تسجيل الدخول"Sasha, dengar dulu..." William mencoba melangkah maju, tangannya terulur refleks untuk menenangkan. Namun, melihat sorot mata Sasha yang mengeras, ia menahan diri. Jarak dua langkah di antara mereka terasa seperti jurang yang menganga lebar. William menurunkan tangannya, membiarkan helaan napas berat lolos dari bibirnya. Ia memilih tidak membela diri lebih jauh, sadar bahwa setiap kalimat pembenaran hanya akan menyiram bensin ke dalam api amarah istrinya.Sasha tidak berniat memberikan panggung bagi William untuk bersilat lidah. Menghadapi sikap diam William, kemarahannya justru terasa semakin solid, membeku menjadi dinding es yang tebal."Aku tidak butuh penjelasanmu, William. Simpan saja semua teori dan logikamu untuk kelas kuliahmu besok pagi," lanjut Sasha, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang nyaris pecah menjadi tangisan, namun ia menolak terlihat lemah. "Malam ini, kamu sukses membuktikan satu hal. Kamu benci Aditama, tapi kamu memperlakukan orang yang mencintaimu deng
"Jadi diam dan jangan banyak berkomentar!"Kalimat itu menggantung berat di udara kabin mobil, dingin dan tajam. Detik itu juga, napas Sasha tertahan. Kata-kata William barusan bukan lagi sekadar bentuk pertahanan diri dari trauma masa lalunya itu adalah batasan mutlak yang sengaja ditarik William untuk membungkamnya.Sasha menatap suaminya yang masih menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras. Rasa terkejut akibat rem mendadak tadi kini bergeser menjadi rasa perih yang menjalar di dadanya. Bukan karena dia takut pada amarah William, melainkan karena untuk pertama kalinya, William menggunakan nada otoriter yang sangat familier. Nadanya persis seperti Aditama saat memotong pembicaraan orang lain di meja makan tadi.Sasha melepaskan sabuk pengamannya dengan gerakan pelan yang sengaja dibuat dingin. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela samping, menatap lampu-lampu jalanan kota yang berkelebat kabur di balik kaca yang mulai berembun."Baik," ucap Sasha, suaranya mendadak datar, kehi
Kirana tampak tersentuh, matanya kembali berkaca-kaca mendapat kelonggaran yang tidak pernah ia duga sebelumnya dari sang ayah. "Papa... makasih."William yang menyaksikan itu hanya bisa menahan tawa sinis di dalam hati. Sungguh pikir William tak sampai jika hanya ingin membuat Kirana terharu. Aditama sengaja melonggarkan cengkeramannya pada Kirana malam ini hanya untuk membangun reputasi baru sebagai 'Papa yang pengertian' di hadapan mereka, sekaligus membuat posisi William yang tetap menjaga jarak terlihat semakin tidak rasional.William melirik jam tangan kronograf di pergelangan tangannya. Jarum panjang baru saja menyentuh angka dua belas, menandakan tepat satu jam telah berlalu sejak mereka berpindah ke ruang tengah. Jam sembilan malam."Waktu kita sudah habis," ujar William tegas sambil berdiri dari posisinya.Ia dengan cekatan namun lembut mengangkat tubuh Arlan yang sudah terlelap ke dalam dekapannya. Kepala balita itu terkulai nyaman di pundak William. Sasha pun ikut bangki
Bisikan Sasha mendarat lembut di telinga William, membawa riak batin baru di tengah kepalanya yang hampir mendidih. William menoleh sedikit, menatap sepasang mata istrinya. Ia tahu Sasha tidak sedang tunduk pada manipulasi Aditama; Sasha hanya sedang menggunakan logika dinginnya. Menghadapi singa tua yang sedang berakting menjadi korban dengan cara menyerang balik secara frontal hanya akan membuat mereka terlihat sebagai monster di mata Kirana.William memejamkan mata sesaat, mengatur napasnya yang sempat memburu. Bahunya yang semula tegang perlahan melonggar.“Kamu gak tahu siapa dia.”“Setidaknya dia orang yang sudah tua. Kita bisa menganggap beliau orang lain jika kamu keberatan.”"Satu jam," ucap William akhirnya, suaranya datar tanpa emosi, namun cukup keras untuk memutus isak tangis Kirana.Aditama yang mendengar itu diam-diam menarik sudut bibirnya tipissangat tipis hingga nyaris tak terlihat!.Sebelum kembali memasang topeng wajahnya yang layu dan penuh syukur. "Terima kasih,
