홈 / Romansa / Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah! / Pengakuan Yang Tercecer

공유

Pengakuan Yang Tercecer

작가: Jannah Zein
last update 게시일: 2026-08-07 21:07:11

​BAB 54: Pengakuan yang Tercecer

​Hilya terlihat makin gugup saat Bilqis menatapnya lurus-lurus tanpa rasa gentar sedikit pun. Tatapan Bilqis seolah menelanjangi niatnya untuk menemui perempuan itu pagi ini.

Merasa posisinya terdesak oleh sindiran Bilqis soal uang saku, Hilya buru-buru memikirkan alibi. Tidak mungkin ia menyebut dokter Eddy, karena itu sama artinya dengan bunuh diri.

​"Aku... aku cuma disuruh Papa!" cetus Hilya cepat, suaranya agak naik satu oktav demi menutupi kegugupannya. "P
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Tak Ada Yang Sempurna

    ​BAB 118: Tak Ada Yang Sempurna (BAB PENUTUP)​Delapan bulan kemudian.​Lorong ruang bersalin RSUD Setia Budi dipenuhi ketegangan berbaur kehangatan. Jarum jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Di dalam kamar bersalin utama, erangan halus bertukar dengan napas teratur yang dipandu oleh tim medis.​Andika melepas sebagian profesionalismenya sebagai dokter spesialis kandungan malam itu. Sebagai gantinya, ia hadir sepenuhnya sebagai seorang suami. Ia berdiri di sisi kiri tempat tidur bersalin, menggenggam erat jemari Bilqis yang dingin dan berpeluh. Dengan tangan kanannya, Andika mengusap lembut kening istrinya, membisikkan doa-doa penguat di setiap selang gelombang kontraksi.​"Sedikit lagi, Sayang... Tarik napas pelan, hembuskan. Mas ada di sini, kamu luar biasa," bisik Andika, suaranya yang serak menyembunyikan getar emosi yang luar biasa.​Di sisi kanan tempat tidur, Naina tak henti-hentinya mengusap rambut putri sulungnya. Air mata mengalir dipipinya yang mulai digaris keripu

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Muara Hidup

    BAB 117: Muara Hidup​Suara panggilan antrean dari mikrofon suster Rini terdengar samar-samar menembus dinding kedap suara ruang kerja Andika. Di dalam ruangan sejuk itu, Bilqis baru saja menyelesaikan potongan buah apel terakhirnya. Rasa lega menyelimuti hatinya saat ia mengelus perutnya yang masih rata. Tidak ada lagi rasa mual yang menyiksa seperti kemarin pagi, seolah sang janin di dalam sana mengerti bahwa kedua orang tuanya tengah dikelilingi kedamaian.​Waktu bergulir cepat di RSUD Setia Budi. Jarum jam dinding tepat menunjukkan pukul satu siang lewat lima belas menit ketika pintu penghubung ruang kerja berbunyi pelan. Andika melangkah masuk seraya melepas jas putih dokternya. Garis-garis kelelahan tampak samar di paras tampannya setelah memeriksa puluhan pasien sepanjang pagi, namun binar matanya seketika hangat begitu tatapannya jatuh pada sang istri.​"Bagaimana, Sayang? Bosan menunggu Mas?" tanya Andika lembut seraya menggantung jas dokternya di kapstok kayu, lalu melangka

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Kagum Dalam Keheningan

    BAB 116: Kagum dalam Keheningan​Pintu kayu ruang kerja Andika kembali tertutup rapat setelah Suster Rini berpamitan keluar. Bilqis mengulas senyum tipis, lalu meraih potongan buah apel segar yang disajikan dengan rapi di atas nampan. Rasa manis dan renyah apel itu seketika memanjakan lidahnya, mengusir sisa-sisa rasa mual yang sempat mengintai. Di layar televisi, tayangan berita tentang dinamika bisnis dan politik terus bergulir, namun hati Bilqis sudah berada di tempat yang jauh lebih tenang, di dalam perlindungan hangat sang suami.​Sementara itu, di balik meja pendaftaran Poliklinik Kebidanan dan Kandungan yang padat oleh antrean pasien, Suster Rini berjalan kembali dengan langkah yang perlahan melambat. Nampan kosong di genggamannya terasa sedikit lebih berat dari biasanya.​Perawat muda itu menarik kursi kerjanya, lalu mendudukkan diri di depan layar komputer pendaftaran. Tatapannya tertuju lurus ke arah pintu ruang kerja Dokter Andika yang tertutup rapat, lalu beralih menyapu

