LOGINWilliam menurunkan Arlan kembali ke atas rumput, membiarkan bocah itu kembali bermain dengan mainannya. Ia kemudian melangkah mendekati Sasha, meraih kedua pundak istrinya, dan menatap langsung ke dalam mata cokelat yang selalu menjadi rumah baginya."Semuanya selesai, Sha. Benar-benar selesai dengan cara yang kita inginkan," bisik William, sebuah senyuman tulus merekah di bibirnya. "Dia menerima semua syaratku tentang posisi konsultan itu. Dan... aku sudah memberi tahunya tentang rencana dream wedding kita."Sasha menahan napas sejenak, kedua tangannya naik menyentuh dada William. "Lalu? Apa katanya? Apa dia marah karena kita tidak memakai konsep mewah yang dia sukai?""Dia sempat menawarkan ballroom hotel bintang lima dan relasi bisnisnya," William menjawabnya pelan, mengingat kembali ekspresi kaget ayahnya tadi. "Tapi aku menolaknya secara langsung. Aku katakan padanya bahwa kita hanya ingin pelataran hijau yang asri, anyaman bambu, kebaya sederhana, dan Arlan sebagai pembawa cinci
"Di pesta itu nanti, Papa diundang sebagai seorang kakek dan seorang ayah, bukan sebagai pimpinan Aditama Group. Jika Papa bisa menghormati konsep kesederhanaan dan batasan yang kami buat, pintu kami akan selalu terbuka. Tapi jika Papa membawa satu saja bidak catur politikmu ke dalam taman kami... aku tidak akan ragu untuk membatalkan semua kerja sama profesional kita, termasuk posisi konsultan di Distrik Barat itu."Aditama menatap putranya lama sekali, mencoba mencari sisa-sisa anak remaja yang dulu bisa ia kendalikan dengan satu bentakan. Namun, yang ia temukan di hadapannya hari ini adalah seorang pria utuh, seorang suami yang protektif, dan seorang ayah yang bijaksana.Perlahan, sebuah senyuman tipis yang sangat jarang terlihat muncul di bibir Aditama. Ia mengangguk pelan, sebuah gestur menyerah yang teramat langka dari sang patriark. "Kedai Teh Akasia, Kota Lama... dan pernikahan di pelataran hijau. Kamu benar-benar tahu cara mendefinisikan ulang arti sebuah kemenangan, William.
Hari Kamis yang ditentukan akhirnya tiba. Suasana di dalam Kedai Teh Akasia yang terletak di sudut Kota Lama terasa kontras dengan riuhnya jalanan di luar. Aroma daun teh melati yang diseduh dengan air mendidih menguar di udara, berbaur dengan aroma kayu jati kuno dari furnitur kedai. William duduk dengan tenang di dekat jendela besar yang menghadap ke jalan berbatu. Ia mengenakan kemeja linen berkerah tegak yang rapi namun kasual, memancarkan aura seorang akademisi yang matang dan mandiri.Tepat jam sepuluh pagi, pintu kedai berdenting. Seorang pria paruh baya dengan rambut yang memutih sempurna namun memiliki potongan tubuh yang tegap melangkah masuk. Aditama. Tanpa setelan jas formal yang biasa menjadi zirah kekuasaannya, ia hanya mengenakan kemeja batik tulis sutra bermotif gelap yang elegan. Sesuai syarat yang diajukan William, tidak ada ajudan atau pengawal yang mengikutinya masuk. Pria tua itu melayangkan pandangannya ke penjuru kedai sebelum akhirnya mengunci tatapan pada Wil
Kedua orang tua itu menoleh serentak. Di ambang pintu, Arlan berdiri sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Bocah berusia lima tahun itu memeluk sebuah mainan robot kecil di tangan kirinya, melangkah dengan gontai menuju tempat tidur orang tuanya. Rupanya, suara tawa dan bisikan hangat kedua orang tuanya telah membangunkan tidurnya yang lelap."Hei, jagoan," William langsung menegakkan tubuhnya, mengulurkan tangan ke arah sang anak. "Kenapa bangun? Mimpi buruk?"Arlan menggeleng, ia naik ke atas ranjang dengan bantuan tangan kekar William, lalu menyusup ke tengah-tengah di antara ayah dan ibunya. Kehadiran bocah kecil itu seketika melengkapi lingkaran kebahagiaan malam itu. Sasha menarik selimut untuk menutupi tubuh mungil Arlan, lalu mengecup pipinya yang gembil."Papa sama Mama lagi cerita apa? Arlan mau ikutan," bisik Arlan, suaranya cadel dan manja, namun matanya yang bulat kini mulai terbuka lebar, penuh rasa ingin tahu yang besar.Sasha memandang William, bertukar senyum
