Share

Bab 25

Penulis: Any Anthika
last update Tanggal publikasi: 2026-05-07 22:34:25

Mansion keluarga Raka selalu terasa seperti adegan pembuka sebuah film mahal. Indah, presisi, dan nyaris tanpa cela. Keindahan itu ibarat lukisan yang terlalu sempurna hingga kehilangan kehidupan di dalamnya.

Tidak ada teriakan membangunkan, tidak ada langkah tergesa yang mengisi lorong, tidak pula aroma sarapan hangat yang menguar dari dapur dengan nuansa kekeluargaan. Yang ada hanya sunyi yang teratur sebagaimana penghuninya pula.

Mansion itu berdiri megah di atas lahan luas di kawasan elite.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rafly Raihan
blum. up thor
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 105

    Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bima kembali menginjakkan kaki di kampus. Menghilang selama beberapa waktu, ternyata tidak senikmat yang dia bayangkan. Suasana kampus tidak banyak yang berubah, tapi Bima kangen semua itu. Beberapa mahasiswa yang mengenalnya tampak terkejut melihat kehadirannya. Tidak sedikit yang menoleh dua kali untuk memastikan mereka tidak salah lihat. Namun, Bima sedang berada dalam suasana hati yang sangat baik, jadi semua hal dianggap sempurna olehnya. "Hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan." Bima yakin itu. Bahkan dia sengaja keluar tiga puluh menit lebih cepat di mata kuliah kedua karena jam itu berdekatan dengan waktu istirahat makan siang. Ada misi penting yang akan dia lakukan untuk anggota The Crown. Dan dia yakin kalau misinya ini bakal sukses besar. Bima berdiri di depan meja kantin sambil menunjuk satu per satu menu yang ingin dipesannya. "Mas, nasi goreng seafood empat." "Eh, Tuan Bima," ucap penjaga kantin terkejut

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 104

    Rosalinda melangkah gontai menyusuri lorong rumah sakit. Hatinya diliputi kebimbangan. Kabar yang baru saja ia terima tidak membuatnya benar-benar tenang. Justru sebaliknya, pikirannya semakin dipenuhi pertanyaan. Dia masih bingung harus memulai dari mana untuk menyampaikan semuanya kepada Kai dan Pak Ridwan. 'Kenapa jadi begini? Bukannya aku yang sengaja melakukan semua ini?' Jantungnya berdetak lebih cepat saat ia tiba di depan ruang rawat inap suaminya. Berkali-kali Rosalinda mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum masuk. Tangannya sempat gemetar saat memegang gagang pintu. Begitu pintu terbuka, seorang dokter bersama dua perawat langsung menoleh ke arahnya. "Sore, Dok," sapa Rosalinda canggung. Untung amplop coklat itu sudah dia masukkan dengan rapi ke dalam tasnya. "Selamat sore juga, Bu," jawab dokter itu dengan senyum ramah. "Kebetulan Ibu sudah datang. Saya ingin menyampaikan kabar baik. Kondisi Pak Ridwan sudah jauh lebih stabil." "Syukurlah, Dokt

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 103

    Rosalinda memeras handuk kecil di baskom berisi air hangat. Uap tipis naik ke udara. Dengan gerakan hati-hati, dia mengusap lengan suaminya yang tampak lebih segar dibanding beberapa hari lalu. Sebenarnya perawat bisa melakukan hal itu, tetapi dia memilih untuk melayani suaminya.Pak Ridwan membuka mata perlahan."Airnya hangat?" suaranya serak.Rosalinda tersenyum kecil."Hangat. Nyaman, kan?"Pak Ridwan mengangguk lemah. Meski beberapa selang infus masih menempel di punggung tangan dan pergelangannya, kondisinya jelas membaik. Masker oksigen yang beberapa hari terakhir menutupi wajahnya kini sudah tidak ada lagi. Napasnya masih berat, tetapi tidak lagi tersengal.Di sudut ruangan, Kai sedang fokus menatap layar laptop. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. Terdengar bunyi jemarinya yang beradu dengan tombol keyboard.Suasana kamar inap terasa tenang. Sampai suara dering ponsel memecah keheningan.Kriiing …Kai melirik ke arah meja kecil di samping tempat tidur."Ma, telepon."R

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 102

    Tak sampai satu menit kemudian, seorang wanita elegan berlari keluar rumah dengan wajah panik. Rambutnya bahkan sedikit berantakan, sesuatu yang sangat jarang terjadi. Bima sampai mengerutkan dahi. "Apa Bunda sakit gara-gara mikirin gue ya?" Perasaan tak enak mulai merambat di dadanya. "Bima!" Mata Larissa Handoyo langsung berkaca-kaca saat melihat putranya berdiri di depan gerbang yang belum terbuka sepenuhnya. "Nak ..." Beliau nyaris berlari saking senangnya. Lalu mendadak berhenti seperti adegan slow motion di film-film.Tatapannya beralih ke para satpam yang masih bergerombol di dekat pos keamanan. Ekspresi hangat itu langsung berubah. "Bapak-bapak ini bagaimana sih?" Para satpam spontan berdiri tegak. "Maaf, Bu. Kami tadi terlalu senang." "Senang sampai lupa buka gerbang?" “Kami minta maaf, Bu." "Anak saya sudah berdiri di depan gerbang dari tadi." "Maaf, Bu." "Kalau dia berubah pikiran lalu pergi lagi bagaimana?" Mendengar itu, wajah para satpam langsung pucat.