“Tunggu!” ujar Aditama.Suara itu tidak lagi menggelegar penuh kuasa seperti sebelumnya. Nada bicaranya mendadak merosot turun, bergetar hebat, seolah-olah seluruh wibawa yang menyokong tubuh ringkihnya runtuh dalam satu kedipan mata.William menghentikan langkahnya tepat dua jengkal dari ambang pintu ruang makan, namun ia tidak membalikkan badan. Bahunya menegang, mengantisipasi trik murahan macam apa lagi yang akan dimainkan oleh sang patriark.Di belakang mereka, terdengar suara gesekan kursi yang kasar. Aditama melangkah memutari meja makan dengan langkah yang sengaja dibuat sedikit terseret, kehilangan ritme tegas yang ia pamerkan beberapa menit lalu. Wajah otoriternya lenyap, digantikan oleh gurat keputusasaan yang begitu meyakinkan."William... Sasha..." Aditama menyebut nama mereka dengan napas yang memburu pendek, seolah pasokan oksigen di paru-parunya mendadak menipis. Pria tua itu memegang pinggiran meja untuk menopang tubuhnya, menatap lurus ke arah Kirana yang mulai teris
Aditama meletakkan pisau dan garpunya di atas piring porselen dengan dentingan halus yang terdengar begitu nyaring di ruang makan yang sunyi. Ia menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain, lalu melayangkan pandangan lurus ke arah Arlan yang sedang berusaha memotong dagingnya dengan canggung."Anak yang tampan," ujar Aditama, nadanya terdengar seperti seorang kakek yang bangga, namun sorot matanya sedingin es. "Dia mewarisi struktur rahangmu, William. Dan sepertinya... dia juga mewarisi ketenanganmu. Sayang sekali jika potensi sebesar itu harus tumbuh di luar lingkaran utama Aditama."Tangan William yang memegang garpu menegang. Ia bisa merasakan pergerakan kecil di sampingnya. Sasha, meski tetap diam sesuai janji, kini duduk lebih tegak dengan jemari yang meremas gaunnya sendiri."Dia tumbuh di tempat yang tepat," sahut William, suaranya sangat rendah, nyaris seperti geraman yang tertahan. "Jauh dari racun keluarga ini."Aditama tertawa hambar. "Racun? Atau perlindungan? Kamu terlalu n
Setelah berbicara dengan Pak Heri, Sasha pulang dengan hati yang lebih tenang namun masih penuh keraguan. Ketika ia tiba di kontrakan, ia melihat bahwa Bu Lastri sedang mengatur kasur busa baru di kamar tamu. Bantal dan selimut baru juga sudah diletakkan rapi di atasnya.“Bu, aku kan sudah bilang k
“Pak Heri, boleh saya bicara sebentar?”Sasha menghampiri sang pemilik usaha saat rekan-rekan lain sedang sibuk bercerita riang tentang hidangan rendang pari yang semalam mereka nikmati. Pak Heri sedang membersihkan bibirnya dengan serbet kain, wajahnya masih merona karena keceriaan tadi malam. Ia
Langkah Sasha keluar dari kantor Distributor Sentosa Abadi terasa lebih ringan daripada saat ia masuk tadi. Sinar matahari sore di kota kabupaten itu tidak lagi terasa menyengat, melainkan hangat dan menjanjikan.Sesampainya di rumah kontrakan, aroma tumis kangkung dan tempe goreng menyambutnya. Bu
Bu Lastri menatap Sasha lamat-lamat. Ada ketegasan di mata wanita muda itu yang mengingatkannya pada Nenek Wati keras kepala namun penuh kasih. Perlahan, keraguan di wajah Bu Lastri memudar, berganti dengan anggukan mantap."Baiklah, Nduk. Ibu ikut. Harta Ibu cuma kebun kecil ini, tapi ketenangan j