Setelah malam yang penuh kehangatan meluruhkan sisa-sisa jarak emosional di antara mereka, William dan Sasha tidak lantas membiarkan kantuk mengambil alih. Mereka berbaring berdampingan di bawah selimut yang sama, saling berpelukan di tengah keheningan kamar yang tenang. Kamar itu hanya diterangi oleh lampu tidur kekuningan yang temaram, menciptakan atmosfer yang begitu intim dan sakral.Hubungan mereka dahulu terjadi di tengah badai. Ketika William memutuskan untuk keluar dari lingkaran pengaruh trauma, Sasha pergi hanya dengan membawa idealisme dan kebencian. Tidak ada pesta megah, tidak ada gaun mewah, dan tidak ada restu dari keluarga besar yang berkuasa. Bahkan sebelum akhirnya William mengajak menikah setelah lima tahun lamanya, pun sikap William yang masih dinhin. Mereka hanya mengikat janji di hadapan penghulu dalam sebuah prosesi sederhana yang sunyi, sebelum akhirnya badai konflik kembali memaksa William membatasi diri demi melindungi Sasha dan Arlan yang saat ini. Lima t
Aku ingin tahu kenapa kamu bisa semudah ini berubah,” bisik Sasha. “Aku ingin tahu kenapa kamu bisa semudah ini berubah,” bisik Sasha. Suaranya begitu rendah, nyaris berupa helaian napas yang menyapu permukaan kulit leher William, mengirimkan sensasi menggelitik yang seketika mengacaukan fokus pria itu.William tidak bergerak, namun seluruh indranya mendadak menegang. Di bawah temaram cahaya bulan yang menembus kaca balkon, Sasha menggeser posisinya. Ia tidak lagi sekadar bersandar pada punggung William. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, wanita itu memutari tubuh suaminya hingga kini mereka berdiri berhadapan, mengunci William di antara pagar pembatas balkon dan kehangatan tubuhnya sendiri.Kedua tangan Sasha yang lentik naik perlahan, merayap dari dada bidang William, melewati kerah kemejanya yang setengah terbuka, hingga akhirnya bertengger di belakang leher pria itu. Jemarinya bermain-main dengan anak rambut di tengkuk William, sebuah sentuhan ritmis yang familier namun mal
"Kamu terlambat tiga menit," suara William memecah keheningan. Rendah, berat, dan berbahaya.Sasha melangkah masuk dengan hati-hati, seolah sedang memasuki kandang singa.Sasha menelan ludah, meremas tali tasnya. "Maaf, Pak. Tadi lift-nya lama. Lagian, bapak kan sudah kasih izin saya buat temani ne
Cermin di toilet kampus lantai tiga tidak pernah berbohong. Pantulan yang menatap balik menampilkan sosok Clarissa yang nyaris sempurna. Jemarinya memoleskan lipstik merah maroon ke bibir penuh itu. Membuat dia terlihat berani, elegan, dan disengaja.Clarissa tidak pernah datang ke kampus hanya unt
"Mulai detik ini," bisik William di bibir Sasha, "berhenti memikirkan dia saat kamu bersama saya. Atau saya akan pastikan dia tahu persis apa yang sedang dilakukan pacar kesayangannya ini setiap malam."Sasha menahan napas. Ancaman itu nyata.William melepaskan cengkeramannya kasar, lalu berbalik m
Ponsel di atas meja kerja itu kembali bergetar, berdengung marah seolah mewakili emosi pemiliknya di seberang sana. Layar menyala, menampilkan nama "Raka" untuk kedua kalinya.Sasha menatap ponsel itu dengan tatapan kosong. Tubuhnya masih gemetar sisa dari pelepasan paksa dan tangisan yang baru saj







