Share

Bab 13

Penulis: Azzura Rei
last update Tanggal publikasi: 2026-01-01 05:47:54

William tidak menoleh saat Sasha masuk. Pria itu sibuk dengan tumpukan berkas, kacamata bacanya bertengger di hidung mancungnya, dan lengan kemeja putihnya digulung hingga siku.

"Duduk," perintah William tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya.

Sasha menelan ludah, kakinya gemetar saat melangkah menuju kursi di depan meja kerja. Jantungnya berdegup kencang, membayangkan skenario liar tentang apa yang akan William lakukan padanya sebentar. Apakah cambuk? Borgol?

Namun, William hanya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 202

    Suara tut yang panjang menandakan Clarissa telah memutuskan sambungan, namun di seberang sana, Raka tidak langsung menurunkan ponselnya. Ia menyandarkan punggung pada kursi kulit eksekutifnya, memutar kursi itu perlahan menghadap jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta. Senyum simpul tersungging di bibirnya senyum seorang predator yang baru saja melihat mangsanya masuk ke dalam sangkar emas yang telah ia siapkan dengan rapi.Raka menyesap sisa wine di gelasnya. Baginya, Clarissa adalah aset. Wanita itu memiliki perpaduan antara kecantikan yang tajam, kecerdasan yang disalahgunakan, dan keputusasaan yang membuatnya mudah dikendalikan. William memang bodoh karena telah membuang permata seperti Clarissa ke jalanan, tapi Raka jauh lebih cerdik karena tahu cara memoles permata yang retak itu menjadi senjata.Ponsel di atas meja berbahan mahoni itu kembali ia raih. Jemarinya menari lincah di atas layar, mengetikkan sebuah pesan singkat namun penuh nada otoritas yang tak terban

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 201

    Suara bariton Raka di seberang telepon terdengar begitu renyah, seolah-olah ia sedang menikmati segelas wine mahal di balik meja kerjanya yang mewah, sementara Clarissa harus meringkuk di atas kasur apek yang berbau keringat dan keputusasaan."Galak sekali, Clarissa. Baru pulang 'bertugas'?" Raka terkekeh, suara yang bagi Clarissa terdengar seperti gesekan pisau pada piring porselen."Bukan urusanmu. Kalau kau hanya ingin mengejekku, tutup teleponnya. Aku sedang tidak punya energi untuk meladeni kesombonganmu," ketus Clarissa sembari memijat pelipisnya yang berdenyut hebat akibat efek alkohol murah."Mengejek? Oh, Clarissa... kau sungguh tega menuduhku begitu," nada suara Raka berubah melunak, penuh drama keprihatinan yang dipoles sedemikian rupa. "Tidakkah kau ingat siapa yang datang ke kantor polisi malam itu? Saat William menjebloskanmu ke sel yang dingin dan menjijikkan itu? Siapa yang merogoh kocek dalam-dalam untuk membayar jaminanmu agar kau tidak membusuk di sana?" Ketus Clar

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 200

    Langkah kaki Clarissa terasa berat dan goyah saat ia menyusuri lorong sempit menuju kontrakan mereka yang pengap. Bau alkohol yang tajam menguar dari pakaian dan napasnya, bercampur dengan aroma parfum pria yang masih menempel samar di ceruk lehernya. Kepalanya berdenyut hebat, seolah-olah ada palu godam yang menghantam dinding tengkoraknya setiap kali ia melangkah.Dunia di sekitarnya tampak berputar. Kemarahan, rasa malu, dan kelelahan fisik melebur menjadi satu dalam kabut mabuk yang membuatnya nyaris terjatuh saat menaiki anak tangga kayu yang mulai lapuk.Pintu terbuka sebelum Clarissa sempat merogoh kunci. Di ambang pintu, berdiri Linda dengan wajah yang mengeras. Tidak ada lagi sisa-sisa kemewahan pada wanita itu, hanya ada daster lusuh dan guratan kebencian yang mendalam pada nasib yang menimpa mereka."Bagus. Pulang pagi lagi dalam keadaan seperti sampah," sapa Linda dingin, suaranya setajam silet yang menyayat keheningan malam.Clarissa hanya menyeringai tipis, sebuah ekspre

