LOGIN"Rumah ini tidak ada di peta mana pun, Komandan."Sersan Ridwan menyorotkan senter ke papan dinding yang lapuk. Rumah itu berdiri miring di balik kebun karet, atapnya cekung, jendelanya ditutup kain hitam. Dari celah papan keluar bau anggur dan asap rokok yang masih baru."Tapi ada yang tinggal di sini," balas Komandan Damian pelan. Keyakinannya dengan insting tajamnya sangat kuat. "Dan baru saja ada titik sinyal yang tersambung dari tempat ini.”Fajar belum naik. Kabut tipis menggantung di antara batang pohon karet, membuat cahaya senter para petugas tampak seperti tiang-tiang pucat yang bergerak. Komandan Damian mengangkat tangan, memberi isyarat. Enam petugas menyebar mengepung rumah. Anjing pelacak merengek-rengek di ujung tali, hidungnya menempel ke ambang pintu."Polisi!" teriak Ridwan. "Keluar dengan tangan di atas kepala!"Tak ada jawaban. Komandan Damian menendang pintu hingga engselnya terlepas dan menerobos masuk dengan pistol terangkat.Seorang pria muda kisaran usia tiga
“Cepat tutup panggilanmu. Tempat ini bisa langsung terdeteksi jika terlihat ada sinyal yang aktif. Aku masih mau hidup tenang.” Mixel memperingati Gerald agar tidak ceroboh. Sinyal yang terdeteksi dari tempat tinggalnya bisa memicu para polisi datang. Dia hanya ingin hidup tenang seperti biasanya.Gerald mengangguk, memberi isyarat kalau dia tau apa yang sedang dia lakukan."Dua malam dari sekarang," Haden kembali bersuara. "Tidak bisa lebih cepat. Aku perlu melihat tempatnya sendiri, bukan hanya mendengar ceritamu.""Cukup. Aku juga akan bergerak menuju rumah Alana dan kita bertemu disana.” Gerald setuju dengan permintaan Haden. Gerald langsung mematikan sambungan telepon. Ponsel itu dingin di tangannya. Gerald menurunkannya perlahan, dan untuk beberapa detik tak ada yang bicara. Hanya tetes air dari atap bocor yang jatuh ke ember berkarat, satu demi satu, seperti hitungan mundur."Setengah bayaran di muka," ulang Mixel akhirnya, datar. "Dari mana kau akan mengambilnya Gerald? Seti
"Aku butuh ponsel yang bersih, Mixel."Mixel berhenti menuang anggur. Botol di tangannya menggantung miring, dan setetes cairan merah jatuh ke meja kayu yang lembap. "Ponsel?""Yang tidak pernah terhubung ke namaku. Kau punya, aku tahu kau selalu menyimpan satu." Gerald tampak begitu yakin. Dia cukup mengenal seorang Mixel, dia juga tahu hal-hal kecil yang cukup detail tentang pria itu."Dan kalau aku bilang tidak?" balas Mixel tanpa bergeming. Dia hanya menatap Gerald datar."Kau akan tetap mengambilnya," jawab Gerald tanpa menoleh, "karena kau terlalu lama berhutang padaku untuk bilang tidak."Mixel menggerutu panjang, kata-kata kasar yang tidak dia ucapkan, ditelannya bulat-bulat. Ia berlutut di sudut ruangan dan mencongkel selembar papan lantai dengan ujung pisau. Dari lubang di bawahnya ia menarik bungkusan plastik kusut, lalu melemparkannya ke pangkuan Gerald. Sebuah ponsel murah dengan baterai setengah penuh."Kau tahu siapa yang akan kau telepon?""Ya,” jawab Gerald cepat. “Ak
“Tebakanku tidak pernah meleset. Ternyata kamu memang masih ada disini. Rumah ini, cukup menyelamatkanku saat ini.” Di balik kebun karet yang terbengkalai, jauh dari jangkauan senter dan gonggongan anjing, berdiri sebuah rumah tua berdinding papan yang sebagian sudah lapuk. Atapnya bocor di beberapa sisi, dan jendelanya ditutupi kain hitam yang sudah kusam. Gerald duduk bersandar di dinding lembab di sudut ruangan. “Pakaianmu basah dan berlumpur,” ujar Mixel pelan. “Kau juga butuh jeda untuk mengatur napas yang masih belum sepenuhnya tenang. Sepertinya luka di pelipismu sudah mengering, tinggal garis gelap di kulit yang membekas.” Gerald tersenyum. Dia memamerkan pistol curiannya dan meletakkan di lantai di sampingnya duduk. “Bagaimana? Aku masih sehebat dulu bukan?” “Kau memang hebat Gerald. Tapi sayangnya kau jadi bodoh setelah jatuh cinta pada Alana. Gadis yang rela menyerahkan tubuhnya untuk laki-laki tua itu!” Mixel sangat membenci Alana. Baginya, Alana adalah gadis yang su
"Sudah berapa lama sejak mobil tahanan itu ditemukan?"Komandan Damian bertanya tanpa menoleh. Matanya terpaku pada pintu belakang mobil yang menganga, engselnya bengkok seperti dipaksa terbuka dengan benda berat."Hampir satu jam, Komandan," jawab Sersan Ridwan di sampingnya. "Tim pertama tiba tepat setelah laporan masuk. Dua petugas sudah dibawa ke rumah sakit. Satu patah tulang rusuk, satu lagi luka di kepala.""Senjatanya?""Pistol milik petugas yang pingsan. Magazen penuh."Komandan Damian menghembuskan napas panjang lewat hidung. Lampu sirine berputar-putar, memantulkan warna merah dan biru ke wajah-wajah lelah di sekelilingnya. Jalan lintas timur malam itu sepi. Di kiri, deretan kebun karet menghitam. Di kanan, semak lebat dan parit dangkal yang mengalir ke arah hutan kecil.Komandan Damian berjongkok dan menyorotkan senter ke aspal. Ada bercak darah di dekat roda belakang, lalu jejak sepatu yang berlari ke arah semak."Dia lari ke sini," gumam Komandan Damian. "Tapi jejaknya t
“Semua selesai sayang. Akhirnya Marisa, Hendra, Alex dan Citra sudah diamankan polisi. Kamu tak perlu khawatir lagi.”Julian merangkul Alana. Mendekap dari belakang. Tangannya melingkar di perut rata Alana, dan menopang dagunya di punggung Alana. Mereka baru saja sampai rumah hampir tengah malam setelah selesai mengurus Hendra dan yang lain yang cukup drama. “Iya Om. Aku juga merasa lega sekarang. Bisakah sebentar saja dunia memberiku jeda napas yang panjang?” Alana mengaitkan jemarinya di jari-jari besar Julian. Julian mengendus ceruk leher belakang Alana. Membuat tubuh gadis itu meremang seketika.“Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu sayang. Sudah berapa lama kita tidak saling memadu kasih.” Julian membalikkan tubuh Alana dan langsung menyambar bibir ranumnya. Seketika suhu tubuh Alana memanas, mengikuti permainan Julian yang makin intim."Aku juga minta maaf," kata Julian parau. "Aku bersikap seperti anak kecil. Aku takut kamu merasa aku terlalu tua dan membosankan untukmu.







