Share

198. Tak Tidur di Kamar

Author: Kafkaika
last update Last Updated: 2026-01-01 00:04:18
Pras benar-benar resah. Malam sudah semakin larut, namun tanda-tanda kehadiran Aura di kamar mereka tak kunjung terlihat.

Aura sepertinya masih betah di kamar Axel. Tidak mungkin juga kan Aura harus tidur di sana bersempit-sempitan bersama pengasuh Axel hanya karena sedang marah? pikirnya gusar.

Seharian tadi Pras menahan kantuk luar biasa di kantor, berusaha menyelesaikan tumpukan urusan agar bisa pulang cepat. Niatnya sederhana: ingin beristirahat dan bermanja-manja dengan istrinya.

Namun, malah kedatangan "nenek lampir" yang selalu berhasil mengacaukan suasana dan merusak mood seluruh penghuni rumah.

Kini, Pras masih terjaga, belum bisa memejamkan mata karena "teman seranjangnya" belum kunjung datang. Pikirannya tidak tenang selama ia belum melihat wajah Aura secara langsung, apalagi mengingat istrinya itu masih membeku karena marah padanya.

Sayangnya, rasa lelah dan pening di kepala akibat kurang tidur semalam mmbuatnya tertidur.

Hingga keesokan paginya, pemandangan pertama yang ia
Kafkaika

Aura kasih pergi berburu Selamat tahun baru, Aura kasih ke kota kembang semoga di tahun baru kita semua jadi lebih baik, lebih sehat, dan banyak uang (amin) Love you all 💖💖💖

| 6
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   217. Dilabrak Mikayla

    Sambil menggendong Axel, Aura mengantar sang suami yang hendak berangkat ke kantor. Udara pagi masih terasa sejuk, tapi dadanya entah kenapa sedikit sesak—sebuah firasat yang tak sempat ia pahami.“Daaah, Papa…” Aura menuntun tangan mungil Axel untuk melambai ke arah mobil Pras yang perlahan keluar dari halaman.Axel melonjak-lonjak dalam gendongannya, kakinya menendang udara seolah menolak perpisahan singkat itu. Jika bahasanya bisa diterjemahkan, bayi tujuh bulan itu pasti ingin ikut sang papa.“Axel mau ikut Papa?” Aura tersenyum kecil sambil melangkah masuk. “Sabar ya. Besok kalau udah besar sedikit, Axel pasti diajak Papa, kok. Sekarang Axel mamam dulu biar cepat besar.”Belum sempat Aura melangkah jauh, sebuah suara dingin menyambar dari arah ruang tengah.“Cepat besar… biar aku bisa kasih tahu kalau kamu ada karena mamamu merebut papaku!”Aura terhenti. Perlahan ia menoleh.Mikayla berdiri di sana dengan kedua tangan terlipat di depan dada, wajahnya datar namun matanya menyimpa

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   216. Ketegangan di Dapur(2)

    Lepas dari ketegangan itu, Pras kembali melanjutkan jeda yang berkali-kali semakin meningkatkan adrenalinnya itu.Kali ini tidak ada lagi kelembutan. Ia menghentak dengan tempo yang lebih cepat dan kuat, seolah ingin melampiaskan ketegangan yang tadi sempat tertahan.“Akhhh…” Pekik Aura setiap kali hentakan itu menghunusnya dengan dalam.Meja marmer itu bergetar pelan mengikuti irama penyatuan mereka. Aura tak lagi bisa menahan suaranya. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Pras, menggigit bahu suaminya itu untuk meredam desahan-desahan nikmat yang kian nyaring.“Mas... pelan-pelan... ahhh!” Aura meracau, tubuhnya gemetar hebat saat merasakan gelombang puncak mulai mendekat.“Tidak ada pelan-pelan, Aura... kau yang memulainya, jadi kau harus menyelesaikannya sampai habis,” geram Pras. Pria itu semakin menggila, memberikan dorongan-dorongan dalam yang membuat Aura merasa dunianya seakan berputar.Sentuhan kulit yang basah oleh keringat, aroma tubuh yang memabukkan, dan sensasi "te

