共有

bab 65

作者: Azzura Rei
last update 公開日: 2026-02-09 23:59:23

William," kata Sasha, suaranya mantap dan jelas, "Jangan pernah lepaskan aku. Aku milikmu."

William tersenyum lebar, senyum yang menunjukkan kemenangan total. Ia mengulang apa yang dia inginkan sampai Sasha merasa lemas tak berdaya.

Keheningan kembali menyelimuti kamar William. Bau maskulin yang khas kini bercampur dengan aroma parfum mahal yang terperangkap di antara seprai sutra yang sedikit kusut. Setelah 'ritual' kepemilikan itu, William memeluk Sasha erat, seolah menjaga agar gadis itu tid
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 224

    Sasha merasakan kenyamanan yang luar biasa berada di ruangan ini. Di sini, di dalam paviliun medis yang terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar, ia merasa seolah menemukan kembali rumah yang sesungguhnya. Tidak ada teror dari Bram, tidak ada tatapan menghakimi dari masyarakat, dan tidak ada ketegangan politik keluarga besar yang melelahkan. Hanya ada mereka bertiga dan bayangan perlindungan William yang terasa sangat nyata mengitari ruangan.Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika Arlan mulai kelelahan. Bocah itu akhirnya tertidur di sofa panjang yang terletak di sudut ruangan, berbantalkan jaket tebal milik Sasha. Suasana kamar kembali hening, hanya menyisakan suara detik jam dinding dan desis pendingin ruangan yang lembut.Sasha berjalan mendekati Bu Lastri yang kini sudah bersandar di ranjang rumah sakitnya. Ia membetulkan letak selimut wol tebal hingga sebatas dada wanita tua itu.Saat melihat wajah sepuh yang mulai memejamkan mata dengan damai, sebuah rasa enggan yang teramat

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 223

    Pintu kamar 402 kembali berdesis halus saat Sasha menuntun Arlan masuk. Bocah kecil itu masih tampak setengah mengantuk, matanya yang bulat mengerjap beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya matahari pagi yang terang benderang menembus jendela paviliun. Namun, begitu manik matanya menangkap sosok wanita tua yang duduk di kursi roda, seluruh sisa kantuknya lenyap seketika."Nenek Lastri!"Pekikan riang Arlan memecah keheningan ruangan yang semula terasa begitu tegang. Bocah itu melepaskan genggaman tangan Sasha dan berlari kecil, langsung menghambur ke pelukan Bu Lastri. Dengan hati-hati namun penuh kerinduan, ia menyandarkan kepalanya di pangkuan wanita tua itu.Bu Lastri tertawa lirih sebuah suara renyah yang sudah sangat dirindukan Sasha selama beberapa hari terakhir ini. Tangan Bu Lastri yang gemetar dan seputih perak itu mengusap rambut Arlan dengan penuh kasih sayang."Cucu Nenek yang tampan... sudah besar ya sekarang," bisik Bu Lastri, suaranya bergetar menahan haru. Air m

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   222

    Bu Lastri mengangguk pelan, menatap William dengan rasa sayang yang dalam, meski ada sedikit ketakutan di sana. "Nak William sebenarnya senang melihat ibu ada bersamamu, dia sempat khawatir saat kamu dibawa Bram. Ibu sengaja menghilangkan jejak demi keamanan mu dan tugas ibu selesai saat ibu membawamu kembali padanya. Namun, nasib ibu kurang beruntung. Ibu sakit dan harus menjalani perawatan. Dia membawaku ke rumah sakit terbaik, membiayai semuanya, tapi dia memintaku untuk tetap berada di dekatmu dan Arlan tanpa pernah menyebut namanya."Sasha berdiri, langkahnya terasa berat saat mendekati William. "Will? Kenapa? Kenapa kau menyembunyikan ini dariku? Kau membiarkanku menganggap Ibu sebagai malaikat penolong yang datang dari langit, sementara kau... kau berpura-pura membencinya?"William menarik napas panjang, merapikan lengan kemeja linennya yang sebenarnya sudah sempurna, sebuah gestur mekanis untuk menjaga kewibawaannya yang mulai retak. Suaranya terdengar stabil, dingin, namun m

