LOGINDi ruang kerja rumah Dimas, sinar matahari siang hari menerpa meja kayu besar yang penuh dengan berkas-berkas proyek dan laptop yang masih menyala. Dimas sedang berdiri di dekat jendela, ponsel di telinganya, sedang melakukan panggilan dengan salah satu rekan bisnisnya. Suaranya terdengar tenang dan penuh kepercayaan diri saat membahas detail akhir proyek yang baru saja diselesaikan. "Betul sekali, Pak Bambang. Semua tahapan proyek telah selesai sesuai dengan jadwal yang kita sepakati," ucap Dimas dengan suara yang jelas. Ia melihat sekilas ke luar jendela ke arah halaman rumah yang kini terasa sunyi. "Tim kami telah bekerja sangat keras untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar." Suara rekan bisnisnya yang bernama Bambang terdengar penuh kegembiraan dari sisi lain ponsel. "Dimas, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain terima kasih yang sebesar-besarnya! Proyek gedung perkantoran ini berhasil diselesaikan dengan sempurna — bahkan lebih baik dari yang kami harapkan. Ku
Sinar matahari siang hari menerpa lantai supermarket yang ramai. Nabila sedang berdiri di lorong makanan kaleng, sambil memilih beberapa kaleng sup ayam untuk menyediakan makan malam. Tangannya yang menggenggam keranjang belanja bergerak perlahan, namun pikirannya masih terjebak pada pembicaraan dengan Maura kemarin malam — bagaimana kakaknya telah memaafkannya dan memintanya untuk berada di pihaknya. Namun di balik itu, rasa dendam terhadap Dimas yang tidak mau bertanggung jawab masih terus membara dalam dirinya. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menyikut bahunya dengan keras, membuatnya terkejut dan hampir menjatuhkan kaleng yang sedang dipegangnya. Ia menoleh dengan cepat dan melihat wajah Dimas yang penuh dengan kemarahan, berdiri dengan tubuh yang menutupi jalan di depannya. Orang-orang yang lewat mulai melihat mereka dengan rasa penasaran, namun Dimas tidak peduli sama sekali. "Kita perlu bicara!" bisik Dimas dengan suara yang rendah namun penuh ancaman, menarik lengan Nabila
Maura perlahan turun dari taksi, membayar ongkos dengan tangan yang sedikit gemetar. Setelah sopir taksi mengangkat tangan sebagai ucapan selamat malam dan kemudian mengemudi menjauh, dia menoleh dan berjalan pelan ke arah Revan. Langkahnya terasa lebih ringan dari biasanya, meskipun hati masih berdebar kencang seperti akan keluar dari dada. "Kak ... kamu ngapain di sini?" tanya Maura dengan suara lembut yang hanya bisa terdengar di antara hembusan angin malam. Matanya tidak bisa lepas dari wajah Revan yang terpapar cahaya lampu pagar dengan lembut. Revan sedikit mengangkat bahu, kemudian menjauhkan tangannya dari saku celananya. "Aku hanya ingin bertemu dengamu," jawabnya dengan nada yang dalam dan penuh dengan makna. Ia melangkah satu langkah mendekat, membuat jarak antara mereka semakin menyempit. "Setelah kejadian tadi malam, aku tidak bisa tinggal diam dan hanya berpikir tentangmu." Maura mengerutkan kening dengan tatapan penuh kebingungan. "Tapi kamu tahu dari siapa rumahku?
Setelah Maura membawa Nabila keluar dari ruangan, Revan langsung mengeluarkan Alyssa dari ruang tamu menuju teras belakang yang sunyi. Udara malam yang sejuk menyapa wajah mereka, namun tidak mampu mendinginkan amarah yang sedang meluap di dalam diri Alyssa — atau kemarahan Revan yang baru saja muncul ke permukaan. "Kenapa kamu berkata kasar pada Nabila?!" hardik Revan dengan suara yang mengguntur, wajahnya memerah karena kemarahan. Matanya yang biasanya tenang kini membara seperti bara api, menatap Alyssa dengan penuh ketidaksetujuan. "Dia baru saja pingsan dan dalam kondisi yang sangat lemah, tapi kamu bahkan berani menarik rambutnya dan hampir menamparnya!" Alyssa menoleh, tidak mau melihat wajah Revan yang sedang marah padanya. "Dia sudah mengaku hamil dan menyatakan kalau anaknya adalah milikmu! Bagaimana mungkin aku tidak kesal?!" ucapnya dengan suara yang sama kerasnya, tubuhnya menggigil karena emosi yang mendalam. "Kalau kamu tidak marah, itu bukan berarti aku juga harus d
"Jangan pernah menampar Nabila!" kata Maura dengan suara yang tegas dan penuh dengan keyakinan, tangan kanannya dengan cepat menghalangi tangan Alyssa yang hampir mengenai wajah Nabila. Matanya yang biasanya lembut kini menunjukkan ketegasan yang jarang terlihat. "Eeeh!" Alyssa kesal, ia dengan kasar menepis tangan Maura. Wajahnya merah membara karena kemarahan yang meluap. "Kalau saja dia bukan adikmu, aku sudah membunuhnya!" serunya dengan suara yang mengguntur, membuat seluruh ruangan terasa semakin tegang. "Silakan saja kalau kamu bisa," tantang Maura yang tidak ada rasa takutnya sama sekali. Ia berdiri tepat di depan Nabila, seperti ingin melindungi gadis muda itu. "Tapi kamu harus tahu bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, Alyssa. Jangan sampai kamu menyesal karena melakukan sesuatu yang tidak bisa kamu ubah lagi." Alyssa terpana dengan jawaban Maura, matanya melotot tidak percaya. "Kamu ...?" ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar. "Kamu membela adik sialanmu ini
Nabila keluar dari kamar dengan langkah yang goyah, tubuhnya masih terasa lemah setelah pingsan tadi. Ia melihat semua orang telah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan — ada kekhawatiran, namun juga rasa penasaran yang jelas terpampang di wajah mereka. Pandangan matanya perlahan jatuh pada Cornelia yang duduk di sofa, tangan terlipat rapi di pangkuannya sambil memperhatikannya dengan seksama. Air mata Nabila tak bisa dibendung lagi, luruh begitu saja membasahi wajahnya yang masih pucat. Ia merasa seluruh tubuhnya menjadi lemas, gadis itu tidak punya kekuatan untuk berdiri lagi. "Dokter Reza bilang kamu hamil," ucap Cornelia dengan suara yang tenang namun penuh dengan kekerasan. Matanya yang biasanya lembut kini tampak tajam seperti pisau. "Kenapa begitu? Siapa ayah dari anakmu itu? Jangan kau sembunyikan dari kami, Nabila." Lutut Nabila terasa lemas seketika, tubuhnya pun bergetar hebat sebelum akhirnya luruh ke lantai yang dingin. "Maafkan aku, Tante ..." ujarnya dengan







