Partager

bab 66

Auteur: Azzura Rei
last update Date de publication: 2026-02-10 22:13:45

Sasha menghabiskan sarapannya dalam diam. Setiap gerakan terasa diawasi, meski William sudah lebih dulu meninggalkan ruang makan untuk bersiap ke kampus. Denting sendok di piring terdengar terlalu nyaring di telinganya sendiri. Ia tahu, ketenangan ini bukan hadiah, melainkan jeda sebelum kontrol berikutnya diberlakukan sepenuhnya.

Ia berangkat satu jam kemudian, sesuai instruksi William. Mobil hitam dengan sopir yang tak banyak bicara menjemputnya tepat waktu. Tidak ada pertanyaan ke mana, tida
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 271

    Di mana ya?” ledek William yang tak tega berbohong. “Sekarang, kita pergi menjemput Mama, mau?""Mau! Mau!" Arlan bersorak riang, menepuk-nepuk pundak William penuh semangat.Setelah mendudukkan Arlan dengan aman di car seat bagian belakang, mobil kembali melaju menuju target berikutnya, universitas tempat Sasha menimba ilmu. Jarak dari sekolah Arlan ke kampus Sasha tidak terlalu jauh, namun kemacetan sore hari membuat perjalanan terasa sedikit lebih lama. Sepanjang jalan, William terus mendengarkan celoteh tanpa henti dari Arlan, sesekali menyahut dengan senyuman tipis yang tulus. Kehadiran bocah ini adalah pengingat mutlak bagi William tentang apa yang sedang ia perjuangkan mati-matian dari keserakan silsilah Aditama.Sekitar pukul empat sore, sedan mewah William akhirnya memasuki area luar gerbang kampus Sasha. Dari balik kaca mobil yang gelap, William bisa melihat suasana koridor kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa yang berhamburan keluar dari kelas terakhir mereka.Tak butuh w

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 269

    Ada yang perlu saya siapkan untuk mengantisipasi pergerakan Tuan Aditama, Tuan?" tanya Hendri, langsung mengalihkan fokusnya ke insting profesional. Ia menolak membiarkan rasa ingin tahunya tentang dinamika keluarga Wijaya melampaui batas kerjanya.William memutar kursi kebesarannya, menghadap jendela kaca besar yang langsung menyuguhkan pemandangan lampu-lampu kota Jakarta yang mulai menyala di bawah langit malam. Tangan kanannya mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja dengan ritme konstan yang lambat."Awasi saja pergerakan informannya yang ada di internal korporasi pusat," jawab William datar. "Aditama itu tipe orang yang suka mengulur waktu untuk menguji mental lawannya. Dia tidak akan langsung mendatangi Sasha lagi dalam waktu dekat setelah apa yang terjadi di kafe siang tadi. Tapi dia pasti akan mencoba menekan bisnis kita dari hulu."William menjeda kalimatnya, kilatan tajam kembali mendominasi manik mata gelapnya. "Dia berpikir bisa mengendalikan aku dengan cara yang sama seperti

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 268

    "Tuan William memaafkan Anda? Mengizinkan Clarissa bebas bersyarat? Anda benar-benar berpikir seorang William Wijaya memiliki kemurahan hati seperti itu?" Hendri terkekeh tipis, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Raka mendadak meremang. "Tuan William tidak pernah memaafkan Anda, Raka. Dia sengaja menarik kembali semua tuntutan awalnya minggu lalu agar Anda merasa aman. Dia memberi Anda umpan berupa kebebasan palsu."Raka tertegun. Jantungnya berdegup kencang, rasa dingin menjalar dari ujung kakinya hingga ke kepala. "Umpan...?""Benar," sahut sang pengacara di samping Hendri, membalik halaman dokumen ke arah Raka. "Saat Tuan William membiarkan Anda bebas berkeliaran, Anda langsung memanfaatkan momen itu untuk memindahkan sisa aset gelap Anda dari rekening luar negeri dan menghubungi kembali jaringan lama Anda untuk mencoba menyabotase saham minoritas kami, bukan? Anda pikir pergerakan Anda rapi?"Hendri menumpu dagunya dengan kedua tangan, menatap Raka dengan pandangan mengasihani.

