LOGINPintu jati tebal itu tertutup rapat dengan bunyi klik yang final, meninggalkan Sasha sendirian dalam keheningan ruang kerja CEO yang mendadak terasa terlalu luas. Kata-kata terakhir William. Jam lima sore seolah bergaung di dinding marmer, memicu debaran yang ritmis dan pekat di dada Sasha.Ia melirik jam dinding. Masih ada waktu sekitar dua jam lagi.Sasha mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan untuk memeriksa penampilannya. Kemeja putih William yang tenggelam di tubuhnya bergoyang mengikuti langkahnya. Aroma maskulin khas suaminya yang tertinggal di kain itu terus-menerus menggelitik inderanya, membuat ingatan tentang intensitas di atas sofa tadi menolak untuk pergi. Dengan pipi yang masih merona kemerahan, Sasha buru-buru merapikan rambutnya yang berantakan dan mengancingkan kemeja itu hingga batas paling atas, berusaha menyembunyikan tanda kemerahan yang ditinggalkan William di lehernya.Sesuai perinta
Sasha tertegun sejenak di balik selimut yang menutupi separuh wajahnya. Kata-kata William barusan diucapkan dengan nada yang begitu datar dan profesional, namun justru memberikan efek kejut yang instan pada debaran jantungnya. Pria itu sudah membalikkan badan, berjalan menuju kamar mandi pribadi dengan langkah tegap dan santai, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja meruntuhkan seluruh pertahanan Sasha."Will! Rapat koordinasi itu sampai sore, kan?" seru Sasha sedikit berteriak, suaranya masih terdengar serak di ujung tenggorokan.Langkah William terhenti tepat di ambang pintu kamar mandi. Ia menoleh sedikit, memperlihatkan separuh wajahnya yang kembali kaku, namun matanya berkilat jenaka yang sangat tipis, jenis tatapan yang hanya bisa Sasha tangkap karena ia sudah terlalu hafal tabiat suaminya."Tepatnya sampai jam empat sore," sahut William tenang. "Jadi, saya sarankan kamu menggunakan waktu beberapa jam ini untuk mengistirahatkan fisikmu, Sasha. Karena setelah jam kantor selesai, s
William merebahkan tubuh Sasha ke atas sofa kulit hitam yang dingin. Kontras suhu itu menyengat kulit Sasha, namun ia tidak punya waktu untuk mengeluh karena tubuh besar William langsung mengungkungnya, menutup semua jalur pelarian.Tatapan William tidak lagi memancarkan frustrasi, melainkan sorot mata yang tajam, dingin, dan penuh kalkulasi khas seorang profesor logika yang tahu persis bagaimana cara memenangkan argumen tanpa perlu berteriak."Will—"Sasha belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat William menunduk dan membungkam bibirnya. Tidak ada pembukaan yang manis atau beralih perlahan. William langsung mengklaim dengan dominasi yang mutlak, melumat bibir Sasha dengan ritme yang menuntut kepatuhan penuh. Lidahnya menyapu rongga mulut Sasha, memaksa wanita itu mengikuti tempo yang ia dekte secara sepihak.Sasha melenguh rendah, jemari tangannya merayap naik dan mencengkeram bahu tegap William. Rasa dingin yang biasanya melekat pada sikap pria itu mendadak menguap, digantikan ole
William memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar untuk meredakan gejolak di dadanya yang masih naik-turun. Ia menatap Sasha dengan pandangan menusuk yang seolah mengatakan hal yang justru membuat Sasha semakin asyik menikmati pemandangan langka tersebut."Tunggu di situ," perintah William dengan suara yang ditekan serendah mungkin, terdengar serak dan berbahaya.William berbalik memunggungi Sasha, membenarkan posisi pakaiannya, mengancingkan kembali celananya, dan merapikan kemejanya yang sedikit kusut dengan gerakan gusar yang kentara. Setelah memastikan penampilannya kembali prima dan profesional meski telinganya masih memerah menahan hasrat William melangkah menuju pintu.Ia membuka pintu hanya selebar celah yang cukup untuk tubuhnya, menghalangi pandangan Karina agar tidak bisa melihat ke dalam ruangan tempat Sasha duduk di atas meja."Manajemen waktu kamu sangat buruk, Karina," ucap William dingin, suaranya terdengar seperti es yang m
