"Siapa yang tidak mengenalmu, mahasiswi primadona di kampus Arga Nusantara."
"Hanya itu?" Alissa tersenyum miris. "Cewek yang sok jual mahal, nyatanya–" "Cukup Tuan! Anda tidak boleh merendahkanku hanya karena kejadian semalam. Anda keterlaluan!" Dada Alissa bergumuruh, air matanya hampir lolos. Ia berbalik, berlari keluar ruangan menuju pintu lift. Di dalam lift yang sepi tangisnya tumpah. Setelah pintu lift terbuka Ia bahkan berjalan pelan menuju ruangannya tanpa tenaga. "Kau tidak apa-apa?" tanya Silvi, teman satu devisi dengannya. Alissa menyeka air mata yang menetes di pipi. Baginya ucapan Nicholas sangatlah kurang ajar. Setelah seenaknya masuk kamar semalam dan menyentuh tanpa izin, hari ini pria itu menawarkan dirinya untuk menjadi wanita simpanannya. Alissa merasa Nicholas telah benar-benar menganggap dirinya wanita murahan. "Alissa mengangguk. Pipinya yang putih mulus kini memerah, pun dengan hidungnya. Dia hanya menjawab pertanyaan Silvi dengan anggukan. Tangannya begitu cekatan mengetik sesuatu pada komputer. Selesai, ia merapikan meja. Setelahnya, Alissa langsung beranjak ke ruangan HRD untuk memberitahukan perihal pengunduran dirinya. Di ruangan HRD, kepala HRD tengah memijit kepala. Dia pusing dengan permintaan Nicholas untuk tetap mempertahankan Alissa bekerja di sana. "Pokoknya saya tidak mau tahu, jika karyawan yang bernama Alissa datang dan mengajukan pengunduran diri, jangan diterima!" Suara Nicholas tadi terngiang-ngiang di telinga. Meskipun melalui telepon suaranya terdengar begitu tegas dan penuh ancaman. "Ah, bukannya ini menyalahi aturan?" Pak Sandi mengacak kasar rambutnya sendiri. Saat pusing-pusingnya terdengar pintu ruangan diketuk dari luar. "Masuk!" Tubuh Alissa menyembul dari balik pintu. "Pagi Pak!" sapa Alissa sambil berusaha tersenyum walaupun rasanya sangat berat di tengah kesedihannya saat ini. "Pagi, silahkan duduk!" Alissa menarik kursi lalu duduk. Ia menaruh map di atas meja dengan gerakan pelan."Ada apa?""Saya ingin mengajukan surat pengunduran diri." Pak Sandi terdiam sejenak, memikirkan kalimat yang sekiranya masuk akal dan bisa diterima oleh Alissa."Bukannya kamu masih punya cicilan di perusahan? Kenapa harus resign jika belum lunas?" Alissa tertunduk. "Sebenarnya tidak ada hakku untuk menahanmu selama kamu sudah tidak terikat kontrak kerja, tapi mohon maaf saya tidak bisa merelakan uang yang kamu pinjam begitu saja. Uang itu bahkan bisa membayar beberapa karyawan dalam sebulan." "Saya akan tetap menyicilnya walaupun sudah tidak bekerja di sini." Wajah Alissa memelas, dalam hati berharap Pak Sandi memberikan keringanan tentang masalah pinjaman. "Saya tidak mau ambil resiko. Apakah ada jaminan kamu akan membayar jika kamu out dari perusahan? Hutangmu tidak bisa dianggap sepele. Seharusnya kau bisa mengabdikan diri di perusahaan ini lebih lama karena telah membantumu sampai sejauh ini. Saya tahu hanya kamu karyawan yang punya hutang sebesar ini karena Tuan Barata begitu simpati dengan keluargamu. Harusnya kau tahu diri!" Wajah Alissa nampak pucat. Ia terdiam tanpa kata. Apa yang dikatakan Pak Sandi memang benar, Tuan Barata telah memberikan pinjaman lebih dari 50 juta dari uang perusahaan saat ibunya dulu bolak-balik rumah sakit untuk melakukan kemoterapi dan operasi beberapa kali walaupun pada akhirnya meninggal juga. Nicholas saat ini berdiri di luar pintu dengan senyuman tipis. Sebenarnya ia kasihan melihat Alissa yang terlihat lemas. Namun, apalah daya, apapun yang terjadi Alissa harus bertahan di perusahaan ini agar dirinya bisa bertemu setiap hari. Wajah wanita itu seakan candu baginya apalagi saat melihat Alissa marah seperti tadi mengingatkan sikap agresif Alissa semalam. Melihatnya saja membuat kejadian semalam terngiang-ngiang dalam ingatan. Nicholas bisa stress kalau tidak bisa melihat wajah Alissa lagi. Pria itu segera mengirimkan chat pada Pak Sandi. "Ada penawaran baik dari Pak Niko, kau jadi sekretarisnya maka hutangmu dianggap lunas." Alissa menggeleng, penawaran itu pasti sebuah jebakan. Nicholas bukanlah pria yang baik di mata Alissa. Pasti ada keinginan lain dibalik kebaikannya. Bukannya pria itu tadi menginginkan dia menjadi wanita simpanan? Ngeri membayangkan dirinya akan dijadikan sekretaris penghangat