LOGINMalam ini, Emma tidak bisa tidur. Pikirannya tidak bisa tenang sedikit pun.
Ayahnya sudah berkali-kali berkata padanya. Tidak masalah dia tidak bisa masuk universitas itu. Jalan masih panjang. Emma masih bisa mengejar mimpi yang lain. Emma juga merasa lega karena ayahnya tidak kecewa. Tapi bukan itu, dia memikirkan perkataan pria tadi. Mengapa pria itu justru malah marah dan menyalahkannya? Emma bolak-balik di atas kasur. Menjelang pagi, Emma segera bersiap untuk menyusul ayahnya ke pasar. Saat dia tiba di jembatan yang biasa ia lalui, di tengah jembatan, dia melihat ada mobil berhenti. Lalu pintu belakang terbuka. Seorang pria didorong keluar dengan sengaja. Pria itu jatuh tersungkur. Pria itu? Mahasiswa yang kemarin? Emma terkejut. Saat mobil itu melintas di sampingnya, matanya melebar. The Crown? Emma kembali pada pria yang tersungkur di tanah. Kondisinya terlihat kacau. Bagian rambutnya terlihat botak-botak. Bajunya robek. Wajahnya bengkak. Emma membeku. Pikirannya teringat ucapan pria itu di depan gerbang. Jadi, mereka benar-benar membalas pria itu? Dia melihat pria itu berdiri. Dengan langkah goyah, dia berjalan ke pinggir jembatan. Tangannya berpegangan di pembatas. Lalu, dia memanjat. Jantung Emma hampir melompat dari tempatnya. Dia panik setengah mati dan berlari kencang. “JANGAN!” Emma berhasil menangkap kaki pria itu. Dengan seluruh tenaganya dia berusaha menariknya ke bawah. BUG! Keduanya jatuh terduduk. Napas Emma terengah-engah. Dia seperti baru saja mengangkat batu besar yang menimpa hatinya. “Kamu bener-bener udah gila, ya?” Emma berteriak pada pria itu. Pria itu tidak menjawab. Dia hanya menunduk dan menangis tersedu-sedu. Lalu perlahan mengangkat wajahnya dan tertawa pahit. “Ini semua gara-gara kamu.” Tidak perlu dijelaskan, Emma sudah mengerti. “Oke. Aku minta maaf. Tapi bunuh diri itu benar-benar tindakan yang bodoh!” “Mereka nggak akan berhenti. Aku nggak tahan lagi.” Emma membeku. Melihat kondisi pria ini, jelas, dia telah melewati jalan yang berat hari ini. Dan itu, pasti ulah mereka. Emma mengepalkan tangan. Dia tidak bisa menahan diri. “Ini salahku. Aku akan bertanggung jawab.” Setelah berhasil membujuk pria itu pergi, dia mengantar pria itu ke rumah sakit terdekat. Beberapa saat kemudian. Emma kembali berdiri di dalam gedung administrasi. Dia langsung menuju ruangan yang sama. Tanpa ragu dia mengetuk pintu. “Masuk.” Pria yang sama menatapnya dengan kaget. Kemarin, staf administrasi ini juga melihat kejadian di depan gerbang. Dia bingung kenapa gadis ini masih berani datang kesini. “Kamu lagi?” Emma tidak basa-basi. “Saya mau bicara, Pak. Ini menyangkut nyawa salah satu mahasiswa kampus ini.” Emma menceritakan kejadian di jembatan tadi. Staf administrasi menegang. Beberapa menit kemudian, dosen pembimbing dipanggil. Staf terdengar berbisik pelan dengannya. Ruangan hening beberapa saat. Staf administrasi dan dosen pembimbing saling melempar pandangan. Lalu Dosen pembimbing itu mengangguk pelan. “Kami akan menangani ini dengan baik,” katanya. “Pak, tapi itu sudah kelewatan. Tolong ditindaklanjuti. Kalau tidak, saya akan melapor ke pihak yang berwajib.” Dua orang di depannya kembali saling tatap. Dosen pembimbing buru-buru mengangguk. “Iya,” jawabnya singkat. “Kami paham. Kami akan menangani ini dengan serius. Jangan khawatir.” “Sekarang kamu pulang saja. Percayakan semua pada kami,” lanjutnya. Emma terdiam beberapa detik. Akhirnya dia mengangguk pelan. “Baik, Pak. Terima kasih," ujar Emma lalu melangkah pergi. Di ruangan lain. Empat pria itu duduk santai. Tidak ada rasa bersalah di mata mereka. Juga tidak ada kekhawatiran. Dosen pembimbing yang duduk di depan mereka menelan ludah. Dia