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 101

    Sudah hampir satu bulan lamanya Bima menghabiskan hari-harinya di vila milik keluarganya yang terletak jauh dari keramaian kota. Tempat itu nyaman, tenang, dan memiliki segala fasilitas yang dibutuhkan untuk proses pemulihannya. Apa pun yang ia perlukan selalu tersedia. Makanan datang tepat waktu, obat-obatan tidak pernah terlambat diberikan, dan dokter rutin memantau perkembangannya.Namun, semua kemudahan itu tidak serta-merta membuatnya merasa bahagia.Justru sebaliknya. Semakin lama berada di sana, semakin besar perasaan terasing yang menggerogoti dirinya. Setiap hari rasa bersalah terus menghantuinya. Rasa bersalah karena menghilang begitu saja dari kehidupan orang-orang yang peduli padanya dan membiarkan keluarga, teman-teman, dan orang-orang terdekat bertanya-tanya mengenai keadaannya.Awalnya Bima menganggap menyendiri adalah keputusan terbaik. Ia ingin fokus sembuh tanpa gangguan apa pun. Namun, setelah berminggu-minggu berlalu, kesunyian yang dulu terasa menenangkan kini b

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 100

    "Emma." "Hm?" "Kita perlu bicara." "Aku tahu." "Bagus." "Aku tahu." "Bagus." Emma menoleh ke luar jendela. Pohon-pohon melintas seperti bayangan. Cepat. Kabur. Sama seperti masa depannya sekarang ini. "Aku pikir …" Emma menarik napas. Lalu memberanikan diri menatap Raka. "Kita harus benar-benar jaga jarak." Mobil langsung hening. Arsen bahkan otomatis mengecilkan volume musik. "Lo serius?" Suara Raka terdengar pelan dan berbahaya. "Iya, Raka. Kita nggak punya pilihan lain." "Of course kita punya banyak pilihan." "Ya, benar, untukmu selalu ada banyak pilihan, tapi tidak untukku." "Karena Mama gue?" "Bukan cuma itu." "Lalu?" Emma menunduk. "Karena aku lelah dengan semua ini." Raka tertawa pendek, dan terdengar pahit. "Bilang saja lo lelah karena hadapin gue?" "Bukan, tapi aku lelah dan capek lihat semua orang bermasalah gara-gara aku." "Itu bukan salah lo." "Tapi tetap terjadi." "Emma ..." "Kamu dengar Mama kamu tadi kan?" "Terserah apa mau Mama, gue nggak

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 99

    Emma terdiam. Pertanyaan itu datang tiba-tiba dan terlalu tajam. Seolah seseorang baru saja membongkar pintu yang selama ini ia jaga rapat-rapat."Siapa nama ibu kandungmu, Emma?"Jantung Emma berdetak semakin cepat.Ia melirik Raka. Lalu Arsen. Seakan kedua pria itu punya kunci jawabannya."Aku …

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 98

    Tatapan Ibu Renata bergeser ke Emma.Hanya sepersekian detik. Namun, cukup membuat Emma merasa seperti sedang diperiksa dari ujung kepala sampai ujung kaki."Kamu sudah paham kenapa dipanggil ke sini."Emma menatap Ibu Renata tanpa berkedip. ‘Pas aku masuk ke sini, kok dia nggak ada?’ pikirnya, l

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 2

    Emma berjalan menuju gerbang dengan langkah berat, tapi dia ingin secepatnya pergi dari tempat mewah ini.Tiba-tiba, suara deru mesin mobil memecah udara. Emma refleks menoleh.Beberapa mobil mewah meluncur masuk ke halaman kampus dengan kecepatan tinggi, seolah tempat itu adalah milik pribadi mere

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 1

    Emma Salsabila berdiri di depan gerbang Universitas Adiwangsa Utama. Tidak bisa dipungkiri, perasaannya agak gugup. Mungkin karena ini baru pertama kalinya dia datang ke tempat semegah ini. Gedung mewah yang menjulang tinggi di depannya itu adalah kawasan kampus para kaum elit. Hampir tidak akses

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status