ranjang. Terlebih, dia tidak ingin melihat wajah Nicholas lagi. "Silahkan datang ke ruangannya kalau bersedia, tapi kalau tidak, lunasi pinjamannya dalam kurun waktu 24 jam!" Kini Alissa merasa dilema. Ia memandang lurus ke depan dengan pikiran kacau. Ingin menerima merasa takut, ingin menolak tidak punya uang sebanyak itu dalam waktu 24 jam untuk membayar. "Kalau menurut saya sebaiknya Bu Alissa ambil saja. Ini adalah kesempatan langka. Banyak karyawan lain yang menginginkan posisi ini tapi tidak tergapai. Anda harus bisa memanfaatkan peluang, anggap saja seperti berenang sambil minum air. Gaji tetap dapat dan hutang lunas." Apa yang dikatakan Pak Sandi memang benar. Sayangnya Alissa berpikiran rumit dan tidak bisa menganggap enteng begitu saja. Pasti ada harga mahal yang harus dibayar dalam penawaran ini. Terlebih Nicholas menganggapnya hina. "Selain itu perusahaan juga butuh ganti Bu Misya sebagai sekretaris yang sudah mengundurkan diri." Saat kepala begitu pusing memikirkan, ponsel Alissa berdering. Setelah memeriksa ternyata dari Virgo. "Lis, aku butuh uang 10 juta secepatnya!" "Apa?!" Alissa nyaris tidak bisa bernafas. Dalam kerumitan Virgo malah menambah masalah."Lis cepat, kalau tidak aku bisa dibawa ke kantor polisi!" "Astaga!" Alissa hampir pingsan mendengarnya. Dengan langkah gontai ia keluar dari ruangan HRD menuju ruangan Nicholas. "Aku tahu kau pasti akan ke sini!" Nicholas menatap wajah Alissa dengan aura dingin lalu kembali menunduk, berkutat dengan berkas-berkas. Ekspresinya terlihat serius."Saya ... te–ri–ma tawaran Tuan."Nicholas mengerutkan kening. "Tapi ada syaratnya." Alissa menunduk dengan kedua tangan saling meremas. Bola matanya berkaca-kaca. Kalau tidak terpaksa mana mungkin dia melakukan ini. Setelah direndahkan malah merendahkan dirinya sendiri. Nicholas mengangkat wajah dan kembali menatap Alissa tanpa kata. Namun, ekspresinya menyiratkan agar Alissa segera bicara. "Saya butuh pinjaman 10 juta lagi." Bukannya menjawab, Nicholas malah diam. Beberapa menit menunggu jawaban membuat Alissa bosan. "Kalau begitu, tidak jadi." Alissa balik badan lalu bersiap pergi."Tunggu!"Alissa diam dan menoleh."Tawaranmu aku terima asal kau bisa menuruti semua perintahku!""Saya ... saya ....""Terima atau bayar pinjamanmu!""Terima kasih," ucap Nicholas seraya menepuk pundak Aska. "Sama-sama. " Aska tersenyum tulus meskipun hatinya menyimpan kepedihan. "Jaga dia baik-baik, jangan kecewakan lagi," ujar Aska pada Nicholas. "Dan kamu Alissa, kembalilah kepada kebahagiaanmu. Aku senang jika melihatmu bahagia," ucapnya kemudian. Alissa hanya mengangguk lemah tanpa berani melihat wajah Aska. "Sudah sana kasihan pak penghulunya sudah menunggu." Nicholas menyentuh tangan Alissa lalu menggenggamnya. Jantung Alissa berdegup kencang. Nicholas membawa Alissa duduk di depan penghulu. "Aska apa-apaan ini?" Melati tidak terima dan hendak melangkah ke arah Nicholas dengan wajah murka, namun Tuan Barata langsung menggenggam tangan istrinya dan menahan. "Sudah Ma, kasihan putra kita. Mama tidak mau kalau sampai dia depresi, kan? Cobalah terima pilihannya. Hanya Niko yang tahu mana yang baik untuk dirinya. Mama mau seumur hidup anak kita tidak menikah?" Akhirnya Melati mengurungkan diri. "Terlebih apa T
"Tugasmu menjaga Alissa sudah selesai, kembalikan dia padaku!' Nada tegas Nicholas membuat mata Alissa membelalak. Tangannya reflek menutup mulut.Aska memandang Nicholas dengan senyuman sinis. "Sudah sadar Tuan Niko? Kemana saja Anda selama ini? Bukankah aku telah menyerahkannya tapi Anda sendiri yang menolak?" Aska tertawa hambar. "Sekarang sudah terlambat!' Nada suara Aska tak kalah tegas.Nicholas memandang Aska dengan tatapan menusuk. Aska balas menatap tajam seolah tidak ada ketakutan dalam hatinya. Alissa melirik Aska lalu Nicholas kemudian dia menunduk. Kedua tangannya saling terpaut dan meremas satu sama lain."Jadi kau tidak mau patuh?""Aku bukan lagi bawahanmu!"Nicholas mendesah kasar. Dia berjalan cepat ke arah kedua mempelai lalu menarik cepat tangan Alissa. Alissa yang tidak fokus langsung terseret menjauh."Hentikan Niko, kamu jadi perhatian semua orang!" Melati menegur sembari menghampiri putranya. Namun Nicholas sama sekali tidak menghiraukan."Tuan lepasin saya!"