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 267

    Dentum musik berdentum keras, menggetarkan lantai marmer sebuah klub malam eksklusif di kawasan SCBD Jakarta. Lampu strobo berwarna ungu dan merah neon berputar liar, memotong kabut tipis dari mesin asap yang memenuhi ruangan VVIP di lantai dua.Di tengah sofa beludru merah yang melingkar, Raka duduk dengan angkuh. Kancing kemeja sutranya terbuka dua teratas, memperlihatkan kalung emas yang berkilau. Di lengan kanannya, seorang wanita berpakaian minim menggelayut manja, sementara tangan kirinya memegang gelas kristal berisi wiski mahal yang sesekali digoyangkannya hingga es batu di dalamnya berdenting.Raka tersenyum puas. Pekan ini berjalan luar biasa sempurna baginya. Setelah drama panjang kehancuran bisnisnya kemarin, ia merasa angin segar kembali berembus ke arahnya. William tiba-tiba bersikap melunak atau setidaknya, begitu yang ada di dalam kepala culas Raka. Kasus pemerasan dan sabotase kecil yang sempat ia lakukan tempo hari menguap begitu saja tanpa tuntutan hukum yang berar

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 266

    Ciuman yang tiba-tiba itu menghentikan seluruh untaian kalimat pahit yang hendak meluncur dari bibir William. Sasha sengaja tidak memberikan ruang bagi suaminya untuk terus mengorek luka lama atau mengasihani diri sendiri. Baginya, William yang berdiri di depannya sekarang bukanlah pria lemah yang kesepian, melainkan pelindung, belahan jiwa, dan ayah terbaik untuk putra mereka.William tertegun selama beberapa detik, sepasang matanya yang kelam melebar pelan sebelum akhirnya perlahan terpejam, menyerahkan diri sepenuhnya pada kehangatan yang ditawarkan Sasha. Sentuhan bibir Sasha yang lembut namun penuh penekanan itu bagaikan penawar racun yang paling ampuh, seketika memadamkan sisa-sisa kegelisahan yang sempat bergejolak di dalam dada bidangnya.Kedua tangan William yang semula menggantung bebas di sisi kursi kerja, kini bergerak naik secara refleks. Telapak tangan besarnya yang hangat merayap naik menangkup pinggang ramping Sasha, menarik tubuh wanita itu agar semakin merapat tanpa

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 265

    Mobil sedan mewah itu melaju membelah jalanan dengan kecepatan konstan, dikawal ketat oleh barisan SUV hitam yang menjaga jarak aman di sekeliling mereka. Di dalam kabin yang kedap suara, keheningan sempat kembali merayap, namun kali ini atmosfernya tidak lagi sedingin es. Ketegangan yang tadinya mencekik perlahan-lahan mencair, digantikan oleh rasa saling percaya yang kian mengikat di antara keduanya.Sasha menyandarkan kepalanya di bahu bidang William, sementara jemari tangan mereka saling bertautan erat di atas kursi. Ia bisa merasakan bagaimana perlahan-lahan ritme napas William mulai teratur, tidak lagi memburu seperti saat pria itu mendobrak masuk ke dalam kafe tadi."Will," panggil Sasha lirih, memecah kesunyian."Hm?" William menoleh sedikit, mengecup puncak kepala Sasha yang bersandar di bahunya tanpa melepaskan tautan jemari mereka."Soal ibu kandungmu... kalau kamu belum siap bercerita, tidak apa-apa," ucap Sasha lembut. Ia mendongak, menatap profil samping suaminya dengan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 15

    Ponsel di atas meja kerja itu kembali bergetar, berdengung marah seolah mewakili emosi pemiliknya di seberang sana. Layar menyala, menampilkan nama "Raka" untuk kedua kalinya.Sasha menatap ponsel itu dengan tatapan kosong. Tubuhnya masih gemetar sisa dari pelepasan paksa dan tangisan yang baru saj

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 14

    "Sshhh... sudah," bisik William, dagunya bertumpu di puncak kepala Sasha. "Kamu melakukannya dengan baik. Sangat patuh."Sasha terisak, air matanya membasahi kemeja putih William yang mahal. Ia seharusnya mendorong pria ini. Ia seharusnya lari. Tapi tubuhnya terasa lumpuh, dan anehnya ... pelukan i

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   Bab 13

    William tidak menoleh saat Sasha masuk. Pria itu sibuk dengan tumpukan berkas, kacamata bacanya bertengger di hidung mancungnya, dan lengan kemeja putihnya digulung hingga siku."Duduk," perintah William tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya.Sasha menelan ludah, kakinya gemetar saat

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 12

    Clarissa mengangkat tangan, merasa terabaikan karena William terlalu fokus pada Sasha. "Pak William! Tapi bukankah itu konsep yang kuno? Di zaman modern ini, kita semua setara. Tidak ada tuan dan budak."William menoleh ke arah Clarissa. Senyum tipis yang meremehkan terukir di bibirnya. "Siapa nama

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status