LOGIN“Bagaimana aku membagi waktu antara kuliah dan juga bekerja serta memberi waktu bermain dengan Arlan?” protes Sasha begitu mereka sampai di rumah.William tidak menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan menuju sofa kulit di ruang tengah yang luas, melepas kancing jasnya dengan gerakan yang tenang namun penuh otoritas. Ia duduk, menyandarkan punggungnya, dan menatap Sasha yang masih berdiri mematung dengan gaun mahalnya."Manajemen waktu adalah keterampilan pertama yang harus kau kuasai jika ingin menjadi seorang Aditama, Sasha," ujar William datar. Suaranya bergema di ruangan yang langit-langitnya tinggi itu. "Kau tidak sedang meminta izin. Aku sedang memberimu instruksi.""Tapi Arlan masih kecil, William! Dia butuh ibunya, bukan hanya sekadar uang dan mainan yang kau tumpuk di kamarnya," suara Sasha meninggi, meski ada getaran ketakutan yang terselip di sana.William memberikan isyarat agar Sasha mendekat. Dengan ragu, Sasha melangkah hingga ia berada tepat di hadapan pria itu. Will
William tidak langsung menjawab. Ia justru meraih sebuah kotak beludru hitam dari meja rias, membukanya, dan mengeluarkan seuntai kalung berlian dengan mata zamrud yang berkilau tajam di bawah lampu kristal. Dengan gerakan posesif, ia melingkarkan perhiasan dingin itu di leher Sasha."Termasuk itu," jawab William setelah mengunci kaitan kalung tersebut. Jemarinya sengaja berlama-lama di tengkuk Sasha, merasakan bulu kuduk wanita itu meremang. "Ayahmu, kemewahan ini, dan keamanan Arlan. Semuanya ada dalam genggamanku. Kau hanya perlu menjadi bayanganku yang setia. Tak perlu mencari atau tahu bagaimana kondisi Ayahmu"Sasha menatap pantulannya di cermin. Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Gaun Versace itu membuatnya tampak seperti bangsawan, namun di matanya, ia hanya melihat seorang tawanan yang sedang dihias sebelum dipamerkan."Kau bicara seolah-olah aku punya pilihan," bisik Sasha getir."Kau selalu punya pilihan, Sasha. Hanya saja, kau cukup cerdas untuk tahu bahwa melawan
“Alasan bodoh! Apa yang kau lihat di sana, Sasha? Kelemahan? Atau masa depan yang tidak sanggup kau tolak?”Suara William merambat di tengkuk Sasha, berat dan bergetar, saat jemarinya mulai mendaki perlahan dari lutut menuju paha Sasha.Sasha tersentak, mencoba menggeser duduknya, namun tangan William yang lain sudah lebih dulu mencengkeram sandaran kursi, mengurungnya. “Lepaskan tanganmu, William. Kita sedang di kantor.”“Kantor ini milikku. Semua yang ada di gedung ini bernapas atas izinku. Termasuk kau,” bisik William. William menarik kursi Sasha hingga mereka berhadapan begitu dekat. “Aku mau bertanya ulang. Jawab pertanyaanku. Semalam, kenapa kau memperhatikan aku tidur?”“Aku hanya... aku merasa asing melihatmu setenang itu,” jawab Sasha parau, mencoba memalingkan wajah. “Kau terlihat seperti manusia biasa saat tidur, bukan monster yang terobsesi pada kendali.”William terkekeh sinis, jemarinya berhenti tepat di batas rok Sasha. “Monster? Kalau aku monster, kau tidak akan duduk
"Jalan jalan dong, Sayang.” William menggendong dan menciumnya penuh kasih.“Mama ikut?”William menengok pada Sasha,” menurut Arlan, ikut nggak?”“Kalau mama ikut, Arlan mau. Kalau enggak, Arlan gak mau.”“Kenapa?”“Kasihan mama, selama ini mama sudah ngerawat Arlan sendirian, Papa. Ikut ya mama Arlan?”William tersenyum dan mengangguk. Keduanya keluar dan Sasha masih berdiri mematung di sana. Mencerna dengan baik apa yang dilakukan oleh Arlan kepada William.Bunyi klakson mengangetkan Sasha, dia pun mengambil tasnya dan bergegas menyusul keduanya sebelum William memberikan hukuman.Kantor pusat Van Doren Enterprises adalah monumen kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan mutlak. Sasha merasa kerdil saat melangkah masuk ke lobi yang luas, dikawal oleh William yang berjalan dengan keangkuhan seorang raja. Para karyawan menunduk hormat, namun Sasha bisa merasakan tatapan penasaran dan bisik-bisik di belakang mereka.Di dalam lift pribadi menuju lantai teratas, keheningan menyelimuti m
"Pak?” Sasha yang berpikir William sudah pergi."Kau pikir dengan mandi air panas selama itu, kau bisa menghapus jejakku dari kulitmu?"Suara berat William memecah kecanggunhan, tepat saat Sasha melangkah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang masih dibalut jubah mandi putih tebal. William tidak lagi berada di tempat tidur, ia berdiri di dekat jendela besar, membelakangi cahaya bulan, membuat siluetnya tampak seperti raksasa yang siap menelan mangsanya.Sasha tersentak, jemarinya refleks merapatkan kerah jubah di lehernya."Aku hanya ingin merasa bersih, Pak. Apa itu juga dilarang dalam kontrakmu?"William berbalik perlahan. Ia berjalan mendekat, langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet bulu yang mahal. "Segala sesuatu tentangmu adalah urusanku sekarang. Termasuk seberapa lama kau menghabiskan waktu di bawah pancuran air."“Satu lagi.” Ia berhenti tepat di depan Sasha, aroma wiski dan maskulin yang tajam segera menyerbu indra penciuman wanita itu. William mengulurkan tangan,
Sasha memekik, matanya terbelalak. Rasa penuh dan sesak itu seketika mengambil alih seluruh kesadarannya. Sudah terlalu lama. William berhenti sejenak, membiarkan tubuh Sasha beradaptasi dengan ukurannya."Kau masih sesempit dulu," geram William, urat-urat di lehernya menegang.Ia mulai bergerak, awalnya perlahan dan dalam, kemudian semakin cepat dan bertenaga. Setiap tumbukan membuat meja ek itu berderit, suara yang beradu dengan napas mereka yang memburu. William mencengkeram pinggul Sasha, memastikan setiap dorongannya mencapai titik terdalam.Sasha merasa seolah jiwanya akan tercerabut. Ia mencengkeram bahu William, kuku-kukunya tertanam di kulit pria itu. Dunia di sekelilingnya memudar; tidak ada lagi dendam, tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi Arlan. Hanya ada gesekan panas, aroma keringat, dan kenikmatan yang menyakitkan."William... lebih... cepat..." Sasha memohon, suaranya parau.William menuruti permintaan itu. Gerakannya menjadi semakin liar, hampir kasar. Ia menciumi w







