LOGINEmma bisa merasakan tekanan dari tatapan pria itu. Sepertinya dia sedang mengukurnya.
Tapi Emma tidak takut. Dia membalas tatapan Raka. Toh, dia juga bukan bagian dari kampus ini. Dan tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menjadi bagiannya. Dia tidak bisa berdiam diri melihat kelakuan mereka. Kalau memang harus membuat keributan, tidak masalah. Tapi tatapan Raka hanya sebentar, dia beralih ke arah Arsen. Seorang Raka, tidak perlu mengurus hal kecil seperti ini. Mendapat tatapan dari Raka, Arsen mendekati Emma. “Baru datang, ya?” Suaranya rendah. Emma tidak menjawab. “Belum tahu tempatnya,” lanjut Arsen, sambil mencondongkan tubuhnya ke samping Emma. Emma mengangkat dagu. “Kalau tempatnya seperti ini, memang nggak ada yang perlu dimengerti.” Arsen langsung tertawa. “Gila, gue suka lo.” Bima menggeleng. “Keren, keren.” Raka melirik sekilas, wajahnya kembali datar tanpa ekspresi. “Suruh dia pergi.” Raka berkata sambil menoleh pada Arsen. “He, lu denger nggak? Ketua kami nyuruh lu pergi!” “Kenapa aku diusir? Kalian takut nama baik kampus ini tercemar?” bantah Emma. “Lo ngomong apa? Berani?” Arsen langsung memelototi Emma. “Kalian bukan dewa, kenapa mesti takut?” tantang Emma. “Katanya kampus elit. Standar karakter institusi diutamakan di sini. Tapi kelakuan kalian seperti preman di pasar,” lanjut Emma. Sunyi. Semua orang menahan napas. “Dia yang salah.” Emma menunjuk Bima. Emma melanjutkan, “Orang ini nggak sengaja.” Emma melirik ke arah pria yang masih terduduk di tanah. “Dia juga udah minta maaf, tapi masih dipukul. Enak sekali main pukul orang sembarang. Beginikah ajaran universitas kalian?” Semua orang langsung tercengang. Bima langsung maju. “Mulut lo!” Tiba-tiba Bima berhenti. Matanya menangkap sesuatu yang menarik di tangan Emma. Dia langsung merebut map cokelat dari tangan Emma. Emma tercengang. “Jangan!” Tapi map itu sudah berada di tangan Bima. “Apaan nih?” Meskipun dia sudah ditolak di sini, tapi map itu masih berguna. Emma tidak bisa membayangkan kalau isi map itu sampai rusak. “Kembalikan!” Tapi Bima sudah membaca isinya. “Pantesan mulutnya bau sampah,” ejek Bima sambil tertawa. “Emang apa isinya?” Arsen penasaran. “Calon penerima mahasiswa.” “Eh, atau malah mantan calon?” cibir Bima. Beberapa orang dikerumunan berisik, “Ternyata anak beasiswa.” “Pantes aja nggak tahu sama The Crown.” Bima belum puas mengejek, “Datang ke sini buat minta dikasihani, ya? Kasihan banget si lalat.” Wajah Emma memerah. “Kembalikan!” Emma berusaha mengambil mapnya. Tapi Bima sengaja mengangkat map itu tinggi-tinggi. Membuat Emma harus melompat-lompat untuk mendapatkannya. Arsen tertawa. Sebagian orang-orang di kerumunan ada yang ikut tertawa. Tapi Raka justru merasa kesal. Akhirnya dia berkata pada teman-temannya. “Berhenti.” Bima langsung menoleh, melihat ekspresi bosan Raka, tangannya berhenti. “Buat apa kalian mengurusi anak ini?“ lanjut Raka, lalu dia berbalik untuk pergi. Saat itu, Emma menahan tangan Bima dan berusaha merebut map-nya. Tapi Bima mendorongnya. Dan menjatuhkan map-nya. Map melayang. Emma langsung bergegas untuk mengambilnya. Pada saat map itu terjatuh ke tanah, bertepatan dengan langkah kaki Raka. Raka terdiam, map itu terinjak kakinya. Emma tercengang. Kepalanya terasa panas. Dada yang sejak tadi sudah penuh, sekarang benar-benar meluap. Tatapannya tertuju pada map di kaki Raka, lalu perlahan naik ke wajah Raka. Lalu tiba-tiba, PLAK! Suara tamparan menggema. Wajah Raka terhempas ke samping. Emma berdiri di depannya. Tangannya masih terlihat bergetar. Dadanya naik turun. Semua