Sentuhan jari William di rahangnya terasa seperti aliran listrik yang langsung melumpuhkan sisa-sisa argumen di kepala Sasha. Keberanian yang sempat ciut saat melewati lobi kantor tadi mendadak berganti menjadi debaran adrenalin yang pekat. Tatapan William yang menggelap, tanpa jarak, dan menuntut, membuat Sasha tidak bisa berpikir jernih lagi.Tanpa menjawab, Sasha justru memajukan wajahnya, memangkas sisa jarak yang ada untuk menyatukan bibir mereka. Tindakan impulsif itu seperti menyulut sumbu dinamit. William mengerang rendah, langsung memperdalam ciuman mereka dengan dominasi yang mutlak. Tubuh Sasha terdorong hingga punggungnya merapat pada dinding marmer yang dingin, namun rasa dingin itu segera menguap oleh kehangatan tubuh William yang menghimpitnya.Tangan William bergerak cepat, menuntun pinggang Sasha agar semakin merapat padanya. Setelan kemeja kerja William yang rapi mulai kusut oleh cengkraman tangan Sasha yang mencari pegangan. Di antara deru napas yang memburu dan k
Sasha menahan napas sejenak, merasakan embusan napas William yang hangat menerpa kulit pelipisnya hingga mengirimkan gelenyar halus ke seluruh tubuh. Pertanyaan retoris yang berbisik begitu dekat itu membuat pertahanannya semakin terkikis.Ia melirik ke arah kaca spion depan dengan panik. Meskipun sekat kaca tipis dan profesionalitas supir pribadi William menjamin privasi mereka, posisi tubuh William yang teramat dekat ini tetap saja membuat Sasha merasa sedang melakukan sesuatu yang terlarang di tempat umum."P-Pak William, tolong mundur sedikit," cicit Sasha, mencoba mendorong dada bidang pria itu dengan tangan kirinya yang bebas. Namun, alih-alih bergeser, otot dada William yang keras di balik setelan jas mahalnya justru terasa seperti dinding kokoh yang mustahil dipindahkan.William terkekeh rendah, sebuah suara berat yang menggetarkan rongga dadanya dan terdengar begitu intim di telinga Sasha. Bukannya mundur, tautan jemari mereka di atas armest justru semakin dipererat, mengunci
"Semuanya hancur. Semua gara gara ayah begomu ini, Clarissa!”Clarisa pun dihubungi. Bukan hanya shock, Clarissa pun mendapat imbas dari perbuatan ayahnya. Dia bekerja di perusahaan besar Aditama, membuat dia dalam masalah besar.“Mama gak lagi bercanda kan? Aku baru saja akan naik jabatan.”“Entah
"Banyakk. Termasuk….”William menyesap kopinya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Bramanto yang mulai memucat. Keheningan di ruangan itu terasa mencekik, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa napas ketenangan Bramanto."Tentang golongan darah.Sasha
“Jika benar Sasha masih hidup, aku akan balas kebohongan ini!”William menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil yang empuk, namun pikirannya bekerja dengan kecepatan tinggi. Pantas selama ini dia curiga dengan Bram yang kembali dan meminta belas kasihnya dengan dalih kematian Sasha. Benar ben
Ruangan kerja itu sewangi kayu ek dan aroma kopi arabika yang pekat, namun suasananya sedingin es sama seperti pemiliknya. William duduk di balik meja mahoninya yang luas, jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama yang monoton dan presisi. Di kepalanya terisi banyak hal ter