tahu betul siapa mereka. Anak-anak pemegang saham. Dan, ketua Rektor adalah paman Raka. “Sialan banget tuh cewek!” umpat Bima. “Kalau dia sampai lapor polisi? Ribet.” “Mau ditaruh mana muka kita. Kemarin dia nampar Raka, sekarang malah pake acara ngancem.” “Makanya. Jangan sampai,” kata Arsen. Sunyi. Raka menatap dosen pembimbing. Lalu berkata singkat, “Urus itu." Nada suaranya datar. Setelah beberapa detik berpikir, dosen pembimbing mengangguk. “Baik, kami akan tangani,” ucapnya. Dosen buru-buru keluar dari ruangan itu. Hari itu juga. Rapat dilakukan. Dosen pembimbing dan pihak rektorat. Ketua Rektor datang memimpin rapat. Nama baik universitas ini harus dijaga. Apalagi nama baik Tuan Muda Raka. Keputusan diambil dengan hati-hati, dan masalah ditutup. Pagi berikutnya. Emma kembali dipanggil. Dia kembali duduk di ruangan yang sama. Tapi perasaannya tidak enak. Pasti ini ada hubungannya dengan masalah kemarin. Pria di depannya membuka berkas. Lalu menatapnya. “Kami mendapatkan pesan ulang dari pusat.” Emma menahan napas. “Pusat menyampaikan, setelah melakukan peninjauan ulang, kamu diterima di Universitas ini.” Sunyi. Emma membeku. “Beasiswamu dikembalikan.” Emma tidak langsung percaya. “Serius ini, Pak?” Pria itu mengangguk. “Rektor menilai kamu layak.” Emma menunduk. Matanya mulai panas. Dan pikirannya tiba-tiba kosong. Tapi hatinya benar-benar sangat senang.Lapangan parkir belakang kampus mulai terasa sepi. Hanya tersisa beberapa kendaraan yang berkilau tertimpa cahaya matahari senja. Aspal menguarkan hawa hangat sisa panas sejak siang.Setengah berlari Emma menuju ke tempat ia memarkirkan sepedanya. Ia harus bergegas pulang, mungkin ia masih sempat membantu Ayah sebelum hari berakhir.Tanpa ia sadari, dari kejauhan, di balkon lantai dua gedung fakultas, empat sosok berdiri santai. The Crown.Raka bersandar di pagar besi dengan ekspresi datar. Kai tegak di sampingnya, diam seperti bayangan. Sementara Arsen duduk di railing dengan kaki menjuntai, sama sekali tak peduli risiko terjatuh. Dan Bima berdiri paling depan sambil menyeringai.“Mulai.” Gumaman disertai kilat berbahaya di mata Bima terpancar.Di parkiran, tiga mahasiswa langsung bergerak mendekati Emma dari arah belakang.Emma terbelalak. Langkahnya melambat lalu berhenti di depan sepeda kesayangannya yang kini tak berbentuk lagi.Ban depan kempes total. Stangnya bengkok, sementara
Udara pagi masih segar ketika Emma mengayuh sepedanya pelan menyusuri jalan menuju kampus. Tas ransel tergantung di punggungnya, bergerak naik turun mengikuti irama kayuhan kakinya. Rambutnya yang terikat sederhana ikut bergoyang tertiup angin pagi. Gerbang kampus menjulang tinggi di depannya, sama seperti kemarin, tapi kali ini berbeda. Kemarin dia berdiri sebagai orang luar. Hari ini dia melangkah masuk sebagai bagian dari tempat itu.Tak butuh waktu lama, Emma sudah berada di area parkir.Ia memperlambat kayuhannya, lalu berhenti di antara deretan kendaraan yang jelas tidak selevel dengan sepedanya. Mobil-mobil mahal berjejer rapi. Motor-motor keluaran terbaru berkilau terkena sinar matahari pagi.Sepedanya terlihat asing di tengah semua itu.Emma turun, menuntun sepedanya sebentar, lalu memarkirkannya di sudut yang tidak terlalu mencolok. Tangannya bergerak cekatan memasang kunci, memastikan semuanya aman.Namun, saat ia berdiri tegak—dia langsung merasakan tatapan aneh dari oran
