مشاركة

Bab 23

مؤلف: Any Anthika
last update تاريخ النشر: 2026-05-06 22:37:14

Ia menatap dirinya lebih lama. Ada jeda. Seakan ia menunggu seseorang di balik cermin itu menyangkal ucapannya. Namun. Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya dirinya sendiri.

Emma menghela napas panjang, mengambil tasnya, lalu berbalik.“Pulang saja …” suaranya serak. “Besok … dipikirin lagi.”

Lorong kampus ramai seperti biasa. Suara tawa bersahutan. Obrolan ringan bertebaran dari berbagai sudut dan langkah kaki beradu cepat. Dunia tetap berjalan. Tidak ada yang peduli padanya.

Emma mengayunkan kak
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 34

    Pertemuan di aula berjalan kurang lebih 30 menit karena Kai belum selesai dengan presentasinya.Sedangkan Raka yang memang hanya menjadikan pertemuan itu sebagai alasan untuk memanggil Kai dan Emma, bicara sebentar lalu menyerahkan acara selanjutnya pada panitia yang bertugas.Kai pun menampilkan secara garis besar acara apa saja yang akan diselenggarakan dan berjanji akan menayangkan semuanya besok. Tak lama kemudian, para mahasiswa pun kembali ke kelas masing-masing.Sisa kelas berikutnya berjalan lambat. Emma bahkan hampir tidak fokus sama materi dosen karena kepalanya penuh.Begitu mata kuliah terakhir selesai, ia langsung membereskan barang secepat mungkin. Dengan setengah berlari, dia menyusuri lorong kampus yang panjang. Waktunya tinggal 40 menit lagi untuk tiba di mansion Raka. Sungguh keterlaluan memang si Raka itu, pikir Emma geram.Kai yang bertemu dengannya di pintu keluar langsung menoleh dan heran.“Buru-buru banget. Mau ke mana?”“Kejar bis.”“Gue anter—”“Nggak usah!”

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 33

    Kai menghampiri Raka walaupun dia sempat melihat sekilas tatapannya yang tajam dan rahang Raka yang mengeras.“Ngapain pake pengumuman segala?” ujarnya pelan.Raka memasukkan tangan ke saku celana. Di sana tangannya mengepal menahan sesuatu yang aneh. Dia tidak suka melihat Emma tertawa lepas saat bersama Kai. Arsen yang menyadari perubahan Raka, segera menghampiri mereka. Minimal, kalau dua cowok beruang kutub ini baku hantam, dia siap jadi tameng."Raka, kenap ..." “Karena ada seseorang yang susah dicari," potong Raka datar.“Sindir aja langsung napa.”"Mana presentasi untuk acara festival nanti?" Raka langsung pada poinnya. Dia tidak suka berbasi-basi. Apalagi saat moodnya sedang terbolak-balik seperti ini.Maniknya perlahan menatap Emma yang sedang berdiri agak menjauh dari Kai. Tatapannya menggelap, seakan ingin menarik Emma keluar dari pikirannya. Namun, gadis itu berdiri di sana. Tepat di depannya. Wajahnya yang menarik membuat dada Raka kembali bergetar."Presentasinya akan

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 32

    Raka menggigit pelan ayam goreng kesukaannya. Siang itu dia makan untuk melampiaskan suasana hatinya yang terganggu karena ketidakhadiran Emma di kelas Hermeneutika. Pikirannya hanya dipenuhi dengan wajah Emma yang memukau dengan beberapa helai rambut yang menjutai sehingga terlihat seperti membingkai wajahnya yang ayu. Tenggelam dalam lamunannya, tanpa sadar, dia mengiris potongan ayam dengan keras sehingga menimbulkan bunyi gesekan pisau pada dasar piring yang cukup keras."Lo kenapa?" kaget Arsen yang sedang sibuk menyeruput es jeruk manis kesukaannya."Nggak kenapa-kenapa!" jawab Raka datar."Bohong. Wajah lo aja kayak suami bucin yang lagi takut istrinya selingkuh.""Ssshhh!"Raka hanya menyuruh Arsen diam. Dia tidak ada keinginan sama sekali untuk menanggapi celoteh atau candaan Arsen."Tensi amat sih jadi orang," ledek Arsen nggak mau stop. Namun, akhirnya dia menyerah karena Raka tetap datar.Arsen pun melayangkan pandangan dan menyadari bahwa kantin kampus siang itu penuh s

