Share

209. Saling Menyindir

Author: Kafkaika
last update Last Updated: 2026-01-05 20:42:02

“Punya anak kok sakit-sakitan terus. Sebentar sehat, sebentar panas lagi. Daya tahannya lemah sekali, ya?” sindir Veny tajam saat melintas di depan Aura yang sedang telaten menyuapkan bubur ke mulut Axel.

Neni yang berdiri tak jauh dari sana hanya bisa menunduk, menghela napas berat dengan tubuh yang mendadak tegang. Sebagai pengasuh, ia sudah sangat hapal tabiat Veny yang hobi memancing keributan. Biasanya, Aura akan langsung meledak jika urusan anak sudah disinggung, dan Neni sudah bersiap menghadapi "perang dunia" pagi ini.

Namun, kejutan terjadi. Aura tampak bergeming. Ia seolah menulikan telinga dari suara sumbang itu dan tetap fokus pada Axel, mengajak bayi itu bercanda hingga sang putra membuka mulut dengan ceria.

“Tidak apa-apa ya, Sayang? Kata dokter, bayi memang wajar kalau sedikit-sedikit sakit. Tubuhmu sedang belajar membentuk antibodi supaya kuat. Sehat terus ya, anak Mama?” Aura berbisik lembut, menyelipkan doa di antara suapan bubur, seolah keberadaan Veny hanyalah angi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   216. Ketegangan di Dapur(2)

    Lepas dari ketegangan itu, Pras kembali melanjutkan jeda yang berkali-kali semakin meningkatkan adrenalinnya itu.Kali ini tidak ada lagi kelembutan. Ia menghentak dengan tempo yang lebih cepat dan kuat, seolah ingin melampiaskan ketegangan yang tadi sempat tertahan.“Akhhh…” Pekik Aura setiap kali hentakan itu menghunusnya dengan dalam.Meja marmer itu bergetar pelan mengikuti irama penyatuan mereka. Aura tak lagi bisa menahan suaranya. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Pras, menggigit bahu suaminya itu untuk meredam desahan-desahan nikmat yang kian nyaring.“Mas... pelan-pelan... ahhh!” Aura meracau, tubuhnya gemetar hebat saat merasakan gelombang puncak mulai mendekat.“Tidak ada pelan-pelan, Aura... kau yang memulainya, jadi kau harus menyelesaikannya sampai habis,” geram Pras. Pria itu semakin menggila, memberikan dorongan-dorongan dalam yang membuat Aura merasa dunianya seakan berputar.Sentuhan kulit yang basah oleh keringat, aroma tubuh yang memabukkan, dan sensasi "te

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   215. Ketegangan di Dapur

    Pras tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan seringai nakal yang membuat Aura merinding sekaligus bergairah. Ia langsung menyambar jemari Aura, menuntunnya keluar dari ruang kerja dengan langkah sepelan mungkin.Suasana rumah sudah sangat sunyi. Lampu-lampu utama telah dipadamkan, menyisakan lampu temaram di sudut-sudut lorong. Aura mengikuti dari belakang, memandangi punggung tegap suaminya sambil sesekali menahan tawa saat lantai kayu yang mereka injak mengeluarkan bunyi derit kecil.Begitu sampai di dapur, Pras segera menutup pintu kayu itu dan memutar kunci. Klik. Bunyi kecil itu terasa begitu keras di telinga mereka dalam keheningan malam.“Sudah aman, Tuan Putri,” bisik Pras, suaranya berat dan serak.Dapur itu terasa dingin dengan permukaan marmer dan peralatan stainless steel, namun suhu tubuh mereka justru berbanding terbalik.Aura langsung melompat duduk di atas island kitchen yang tinggi, membiarkan gaun satinnya tersingkap hingga ke pangkal paha.“Dingin ya, Mas

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   214.

