Share

143

Author: Azzura Rei
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-24 21:24:50

Ruangan kerja itu sewangi kayu ek dan aroma kopi arabika yang pekat, namun suasananya sedingin es sama seperti pemiliknya. William duduk di balik meja mahoninya yang luas, jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama yang monoton dan presisi. Di kepalanya terisi banyak hal termasuk wajah Arlan yang dia temui tempo hari.

Hendri, asisten setianya selama hampir satu dekade, berdiri dengan sikap sempurna. Ia adalah satu-satunya orang yang diizinkan masuk ke ruang privat ini, n
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 220

    “Mana mungkin aku seberani itu,” goda Sasha tapi jemari mengusap pipi William dan memicu hasrat terpendam itu keluar.William tertegun sejenak, napasnya tertahan di tenggorokan saat merasakan sentuhan lembut namun tegas dari jemari Sasha. Sentuhan itu tidak terasa seperti perlawanan, melainkan sebuah undangan yang selama ini ia dambakan namun terlalu gengsi untuk diminta. Ia menangkap tangan Sasha, mengecup telapak tangannya lama, lalu menatap istrinya dengan sorot mata yang tak lagi tajam karena kecurigaan, melainkan redup oleh gairah yang mulai membakar."Keberanianmu adalah hal yang paling berbahaya bagiku, Sasha," bisik William, suaranya kini serak dan rendah. Ia menarik Sasha lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka, aroma tubuh Sasha yang menenangkan bercampur dengan udara dingin pegunungan menciptakan kontras yang memabukkan.Sasha hanya tersenyum tipis, membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya pada dada bidang William."Siapa juga yang menggoda. Aku tidak ingi

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 219

    Sabtu pagi yang dijanjikan tiba dengan langit yang diselimuti kabut tipis, memberikan kesan misterius pada perjalanan mereka menuju sebuah vila pribadi di lereng pegunungan yang jauh dari hiruk-pikuk kota. William tampak lebih rileks, meski kewaspadaannya tidak pernah benar-benar padam. Di kursi belakang, Arlan duduk dengan tenang, jemarinya menggenggam sebuah buku gambar, sesekali menatap keluar jendela dengan tatapan yang jauh melampaui usianya."Lihat itu, Arlan," ujar Sasha lembut, menunjuk ke arah hamparan kebun teh yang menghijau. "Nanti di sana kita bisa jalan-jalan sebentar. Kamu mau menggambar pemandangan?"Arlan mengangguk pelan, memberikan senyum tipis yang jarang terlihat. William yang sedang mengemudi melirik melalui spion tengah, sebuah kilatan kepuasan muncul di matanya melihat pemandangan keluarga kecil yang "harmonis" itu. Baginya, ini adalah kesuksesan; sebuah keteraturan yang berhasil ia paksakan.Setibanya di vila, Sasha menjalankan perannya dengan sempurna. Ia tid

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 218

    "Cinta?" William mengulangi kata itu dengan nada yang seolah mengejek kesucian maknanya. "Cinta itu konsep yang sangat melelahkan, Sasha. Apa yang kita miliki saat ini jauh lebih stabil daripada itu. Ini adalah kepemilikan. Dan di dunia ini, kepemilikan jauh lebih sulit dihancurkan daripada perasaan yang bisa berubah seiring cuaca."Sasha tertawa sumbang, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Kamu sakit, Will. Kamu memperlakukan istrimu seperti aset perusahaan. Kamu memanipulasi Arlan, kamu mengasingkan Bu Lastri, dan sekarang kamu berusaha membungkam suaraku dengan paksaan? Kamu pikir ini akan bertahan lama?"William berjalan menuju meja bar kecil di sudut ruangan, menuangkan cairan amber ke dalam gelas kristal. Denting es batu yang beradu dengan kaca terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi itu."Ini akan bertahan selama aku menginginkannya," jawab William tenang setelah menyesap minumannya. "Besok, supir akan mengantarmu ke galeri. Aku sudah memerintahkan tim keamanan baru untuk