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 31

    “Nggak perlu, aku bisa makan sendiri,” tolak Emma.“Ya iyalah lo makan sendiri, siapa juga mau suapin.”“Ledek terus!” “Udah, nggak usah banyak alasan. Temani gue makan siang. Ok?”“Gimana dengan teman-temanmu?” tanya Emma ragu.“Mereka nggak punya hak untuk ngatur gue makan di mana dan sama siapa.”Emma akhirnya mengalah, lagian Kai bukan monster yang mengerikan. “Ok, kita makan siang bareng.”Kai tersenyum puas. Awalnya dia ingin mengajak ke kantin. Namun, bayangan sudut ruangan tempat The Crown nongkrong langsung muncul di kepalanya.Arsen pasti bakal nyeletuk macam-macam, tapi dia kenal Arsen. Cowok itu memang paling banyak cakap, tapi tidak sekejam yang orang kira selama ini.Raka? Jangan ditanya.Belum lagi tatapan orang-orang. Emma bakal jadi pusat perhatian satu kantin. Dia tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali.Kai mengacak rambut frustrasi.“Yaudah, ke ruangan gue aja.”Emma berkedip. “Ruangan?”“Hm.”“Ruangan apa? Ruang pribadi?”Kai mengangguk santai seakan itu h

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 30

    Kai menatap layar laptop Emma dengan wajah serius, lalu keningnya langsung berkerut pelan karena ada sesuatu yang menarik perhatiannya.“Kalau logic flow lo dibikin kayak gini, looping-nya bakal muter terus kayak gasing.”Emma mendecakkan lidah. “Nggak mungkin. Aku udah kasih kondisi stop.”“Stop condition lo ketimpa sama variabel baru, Emma. Coba aja kalau nggak percaya.”“Mana?”Kai menarik laptop Emma sedikit mendekat. Jemarinya bergerak cepat di touchpad dan mengarahkan kursor ke rumus-rumus yang memusingkan kepala.“Nih. Lo deklarasi ulang di bawah.”Emma menyipit. Beberapa detik kemudian matanya membesar.“Loh, kok bisa kecele gini ya?” Emma mencebik kesal pada keteledorannya sendiri.Kai terkekeh pelan. “Nah, kan. Ngeyel kalau dikasih tahu.”Emma langsung merebut kembali laptopnya."Ya udah sini, aku kelewat. Nggak udah diledek terus.”“Kelewatnya cantik sih.”Emma menoleh cepat. “Hah?”“Eh, coding lo. Maksud gue coding lo cantik.”“Alus banget ngelesnya," sindir Emma setenga

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 29

    Setelah menjalani sore yang panjang dan melelahkan karena drama tutor, Raka harus menyiapkan diri untuk kelas Hermeneutika esok hari.Ia tak mau kecele lagi kali ini. Selama ini belum pernah ada satu pun mahasiswa yang mampu mematahkan argumennya. Makanya, Raka bertekad untuk membalas kekalahannya waktu itu.Apalagi ditambah kekesalan akibat perkara tutor. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menggasak Emma habis-habisan.Sehabis menekuni literatur pendukung selama dua jam, kini ia termenung.Sebenarnya Raka sempat menyesal karena sudah menerima Emma, tapi ia tak mungkin menarik kembali perkataannya. Selain bisa mencoreng reputasinya, Raka juga enggan menghadapi Lilis yang tantrum.Akhirnya ia memutuskan untuk segera tidur agar lebih bugar untuk battle besok.***Sayangnya, kelas Hermeneutika kali ini dimulai dengan suasana yang terasa kosong.Bukan karena jumlah mahasiswa berkurang, bahkan dosen sudah berdiri di depan kelas. Tapi bagi Raka, ada satu hal yang jelas hilang.Emma

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status