LOGINPagi itu, di kediaman mewah Bram yang dibeli dari hasil uang duka William, suasana mendadak berubah mencekam. Linda, sedang menikmati teh paginya ketika tiga unit mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang. Beberapa pria berseragam petugas sita Hb masuk ke properti pribadi. Bahkan teriakan Linda yang histeris saat petugas mulai menempelkan stiker penyitaan pada pilar rumah menyita perhatian bnyak orang."Ibu Linda, rumah ini tercatat sebagai jaminan atas dana talangan yang tidak pernah dikembalikan kepada Aditama Group. Selain itu, ada temuan pencucian uang terkait aliran dana dari PT. Cahaya Bangun. Silakan kosongkan rumah ini dalam dua jam, atau kami akan memanggil pihak berwajib untuk pengosongan paksa," ucap sang pengacara dengan nada sedatar tembok.Linda gemetar. Ia mencoba menghubungi Bram, namun ponsel suaminya tidak aktif. Ia mencoba menghubungi Clarissa putri kesayangannya, namun yang menjawab adalah suara operator ponsel. “Kenapa semua orang mendadak tidak bisa dihubungi.
"Banyakk. Termasuk….”William menyesap kopinya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Bramanto yang mulai memucat. Keheningan di ruangan itu terasa mencekik, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa napas ketenangan Bramanto."Tentang golongan darah.Sasha," ucap William sangat pelan.Bramanto mengernyit, mencoba tertawa kecil yang terdengar sumbang. "Golongan darah? Nak William, kamu tahu sendiri Sasha bergolongan darah O, sama seperti almarhum ibunya. Untuk apa menanyakan itu pada dokter?"William meletakkan cangkirnya ke meja dengan denting yang tajam. Ia menyandarkan punggung, menyilangkan kaki dengan santai namun auranya begitu mengancam. "Itu dia masalahnya, Bram. Semalam aku memeriksa kembali berkas kesehatan lama miliknya saat kami masih bersama. Di sana tertulis jelas bahwa Sasha bergolongan darah AB."William mencondongkan tubuh, tatapannya menghunus. "Jadi, Bram... jika Sasha bergolongan darah AB, bagaimana mungkin hasil autopsi j
William tidak lagi menyandarkan kepalanya. Ia duduk tegak, kekakuan di bahunya menandakan badai yang sedang mengumpul di balik dadanya. Jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran tangan kursi mobil dengan irama yang konstan dan mematikan, sebuah tanda bahwa William sedang menyusun strategi penghancuran."Hendri," suara William rendah, hampir berupa bisikan, namun penuh dengan racun. "Besok pagi, cabut semua akses keuangan yang terhubung dengan nama Bramanto. Semua kartu kredit perusahaan, tunjangan kesehatan keluarga, hingga rekening operasional yang saya berikan untuk 'bisnis' sampahnya itu. Bekukan semuanya.""Baik, Pak. Bagaimana dengan posisinya di anak perusahaan?" tanya Hendri sambil melirik spion tengah.William menyeringai tipis, sebuah ekspresi tanpa kehangatan. "Biarkan dia tetap di sana untuk beberapa hari ke depan. Aku ingin dia merasakan kecemasan yang merayap. Aku ingin dia meneleponku dengan suara gemetar, memohon penjelasan mengapa aliran uangnya mati secara tiba-tiba."Pikira
“Jika benar Sasha masih hidup, aku akan balas kebohongan ini!”William menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil yang empuk, namun pikirannya bekerja dengan kecepatan tinggi. Pantas selama ini dia curiga dengan Bram yang kembali dan meminta belas kasihnya dengan dalih kematian Sasha. Benar benar dia sudah ditipu oleh lelaki yang menjadi ayah Sasha selama ini."Hendri," suara William memecah keheningan kabin mobil. "Kamu tahu rumah anak itu tinggal?”“Tahu, Pak. Kita ke sana atau ke sekolah anaknya?”“Rumahnya. Jam segini pasti tak ada di sekolah.”Hendri mengangguk cepat, tangannya langsung menarik tuas gigi mobil. "Baik, Pak. Lalu apa rencana Bapak?”William menatap keluar jendela, melihat siluet sekolah dasar yang tadi mereka lewati. "Kita akan lihat dulu, kebohongan apa yang sudah ayah dan anaknya lakukan padaku.”William memejamkan mata, membayangkan semua kejadian dalam hidupnya, membuat William merasa perlu bertemu Sasha. Bukan untuk menuntut pelayanan seperti dulu, tapi me
Ruangan kerja itu sewangi kayu ek dan aroma kopi arabika yang pekat, namun suasananya sedingin es sama seperti pemiliknya. William duduk di balik meja mahoninya yang luas, jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama yang monoton dan presisi. Di kepalanya terisi banyak hal termasuk wajah Arlan yang dia temui tempo hari.Hendri, asisten setianya selama hampir satu dekade, berdiri dengan sikap sempurna. Ia adalah satu-satunya orang yang diizinkan masuk ke ruang privat ini, namun tetap saja, ia harus menjaga jarak aman."Besok tanggal lima belas, Pak," ucap Hendri pelan.William tidak mendongak. Ia hanya menghentikan ketukan jarinya. "Aku tahu. Siapkan bunganya. Lili putih. Pastikan kelopaknya tidak ada yang cacat sedikit pun.""Sudah saya pesan, Pak. Jam sepuluh pagi, mobil akan siap," jawab Hendri. Ia ragu sejenak, melihat pundak William yang tampak tegang meskipun pria itu duduk dengan tegak. "Pak... ini sudah tahun kelima.”“Lalu?”“Apakah Bapak tidak ingin men
"Apa aku sudah keterlaluan?" bisik Sasha pada kesunyian.Beberapa hari setelah percakapan itu, ketegangan mulai mencair, namun Sasha menyadari perubahan drastis pada putranya. Arlan tidak lagi bertanya tentang ayahnya, bahkan ia berhenti membicarakan sekolahnya. Ia menjadi bayang-bayang yang patuh namun hampa.Sasha mencoba melakukan pekerjaannya seperti biasa. Daily updated karyanya, lalu membantu Bu Lastri membuat keripik. “Arlan tadi bilang nggak kalau orang tua harus datang ke sekolah, Sha?”Sasha bingung, “tidak. Memangnya ada acara apa?”“Loh, ada dapat penerimaan siswa baru katanya. Kan TK Arlan diundang juga buat ngisi pementasan.”“Dia ikut pementasan?”“Mungkin. Coba kamu datangi sekolahnya. Khawatir Arlan memang butuh kedatangan orang tuanya di sana.”Sasha tertegun sejenak, tangannya yang masih memegang plastik kemasan keripik mendadak kaku. Perasaan bersalah yang sejak kemarin ia tekan kini kembali menyeruak, kali ini lebih tajam. Arlan yang biasanya cerewet tentang s