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Dokter Khusus di Rumah Sendiri

    ​BAB 115: Dokter Khusus di Rumah Sendiri​Suasana rumah dinas terasa jauh lebih lapang dan hangat setelah kepulangan Naina ke Jakarta. Tidak ada lagi ketegangan yang menggantung di udara, tidak ada lagi rasa cemas, yang tersisa di rumah nan sederhana itu hanyalah kedamaian yang telah lama dinantikan oleh Andika dan Bilqis.​Matahari pagi baru saja menyembulkan sinarnya yang hangat dari balik pepohonan. Di dalam dapur, aroma harum teh chamomile yang diseduh hangat menguar pelan, membaur dengan aroma roti panggang.​Bilqis berdiri di dekat kompor, bersiap untuk menggoreng telur mata sapi untuk sarapan mereka. Namun, baru saja ia menyalakan kompor dan menuang sedikit minyak ke atas wajan, sebuah lengan kokoh melingkar hangat di pinggangnya dari arah belakang.​"Eits, mau buat apa, Sayang?" bisik suara bernada rendah yang sangat familiar tepat di samping telinganya.​Bilqis mengecap bibirnya pelan, menoleh sedikit seraya tersenyum manis. Andika sudah tampil segar dengan kemeja kasualnya,

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Sambutan Hangat

    BAB 114: Sambutan Hangat ​Suara deru pendingin udara di ruang kerja Andika terasa begitu sejuk, menenangkan gemuruh kebahagiaan yang masih menyelimuti dada Bilqis. Ponsel di genggamannya perlahan ia letakkan di atas meja. Ucapan selamat dan isak haru dari Queen, saudara sesusunya di Australia masih bergema hangat di ingatannya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Bilqis merasakan kebebasan mutlak atas jalan hidup yang ia pilih sendiri.​Jemari lentiknya bergerak lembut mengusap permukaan perutnya yang masih datar. Ada sesungging senyum tulus yang terukir di bibirnya. Di dalam sana, benih cinta yang ia rajut bersama Andika tengah tumbuh, menjadi jangkar yang mengikat mereka dalam ikatan yang tak tergoyahkan oleh ambisi atau keangkuhan siapa pun.​Klek.​Pintu penghubung antara ruang kerja dan ruang periksa utama terbuka pelan. Andika melangkah masuk dengan senyum hangat yang langsung terpancar begitu tatapan mata mereka beradu. Pria itu melepas stetoskop yang melingkar di lehe

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Sukacita di Rumah Sakit

    BAB 113: Sukacita di Rumah Sakit​Di dalam ruang periksa Poliklinik Kebidanan dan Kandungan RSUD Setia Budi, keheningan hangat yang sempat tercipta paska pemeriksaan USG perlahan mencair. Andika mengusap lembut sisa gel ultrasound di perut halus istrinya dengan tisu steril, lalu membantunya bangkit dan duduk di tepi tempat tidur pemeriksaan. Bilqis merapikan pakaiannya dengan jemari yang masih sedikit gemetar karena rasa haru yang membuncah di dalam dada.​Setelah mematikan layar monitor USG, Andika melangkah menuju pintu dan memutar kunci dari dalam. Suster Rini, perawat senior yang sejak pagi berjaga di area pendaftaran poliklinik, berdiri di dekat meja administrasi dengan wajah penuh rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan.​"Bagaimana hasilnya, Dokter Dika?" tanya Suster Rini ramah, matanya melirik sekilas ke arah Bilqis yang sedang melangkah pelan mendekati meja kerja Andika.​Andika menyunggingkan senyum paling lebar yang belum pernah dilihat oleh para staf medis di RSUD it

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status