Share

Bab 3

Author: Any Anthika
last update publish date: 2026-04-23 18:26:28

Emma bisa merasakan tekanan dari tatapan pria itu. Sepertinya dia sedang mengukurnya.

Tapi Emma tidak takut. Dia membalas tatapan Raka.

Toh, dia juga bukan bagian dari kampus ini. Dan tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menjadi bagiannya. Dia tidak bisa berdiam diri melihat kelakuan mereka.

Kalau memang harus membuat keributan, tidak masalah.

Tapi tatapan Raka hanya sebentar, dia beralih ke arah Arsen.

Seorang Raka, tidak perlu mengurus hal kecil seperti ini.

Mendapat tatapan dari Raka, Arsen mendekati Emma. “Baru datang, ya?” Suaranya rendah.

Emma tidak menjawab.

“Belum tahu tempatnya,” lanjut Arsen, sambil mencondongkan tubuhnya ke samping Emma.

Emma mengangkat dagu. “Kalau tempatnya seperti ini, memang nggak ada yang perlu dimengerti.”

Arsen langsung tertawa. “Gila, gue suka lo.”

Bima menggeleng. “Keren, keren.”

Raka melirik sekilas, wajahnya kembali datar tanpa ekspresi. “Suruh dia pergi.” Raka berkata sambil menoleh pada Arsen.

“He, lu denger nggak? Ketua kami nyuruh lu pergi!”

“Kenapa aku diusir? Kalian takut nama baik kampus ini tercemar?” bantah Emma.

“Lo ngomong apa? Berani?” Arsen langsung memelototi Emma.

“Kalian bukan dewa, kenapa mesti takut?” tantang Emma.

“Katanya kampus elit. Standar karakter institusi diutamakan di sini. Tapi kelakuan kalian seperti preman di pasar,” lanjut Emma.

Sunyi. Semua orang menahan napas.

“Dia yang salah.” Emma menunjuk Bima.

Emma melanjutkan, “Orang ini nggak sengaja.” Emma melirik ke arah pria yang masih terduduk di tanah.

“Dia juga udah minta maaf, tapi masih dipukul. Enak sekali main pukul orang sembarang. Beginikah ajaran universitas kalian?”

Semua orang langsung tercengang.

Bima langsung maju.

“Mulut lo!” Tiba-tiba Bima berhenti. Matanya menangkap sesuatu yang menarik di tangan Emma.

Dia langsung merebut map cokelat dari tangan Emma.

Emma tercengang. “Jangan!”

Tapi map itu sudah berada di tangan Bima.

“Apaan nih?”

Meskipun dia sudah ditolak di sini, tapi map itu masih berguna. Emma tidak bisa membayangkan kalau isi map itu sampai rusak.

“Kembalikan!”

Tapi Bima sudah membaca isinya.

“Pantesan mulutnya bau sampah,” ejek Bima sambil tertawa.

“Emang apa isinya?” Arsen penasaran.

“Calon penerima mahasiswa.”

“Eh, atau malah mantan calon?” cibir Bima.

Beberapa orang dikerumunan berisik, “Ternyata anak beasiswa.”

“Pantes aja nggak tahu sama The Crown.”

Bima belum puas mengejek, “Datang ke sini buat minta dikasihani, ya? Kasihan banget si lalat.”

Wajah Emma memerah.

“Kembalikan!”

Emma berusaha mengambil mapnya.

Tapi Bima sengaja mengangkat map itu tinggi-tinggi.

Membuat Emma harus melompat-lompat untuk mendapatkannya.

Arsen tertawa. Sebagian orang-orang di kerumunan ada yang ikut tertawa.

Tapi Raka justru merasa kesal.

Akhirnya dia berkata pada teman-temannya.

“Berhenti.”

Bima langsung menoleh, melihat ekspresi bosan Raka, tangannya berhenti.