orang membeku. “Gila!” Arsen berbisik. Bima melongo. Kai menatap Emma semakin dalam. Raka mengusap pipinya yang lumayan panas. Lalu perlahan menoleh. Tatapannya jatuh ke Emma. Gelap dan dingin. Emma menatap balik. Dadanya masih naik turun. Sunyi. Beberapa detik berlalu. Raka tidak bereaksi apa pun. Dia juga tidak membalas seperti dugaan orang-orang. Tapi ekspresinya sama sekali tidak bisa ditebak. Hanya terus menatap Emma dengan sangat tajam. Bahkan seolah bisa menembus jantung. Emma mengernyit. Saat dia ingin membuka mulut, Raka tiba-tiba berbalik dan memberi isyarat pada teman-temannya untuk pergi. Orang-orang keheranan. Emma juga agak heran. Apa pria itu agak tersentuh hatinya karena tamparannya barusan? Lalu sebentar lagi akan sadar? Emma juga tidak ingin memikirkannya lebih lanjut, dia segera memungut mapnya dan bergegas pergi. Emma berjalan cepat menuju gerbang. Kepalanya masih penuh. Dadanya juga masih sesak. Kejadian barusan benar-benar di luar dugaannya sendiri. Dia menampar orang. Dan yang ditampar jelas bukan orang biasa. Tapi dia tidak menyesal. Mereka sudah keterlaluan. Emma mengusap mapnya yang kotor. Kemudian kembali berjalan. Tapi tiba-tiba, “Tunggu!” Seseorang memanggilnya dari jauh. Dia berhenti dan menoleh. Orang-orang di sana masih menatapnya. Sedangkan The Crown sudah tidak ada. Lalu dia melihat pria yang tadi dibelanya itu berlari ke arahnya. Wajahnya berantakan. Bibirnya masih sedikit bengkak. Setelah sampai di depan Emma, pria itu menatapnya dengan tatapan rumit. Emma menyerngit, “Ada apa?” “Siapa suruh kamu ikut campur?” Emma terdiam. “Aku cuma—” “Sebaiknya kamu minta maaf pada mereka.” Emma tercengang, “Apa?” “Kamu pikir, kamu sudah membantuku?” “Kamu malah akan memberiku banyak masalah. Kedepannya, mereka pasti akan menargetkan aku.” Emma bingung, belum sempat dia menyela, “Harusnya kamu diam seperti yang lain. Kamu aman, dan aku hanya akan menderita hari ini.” Hati Emma mencelos. “Mereka sesuka hati karena tidak ada yang berani melawan. Coba saja kalau—” “Siapa yang berani melawan mereka? Kamu belum tau mereka siapa. Mereka tidak boleh dilawan.” Emma terdiam. “Sekarang,” lanjut pria itu, “lebih baik kamu minta maaf sama mereka. Kalau nggak—” “Nggak. Aku nggak akan minta maaf sama mereka. Mereka itu salah!” Ekspresi pria itu berubah, wajahnya merah seperti menahan amarah. “Kalau aku lebih menderita daripada hari ini. Itu semua salahmu.” Setelah mengatakan itu, pria itu berbalik dan pergi. Emma menatap punggung pria itu. Dia menarik napas panjang. Lalu ikut berbalik dan melanjutkan langkahnya untuk pergi."Kai ..." bisik Emma tertahan, memegang lengan kakaknya yang gemetar menahan murka. Kai, pria yang selama ini terkenal paling tak banyak omong, kalau pun becanda, terasa garing sekali, dan hampir tak pernah mengandalkan otot, kini berdiri tegak di tempat Bima tadi berdiri. Tangannya yang terkepal rapat masih melayang di udara, dengan urat-urat leher yang menonjol tegang dan pandangan mata yang siap menghancurkan siapa saja. Arsen segera berdiri di tengah mereka. Dia siap turun tangan kalau Bima masih keras kepala. "Bangsat lo," maki Bima yang berdiri terhuyung-huyung mencoba duduk. Pria itu memegangi rahangnya yang terasa remuk. Dia menatap Kai dengan tatapan tak percaya, rasa panas membakar pipinya. Kai maju satu langkah, menunduk menatap Bima bagaikan melihat seekor serangga. "Sensasi bogem mentah dari 'kakak kandungnya' berasa nyata nggak, Bim? Atau lo masih mikir ini prank?" Suara Kai begitu dingin, tanpa ada sedikit pun nada bergurau yang biasanya melekat pada dirinya.
