Share

bab 84

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-02-20 22:48:36

"Sasha?"

Sasha membeku. Suara itu. Ia menoleh dan menemukan sosok dari masa lalunya—sebelum William, sebelum karaoke, sebelum kegelapan ini dimulai. Itu adalah Rio, mantan kekasihnya saat SMA yang kini tampak rapi dengan kemeja flanel sederhana.

"Rio?"

"Ya ampun, benar itu kamu! Aku dengar kamu kuliah di Jakarta, tapi... wow, kamu tampak sangat berbeda," Rio memandang Sasha dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pakaian bermerek dan tas seharga mobil murah yang ditenteng Sasha membuat jarak yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 224

    Sasha merasakan kenyamanan yang luar biasa berada di ruangan ini. Di sini, di dalam paviliun medis yang terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar, ia merasa seolah menemukan kembali rumah yang sesungguhnya. Tidak ada teror dari Bram, tidak ada tatapan menghakimi dari masyarakat, dan tidak ada ketegangan politik keluarga besar yang melelahkan. Hanya ada mereka bertiga dan bayangan perlindungan William yang terasa sangat nyata mengitari ruangan.Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika Arlan mulai kelelahan. Bocah itu akhirnya tertidur di sofa panjang yang terletak di sudut ruangan, berbantalkan jaket tebal milik Sasha. Suasana kamar kembali hening, hanya menyisakan suara detik jam dinding dan desis pendingin ruangan yang lembut.Sasha berjalan mendekati Bu Lastri yang kini sudah bersandar di ranjang rumah sakitnya. Ia membetulkan letak selimut wol tebal hingga sebatas dada wanita tua itu.Saat melihat wajah sepuh yang mulai memejamkan mata dengan damai, sebuah rasa enggan yang teramat

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 223

    Pintu kamar 402 kembali berdesis halus saat Sasha menuntun Arlan masuk. Bocah kecil itu masih tampak setengah mengantuk, matanya yang bulat mengerjap beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya matahari pagi yang terang benderang menembus jendela paviliun. Namun, begitu manik matanya menangkap sosok wanita tua yang duduk di kursi roda, seluruh sisa kantuknya lenyap seketika."Nenek Lastri!"Pekikan riang Arlan memecah keheningan ruangan yang semula terasa begitu tegang. Bocah itu melepaskan genggaman tangan Sasha dan berlari kecil, langsung menghambur ke pelukan Bu Lastri. Dengan hati-hati namun penuh kerinduan, ia menyandarkan kepalanya di pangkuan wanita tua itu.Bu Lastri tertawa lirih sebuah suara renyah yang sudah sangat dirindukan Sasha selama beberapa hari terakhir ini. Tangan Bu Lastri yang gemetar dan seputih perak itu mengusap rambut Arlan dengan penuh kasih sayang."Cucu Nenek yang tampan... sudah besar ya sekarang," bisik Bu Lastri, suaranya bergetar menahan haru. Air m

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   222

    Bu Lastri mengangguk pelan, menatap William dengan rasa sayang yang dalam, meski ada sedikit ketakutan di sana. "Nak William sebenarnya senang melihat ibu ada bersamamu, dia sempat khawatir saat kamu dibawa Bram. Ibu sengaja menghilangkan jejak demi keamanan mu dan tugas ibu selesai saat ibu membawamu kembali padanya. Namun, nasib ibu kurang beruntung. Ibu sakit dan harus menjalani perawatan. Dia membawaku ke rumah sakit terbaik, membiayai semuanya, tapi dia memintaku untuk tetap berada di dekatmu dan Arlan tanpa pernah menyebut namanya."Sasha berdiri, langkahnya terasa berat saat mendekati William. "Will? Kenapa? Kenapa kau menyembunyikan ini dariku? Kau membiarkanku menganggap Ibu sebagai malaikat penolong yang datang dari langit, sementara kau... kau berpura-pura membencinya?"William menarik napas panjang, merapikan lengan kemeja linennya yang sebenarnya sudah sempurna, sebuah gestur mekanis untuk menjaga kewibawaannya yang mulai retak. Suaranya terdengar stabil, dingin, namun m