“Buat apa kalian mengurusi anak ini?“ lanjut Raka, lalu dia berbalik untuk pergi.

Saat itu, Emma menahan tangan Bima dan berusaha merebut map-nya. Tapi Bima mendorongnya. Dan menjatuhkan map-nya.

Map melayang.

Emma langsung bergegas untuk mengambilnya. Pada saat map itu terjatuh ke tanah, bertepatan dengan langkah kaki Raka.

Raka terdiam, map itu terinjak kakinya.

Emma tercengang.

Kepalanya terasa panas.

Dada yang sejak tadi sudah penuh, sekarang benar-benar meluap.

Tatapannya tertuju pada map di kaki Raka, lalu perlahan naik ke wajah Raka.

Lalu tiba-tiba,

PLAK!

Suara tamparan menggema.

Wajah Raka terhempas ke samping.

Emma berdiri di depannya. Tangannya masih terlihat bergetar.

Dadanya naik turun.

Semua orang membeku.

“Gila!” Arsen berbisik.

Bima melongo.

Kai menatap Emma semakin dalam.

Raka mengusap pipinya yang lumayan panas. Lalu perlahan menoleh.

Tatapannya jatuh ke Emma. Gelap dan dingin.

Emma menatap balik. Dadanya masih naik turun.

Sunyi.

Beberapa detik berlalu.

Raka tidak bereaksi apa pun. Dia juga tidak membalas seperti dugaan orang-orang.

Tapi ekspresinya sama sekali tidak bisa ditebak. Hanya terus menatap Emma dengan sangat tajam. Bahkan seolah bisa menembus jantung.

Emma mengernyit. Saat dia ingin membuka mulut, Raka tiba-tiba berbalik dan memberi isyarat pada teman-temannya untuk pergi.

Orang-orang keheranan. Emma juga agak heran. Apa pria itu agak tersentuh hatinya karena tamparannya barusan? Lalu sebentar lagi akan sadar?

Emma juga tidak ingin memikirkannya lebih lanjut, dia segera memungut mapnya dan bergegas pergi.

Emma berjalan cepat menuju gerbang. Kepalanya masih penuh. Dadanya juga masih sesak.

Kejadian barusan benar-benar di luar dugaannya sendiri.

Dia menampar orang. Dan yang ditampar jelas bukan orang biasa. Tapi dia tidak menyesal. Mereka sudah keterlaluan.

Emma mengusap mapnya yang kotor. Kemudian kembali berjalan.

Tapi tiba-tiba, “Tunggu!”

Seseorang memanggilnya dari jauh.

Dia berhenti dan menoleh. Orang-orang di sana masih menatapnya. Sedangkan The Crown sudah tidak ada. Lalu dia melihat pria yang tadi dibelanya itu berlari ke arahnya.

Wajahnya berantakan. Bibirnya masih sedikit bengkak.

Setelah sampai di depan Emma, pria itu menatapnya dengan tatapan rumit.

Emma menyerngit, “Ada apa?”

“Siapa suruh kamu ikut campur?”

Emma terdiam.

“Aku cuma—”

“Sebaiknya kamu minta maaf pada mereka.”

Emma tercengang, “Apa?”

“Kamu pikir, kamu sudah membantuku?”

“Kamu malah akan memberiku banyak masalah. Kedepannya, mereka pasti akan menargetkan aku.”

Emma bingung, belum sempat dia menyela,

“Harusnya kamu diam seperti yang lain. Kamu aman, dan aku hanya akan menderita hari ini.”

Hati Emma mencelos.

“Mereka sesuka hati karena tidak ada yang berani melawan. Coba saja kalau—”

“Siapa yang berani melawan mereka? Kamu belum tau mereka siapa. Mereka tidak boleh dilawan.”

Emma terdiam.

“Sekarang,” lanjut pria itu, “lebih baik kamu minta maaf sama mereka. Kalau nggak—”

“Nggak. Aku nggak akan minta maaf sama mereka. Mereka itu salah!”