Malam ini, Emma tidak bisa tidur. Pikirannya tidak bisa tenang sedikit pun. Ayahnya sudah berkali-kali berkata padanya. Tidak masalah dia tidak bisa masuk universitas itu. Jalan masih panjang. Emma masih bisa mengejar mimpi yang lain.Emma juga merasa lega karena ayahnya tidak kecewa. Tapi bukan itu, dia memikirkan perkataan pria tadi. Mengapa pria itu justru malah marah dan menyalahkannya?Emma bolak-balik di atas kasur.Menjelang pagi, Emma segera bersiap untuk menyusul ayahnya ke pasar.Saat dia tiba di jembatan yang biasa ia lalui, di tengah jembatan, dia melihat ada mobil berhenti. Lalu pintu belakang terbuka. Seorang pria didorong keluar dengan sengaja. Pria itu jatuh tersungkur.Pria itu? Mahasiswa yang kemarin?Emma terkejut. Saat mobil itu melintas di sampingnya, matanya melebar.The Crown?Emma kembali pada pria yang tersungkur di tanah. Kondisinya terlihat kacau.Bagian rambutnya terlihat botak-botak. Bajunya robek. Wajahnya bengkak.Emma membeku. Pikirannya teringat
Emma bisa merasakan tekanan dari tatapan pria itu. Sepertinya dia sedang mengukurnya.Tapi Emma tidak takut. Dia membalas tatapan Raka.Toh, dia juga bukan bagian dari kampus ini. Dan tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menjadi bagiannya. Dia tidak bisa berdiam diri melihat kelakuan mereka.Kalau memang harus membuat keributan, tidak masalah. Tapi tatapan Raka hanya sebentar, dia beralih ke arah Arsen.Seorang Raka, tidak perlu mengurus hal kecil seperti ini.Mendapat tatapan dari Raka, Arsen mendekati Emma. “Baru datang, ya?” Suaranya rendah.Emma tidak menjawab.“Belum tahu tempatnya,” lanjut Arsen, sambil mencondongkan tubuhnya ke samping Emma.Emma mengangkat dagu. “Kalau tempatnya seperti ini, memang nggak ada yang perlu dimengerti.”Arsen langsung tertawa. “Gila, gue suka lo.”Bima menggeleng. “Keren, keren.”Raka melirik sekilas, wajahnya kembali datar tanpa ekspresi. “Suruh dia pergi.” Raka berkata sambil menoleh pada Arsen.“He, lu denger nggak? Ketua kami nyuruh lu
Emma berjalan menuju gerbang dengan langkah berat, tapi dia ingin secepatnya pergi dari tempat mewah ini.Tiba-tiba, suara deru mesin mobil memecah udara. Emma refleks menoleh.Beberapa mobil mewah meluncur masuk ke halaman kampus dengan kecepatan tinggi, seolah tempat itu adalah milik pribadi mereka.Anehnya, tidak ada yang protes. Mahasiswa yang tadi berlalu-lalang justru menepi. Bahkan ada yang mundur tanpa sadar, dengan wajah tegang.“Wow, mereka datang!”“The Crown.”“Kita harus tampil sempurna di hadapan mereka agar diperhatikan.”Para mahasiswa berbisik. Emma mengernyit. Belum sempat dia menebak, mobil paling depan berhenti mendadak. Pintu pun terbuka pelan secara otomatis.Seorang pria tampan turun dengan langkah santai.Tidak terburu-buru. Tidak menunjukkan apa pun. Namun, satu langkahnya saja, bisa langsung membuat suasana berubah menjadi dingin dan menekan. Seolah-olah semua perhatian memang harus tertuju padanya.Emma mengerutkan alisnya. Pandangannya beralih dari pria it
Emma Salsabila berdiri di depan gerbang Universitas Adiwangsa Utama. Tidak bisa dipungkiri, perasaannya agak gugup. Mungkin karena ini baru pertama kalinya dia datang ke tempat semegah ini. Gedung mewah yang menjulang tinggi di depannya itu adalah kawasan kampus para kaum elit. Hampir tidak akses bagi orang luar kalau tidak memiliki agenda atau keperluan khusus. Saat dia berdiri di sini saja, dia sudah merasa jika dunia mereka memang sangat berbeda. Dia berasal dari golongan orang-orang yang harus berjuang untuk bertahan, sedangkan mereka yang berada di dalam sana adalah orang-orang yang telah hidup berkecukupan sejak lahir. Emma datang ke kampus ini bukan tanpa alasan. Satu bulan lalu, dia sempat menerima kabar bahwa dia dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa di Universitas Adiwangsa Utama. Bukan hal gampang untuk bisa diterima di Universitas ini. Emma harus memenuhi standar dan kriteria yang berlaku. Namun, belum sempat dia benar-benar merasakan kebahagiaan itu, sebuah pembe







