan berusia sekitar empat atau lima tahun.
Suasana kamar VIP lantai paling atas rumah sakit itu terasa begitu kontras dengan kebingungan yang membendung di dada Emma. Dia sudah sadar kembali setelah mendapat bantuan medis. "Syukurlah kamu sudah bangun. Mama dan Kakakmu, Kai, hawatir sekali, Nak." Emma bersandar di tumpukan bantal putih. Wajahnya masih pucat pasi, matanya sembap dan kusam, melukiskan kepedihan atas kepergian ayahnya—satu-satunya pegangan hidup yang dia punya selama ini. "Tante, biarkan aku ketemu ayah sekarang," ucap Emma lirih. Ibu Rosalinda yang masih menggenggam tangan Emma, menatap anak gadisnnya, seolah takut jika dia mengedipkan mata sedikit saja, gadis di hadapannya akan menghilang dari pandangannya. "Panggil Tante, Mama, Sayang." Emma tidak menjawab, dia melepaskan tangannya dari genggaman Rosalinda, lalu menarik kedua lututnya ke atas, menyembunyikan wajahnya di sana. Sungguh, di saat-saat seperti ini, dia ingin sendiri, menangis dan meratapi kepergian Ayahnya. Kai yang tadinya berdiri di s
Mendengar ultimatum Ibu Rosalinda, mata Raka membelalak lebar. "Tante, tolong dengarkan penjelasanku dulu." "Nggak ada lagi yang perlu dijelaskan. Tante sudah tahu semuanya." Napas Raka seperti tertahan di tenggorokan. Pernyataan itu bukan sekadar gertakan sambal. "Dengar! Emma putri kandung Tante, dan sekarang berada dalam perlindungan penuh keluarga besar kami." Raka tidak berani berkata apa-apa lagi. Kekuatan finansial dan jaringan internasional keluarga Kai sama kuatnya dengan jaringan bisnis keluarganya sendiri. Raka menatap Arsen tajam. Semua ini terjadi gara-gara Arsen. Demi memuaskan rasa cemburu dan dominasinya malam ini, Raka baru saja mengorbankan seluruh dinasti keluarganya sendiri. "Kai," panggil Rosalinda tanpa menoleh sedikit pun. "Ya, Ma," jawab Kai pelan, melangkah maju dan berdiri di sisi sang mama. Tangannya terulur pelan hendak memeluk Emma, adik yang telah dia rindukan selama bertahun-tahun. Namun, dia juga sadar dan mengerti kalau Emma butuh waktu un
"Emma ..." Suara Ibu Rosalinda bergetar hebat. Tanpa peduli pada gaun mahalnya yang menyapu lantai yang kotor, Rosalinda berlutut dan langsung merengkuh tubuh Emma yang gemetar hebat dari pelukan Arsen ke dalam pelukannya. Kehangatan dekapan itu terasa begitu familier, sama seperti kehangatan yang Emma rasakan saat wanita itu memeluknya pertama kali. Dan juga saat mereka memasak bersama di dapur rumah besar itu. "Kamu sudah terlalu lama menanggung beban ini sendirian, Nak," bisik Rosalinda dengan tangis yang akhirnya pecah. Wanita itu mencium puncak kepala Emma berkali-kali, mengusap punggung gadis itu yang terguncang hebat. Emma yang matanya sudah sembap dan hampir kehilangan kesadaran berbisik parau. "Tante ... Ayah udah nggak ada ... Ayah ninggalin aku ... Aku benar-benar sendiri sekarang." "Sshh, kamu nggak sendirian, Sayang. Kami semua ada di sini untuk menemanimu," tangis Ibu Rosalinda pilu. Emma memperdalam pelukannya, ucapan Rosalinda sedikit menghibur hatinya yang
"Arsen, aku—" bisik Emma menghindar. "Jangan sentuh dia dengan tangan kotor lo itu, Arsen," potong Raka tajam. Dia melangkah maju, menepis tangan Arsen dari leher Emma lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana dengan gaya yang amat dominan. "Emma pasrah di bawah sentuhan gue di kamar mandi tadi. Dan tanda itu? Itu cuma bukti kecil kalau dia milik gue, bukan punya lo." "Bangsat lo, Raka!" Arsen mengepalkan tinjunya, hendak mendaratkan bogem mentah tepat ke wajah Raka. Brak! Pintu ganda ruang operasi mendadak terdorong buka dengan kasar. Dokter Setiawan melangkah keluar dengan pakaian operasi yang masih bersimpah bercak darah. Wajah sang dokter pucat pasi, matanya memancarkan rasa duka yang teramat berat, membuat perkelahian antara Arsen dan Raka seketika terhenti. Seluruh perhatian mereka teralih pada sang dokter. "Dokter ...?" Suara Emma bergetar hebat. Dia mencoba berdiri dengan lutut yang lemas. "Gimana keadaan Ayah saya, Dok? Operasinya lancar, kan? Ayah selamat, kan?"
Sepuluh menit perjalanan yang terasa seperti neraka itu akhirnya usai. Mobil Raka berhenti berdecit tepat di depan pintu lorong gawat darurat rumah sakit. Tanpa membuang waktu, Raka menarik tangan Emma, menuntunnya berlari menelusuri koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik yang menusuk indra penciuman. Mereka tiba di depan lorong ICU. Lampu indikator ruang operasi masih menyala redup, dan beberapa suster tampak berlarian panik membawa kantung darah. “Nona Emma!” Suster Indah berlari menghampiri dengan papan jepit di tangannya dan kertas dokumen. “Baguslah Nona cepat sampai! Kondisi Pak Bagas kritis, pendarahan dalam terjadi lagi. Kami butuh persetujuan keluarga detik ini juga!” “Saya anaknya! Saya setuju, Suster! Lakukan apa saja, tolong selamatkan Ayah saya!” tangis Emma pecah, jemarinya yang gemetar menyambar pulpen dan membubuhkan tanda tangannya di atas lembar persetujuan. Dokter Setiawan keluar dari pintu steril ruang operasi, mengangguk cepat. “Tim bedah s
Kening Kai langsung berkerut. Biasanya file seperti itu hanya berisi catatan sensitif siswa. Entah masalah keluarga. Psikologis. Masalah kriminal. Atau sesuatu yang tidak boleh diketahui publik. Rasa penasaran Kai langsung memuncak. “Emma, lo sebenarnya siapa sih?” Tanpa berpikir pa
Sinar matahari menyusup lemah melalui celah tirai kain tipis, seakan memaksa Emma untuk membuka mata. Gadis itumengerang pelan, tubuhnya terasa pegalAlarm ponselnya sudah berbunyi untuk ketiga kalinya. Mata Emma terasa berat, seperti ada pasir yang menumpuk di kelopak. Ia memaksa diri duduk, men
“Saya tidak berniat mendekati siapa pun di luar tugas saya sebagai guru les, Tante. Yang tadi… hanya kesalahpahaman.»"Oh ya? Semoga benar hanya kesalahpahaman," ucap Renata sinis sambil membuat tanda kutip dua dengan jemarinya yang lentik dan terawat."Tante, saya menghargai keluarga ini karena te
“HEI! MUNDUR LO SEMUA!”Suara rendah itu muncul dari ujung koridor.Semua kepala langsung menoleh.Kai muncul seperti dengan langkah lebar hampir setengah berlari. Jaket hitamnya terbuka. Ekspresinya penuh amarah. Matanya yang biasanya tenang dan penuh perhitungan, kini dingin menakutkan.Alicia me







