MasukProsesi pemakaman Ayah Bagas berlangsung khidmat di bawah langit pagi yang cukup cerah.Deretan kendaraan hitam milik klan Gunawan berbaris rapi di area pemakaman pribadi. Emma berdiri paling depan, mengenakan gaun hitam polos dengan kalung bintang melingkar indah di lehernya. Ibu Rosalinda memeluk bahu Emma, sambil sesekali melap air mata gadis itu dengan dengan penuh kasih sayang. Tanah dingin dan lembab perlahan menutupi peti kayu jati tempat Ayah Bagas beristirahat selamanya. Air mata Emma menetes tanpa suara, membasahi buket bunga mawar putih di genggamannya. "Selamat jalan, Ayah," bisik Emma pelan, menaruh mawar putih itu tepat di atas gundukan tanah yang masih basah. "Terima kasih sudah menjagaku selama belasan tahun ini. Aku janji akan jaga diri baik-baik, Ayah." "Beliau orang yang sangat mulia dan baik hati, Nak," ucap Rosalinda lembut seraya mengusap bahu Emma. "Papa dan Mama sudah menyiapkan panti asuhan atas nama Pak Bagas untuk meneruskan kebaikannya." "Terima kasih
Kai terlihat salah tingkah, memyadari kebodohannya sendiri seraya mengusap tengkuknya. "Semua karena Mama. Beberapa hari lalu, Mama marah besar sama aku." "Iyalah! Bagaimana Mama nggak marah-marah coba?!" potong Rosalinda sambil menatap Kai tajam. "Mama udah capek-capek undang Emma masak-masak di rumah, tapi kamu malah bikin dia sakit hati sampai dia lari dan menangis seperti itu! Mama tahu ada yang nggak beres dari caramu menatap Emma." "Aku kan kebingungan waktu itu, Ma," sela Kai membela diri. "Aku jujur ke Mama kalau selama ini aku sengaja mengawasi dan mematai-matai kamu. Awalnya cuma penasaran dan iseng karena ngerasa ada kemiripan, tapi makin lama dipelajari, semua petunjuk malah mengarah kalau Emma ini adikku yang hilang." Rosalinda menghela napas panjang, lalu menggenggam kedua tangan Emma erat-erat. "Saat Kai mengaku, Mama nggak bisa menahannya lagi, Nak," ucap Rosalinda lembut. "Sebenarnya Mama sudah tahu lebih dulu. Mama sengaja mengambil sampel rambutmu di rumah sak
Rumah duka mendadak kembali lengang begitu para pengawal menggiring paksa Ibu Renata, Raka, dan Arsen keluar. Pintu kayu jati ditutup rapat, mengunci seluruh riuh keributan dunia luar dan menyisakan sunyi yang menyayat di dalam ruangan beraroma kayu cendana itu. Emma melangkah perlahan menuju peti jenazah. Dengan jari gemetar, dia mengusap ukiran kayu tempat Ayahnya berbaring. Tidak ada lagi sisa kemarahan di matanya akibat kata-kata hinaan dari Ibu Renata. Kini, yang tersisa hanyalah duka seorang anak yang baru saja kehilangan separuh jiwanya. "Kak ..." panggil Emma pelan tanpa menoleh. "Mama ... terima kasih. Tapi bolehkah aku sendirian sebentar dengan Ayah? Aku cuma mau bicara sama beliau sebelum beliau dimakamkan." Rosalinda merengkuh bahu Emma, lalu mengangguk lembut. "Mama dan Kai di dekat pintu ya, Sayang. Ambil waktumu. Kalau ada apa-apa, panggil Mama atau Kakakmu." "Iya, Ma. Makasih." Emma duduk di samping peti sang ayah sambil membelai lembut tangannya pria yang telah m
Renata membeku di tempat. Kata-kata itu diucapkan tanpa intonasi tinggi, tapi begitu menusuk hingga suaranya terkunci di kerongkongan. Rasa malu dan cemas menghantam dadanya bertubi-tubi. Dengan napas tersengal, dia menoleh kasar pada putranya. "Raka! Ayo pergi! Jangan sudi berdiri di dekat cewek gila ini!" bentak Renata sambil menyentak tangannya lepas dari pegangan pengawal. Renata menarik paksa lengan Raka. Namun, Raka menepis cengkraman ibunya dengan sekali sentakan keras. "Raka?!" jerit Renata tak percaya. "Maaf, Ma. Kali ini aku akan nentuin hidupku sendiri.""Apa? Kamu udah berani melawan Mama demi gadis sombong ini?" Raka kembali menatap Emma tanpa memedulikan teriakkan dan kemarahan mamanya sama sekali. Matanya merah, air mata penyesalan menetes melewati luka memar di pipinya yang masih membiru. Di hadapan tiga orang pengawal, Kai, dan Rosalinda, Raka menjatuhkan kedua lututnya ke lantai dingin. Dia berlutut tepat di depan kaki Emma. "Emma, gue mohon," bisik Raka deng