    “Nakal kamu!” Pras bergumam gemas. Ia menatap wanita di depannya yang tak pernah berhenti membuatnya merasa seperti pemuda yang baru puber—penuh gairah dan rasa ingin memiliki.Pras masih tampak sedikit salah tingkah saat Aura kembali memujinya dengan terang-terangan. “Mas Pras itu tampan, tubuhnya masih terjaga, dan... perkasa. Aku heran saja, apa yang dicari Veny saat dia memilih berselingkuh dulu?” Aura mencandainya dengan nada sensual yang menggoda.Pras menaikkan sebelah alisnya. “Lalu kau sendiri bagaimana? Apa yang kau cari saat memutuskan 'berselingkuh' denganku dulu?”Aura tertawa manja sembari bergelanyut di lengan kekar Pras. “Ya mau bagaimana lagi? Ada pria yang selalu sukses membuatku menjerit-jerit keenakan. Mana mungkin aku menolak?”Keduanya tertawa bersama, namun perlahan tawa itu surut saat Pras menatap Aura dengan tatapan lekat dan serius.“Sayang, tolong jangan bahas masa lalu lagi, ya,” pinta Pras dengan nada penuh pertimbangan. Ia tidak ingin memori tentang manta

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   213. Perduelan di Ruang Kerja

    Aura tidak lagi peduli pada harga diri yang tadi sempat terluka. Seperti remaja yang sedang dimabuk asmara dan ingin menggoda pujaan hatinya, ia mulai melancarkan aksi.Baju tidur satin tipis yang membalut tubuhnya terasa dingin di kulit, namun gairah di dalam dadanya justru membara. Sengaja ia melorotkan satu sisi bahunya, membiarkan kain licin itu jatuh hingga memamerkan pundak mulus dan lengkungan belahan dadanya yang menggoda. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai acak-acakan, memberikan kesan liar namun alami—sebuah undangan yang sulit ditolak pria mana pun.Pras melangkah masuk ke rumah dengan gurat kelelahan yang nyata. Wajahnya kaku, matanya terfokus pada ponsel yang masih menempel di telinga. Ia langsung melangkah menuju ruang kerja tanpa menyadari ada "predator" cantik yang tengah membuntutinya dalam diam, mengawasi setiap gerak-geriknya dengan tatapan lapar.Begitu Pras menutup telepon dan menghela napas berat, sebuah suara lembut yang mendayu menyapa dari ambang pintu.“Say

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   212. Memaklumi Oma Eliyas

    “Kenapa kau bengong seperti itu?”Pras melambaikan tangannya di depan wajah Aura, memecah lamunan istrinya yang sejak tadi hanya menatapnya tanpa berkedip. Ada binar aneh di mata Aura yang membuat Pras merasa sedikit risi sekaligus penasaran.“Sebentar, Mas.” Tiba-tiba Aura mencubit lengannya sendiri dengan cukup keras hingga ia meringis.“Kenapa kamu? Kok malah menyiksa diri sendiri?” Pras mengernyit heran, menghentikan kegiatannya merapikan kemeja.“Aku hanya ingin memastikan kalau aku benar-benar melihat Mas Pras memarahi Veny tadi,” ujar Aura sembari tertawa kecil, ada nada puas sekaligus tidak percaya dalam suaranya. “Itu tadi nyata, kan? Bukan halusinasi karena aku kurang tidur?”Pras langsung menatap Aura dengan protes. “Astaga. Kau amnesia atau bagaimana, Ra? Selama ini aku selalu membelamu. Aku juga sering memarahinya jika dia sudah keterlaluan, kan? Kenapa kau seolah baru pertama kali melihatnya?”Aura mencebikkan bibir, nada suaranya berubah sedikit getir. “Ya bagaimana lag

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   211.

    “Ma? Mama bahkan sudah mengurus semua surat-surat itu tanpa bicara padaku?”Pras mematung, seolah seluruh tenaganya tersedot habis. Ia tak percaya mendengar kenyataan bahwa ibu nya sendiri telah meminta pengacara untuk mengalihkan kepemilikan rumah keluarga Eliyas menjadi atas nama Mikayla.Oma Eliyas hanya bisa menunduk dalam. Jemarinya yang mulai keriput bergetar hebat, saling bertautan di atas pangkuan. Ada rasa malu dan penyesalan yang membuncah di dadanya karena telah bertindak terlalu jauh tanpa melibatkan Pras.“Apa Mama sebegitunya memandang Pras sebagai pria brengsek, sampai melihat Veny dan Mikayla tidak pernah benar-benar salah? Mama bahkan tidak meminta pendapatku saat mengalihkan nama rumah ini?” Suara Pras bergetar oleh rasa kecewa yang mendalam.Hati Pras terasa perih. Selama ini ia dan Aura bertahan di rumah ini, menelan semua atmosfer beracun dan perlakuan buruk Mikayla, hanya karena menuruti keinginan Oma yang ngotot mempertahankan rumah penuh kenangan ini. “Maaf, Pr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status