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 199

    "Ah…”“Lebih cepat, Sayang….”Suara ranjang yang berdecit dan hembusan napas begitu terasa. Dua insan sedang memadu kasih. Clarissa dan tentunya, lelaki yang sudah membayar nya. Keringat dingin membasahi pelipis Clarissa saat ia memejamkan mata rapat-rapat. Di balik kelopak matanya, ia tidak melihat wajah lelaki yang kini bersamanya, melainkan tumpukan tagihan rumah sakit dan bayangan masa depan yang terasa kian menjauh.Setiap derit ranjang tua di kamar remang-remang itu seolah menghitung mundur harga diri yang ia gadaikan. Clarissa mencengkeram sprei yang terasa kasar di bawah jemarinya, mencoba menulikan rungu dari suara napas berat sang pria yang memburu di telinganya. Bagi lelaki itu, ini adalah kesenangan yang dibayar tunai; bagi Clarissa, ini adalah cara paling menyakitkan untuk tetap bertahan hidup. Padahal, dulu dia mencibir Sasha karena melakukan pekerjaan ini tapi sekarang justru dia yang akhirnya harus melakukannya demi bisa bertahan hidup."Bagus... seperti itu," bisik

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 198

    Aku gak peduli, aku hanya ingin Sasha.”William melepaskan cengkeramannya di pinggang Sasha, beralih mencengkeram kerah safari Raka dengan satu tangan. Ia menarik pria itu hingga berdiri paksa, menatap langsung ke mata Raka yang penuh dengan tipu daya.“Kau bicara soal pulang, Raka?” desis William, suaranya seperti gesekan logam. “Ke mana? Ke lubang persembunyianmu di mana kau merencanakan pengkhianatan berikutnya? Jangan berlagak jadi pahlawan di depanku. Kita berdua tahu siapa kau sebenarnya.”William mengempaskan Raka hingga punggung pria itu menghantam pintu kayu jati. “Sasha tahu apa yang kau lakukan. Dia tahu setiap sen yang kau curi dan setiap nyawa yang kau korbankan untuk ambisimu. Keluar dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran dan membuatmu menyesal pernah menghirup udara bebas.”Raka menyeka sudut bibirnya, seringai tipis muncul di wajahnya yang licik. Ia tidak terlihat hancur; ia justru terlihat sedang menikmati permainan ini. Ia melirik Sasha, yang kini berdiri gemetar

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 197

    William kemudian menunduk, menatap Sasha dengan mata yang seolah memohon sekaligus mengancam. “Katakan padanya, Sasha. Katakan bahwa kau bahagia di sini. Katakan bahwa kau tidak ingin pergi ke mana-mana.”Sasha mematung. Ia menatap Raka dan berharap peluangnya untuk bebas lalu ia menatap William. Di mata William, ia melihat kegelapan yang sama dengan malam tadi, namun kali ini bercampur dengan keputusasaan yang nyata. Jika ia berkata ia ingin pergi sekarang, William mungkin akan menghancurkan segalanya termasuk Raka, termasuk dirinya sendiri, dan mungkin... masa depan Arlan.Lidahnya terasa kelu. Kebenaran yang pahit adalah: William telah membangun jaring yang begitu kuat sehingga meskipun pintunya terbuka lebar, Sasha tidak tahu ke mana ia harus lari tanpa menyebabkan kehancuran bagi orang-orang di sekitarnya.“Saya...” suara Sasha bergetar.William mencengkeram pinggang Sasha sedikit lebih keras, sebuah peringatan bisu.“Saya di sini atas kemauan saya sendiri, Raka,” ucap SashaDu

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 154

    Prosedur transplantasi pada Arlan sedang berjalan, Pak William. Anda harus istirahat," ujar seorang perawat.Namun, William bukanlah pria yang mudah diperintah. Dengan keras kepala, ia meminta kursi roda. Ia menolak untuk tetap berbaring sementara ada sebuah nyawa yang kini membawa bagian dari diri

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 146

    "Semuanya hancur. Semua gara gara ayah begomu ini, Clarissa!”Clarisa pun dihubungi. Bukan hanya shock, Clarissa pun mendapat imbas dari perbuatan ayahnya. Dia bekerja di perusahaan besar Aditama, membuat dia dalam masalah besar.“Mama gak lagi bercanda kan? Aku baru saja akan naik jabatan.”“Entah

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 144

    "Banyakk. Termasuk….”William menyesap kopinya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Bramanto yang mulai memucat. Keheningan di ruangan itu terasa mencekik, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa napas ketenangan Bramanto."Tentang golongan darah.Sasha

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 144

    “Jika benar Sasha masih hidup, aku akan balas kebohongan ini!”William menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil yang empuk, namun pikirannya bekerja dengan kecepatan tinggi. Pantas selama ini dia curiga dengan Bram yang kembali dan meminta belas kasihnya dengan dalih kematian Sasha. Benar ben

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status