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 221

    Keesokan paginya, langit di atas pegunungan masih berselimut kabut tipis saat mobil SUV hitam milik William membelah jalanan berkelok. Di kursi belakang, Arlan tertidur pulas dengan kepala bersandar pada bantal kecil, sementara di kursi depan, suasana hening menyelimuti. Bukan keheningan yang menyesakkan seperti biasanya, melainkan keheningan yang penuh dengan antisipasi dan beban rahasia yang mulai terkikis.William menyetir dengan rahang yang terkatup rapat, jemarinya terkadang mengetuk kemudi dengan ritme yang tidak beraturan tanda bahwa pria itu sedang berperang dengan kecemasannya sendiri. Sasha, yang duduk di sampingnya, hanya menatap hamparan pohon pinus di luar jendela, tangannya sesekali menyentuh lengan William seolah memberikan jangkar agar pria itu tidak hanyut dalam ketakutannya.Tujuan mereka bukan panti jompo biasa, melainkan sebuah paviliun medis khusus di rumah sakit swasta yang tersembunyi di pinggiran kota. Di sanalah William menyembunyikan masa lalunya, membayarnya

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 220

    “Mana mungkin aku seberani itu,” goda Sasha tapi jemari mengusap pipi William dan memicu hasrat terpendam itu keluar.William tertegun sejenak, napasnya tertahan di tenggorokan saat merasakan sentuhan lembut namun tegas dari jemari Sasha. Sentuhan itu tidak terasa seperti perlawanan, melainkan sebuah undangan yang selama ini ia dambakan namun terlalu gengsi untuk diminta. Ia menangkap tangan Sasha, mengecup telapak tangannya lama, lalu menatap istrinya dengan sorot mata yang tak lagi tajam karena kecurigaan, melainkan redup oleh gairah yang mulai membakar."Keberanianmu adalah hal yang paling berbahaya bagiku, Sasha," bisik William, suaranya kini serak dan rendah. Ia menarik Sasha lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka, aroma tubuh Sasha yang menenangkan bercampur dengan udara dingin pegunungan menciptakan kontras yang memabukkan.Sasha hanya tersenyum tipis, membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya pada dada bidang William."Siapa juga yang menggoda. Aku tidak ingi

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 219

    Sabtu pagi yang dijanjikan tiba dengan langit yang diselimuti kabut tipis, memberikan kesan misterius pada perjalanan mereka menuju sebuah vila pribadi di lereng pegunungan yang jauh dari hiruk-pikuk kota. William tampak lebih rileks, meski kewaspadaannya tidak pernah benar-benar padam. Di kursi belakang, Arlan duduk dengan tenang, jemarinya menggenggam sebuah buku gambar, sesekali menatap keluar jendela dengan tatapan yang jauh melampaui usianya."Lihat itu, Arlan," ujar Sasha lembut, menunjuk ke arah hamparan kebun teh yang menghijau. "Nanti di sana kita bisa jalan-jalan sebentar. Kamu mau menggambar pemandangan?"Arlan mengangguk pelan, memberikan senyum tipis yang jarang terlihat. William yang sedang mengemudi melirik melalui spion tengah, sebuah kilatan kepuasan muncul di matanya melihat pemandangan keluarga kecil yang "harmonis" itu. Baginya, ini adalah kesuksesan; sebuah keteraturan yang berhasil ia paksakan.Setibanya di vila, Sasha menjalankan perannya dengan sempurna. Ia tid

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 80

    Malam itu berakhir bukan dengan kelelahan yang melegakan, melainkan dengan kehampaan yang tajam. William meninggalkan Sasha di atas tempat tidur bersprai hitam itu tepat ketika semburat fajar pertama menyentuh cakrawala Jakarta. Tanpa kata perpisahan, tanpa kecupan penenang, pria itu hanya mengenak

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 79

    Sasha tidak bergeming. Alih-alih gemetar, ia justru mengulurkan tangannya, membiarkan ujung jemarinya yang dingin merayap dari dada William menuju tengkuknya, menarik pria itu sedikit lebih dekat hingga jarak di antara mereka hanyalah sehelai napas yang tertahan. "Tunjukkan padaku," bisik Sasha, s

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 78

    Sorak-sorai dan siulan menggema di ruangan luas itu, memantul di antara dinding marmer dan koleksi minuman keras mahal yang berjajar rapi. Sasha bisa merasakan panas yang menjalar di pipinya, bukan karena malu yang murni, melainkan karena percampuran antara penghinaan dan adrenalin yang memabukkan.

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 77

    Langkah Sasha terhenti. Ia menoleh perlahan, memberikan senyum tipis yang mematikan. "Terdengar bagus. Mungkin. Tapi setidaknya, saat hari itu tiba, aku akan memastikan kalian sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ditangisi. Nikmati hidup barumu di pinggiran kota, Clarissa. Aku dengar apartemen mura

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status