"Diem lo, Arsen!" bentak Bima tak sabar. Tawanya pecah, terdengar parau sekaligus sinis. "Lo yang diam," balas Arsen tak mau kalah. "Sebelum cewek ini masuk ke kampus kita, kita berempat solid! Tapi sekarang? Raka berantem sama lo, dan lo berdua malah nempel-nempel sama dia seolah dia ratu di sini!" "Jaga omongan lo, Bima!" Raka menggebrak meja hingga gelas-gelas kaca berdenting keras. "Di sini yang bermasalah itu lo! Datang-datang langsung mengkambinghitamkan Emma!" "Lihat! Bahkan ketua The Crown pun mendadak buta demi ngebela cewek biasa kayak dia!" teriak Bima murka, menatap Emma dengan sorot kebencian mendalam. "Puas lo, Emma? Puas udah hancurin nama besar kami?!" Kai yang sedari tadi menyandarkan tubuhnya di dekat pintu akhirnya melangkah maju, memotong ketegangan yang makin memuncak. "Bima, Bima ..." celetuk Kai dengan nada tenang, tapi sarat intimidasi. "Lo ngomong panjang lebar kayak gitu, lo tahu nggak siapa cewek yang dari tadi lo tunjuk-tunjuk pakai mulut sampah lo
Mobil Kai membelah jalanan malam yang mulai sepi. Di kursi depan, Kai fokus menyetir seraya sesekali melirik Arsen dari kaca spion tengah dengan tatapan curiga. Sementara Arsen yang duduk di belakang Emma justru cengengesan puas. Jejak cinta kemerahan di leher Emma akibat sapuan ciuman mereka di taman tadi masih tersembunyi rapi di balik rambut panjangnya yang digerai. TRING! TRING! TRING! Tiga nada dering pesan masuk berbunyi serentak di dalam mobil. Ponsel Kai yang terpasang di dashboard, ponsel Arsen di genggamannya, serta ponsel Emma di dalam tas kecilnya bergetar bersamaan. Kai mengernyitkan dahi seraya menepi pelan di lampu merah. Dia melirik layar ponselnya lebih dulu. Arsen pun langsung menunduk menatap layarnya, sementara Emma merogoh tasnya dengan heran. Pesan dari nomor Bima masuk ke layar mereka masing-masing. Bima: Bro, gue perlu ngomong sesuatu yang penting. Datang ke Restoran Merah besok am lima sore setelah pulang kampus. Gue tunggu kalian di sini. Tak berhenti
Arsen tersentak, mengerjapkan matanya berkali-kali seolah baru saja terbangun dari mimpi indah. 'Kita nggak boleh lebih dari ini, Arsen."Arsen mengangguk cepat saat melihat Emma yang ngos-ngosan dengan bibir makin bengkak dan leher berbekal jejak manis buatannya.Arsen menyapu rambutnya ke belakang dengan raut wajah kebingungan dan serba salah. Pria itu berdehem canggung, mencoba menetralkan napasnya yang ikut memburu. "S-sorry, Emma. Astaga, maafin gue," jelas Arsen parau, meraba tenggorokannya yang mendadak terasa kering. "Kamu tuh ya ..." "Iya, Emma. Entah kenapa, gue beneran nggak bisa kontrol diri pas nyium lo. Abisnya bibir lo manis banget, terus leher lo ... duh, bikin tatanan iman gue runtuh seketika." "Nakal banget sih! Lagian, emang kamu punya iman selama ini?" omel Emma mengusap lehernya yang masih sangat sensitif. Matanya yang berbinar indah, membuatnya terlihat makin menggemaskan di mata Arsen. "Ya nggak sih." Arsen tertawa renyah, melangkah mendekat satu langk
