Share

31. Sama Gilanya

Author: Velmoria
last update Huling Na-update: 2026-01-13 22:04:18

Sebagai seorang neurolog, ia tahu persis apa yang sedang terjadi pada otaknya saat ini—banjir dopamin dan adrenalin yang dipicu oleh trauma visual dan hasrat yang tertahan. Namun, pengetahuannya tidak bisa menghentikan insting purbanya.

Kaelan mulai mencengkeram penisnya. Gerakannya kasar dan penuh keputusasaan.

“Vera …” bisiknya ke dalam bantal yang sunyi.

Setiap sentakan tangannya dibarengi dengan bayangan yang semakin detail. Ia tidak lagi membayangkan Dante di sana. Dalam pikirannya, ia
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   47. Menginginkan yang Lebih Kotor

    Dengan satu dorongan yang mantap dan terukur, ia menghujamkan miliknya masuk.“Aaaaaakh! Dante!” Vera menjerit, wajahnya terbenam di bantal saat merasakan diameter Dante yang luar biasa besar memaksa masuk ke tempat yang paling terlarang itu. Rasa penuh yang menyiksa sekaligus nikmat luar biasa membuat rahimnya berdenyut hebat.Dante tidak langsung bergerak cepat. Ia membiarkan Vera terbiasa dengan ukurannya, sementara tangannya menyelinap ke depan, mengocok klitoris Vera yang sudah banjir dengan sisa orgasme sebelumnya.Begitu Vera mulai terengah-engah dan menjepit miliknya dengan dinding anal yang berdenyut, Dante mulai memacu ritmenya.Plap!Plap!Plap!Bunyi kulit mereka yang beradu terdengar sangat kotor di balik selimut yang menutupi mereka.“Tatap aku, Vera,” perintah Dante. Ia menarik rambut Vera agar wanita itu menoleh ke belakang.Di bawah cahaya pagi, mereka saling mengunci tatapan—tatapan dua orang yang baru saja menaklukkan dunia mereka dan kini sedang merayakan kemenanga

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   46. Panas Setelah Kekacauan

    Begitu Xavia dibawa keluar oleh pengawal pribadi Dante untuk diasingkan sementara, wanita itu masih saja melayangkan tatapan membunuh pada Vera dan Dante. Meski tanpa kata-kata, mereka tahu apa artinya itu—pembalasan di kemudian hari.Vera tidak peduli akan kemungkinan itu. Apalagi Dante, yang justru siap kapan pun menerima serangan balik dari Xavia dan keluarganya. Bahkan dari ayahnya sendiri.Keheningan kini menyergap ruangan itu. Lampu darurat merah masih berkedip, menciptakan atmosfer yang panas dan mencekam.Dante menatap Vera. Adrenalin dari sabotase dan amarah yang ia tahan sepanjang malam kini bergolak menjadi satu, gairah yang primitif.Tanpa sepatah kata pun, Dante merenggut pinggang Vera dan membanting wanita itu ke atas meja makan yang berantakan oleh sisa kristal dan makanan.“Kau hampir mati malam ini, Vera,” geram Dante, suaranya terdengar seperti amarah sekaligus kecemasan. Ia membuka paksa jaket Vera yang basah, lalu menyambar kerah turtleneck tawanannya itu hingga te

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   45. Aku Milik Pria Ini

    Kaelan turun dan langkah lebarnya membuat ia bisa menghilang dengan cepat di kegelapan gedung konstruksi.Vera pindah ke kursi kemudi. Ia menginjak gas, menuju mulut terowongan logistik Obsidian Tower yang menjulang di depannya.Sebenarnya, tangannya terus gemetar sejak tadi. Semua rencana yang bersembunyi dalam kepalanya, kini ia jalankan satu persatu. Jujur saja, selain dari informasi dasar yang ia kumpulkan diam-diam selama ini, ia tak punya apa-apa. Selebihnya cuma tekad dan nekat.Vera akhirnya sampai di gerbang baja otomatis. Seorang penjaga dengan seragam Obsidian mendekat, menyinari wajah Vera dengan senter.Vera langsung memasang wajah korban—napas tersengal, mata berkaca-kaca, persis seperti tawanan yang baru saja melarikan diri dari Villa yang terbakar.“Tolong ... Dante memintaku kemari. Villa del Velo diserang!” seru Vera dengan suara gemetar yang dibuat-buat.Si penjaga ragu. Dia melihat protokol Blackout sedang aktif di atas sana, dan kedatangan tawanan sekaligus wanita

