Share

bab 144

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-03-24 21:48:23

“Jika benar Sasha masih hidup, aku akan balas kebohongan ini!”

William menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil yang empuk, namun pikirannya bekerja dengan kecepatan tinggi. Pantas selama ini dia curiga dengan Bram yang kembali dan meminta belas kasihnya dengan dalih kematian Sasha. Benar benar dia sudah ditipu oleh lelaki yang menjadi ayah Sasha selama ini.

"Hendri," suara William memecah keheningan kabin mobil. "Kamu tahu rumah anak itu tinggal?”

“Tahu, Pak. Kita ke sana atau ke sekolah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 163

    William tidak langsung menjawab. Ia justru meraih sebuah kotak beludru hitam dari meja rias, membukanya, dan mengeluarkan seuntai kalung berlian dengan mata zamrud yang berkilau tajam di bawah lampu kristal. Dengan gerakan posesif, ia melingkarkan perhiasan dingin itu di leher Sasha."Termasuk itu," jawab William setelah mengunci kaitan kalung tersebut. Jemarinya sengaja berlama-lama di tengkuk Sasha, merasakan bulu kuduk wanita itu meremang. "Ayahmu, kemewahan ini, dan keamanan Arlan. Semuanya ada dalam genggamanku. Kau hanya perlu menjadi bayanganku yang setia. Tak perlu mencari atau tahu bagaimana kondisi Ayahmu"Sasha menatap pantulannya di cermin. Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Gaun Versace itu membuatnya tampak seperti bangsawan, namun di matanya, ia hanya melihat seorang tawanan yang sedang dihias sebelum dipamerkan."Kau bicara seolah-olah aku punya pilihan," bisik Sasha getir."Kau selalu punya pilihan, Sasha. Hanya saja, kau cukup cerdas untuk tahu bahwa melawan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 162

    “Alasan bodoh! Apa yang kau lihat di sana, Sasha? Kelemahan? Atau masa depan yang tidak sanggup kau tolak?”Suara William merambat di tengkuk Sasha, berat dan bergetar, saat jemarinya mulai mendaki perlahan dari lutut menuju paha Sasha.Sasha tersentak, mencoba menggeser duduknya, namun tangan William yang lain sudah lebih dulu mencengkeram sandaran kursi, mengurungnya. “Lepaskan tanganmu, William. Kita sedang di kantor.”“Kantor ini milikku. Semua yang ada di gedung ini bernapas atas izinku. Termasuk kau,” bisik William. William menarik kursi Sasha hingga mereka berhadapan begitu dekat. “Aku mau bertanya ulang. Jawab pertanyaanku. Semalam, kenapa kau memperhatikan aku tidur?”“Aku hanya... aku merasa asing melihatmu setenang itu,” jawab Sasha parau, mencoba memalingkan wajah. “Kau terlihat seperti manusia biasa saat tidur, bukan monster yang terobsesi pada kendali.”William terkekeh sinis, jemarinya berhenti tepat di batas rok Sasha. “Monster? Kalau aku monster, kau tidak akan duduk

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 161

    "Jalan jalan dong, Sayang.” William menggendong dan menciumnya penuh kasih.“Mama ikut?”William menengok pada Sasha,” menurut Arlan, ikut nggak?”“Kalau mama ikut, Arlan mau. Kalau enggak, Arlan gak mau.”“Kenapa?”“Kasihan mama, selama ini mama sudah ngerawat Arlan sendirian, Papa. Ikut ya mama Arlan?”William tersenyum dan mengangguk. Keduanya keluar dan Sasha masih berdiri mematung di sana. Mencerna dengan baik apa yang dilakukan oleh Arlan kepada William.Bunyi klakson mengangetkan Sasha, dia pun mengambil tasnya dan bergegas menyusul keduanya sebelum William memberikan hukuman.Kantor pusat Van Doren Enterprises adalah monumen kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan mutlak. Sasha merasa kerdil saat melangkah masuk ke lobi yang luas, dikawal oleh William yang berjalan dengan keangkuhan seorang raja. Para karyawan menunduk hormat, namun Sasha bisa merasakan tatapan penasaran dan bisik-bisik di belakang mereka.Di dalam lift pribadi menuju lantai teratas, keheningan menyelimuti m

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 160

    "Pak?” Sasha yang berpikir William sudah pergi."Kau pikir dengan mandi air panas selama itu, kau bisa menghapus jejakku dari kulitmu?"Suara berat William memecah kecanggunhan, tepat saat Sasha melangkah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang masih dibalut jubah mandi putih tebal. William tidak lagi berada di tempat tidur, ia berdiri di dekat jendela besar, membelakangi cahaya bulan, membuat siluetnya tampak seperti raksasa yang siap menelan mangsanya.Sasha tersentak, jemarinya refleks merapatkan kerah jubah di lehernya."Aku hanya ingin merasa bersih, Pak. Apa itu juga dilarang dalam kontrakmu?"William berbalik perlahan. Ia berjalan mendekat, langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet bulu yang mahal. "Segala sesuatu tentangmu adalah urusanku sekarang. Termasuk seberapa lama kau menghabiskan waktu di bawah pancuran air."“Satu lagi.” Ia berhenti tepat di depan Sasha, aroma wiski dan maskulin yang tajam segera menyerbu indra penciuman wanita itu. William mengulurkan tangan,

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 159

    Sasha memekik, matanya terbelalak. Rasa penuh dan sesak itu seketika mengambil alih seluruh kesadarannya. Sudah terlalu lama. William berhenti sejenak, membiarkan tubuh Sasha beradaptasi dengan ukurannya."Kau masih sesempit dulu," geram William, urat-urat di lehernya menegang.Ia mulai bergerak, awalnya perlahan dan dalam, kemudian semakin cepat dan bertenaga. Setiap tumbukan membuat meja ek itu berderit, suara yang beradu dengan napas mereka yang memburu. William mencengkeram pinggul Sasha, memastikan setiap dorongannya mencapai titik terdalam.Sasha merasa seolah jiwanya akan tercerabut. Ia mencengkeram bahu William, kuku-kukunya tertanam di kulit pria itu. Dunia di sekelilingnya memudar; tidak ada lagi dendam, tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi Arlan. Hanya ada gesekan panas, aroma keringat, dan kenikmatan yang menyakitkan."William... lebih... cepat..." Sasha memohon, suaranya parau.William menuruti permintaan itu. Gerakannya menjadi semakin liar, hampir kasar. Ia menciumi w

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 158

    Sasha terengah-engah, dadanya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan. Dorongannya pada dada bidang William hanya membuat pria itu bergeming, layaknya sebuah karang yang dihantam ombak kecil. Ruang kerja yang dingin itu seketika terasa menyesakkan, seolah oksigen di dalamnya telah habis tersedot oleh kehadiran William yang dominan.William menyeka sudut bibirnya dengan ibu jari, sebuah senyum miring yang sarat akan kemenangan tersungging di wajahnya yang tegas. "Tidak benar?" bisik William, suaranya rendah dan serak, bergema di antara rak-rak buku yang menjulang. Sasha memalingkan wajah, benci dengan respon tubuhnya sendiri. "Apa yang tidak benar, Sasha? Bukankah kau yang memulai semua ketidakbenaran ini dengan kebohonganmu bertahun-tahun yang lalu?""Aku melakukannya untuk melindunginya!" balas Sasha sengit, meski matanya masih basah oleh sisa air mata. "Ayahmu adalah pengecut yang menggunakanmu sebagai pion, sekarang kau harus menebusnya," potong William cepat. Ia melangkah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status