"Aku tidak sakit Pa, Ma." Nicholas selalu menolak tatkala kedua orang tuanya memintanya agar mau diperiksa oleh dokter. "Tapi akhir-akhir ini kamu-" "Ada yang salah denganku?" Nicholas menggeleng. "Tidak ada yang salah dengan diriku Ma, Pa, tapi apa yang ada di sekitarku tampaknya salah." "Apa maksudmu Nik?" Nicholas menggelengkan kepalanya sekali lagi. "Apa Papa dan Mama tidak merahasiakan sesuatu dariku?" Nicholas menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian. Melati terkejut. "Aku tidak mengerti Maksudmu." Entah memang tidak paham atau hanya pura-pura tidak mengerti Melati menatap ke arah lain. Dari dalam jendela suasana hari terlihat cerah. Namun, di hati ketiga orang di dalam rumah tampak suram. "Apa benar Laura itu istriku? Siapa sebenarnya Alissa?" Mata Nicholas memerah. Dia merasa ditipu oleh orang tuanya sendiri. "Ya," jawab Melati datar, ekspresinya pun hambar. "Cukup! Kepalsuan ini jangan diteruskan Ma!" sentak Nicholas. Melati meremas kedua tanganny
"Tuan Nicholas tadi ada yang memberimu surat undangan, saya sudah menaruhnya di atas meja Tuan." Pagi-pagi sekali sekretaris memberitahu Nicholas. Pria itu menatap sekretarisnya tanpa ekspresi lalu mengangguk cepat. "Permisi!" Sang sekretaris menutup pintu dan pergi. Nicholas melihat meja, namun mengabaikan surat undangan yang ditaruh sekretarisnya. Pertama kali yang dia lakukan adalah menyesap kopi panas lalu menghela napas panjang. Merentangkan kedua tangan kemudian larut dalam tumpukan kertas yang membungkus seluruh konsentrasinya. Ketika sampai jam makan siang pria itu masih enggan beranjak dari kursinya. Sekretarisnya mengingatkan untuk makan, tetapi pria itu hanya meminta sekretarisnya untuk membawakan roti. Kesibukannya berlangsung hingga sore. Pada waktu pulang tangannya tidak sengaja menyenggol meja dan kertas undangan jatuh ke lantai. Pada saat itu Nicholas baru menyadari dia telah mengabaikan kertas itu. Nicholas berjongkok dan meraihnya. Pertama kali melihat nama p
Aska termenung ketika menerima telepon dari Laura. Wanita itu menyatakan menyerah setelah satu bulan mencoba membantu agar Nicholas mengingat masa lalu bersama Alissa dengan panduan Aska. "Kak Aska! Kak Aska baik-baik saja, kan?" "Oh ya, maaf aku lagi tidak enak badan," ucap Aska berbohong. Laura meminta Aska untuk beristirahat dan jangan terlalu memforsir memikirkan kisah asmara orang lain. "Baiklah sekarang aku harus mengambil keputusan, aku akan menikahi Alissa." Setelah mengatakan kalimat ini Aska langsung mengakhiri panggilan telepon. Laura tercengang, sesaat kemudian bibirnya cemberut. Sungguh ia tidak setuju dengan keputusan Aska. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Solusinya hanya satu yaitu membuat Nicholas kembali pada Alissa, tetapi ia tidak bisa mewujudkan itu. "Apa pria itu tidak tahu aku masih naksir padanya?" lirih Laura seraya menghela napas kasar. "Tuhan! Kenapa Engkau pertemukan kami lagi jika Kak Aska bukan jodohku?" Laura mengacak rambut. Haruskah dia be