Renata melangkah maju satu jengkal, menunjuk Emma yang menatapnya datar tanpa ekspresi. "Heh! Kamu pasti sudah menghipnotis mereka semua dengan kepolosan palsumu itu, kan?!" seru Renata sengit. Emma mengatupkan mulutnya menahan diri agar tidak meledak mendengar tuduhan Renata yang membabi-buta. Genggaman tangannya pada tangan Kai semakin kuat sehingga uratnya menonjol.Tidak mendapat jawaban dari Emma, Renata berbalik dan menatap Rosalinda sambil menggelengkan kepalanya. "Mana mungkin cewek kumuh yang hidup dari sisa kasihan orang ini darah daging dari keluarga besar kamu, Rosalinda?! Kamu cuma dimanipulasi sama drama picisan dia dan ayahnya yang miskin itu!" Rosalinda menyunggingkan senyum tipis. Langkah kakinya begitu tenang saat mendekati Renata, tapi aura yang dibawanya sanggup mengunci gerakan siapa pun di dalam rumah duka. "Jaga mulutmu, Renata," sahut Rosalinda dingin. "Pria yang kamu hina itu punya nama. Namanya Pak Bagas. Dan pria itu jauh lebih terhormat dibanding kamu
"Kapan rencana Ayahmu akan disemayamkan, Nak?" tanya Rosalinda sambil merangkul bahu Emma. Mata gadis itu sembap, tetapi air matanya sudah berhenti mengalir. "Aku belum tahu, Ma," jawab Emma pelan. Kai yang melihat adiknya tanpa semangat, segera mendekatinya dan menggenggam erat jemari Emma. "Lo nggak sendiri, gue ama Mama ada buat lo." Baru saja Emma mau menjawab, di luar gedung terdengar suara dorongan dan teriakan pecah. "Lepasin gue! Gue cuma mau ketemu Emma! Emma! Ini gue, Raka!" Raka memberontak liar. Kemejanya kusut, sudut bibirnya yang robek masih berdarah. Empat pengawal bertubuh tegap menahan dadanya, menjauhkannya dari pintu jati rumah duka. Emma menoleh pelan. Teriakan Raka yang terdengar putus asa menembus keheningan ruangan. Diamenghela napas panjang, lalu berbisik pada Kakaknya, "Izinkan dia masuk, Kai." Kai menatap adiknya sejenak. "Lo yakin mau kasih dia masuk?" "Iya, nggak apa-apa." Kai berjalan mondar-mandir sebentar, dia tidak rela kalau adik tersayangnya
Tak sampai satu menit kemudian, seorang wanita elegan berlari keluar rumah dengan wajah panik. Rambutnya bahkan sedikit berantakan, sesuatu yang sangat jarang terjadi. Bima sampai mengerutkan dahi. "Apa Bunda sakit gara-gara mikirin gue ya?" Perasaan tak enak mulai merambat di dadanya. "Bima!"
Raka melepas kemeja seragamnya yang terasa lengket karena panas cuaca hari ini.“Hah! Jadi pengen minum yang dingin-dingin,” gumamnyam sambil membuka kulkas berukuran raksasa di depannya.Jam di dinding menunjukkan pukul setengah enam sore, yang berarti sebentar lagi Emma sudah selesai mengajar Lil
Raka berjalan keluar dari kantin tanpa menoleh lagi. Suara riuh mahasiswa perlahan tertinggal di belakangnya. Namun, entah kenapa, justru tawa Emma yang masih terdengar jelas di kepalanya. Tawa yang tadi muncul karena Arsen. Bukan karena dirinya. Raka menuruni beberapa anak tangga dengan langkah
Emma Salsabila berdiri di depan gerbang Universitas Adiwangsa Utama. Tidak bisa dipungkiri, perasaannya agak gugup. Mungkin karena ini baru pertama kalinya dia datang ke tempat semegah ini. Gedung mewah yang menjulang tinggi di depannya itu adalah kawasan kampus para kaum elit. Hampir tidak akses

![Without You [Indonesia]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)