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 217

    Tapi Tuan... Non Sasha sangat menderita. Dia mengira saya dibuang. Tuan tahu sendiri betapa hancurnya hati dia kalau menyangkut orang-orang dari masa lalunya." Bu Lastri menunduk, jemarinya yang keriput saling bertautan.William terdiam. Keheningan di ruangan itu terasa berat, hanya interupsi suara detak jam dinding yang elegan. "Dia perlu belajar bahwa dunia tidak hanya berputar di atas perasaan, Bu. Dia harus cukup kuat untuk berdiri sendiri tanpa bergantung pada nostalgia."William kemudian berbalik, memberi kode pada Hendri untuk menyerahkan sebuah map cokelat kepada Bu Lastri."Apa ini, Tuan?""Sertifikat kepemilikan rumah di kampung halaman Anda. Atas nama Anda, sudah lunas. Ada dana pensiun yang sudah saya siapkan di rekening tersebut," ucap William dingin, seolah sedang membicarakan kontrak bisnis biasa. "Setelah pengobatan ini selesai, Anda punya pilihan. Anda kembali ke rumah saya sebagai 'kepala rumah tangga' dengan tugas yang jauh lebih ringan, atau menikmati masa tua di

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 216

    Suasana sarapan di kediaman William sangat tegang. Arlan duduk di antara kedua orang tuanya, merasakan aura dingin yang memancar dari ayahnya."Ayah, kenapa Uti tidak boleh ikut sarapan bersama kita lagi?" tanya Arlan polos.William tidak mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya. Berpikir jika mungkin. Sasha yang meminta Arlan bertanya. “Apa? Tidak semua apa yang diucapkan oleh Allah adalah perintah,” sahut Sasha.William mengusap kepala Arlan . "Dia punya tugas lain di dapur, Arlan. Belajarlah untuk membedakan antara keluarga dan pekerja."Sasha meletakkan garpunya dengan denting yang cukup keras, dia tahu William sedang bersandiwara. "Dia adalah keluarga bagi Arlan, Will. Kamu tidak bisa menghapus itu hanya dengan satu kalimat perintah."William menatap Sasha, matanya dingin dan menusuk. "Keluarga ditentukan oleh darah dan tanggung jawab hukum, Sasha. Sisanya adalah fungsionalitas. Jika kamu terus mendidik Arlan dengan sentimentalitas seperti ini, dia tidak akan bertahan di d

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 215

    "Tak sadarkah selama ini kamu menyakitiku, Will? Aku tahu kamu sudah banyak sekali perubahan. Meski semua itu karena Arlan. Namun, Bu Lastri adalah orang yang berjasa bagiku. Dia merawat Arlan sejak kandungan, berjualan keripik demi bisa mencukupi kebutuhanku.”William bergeming, dia hanya fokus pada keluhan Sasha. Namun, tak ada reaksi apapun tentang keluhan William.William tetap membisu, membiarkan keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruang di antara mereka. Sepasang matanya yang tajam tetap terpaku pada Sasha, bukan dengan tatapan penuh simpati, melainkan dengan ketenangan yang dingin, seolah setiap kata yang keluar dari mulut Sasha hanyalah data yang sedang ia proses, bukan jeritan hati.Sasha menyeka air mata yang jatuh di pipinya dengan kasar. "Kamu dengar aku, kan? Bu Lastri bukan sekadar pengasuh bagi Arlan. Dia adalah nyawa di rumah ini saat kamu sibuk dengan duniamu!"Mendengar itu, barulah ada sedikit pergerakan. William menghela napas panjang, sangat perlahan. Ia memp

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 146

    "Semuanya hancur. Semua gara gara ayah begomu ini, Clarissa!”Clarisa pun dihubungi. Bukan hanya shock, Clarissa pun mendapat imbas dari perbuatan ayahnya. Dia bekerja di perusahaan besar Aditama, membuat dia dalam masalah besar.“Mama gak lagi bercanda kan? Aku baru saja akan naik jabatan.”“Entah

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 144

    "Banyakk. Termasuk….”William menyesap kopinya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Bramanto yang mulai memucat. Keheningan di ruangan itu terasa mencekik, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa napas ketenangan Bramanto."Tentang golongan darah.Sasha

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 144

    “Jika benar Sasha masih hidup, aku akan balas kebohongan ini!”William menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil yang empuk, namun pikirannya bekerja dengan kecepatan tinggi. Pantas selama ini dia curiga dengan Bram yang kembali dan meminta belas kasihnya dengan dalih kematian Sasha. Benar ben

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 142

    "Apa aku sudah keterlaluan?" bisik Sasha pada kesunyian.Beberapa hari setelah percakapan itu, ketegangan mulai mencair, namun Sasha menyadari perubahan drastis pada putranya. Arlan tidak lagi bertanya tentang ayahnya, bahkan ia berhenti membicarakan sekolahnya. Ia menjadi bayang-bayang yang patuh

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status