Emma tertegun. Lidahnya seketika kelu. Biasanya dia selalu menganggap kalimat godaan Arsen cuma angin lalu, tapi malam ini, tatapan mata pria itu begitu tajam, dalam, dan dipenuhi sinar ketulusan tanpa topeng."Kamu salah makan apa, Arsen?" canda Emma mencoba mengusir gejolak aneh dalam dadanya.Arsen meraih kedua tangan Emma, menggenggamnya erat lalu mengusap punggung tangan gadis itu dengan jemarinya yang hangat dan sedikit gemetar. "Please, jawab aku, Emma ..." bisik Arsen parau, membuat Emma menarik napas panjang."Atau setidaknya kita mencoba dulu. Gue tahu lo ragu gara-gara jejak playboy gue, tapi kasih gue kesempatan buat ngebuktiin semuanya ke lo kalau gue serius." Emma menatap Arsen lurus-lurus, mencari kepalsuan di balik mata pria itu. Namun, yang dia temukan hanyalah kejujuran dan ketakutan akan penolakan.Rasa ragu yang selama ini membentengi hati Emma perlahan runtuh. Toh selama ini, Arsen selalu ada untuknya.Akhirnya Emma mengangguk pelan, bibirnya mengukir senyum tip
"Pak Kumis, totalnya berapa semuanya?" tanya Kai seraya merogoh dompet tebal dari saku celananya, pasrah menghadapi kekalahannya dalam taruhan sambal malam itu. Pak Kumis menghitung cepat sambil tersenyum lebar. "Tiga porsi bakso urat super pedas, tiga teh botol, sama kerupuk lima, totalnya jadi seratus dua puluh ribu aja, Mas." Kai menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan dengan raut wajah yang merengut konyol. "Kembaliannya ambil aja, Pak, hitung-hitung tip buat kuah baksonya yang sukses bikin lambung gue bergejolak." Arsen yang berdiri di sebelah Kai tertawa lepas sambil menepuk-nepuk perutnya yang kenyang. "Makasih ya, Kai. Makan malam gratis dari kekalahan tragis lo emang terasa sepuluh kali lebih nikmat." "Diem lo, Sen! Awas aja ntar di mobil gue, lo ngeluh mules," sungut Kai, berjalan memimpin ke luar warung bakso menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan. Setelah keluar dari warung dan melangkah menuju area parkir, Arsen tiba-tiba mempercepat langkahnya. Dia meran
Emma berjalan menuju gerbang dengan langkah berat, tapi dia ingin secepatnya pergi dari tempat mewah ini.Tiba-tiba, suara deru mesin mobil memecah udara. Emma refleks menoleh.Beberapa mobil mewah meluncur masuk ke halaman kampus dengan kecepatan tinggi, seolah tempat itu adalah milik pribadi mere
Emma Salsabila berdiri di depan gerbang Universitas Adiwangsa Utama. Tidak bisa dipungkiri, perasaannya agak gugup. Mungkin karena ini baru pertama kalinya dia datang ke tempat semegah ini. Gedung mewah yang menjulang tinggi di depannya itu adalah kawasan kampus para kaum elit. Hampir tidak akses
Udara pagi masih segar ketika Emma mengayuh sepedanya pelan menyusuri jalan menuju kampus. Tas ransel tergantung di punggungnya, bergerak naik turun mengikuti irama kayuhan kakinya. Rambutnya yang terikat sederhana ikut bergoyang tertiup angin pagi. Gerbang kampus menjulang tinggi di depannya, sam
Malam ini, Emma tidak bisa tidur. Pikirannya tidak bisa tenang sedikit pun. Ayahnya sudah berkali-kali berkata padanya. Tidak masalah dia tidak bisa masuk universitas itu. Jalan masih panjang. Emma masih bisa mengejar mimpi yang lain.Emma juga merasa lega karena ayahnya tidak kecewa. Tapi bukan