Ekspresi pria itu berubah, wajahnya merah seperti menahan amarah. “Kalau aku lebih menderita daripada hari ini. Itu semua salahmu.”

Setelah mengatakan itu, pria itu berbalik dan pergi.

Emma menatap punggung pria itu. Dia menarik napas panjang. Lalu ikut berbalik dan melanjutkan langkahnya untuk pergi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 6

    Lapangan parkir belakang kampus mulai terasa sepi. Hanya tersisa beberapa kendaraan yang berkilau tertimpa cahaya matahari senja. Aspal menguarkan hawa hangat sisa panas sejak siang.Setengah berlari Emma menuju ke tempat ia memarkirkan sepedanya. Ia harus bergegas pulang, mungkin ia masih sempat membantu Ayah sebelum hari berakhir.Tanpa ia sadari, dari kejauhan, di balkon lantai dua gedung fakultas, empat sosok berdiri santai. The Crown.Raka bersandar di pagar besi dengan ekspresi datar. Kai tegak di sampingnya, diam seperti bayangan. Sementara Arsen duduk di railing dengan kaki menjuntai, sama sekali tak peduli risiko terjatuh. Dan Bima berdiri paling depan sambil menyeringai.“Mulai.” Gumaman disertai kilat berbahaya di mata Bima terpancar.Di parkiran, tiga mahasiswa langsung bergerak mendekati Emma dari arah belakang.Emma terbelalak. Langkahnya melambat lalu berhenti di depan sepeda kesayangannya yang kini tak berbentuk lagi.Ban depan kempes total. Stangnya bengkok, sementara

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 5

    Udara pagi masih segar ketika Emma mengayuh sepedanya pelan menyusuri jalan menuju kampus. Tas ransel tergantung di punggungnya, bergerak naik turun mengikuti irama kayuhan kakinya. Rambutnya yang terikat sederhana ikut bergoyang tertiup angin pagi. Gerbang kampus menjulang tinggi di depannya, sama seperti kemarin, tapi kali ini berbeda. Kemarin dia berdiri sebagai orang luar. Hari ini dia melangkah masuk sebagai bagian dari tempat itu.Tak butuh waktu lama, Emma sudah berada di area parkir.Ia memperlambat kayuhannya, lalu berhenti di antara deretan kendaraan yang jelas tidak selevel dengan sepedanya. Mobil-mobil mahal berjejer rapi. Motor-motor keluaran terbaru berkilau terkena sinar matahari pagi.Sepedanya terlihat asing di tengah semua itu.Emma turun, menuntun sepedanya sebentar, lalu memarkirkannya di sudut yang tidak terlalu mencolok. Tangannya bergerak cekatan memasang kunci, memastikan semuanya aman.Namun, saat ia berdiri tegak—dia langsung merasakan tatapan aneh dari oran

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 4

    Malam ini, Emma tidak bisa tidur. Pikirannya tidak bisa tenang sedikit pun. Ayahnya sudah berkali-kali berkata padanya. Tidak masalah dia tidak bisa masuk universitas itu. Jalan masih panjang. Emma masih bisa mengejar mimpi yang lain.Emma juga merasa lega karena ayahnya tidak kecewa. Tapi bukan itu, dia memikirkan perkataan pria tadi. Mengapa pria itu justru malah marah dan menyalahkannya?Emma bolak-balik di atas kasur.Menjelang pagi, Emma segera bersiap untuk menyusul ayahnya ke pasar.Saat dia tiba di jembatan yang biasa ia lalui, di tengah jembatan, dia melihat ada mobil berhenti. Lalu pintu belakang terbuka. Seorang pria didorong keluar dengan sengaja. Pria itu jatuh tersungkur.Pria itu? Mahasiswa yang kemarin?Emma terkejut. Saat mobil itu melintas di sampingnya, matanya melebar.The Crown?Emma kembali pada pria yang tersungkur di tanah. Kondisinya terlihat kacau.Bagian rambutnya terlihat botak-botak. Bajunya robek. Wajahnya bengkak.Emma membeku. Pikirannya teringat

