LOGINBab 25: Terusik (2)Lampu kristal mewah yang menggantung di langit-langit restoran VVIP room Hotel Emerald memantulkan cahaya berkilauan, menciptakan atmosfer eksklusif yang tenang. Namun, ketenangan itu sama sekali tidak berbanding lurus dengan gemuruh emosi di dada Andika saat ia melangkah memasuki ruangan.Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat mama Novia duduk anggun mengenakan gaun brokat mahal. Di hadapan ibunya, duduk seorang pria paruh baya, salah satu kolega bisnis Roy, papa tirinya, bersama seorang gadis muda berwajah modis yang tampak sesekali merapikan riasannya."Ah, ini dia Andika!" seru Mama Novia dengan senyum merekah, langsung bangkit berdiri menyambut putranya. "Kenalkan, ini Andika, dokter spesialis kandungan kebanggaan keluarga kami. Dia juga owner RSIA Kiera Medika Utama yang terkenal itu."Andika memasang wajah datar terbaiknya. Dia menjabat tangan pria paruh baya itu dan mengangguk sopan pada gadis di sebelahnya dengan formalitas yang teramat kaku. "Mohon ma
Bab 24: Terusik Andika melajukan SUV hitamnya membelah jalanan kota Banjarmasin dengan kecepatan di atas rata-rata. Pikirannya carut-marut. Intervensi Mama Novia yang melangkahi otoritasnya sebagai dokter senior benar-benar telah menginjak-injak harga dirinya. Namun, Andika bukan pria lemah yang bisa disetir begitu saja, sekalipun oleh ibunya sendiri.Setibanya di RSIA Kiera Medika Utama, Sisil langsung menyambut di depan ruangan poli kandungan. Wajah gadis itu terlihat pucat pasi dan tertunduk."Saya tidak menyalahkanmu, Sil," potong Andika cepat dengan suara baritonnya yang dingin namun tenang. Pria itu melangkah masuk dengan cepat, lalu menutup pintu, sehingga di ruangan ini hanya ada mereka berdua. "Tapi dengar instruksi saya. Kembalikan semua sistem jadwal seperti semula. Jika ada pasien darurat atau pembukaan lengkap yang masuk malam ini atas nama pasien saya, langsung hubungi saya. Ingat, Sil, kamu digaji oleh rumah sakit di bawah manajemen saya, bukan oleh ibuku. Paham
Bab 23: Tuntutan Mama NoviaSetelah menyelesaikan sarapan pagi yang diwarnai riak kecemburuan tipis namun manis itu, Andika tidak bisa berlama-lama menikmati waktu santainya di rumah. Sebagai salah satu dokter spesialis obgyn favorit se-Banjarmasin raya, jadwalnya hari ini benar-benar padat merayap.Pukul setengah delapan pagi, Andika sudah rapi dengan kemeja kerjanya. Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri mengecup dahi Bilqis di dekat pintu depan."Mas berangkat dulu, ya. Pagi ini Mas ada jadwal operasi elektif dua pasien di RSIA Kiera, setelah itu langsung lanjut visit pasien pasca-operasi semalam," pamit Andika lembut, jemarinya mengusap pipi Bilqis sekilas. "Siangnya Mas harus ke RSUD untuk mengajar residen dan praktik poli di sana sampai sore."Bilqis mengangguk patuh, mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan siangnya nanti.""Pasti, Sayang. Mas pulang agak sorean langsung siap-siap praktik malam di Kiera lagi," Andi
Bab 22: CemburuSubuh bertabur embun yang menempel di kaca jendela kamar utama, aura kesejukannya seolah teramat betah membuai wajah lelap Bilqis. Namun gadis itu menggeliat pelan, merasakan kehangatan yang melingkupi tubuhnya. Saat kesadarannya pulih sepenuhnya, ia menyadari lengan kokoh Andika masih melingkar protektif di pinggangnya, memeluknya erat dari belakang seolah takut ia akan menghilang.Bilqis menahan napas sejenak, menatap wajah tidur suaminya dari jarak dekat. Dalam kondisi terpejam seperti ini, gurat tegas dan ketampanan Andika tidak berkurang sedikit pun, hanya tampak lebih damai dibandingkan mode dokter galak yang ia tunjukkan semalam.Perlahan dan sangat hati-hati, Bilqis memindahkan tangan Andika dari pinggangnya agar tidak membangunkan pria yang baru tidur beberapa jam itu. Dia segera turun dari ranjang, merapikan gaun tidurnya, lalu melangkah ke dapur untuk membuat sarapan sederhana.Satu jam kemudian, aroma harum nasi goreng mentega buatan Bilqis sudah memen
Bab 21: Di Antara Dua NyawaLangkah kaki Andika menggema cepat membelah kesunyian malam di koridor RSIA Kiera Medika Utama. Pria itu praktis berlari kecil dari rumahnya, mengabaikan dinginnya angin malam Banjarmasin yang menusuk kulit. Dia memilih berlari saja, bukan mengendarai mobil, karena memanaskan mesin mobil itu akan menyita waktu tersendiri, anggap saja dia sedang olahraga di tengah malam buta.Begitu melewati pintu kaca otomatis ruang operasi (OK), atmosfer langsung berubah tegang.Sisil dan tim anestesi sudah berdiri siaga di posisinya masing-masing. Di atas meja operasi, Ny. Dania tampak terpejam dengan masker oksigen yang terpasang di wajah, sementara mesin monitor di sampingnya terus berbunyi bip-bip-bip dengan irama yang terlalu lambat dan tidak beraturan."Kondisi terakhir, Sil?" tanya Andika tegas sembari melangkah cepat ke area pencucian tangan steril. Dia menggosok lengannya dengan cairan antiseptik di bawah air mengalir dengan gerakan taktis."Cairan hidrasi s
Bab 20: Panggilan TugasMalam telah larut ketika SUV hitam milik Andika kembali memasuki pekarangan rumah. Jarum jam hampir menyentuh angka sebelas malam. Andika melangkah masuk ke dalam rumah dengan tubuh yang didera letih luar biasa setelah menghadapi jadwal praktik yang padat dan visit pasien pasca-operasi di poli kandungan RSIA Kiera Medika Utama.Hal pertama yang Andika lakukan adalah melangkah menuju kamar tamu seberang koridor. Benar dugaannya, ia mendapati Bilqis sudah terlelap di sana. Istrinya itu tertidur dalam posisi meringkuk memeluk guling, tampak begitu polos dan damai di bawah temaram lampu tidur yang kuning redup.Andika tersenyum tipis. Rasa letihnya mendadak menguap sebagian. "Istriku, ternyata dia sudah tidur. Kasihan sekali, pasti capek sekali menghadapi drama tadi siang," gumam Andika seraya menggeleng samar. "Mau sampai kapan orang-orang itu menghina kamu? Padahal kamu nggak tahu apa-apa di masa lalu."Tanpa berniat membangunkan, pria itu perlahan menyusupk







