LOGINPertanyaan Sasha menggantung di udara, membawa bobot emosional yang membuat keheningan pagi itu terasa berbeda. Tidak ada lagi ketegangan yang mencekik seperti semalam; yang tersisa hanyalah nada harap dari seorang istri yang menginginkan kedamaian sejati di dalam rumah tangga mereka.William tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke arah ruang tengah, di mana Arlan masih sibuk merakit komponen robotik dengan binar mata yang persis sama dengan dirinya saat mendalami proyek riset.William mengembuskan napas perlahan, mempererat dekapannya pada pundak Sasha. Sisi keras kepalanya yang dominan tidak serta-merta runtuh, namun kini ego itu telah bertransformasi menjadi kalkulasi yang lebih dewasa."Bicara empat mata dengan Aditama tidak pernah sesederhana obrolan antara ayah dan anak, Sha," ujar William, suaranya berat namun tenang. "Pria itu adalah seorang taktisi. Bahkan saat dia mengirimkan teh Sichuan dan mainan untuk Arlan, dia sedang meletakkan bidak catur baru di atas meja."Sasha
“Papa, ada paket!” teriak Arlan pagi pagi.William mengernyit dan melihat sebuah surat diberikan sang anak. Dia melihat Arlan meletakkan di atas meja dan berlari mengambil paket yang lain denban ukuran besqr.“Kamu pesan apa, Will?”William menggeleng seraya mengambil Surat bertuliskan tangan di atas meja kaca. Surat bernama seseorang yang tak ia habis pikir, seolah menjadi pembuka gerbang bagi babak baru yang tidak pernah William duga sebelumnya. Aditama, seorang patriark yang selama puluhan tahun memimpin Aditama Group dengan tangan besi dan kalkulasi bisnis yang dingin, tiba-tiba menunjukkan sisi yang hampir mustahil dipercaya oleh William: sebuah upaya rekonsiliasi yang gigih, yang tidak lagi disampaikan lewat instruksi korporat, melainkan melalui bahasa perhatian domestik.Sebuah truk boks berlogo ekspedisi premium berhenti di depan pagar rumah minimalis mereka. Dua orang petugas dengan seragam rapi menurunkan beberapa kotak besar dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah mere
William mengembuskan napas panjang, melonggarkan otot-otot bahunya yang sejak tadi menegang. Ia menoleh ke arah ruang tengah, memperhatikan Arlan yang sedang sibuk menyusun robot dinosaurus barunya di atas karpet. Bocah itu tampak begitu larut dalam dunianya, memamerkan senyum polos tanpa beban yang selama ini selalu ingin William lindungi dari bayang-bayang hitam keluarga utama."Aku menghabiskan sepanjang malam memetakan pertahanan digital untuk menghancurkan proyek Distrik Barat jika dia berani menyentuh kalian," kata William jujur, suaranya merendah, terdengar parau di telinga Sasha. "Aku bersiap untuk skenario terburuk, Sha. Dan sekarang... dia datang dan memotong semua kabel peledak yang kupasang dengan surat ini. Ini membuatku merasa konyol."Sasha tersenyum tipis, sebuah binar kehangatan yang sempat hilang semalam kini kembali sepenuhnya di matanya. Ia menggeser duduknya, merapat ke sisi William hingga lengan mereka bersentuhan. "Itu artinya kamu tidak perlu menjadi monster
William menerima surat itu dengan tangan yang sedikit kaku. Kepalanya berputar cepat, menganalisis setiap kemungkinan jebakan. Sifat keras kepalanya menuntutnya untuk mendeteksi kebohongan, tetapi semua dokumen di depan matanya adalah legal, valid, dan secara instan menyelesaikan semua ancaman finansial yang ia takutkan semalam. Aditama benar-benar sedang melucuti senjatanya sendiri untuk menunjukkan iktikad baik.Sasha melangkah mendekat, meletakkan tangannya di atas bahu William. Sentuhan itu tidak lagi dingin; itu adalah bentuk dukungan emosional yang sangat dibutuhkan William saat ini. "Terima kasih, Pak Hendra. Sampaikan salam kami kepada Beliau," kata Sasha, mengambil alih situasi sebelum ego William merusak segalanya.Setelah Hendra berpamitan dan mobil sedan itu menghilang dari pandangan, keheningan kembali menguasai ruang tamu. Arlan sudah berlari ke ruang tengah, asyik dengan mainan barunya.William duduk di sofa, membuka surat tulisan tangan ayahnya.“William, anakku yang k