Setelah diusir Nicholas dari ruang kerja, Aska keluar dari perusahaan sambil memijit kencing. Dia berpikir seharusnya Nicholas berterima kasih padanya bukan malah marah dan mengusir. Kalau dia tidak memberitahu ini lalu menikahi Alissa, ketika suatu saat Nicholas mengingat semua, apa yang akan terjadi? Aska tidak dapat berpikir dengan jernih hingga ia memutuskan untuk berjalan-jalan di luar. Dia menunggu Nicholas menelepon untuk mengajak pergi ke pertemuan dengan salah satu kliennya hari ini. Sayangnya hingga hari menjelang siang tidak ada panggilan satupun yang masuk ke ponsel Aska. Pria itu hanya bisa menghela napas berat kemudian pulang ke rumah dengan menelan kecewa. "Kak malam ini jadi, kan?" Tepat jam 6 malam Laura menelponnya. "Jadi." Sebenarnya Aska sudah tidak ingin bertemu dengan Laura setelah Nicholas membentak dirinya. Namun, dia juga tidak ingin membuat Laura kecewa kalau tidak menepati janjinya. Dia melirik jam di tangan kemudian menyetir mobil menuju alamat yang La
Esok hari, ketika Aska berjalan menuju mobil hendak ke kantor, ponsel di saku jasnya berdering. Ia hanya melirik dan mengabaikan. Jam sudah hampir pukul 7 pagi dan dia tidak ingin datang terlambat ke kantor. Begitu dia masuk mobil dia menyetel headset dan menghidupkan mesin mobil. "Halo!" Aska menyapa penelpon seraya fokus menatap jalanan. Ketika dia mendengar suara wanita dia langsung melirik nomor penelpon yang tidak diketahui namanya di layal ponselnya. "'Maaf ini siapa?" tanya Aska sambil terus menyetir. Suara penelpon adalah seorang wanita dan itu bukan Alissa. Penelpon menyebutkan nama dan itu membuat Aska terkejut sesaat. "Ya, Laura, ada apa?" "Kak, aku ingin bicara bisa? Terserah Kak Aska mau kita ketemuan dimana. Yang jelas aku ingin meminta tolong. Nanti aku cari alasan pada mama Melati." "Pagi ini tidak bisa, aku harus ke kantor." Terdengar helaan napas berat dari seberang sana. Kemudian beberapa saat Laura berkata, "Ya aku tahu, lain kali saja, bye!" "Eh tungg
"Oh." Aska hanya mengatakan sepatah kata."Dulu aku naksir Kak Aska loh," ujar gadis itu lalu terkekeh pelan. Pipinya bersemu merah, malu dengan perkataannya yang tidak terkontrol itu."Terima kasih," ucap Aska dengan ekspresi datar. "Namamu Laura, kan? Kamu istrinya Tuan Niko, jadi aku tidak mau terlalu berbasa-basi. Takut beliau salah paham," ucap Aska kemudian."Baik saya panggilkan," ucap Laura seraya bangkit dari duduknya. Di dalam hati dia berpikir Aska tetap saja seperti dulu. Terlalu dingin dengan wanita. Laura jadi penasaran, kira-kira wanita seperti apa yang bisa membuat pria tersebut tertarik."Tunggu!" Laura menghentikan langkah dan menoleh. "Ada apa?" "Sejak kapan kamu menikah dengan Tuan Niko?"Laura mengerutkan kening, bingung kenapa Aska bertanya demikian, pun tidak tahu harus menjelaskan seperti apa."Sejak Niko sadar dari komanya. Dia yang selalu merawat Nicholas dengan telaten di luar negeri. Jadi kami sebagai orang tua berinisiatif menikahkan mereka." Melati ber
Alissa segera memasukkan sesuatu di tangan ke dalam laci meja tatkala melihat kedatangan Aska. Mereka kini sedang berada di sebuah universitas ternama di kota. Alissa kebetulan ditunjuk menjadi dosen pengganti dari sahabat Aska yang sedang berada di luar negeri. Dagangan gorengan Alissa sudah dipegang oleh orang lain termasuk di semua cabangnya. Semenjak ia melahirkan Nara, dia memutuskan untuk fokus pada bayinya. Aska melirik pada tangan Alissa lalu tersenyum tipis. "Makan yuk!" Alissa mengangguk lalu bangkit berdiri. Keduanya menuju kantin yang berada di perguruan tinggi tersebut. Setelah memesan makanan, mereka langsung menikmati santapan mereka. "Oh ya, Tuan Nicholas sepertinya hilang ingatan sampai sekarang," ujar Aska yang membuat tubuh Alissa terkesiap. Untuk beberapa saat tubuh wanita itu membeku. Buru-buru Alissa meneguk air putih dengan tangan sedikit gemetar. Aska meneliti raut wajah Alissa yang mendadak pucat. Mencoba mengamati ekspresi tersirat dari wajah calon istri