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 3

    Emma bisa merasakan tekanan dari tatapan pria itu. Sepertinya dia sedang mengukurnya.Tapi Emma tidak takut. Dia membalas tatapan Raka.Toh, dia juga bukan bagian dari kampus ini. Dan tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menjadi bagiannya. Dia tidak bisa berdiam diri melihat kelakuan mereka.Kalau memang harus membuat keributan, tidak masalah. Tapi tatapan Raka hanya sebentar, dia beralih ke arah Arsen.Seorang Raka, tidak perlu mengurus hal kecil seperti ini.Mendapat tatapan dari Raka, Arsen mendekati Emma. “Baru datang, ya?” Suaranya rendah.Emma tidak menjawab.“Belum tahu tempatnya,” lanjut Arsen, sambil mencondongkan tubuhnya ke samping Emma.Emma mengangkat dagu. “Kalau tempatnya seperti ini, memang nggak ada yang perlu dimengerti.”Arsen langsung tertawa. “Gila, gue suka lo.”Bima menggeleng. “Keren, keren.”Raka melirik sekilas, wajahnya kembali datar tanpa ekspresi. “Suruh dia pergi.” Raka berkata sambil menoleh pada Arsen.“He, lu denger nggak? Ketua kami nyuruh lu

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 2

    Emma berjalan menuju gerbang dengan langkah berat, tapi dia ingin secepatnya pergi dari tempat mewah ini.Tiba-tiba, suara deru mesin mobil memecah udara. Emma refleks menoleh.Beberapa mobil mewah meluncur masuk ke halaman kampus dengan kecepatan tinggi, seolah tempat itu adalah milik pribadi mereka.Anehnya, tidak ada yang protes. Mahasiswa yang tadi berlalu-lalang justru menepi. Bahkan ada yang mundur tanpa sadar, dengan wajah tegang.“Wow, mereka datang!”“The Crown.”“Kita harus tampil sempurna di hadapan mereka agar diperhatikan.”Para mahasiswa berbisik. Emma mengernyit. Belum sempat dia menebak, mobil paling depan berhenti mendadak. Pintu pun terbuka pelan secara otomatis.Seorang pria tampan turun dengan langkah santai.Tidak terburu-buru. Tidak menunjukkan apa pun. Namun, satu langkahnya saja, bisa langsung membuat suasana berubah menjadi dingin dan menekan. Seolah-olah semua perhatian memang harus tertuju padanya.Emma mengerutkan alisnya. Pandangannya beralih dari pria it

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 1

    Emma Salsabila berdiri di depan gerbang Universitas Adiwangsa Utama. Tidak bisa dipungkiri, perasaannya agak gugup. Mungkin karena ini baru pertama kalinya dia datang ke tempat semegah ini. Gedung mewah yang menjulang tinggi di depannya itu adalah kawasan kampus para kaum elit. Hampir tidak akses bagi orang luar kalau tidak memiliki agenda atau keperluan khusus. Saat dia berdiri di sini saja, dia sudah merasa jika dunia mereka memang sangat berbeda. Dia berasal dari golongan orang-orang yang harus berjuang untuk bertahan, sedangkan mereka yang berada di dalam sana adalah orang-orang yang telah hidup berkecukupan sejak lahir. Emma datang ke kampus ini bukan tanpa alasan. Satu bulan lalu, dia sempat menerima kabar bahwa dia dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa di Universitas Adiwangsa Utama. Bukan hal gampang untuk bisa diterima di Universitas ini. Emma harus memenuhi standar dan kriteria yang berlaku. Namun, belum sempat dia benar-benar merasakan kebahagiaan itu, sebuah pembe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status