Pagi hari berikutnya bergulir tanpa menyisakan jejak badai emosi yang berkecamuk di atas sofa beberapa jam lalu. Ketika sinar matahari pertama menembus gorden kamar utama, William terbangun dengan posisi Sasha yang masih meringkuk di dalam dekapannya. Sisa keintiman semalam meninggalkan kehangatan yang kontras dengan dinginnya udara pagi. Sasha membuka mata perlahan, menatap William tanpa kata-kata tajam seperti kemarin. Ada sebuah pemahaman bisu di antara mereka; dinding es itu belum sepenuhnya mencair, namun fondasinya telah kembali kokoh.Namun, kedamaian domestik itu tidak bertahan lama. Pukul sembilan pagi, sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat dikenal oleh William itu berhenti di depan pagar rumah mereka.William yang sedang menyeduh kopi di dapur langsung menegang saat mendengar suara deru mesin tersebut. Tangannya berhenti mengaduk. Sifat waspada dan keras kepalanya langsung bangkit ke permukaan. Ia melangkah menuju jendela depan, matanya menyipit tajam. Dari dalam mobi
William membiarkan tangannya diam di tempatnya, tidak mencoba mengejar atau memaksakan sentuhan yang baru saja ditolak Sasha. Penolakan itu dingin, senyap, namun getarannya terasa begitu kuat di atas kasur yang sama.Di antara mereka berdua, Arlan mendengkur halus. Tangan kecil bocah itu memegang ujung kaus William, sementara kakinya menempel pada paha Sasha. Anak itu menjadi satu-satunya jembatan hidup di atas jurang pemisah yang sengaja mereka bangun malam ini.William menoleh ke samping, menatap ubun-ubun Arlan, lalu beralih pada siluet punggung Sasha yang masih melengkung kaku. Sisi keras kepala William bergolak lagi. Ada bagian dari dirinya yang ingin bangkit, kembali ke ruang kerja, dan menenggelamkan diri dalam baris-baris kode Aegis sampai pagi. Mengapa dia harus bertahan di ranjang ini jika kehadirannya hanya dianggap sebagai gangguan? Dia tidak terbiasa diabaikan seperti ini. Di kampus, kata-katanya didengar. Di dunia digital, perintahnya mutlak.Namun, setiap kali egonya me
Sasha menurut. Ia mencondongkan tubuh ke depan. "Pak, tolong bicara sama... sama suami saya. Penting."Sopir itu bingung tapi menurut. "Halo, Pak?""Dengarkan saya baik-baik, Pak," suara William menggema di dalam mobil kecil itu, tegas dan mengintimidasi. "Ada penguntit berbahaya di belakang mobil
“Diam dulu, Cla," geram Raka."Kamu di mana? Kita harus susun rencana baru. Papa mulai luluh lagi sama Sasha gara-gara pembelaan William kemarin," cerocos Clarissa."Aku tahu," potong Raka dingin. Matanya tidak lepas dari arah kepergian Sasha."Dengerin aku, Raka. Sasha itu bodoh. Dia pasti ninggal
Clarissa yang sedang mematut diri di cermin bedaknya tersentak. "Y-ya, Pak?""Jelaskan konsep Bad Faith atau Mauvaise Foi menurut Sartre. Sekarang."Clarissa tergagap. "Ehh... itu... keyakinan yang buruk ya, Pak? Kayak... nggak percaya diri?""Salah. Nol besar," potong William kejam. "Keluar. Saya
Saya bilang makan," potong William, suaranya menajam. "Dan satu hal lagi."William meletakkan tabletnya, memutar tubuhnya menghadap Sasha sepenuhnya. Wajahnya keras, egonya yang terluka sedang berusaha menutupi rasa malunya dengan arogansi."Lupakan apa yang kamu lihat semalam. Hapus dari ingatanmu