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 221

    Keesokan paginya, langit di atas pegunungan masih berselimut kabut tipis saat mobil SUV hitam milik William membelah jalanan berkelok. Di kursi belakang, Arlan tertidur pulas dengan kepala bersandar pada bantal kecil, sementara di kursi depan, suasana hening menyelimuti. Bukan keheningan yang menyesakkan seperti biasanya, melainkan keheningan yang penuh dengan antisipasi dan beban rahasia yang mulai terkikis.William menyetir dengan rahang yang terkatup rapat, jemarinya terkadang mengetuk kemudi dengan ritme yang tidak beraturan tanda bahwa pria itu sedang berperang dengan kecemasannya sendiri. Sasha, yang duduk di sampingnya, hanya menatap hamparan pohon pinus di luar jendela, tangannya sesekali menyentuh lengan William seolah memberikan jangkar agar pria itu tidak hanyut dalam ketakutannya.Tujuan mereka bukan panti jompo biasa, melainkan sebuah paviliun medis khusus di rumah sakit swasta yang tersembunyi di pinggiran kota. Di sanalah William menyembunyikan masa lalunya, membayarnya

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 220

    “Mana mungkin aku seberani itu,” goda Sasha tapi jemari mengusap pipi William dan memicu hasrat terpendam itu keluar.William tertegun sejenak, napasnya tertahan di tenggorokan saat merasakan sentuhan lembut namun tegas dari jemari Sasha. Sentuhan itu tidak terasa seperti perlawanan, melainkan sebuah undangan yang selama ini ia dambakan namun terlalu gengsi untuk diminta. Ia menangkap tangan Sasha, mengecup telapak tangannya lama, lalu menatap istrinya dengan sorot mata yang tak lagi tajam karena kecurigaan, melainkan redup oleh gairah yang mulai membakar."Keberanianmu adalah hal yang paling berbahaya bagiku, Sasha," bisik William, suaranya kini serak dan rendah. Ia menarik Sasha lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka, aroma tubuh Sasha yang menenangkan bercampur dengan udara dingin pegunungan menciptakan kontras yang memabukkan.Sasha hanya tersenyum tipis, membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya pada dada bidang William."Siapa juga yang menggoda. Aku tidak ingi

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 219

    Sabtu pagi yang dijanjikan tiba dengan langit yang diselimuti kabut tipis, memberikan kesan misterius pada perjalanan mereka menuju sebuah vila pribadi di lereng pegunungan yang jauh dari hiruk-pikuk kota. William tampak lebih rileks, meski kewaspadaannya tidak pernah benar-benar padam. Di kursi belakang, Arlan duduk dengan tenang, jemarinya menggenggam sebuah buku gambar, sesekali menatap keluar jendela dengan tatapan yang jauh melampaui usianya."Lihat itu, Arlan," ujar Sasha lembut, menunjuk ke arah hamparan kebun teh yang menghijau. "Nanti di sana kita bisa jalan-jalan sebentar. Kamu mau menggambar pemandangan?"Arlan mengangguk pelan, memberikan senyum tipis yang jarang terlihat. William yang sedang mengemudi melirik melalui spion tengah, sebuah kilatan kepuasan muncul di matanya melihat pemandangan keluarga kecil yang "harmonis" itu. Baginya, ini adalah kesuksesan; sebuah keteraturan yang berhasil ia paksakan.Setibanya di vila, Sasha menjalankan perannya dengan sempurna. Ia tid

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 110

    “Ikhlaskan, Sha. Semua akan baik-baik saja.”Sasha membenamkan wajahnya di dada Bram, membiarkan isakannya mengoyak keheningan pagi. Kepergian Nenek Wati terasa seperti lubang hitam yang menganga di dalam dirinya, menarik semua cahaya dan kehangatan yang pernah ia miliki. Rasa bersalah menghimpitny

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 109

    Sasha merasakan dunianya kembali runtuh di bawah kakinya. Pemandangan Nenek Wati yang terbaring lemah, dengan napas tersengal dan wajah semakin pucat, menghantamnya telak. Bukan lagi bayangan William atau ketakutan akan ancaman fisik, melainkan realitas pahit yang mencengkeram. Ia baru saja menemuk

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 104

    "Oh Tuhan,” gumam Sasha frustrasi, meremas kertas tagihan itu hingga kusut. Jemarinya bergetar. William benar-benar tidak main-main. Ia telah mencabut semua bantuan. Bagaimana aku akan membayar ini? pikirnya, matanya menatap nenek yang terlelap pulas. Aku harus menemukan pekerjaan. Sekarang.Pagi b

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   103

    Rawat jalan Nenek Wati menjadi aktivitas tambahan Sasha setelah keluar dari penjara William. Pulang ke rumah lama yang dulu dikuasai Clarisa, lalu ke kampus untuk menjadi mahasiswa biasa. Yang lebih menyedihkan, dia harus menjadi gadis yang memiliki banyak musuh saat ini. Dia tahu ini resikonya. Ba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status