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   44. Rencana yang Kupunya

    Pria itu ragu sejenak. Vera menggunakan detik itu untuk bertindak spontan. Ia menyambar lampu meja di sampingnya dan membantingnya ke arah detektor asap di langit-langit.​BIP! BIP! BIP!​Vera tahu ia tidak punya kekuatan otot untuk menang, tapi ia punya berat tubuh dan gravitasi. Saat lantai mulai dibanjiri air dari sprinkler, permukaannya berubah menjadi medan licin yang mematikan bagi siapa pun yang menggunakan sepatu bot taktis yang keras.​Pria itu tergelincir sesaat saat Vera menerjangnya. Vera tidak mengincar dada atau bahu, tapi ia mengarahkan seluruh beban tubuhnya ke arah lutut pria itu yang sedang tidak stabil.​KRAK!​Suara tulang yang bergeser tertutup oleh raungan alarm. Pria itu mengerang, jatuh berlutut, namun insting terlatihnya segera bereaksi. Tangannya yang bebas mencengkeram leher Vera, menekannya ke lantai yang basah.“Kkhh!” Vera tercekik, air dari sprinkler masuk ke hidung dan mulut, membuatnya seolah tenggelam di daratan.​Pikirkan! Titik buta!Vera berusaha k

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   43. Pergerakan Mendadak

    Dante menatap Xavia dengan tatapan yang bisa membunuh. Keberadaan Xavia di hadapannya saat ini seperti jerat yang mencekik lehernya. Ia tahu, jika ia pergi sekarang, Xavia akan melepaskan perintah kematian. Bahkan wanita ini mendapat dukungan penuh dari Maximilian. “Kau pikir kau bisa mengendalikan setiap langkahku, Xavia?” geram Dante, suaranya rendah dan sarat akan ancaman. Xavia hanya tersenyum dingin. Ia menempelkan ponsel di telinganya, matanya tetap tertuju pada Dante. “Halo? Unit 4? Siapkan tim di koordinat yang baru saja kukirim. Tunggu instruksi dariku untuk ... pembersihan.” Dante bergerak secepat kilat. Ia merenggut ponsel itu dari tangan Xavia dan membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Ia menghimpit tubuh Xavia ke dinding, tangannya mencengkeram leher wanita itu—tidak cukup kuat untuk membunuh, tapi cukup untuk mengirimkan ancaman lewat tatapan dan tindakannya. “Jangan. Pernah. Menyentuhnya,” desis Dante tepat di depan bibir Xavia. Xavia tidak tak

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   42. Bukan Sekadar Ancaman

    Vera mendengus. Berdiri—berusaha tegak, merapikan dirinya dengan tangan gemetar yang tidak berarti ia takut pada ancaman Dante. Seks mereka benar-benar membuatnya lemas sekarang.Sekilas, Dante menangkap perubahan di raut wajah Vera, namun ia tidak bertanya. Mendekati Vera, lalu membantu merapikan rambut tawanannya itu.Vera menepis tangan Dante, “Jangan sentuh aku di luar seks.”Tangan Dante mengepal di udara, tatapannya menandakan kemarahan yang ditahan sedemikian rupa. “Kau sudah berani—”“Kau sudah mengambil terlalu banyak dariku, Dante. Jadi sisa yang masih kupunya, tetap milikku sendiri.” Vera sudah selesai dengan tampilannya yang kini telah rapi kembali.Dan sekarang waktunya bagi Vera untuk menatap Dante dan bicara langsung di depan wajah pria itu. “Aku sedang berusaha menerima keadaanku yang seperti ini. Jadi jangan pernah berani macam-macam pada keluargaku dan House of Nyx.”Dante terkekeh. Sorot matanya menandakan kemenangan tanpa keraguan. “Bagus. Keadaanmu akan semakin ja

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status