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   215. Ketegangan di Dapur

    Pras tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan seringai nakal yang membuat Aura merinding sekaligus bergairah. Ia langsung menyambar jemari Aura, menuntunnya keluar dari ruang kerja dengan langkah sepelan mungkin.Suasana rumah sudah sangat sunyi. Lampu-lampu utama telah dipadamkan, menyisakan lampu temaram di sudut-sudut lorong. Aura mengikuti dari belakang, memandangi punggung tegap suaminya sambil sesekali menahan tawa saat lantai kayu yang mereka injak mengeluarkan bunyi derit kecil.Begitu sampai di dapur, Pras segera menutup pintu kayu itu dan memutar kunci. Klik. Bunyi kecil itu terasa begitu keras di telinga mereka dalam keheningan malam.“Sudah aman, Tuan Putri,” bisik Pras, suaranya berat dan serak.Dapur itu terasa dingin dengan permukaan marmer dan peralatan stainless steel, namun suhu tubuh mereka justru berbanding terbalik.Aura langsung melompat duduk di atas island kitchen yang tinggi, membiarkan gaun satinnya tersingkap hingga ke pangkal paha.“Dingin ya, Mas

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   214.

    “Nakal kamu!” Pras bergumam gemas. Ia menatap wanita di depannya yang tak pernah berhenti membuatnya merasa seperti pemuda yang baru puber—penuh gairah dan rasa ingin memiliki.Pras masih tampak sedikit salah tingkah saat Aura kembali memujinya dengan terang-terangan. “Mas Pras itu tampan, tubuhnya masih terjaga, dan... perkasa. Aku heran saja, apa yang dicari Veny saat dia memilih berselingkuh dulu?” Aura mencandainya dengan nada sensual yang menggoda.Pras menaikkan sebelah alisnya. “Lalu kau sendiri bagaimana? Apa yang kau cari saat memutuskan 'berselingkuh' denganku dulu?”Aura tertawa manja sembari bergelanyut di lengan kekar Pras. “Ya mau bagaimana lagi? Ada pria yang selalu sukses membuatku menjerit-jerit keenakan. Mana mungkin aku menolak?”Keduanya tertawa bersama, namun perlahan tawa itu surut saat Pras menatap Aura dengan tatapan lekat dan serius.“Sayang, tolong jangan bahas masa lalu lagi, ya,” pinta Pras dengan nada penuh pertimbangan. Ia tidak ingin memori tentang manta

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   213. Perduelan di Ruang Kerja

    Aura tidak lagi peduli pada harga diri yang tadi sempat terluka. Seperti remaja yang sedang dimabuk asmara dan ingin menggoda pujaan hatinya, ia mulai melancarkan aksi.Baju tidur satin tipis yang membalut tubuhnya terasa dingin di kulit, namun gairah di dalam dadanya justru membara. Sengaja ia melorotkan satu sisi bahunya, membiarkan kain licin itu jatuh hingga memamerkan pundak mulus dan lengkungan belahan dadanya yang menggoda. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai acak-acakan, memberikan kesan liar namun alami—sebuah undangan yang sulit ditolak pria mana pun.Pras melangkah masuk ke rumah dengan gurat kelelahan yang nyata. Wajahnya kaku, matanya terfokus pada ponsel yang masih menempel di telinga. Ia langsung melangkah menuju ruang kerja tanpa menyadari ada "predator" cantik yang tengah membuntutinya dalam diam, mengawasi setiap gerak-geriknya dengan tatapan lapar.Begitu Pras menutup telepon dan menghela napas berat, sebuah suara lembut yang mendayu menyapa dari ambang pintu.“Say

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   212. Memaklumi Oma Eliyas

    “Kenapa kau bengong seperti itu?”Pras melambaikan tangannya di depan wajah Aura, memecah lamunan istrinya yang sejak tadi hanya menatapnya tanpa berkedip. Ada binar aneh di mata Aura yang membuat Pras merasa sedikit risi sekaligus penasaran.“Sebentar, Mas.” Tiba-tiba Aura mencubit lengannya sendiri dengan cukup keras hingga ia meringis.“Kenapa kamu? Kok malah menyiksa diri sendiri?” Pras mengernyit heran, menghentikan kegiatannya merapikan kemeja.“Aku hanya ingin memastikan kalau aku benar-benar melihat Mas Pras memarahi Veny tadi,” ujar Aura sembari tertawa kecil, ada nada puas sekaligus tidak percaya dalam suaranya. “Itu tadi nyata, kan? Bukan halusinasi karena aku kurang tidur?”Pras langsung menatap Aura dengan protes. “Astaga. Kau amnesia atau bagaimana, Ra? Selama ini aku selalu membelamu. Aku juga sering memarahinya jika dia sudah keterlaluan, kan? Kenapa kau seolah baru pertama kali melihatnya?”Aura mencebikkan bibir, nada suaranya berubah sedikit getir. “Ya bagaimana lag

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status