MasukLangkah Aura terasa begitu ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan. Senyum yang sempat hilang kini kembali merekah di wajahnya. Tata, yang sudah setia menunggu, langsung bangkit menyambut sang nyonya dengan tatapan bertanya-tanya.“Sudah selesai, Bu?” tanyanya hati-hati.“Sudah, Ta. Ayo…” ujar Aura tanpa menghentikan langkah, seolah ingin segera meninggalkan bau obat-obatan di klinik itu.Tata membuntuti di belakang. Meski rasa penasarannya membuncah, ia menahan diri untuk tidak bertanya. Ia sadar posisinya; mendesak majikan tentang masalah pribadi seperti kehamilan bisa dianggap sangat tidak sopan.“Kita langsung pulang, Bu?” tanya Tata lagi saat mereka sudah di parkiran.“Hmm, aku telepon Neni dulu ya. Kalau Axel tidak rewel, kita lanjut ke tujuan awal ke salon. Tapi kalau dia mencari-cariku, kita pulang saja,” ujar Aura sembari merogoh ponsel dari tas tangannya.Setelah mendapat laporan bahwa Axel sedang asyik bermain dan tenang, Aura pun mantap meminta Tata mengantarnya ke salon
Tata, yang sedang fokus menyetir, sesekali melirik dari spion tengah. Ia menangkap gurat keresahan yang sangat jelas di wajah majikannya.“Ada apa, Bu?” tanya Tata pelan, mencoba memecah kesunyian.Aura tersentak dari lamunannya dan menggeleng cepat. “Enggak, Ta. Enggak ada apa-apa.”Namun, hanya butuh beberapa detik bagi Aura untuk akhirnya menyerah pada rasa penasarannya sendiri. Ia butuh pendapat orang lain. “Ta... menurutmu ada kemungkinan enggak, orang yang sudah KB tapi masih bisa hamil?”Tata menoleh sebentar, kini ia paham mengapa nyonya cantiknya itu tampak begitu resah sejak tadi.“Ada saja, Bu. Tetanggaku bahkan sudah steril, tapi malah hamil di luar kandungan,” jawab Tata apa adanya.“Eh, kok bisa?!” Aura terkejut, matanya membulat.“Enggak paham juga, Bu. Namanya juga rencana manusia, tapi kalau Tuhan sudah punya kehendak lain, kita bisa apa?” tutur Tata bijak.Aura kembali terdiam, menatap kosong ke arah jalanan yang ramai. Pikirannya melayang. Yang sudah steril saja mas
“Ada apa, Mas?” Aura menatap Pras dengan tatapan menuntut penjelasan. Jantungnya masih berdegup kencang, membayangkan hal terburuk terjadi pada Mikayla.Bukannya menjawab, Pras justru melangkah lebar menuju balkon, membelakangi Aura. Sikap diam itu membuat rasa penasaran Aura berubah menjadi kecemasan yang menyesakkan. Namun, saat ia membuntuti Pras ke balkon dan mencuri dengar percakapannya di telepon, ternyata dugaannya meleset.“Bodoh dia. Bisa-bisanya dikadalin sama kekasihnya sendiri,” desis Pras dingin ke arah ponselnya.Aura menghela napas panjang, bahunya merosot lega. Setidaknya, itu bukan tentang Mikayla. Jika terjadi sesuatu yang fatal pada gadis itu karena ulahnya tadi, Aura pasti akan dihantui rasa bersalah seumur hidup.“Aku juga sih... sok-sokan mau melawan dengan bersikap kejam. Padahal rasa bersalahnya minta ampun,” gumam Aura dalam hati.Ia menyadari bahwa menjadi sosok yang tegas butuh latihan mental yang kuat. Ia teringat masa lalunya, saat ia pertama kali terjebak
Dengan langkah penuh amarah yang bergema di lorong, Veny keluar dari kamarnya. Ia menekan tombol lift dengan kasar, tak sabar ingin segera sampai ke lantai kamar Aura. Pikirannya kalut; ia tidak bisa membiarkan semua ini terjadi. Kalaupun Mikayla harus tahu kenyataan itu, biarlah keluar dari mulutnya sendiri, bukan dari wanita itu!“Aura! Keluar kau!” teriaknya menggelegar sambil menggedor pintu kamar Aura tanpa ampun.Para pembantu yang melihatnya hanya bisa menunduk, sudah terlalu terbiasa dengan amukan Veny yang meledak-ledak. Tak ada yang berani mendekat, apalagi mencoba melerai. Mereka tetap sibuk dengan pekerjaan masing-masing, takut jika salah langkah, nasib mereka akan berakhir seperti pelayan sebelumnya yang habis dimaki tanpa sebab.“Mau apa kau berdiri di sana, hah?! Tidak punya pekerjaan kamu?” Veny melototi seorang pelayan yang kebetulan hendak lewat di depannya.“Maaf, Bu... permisi...” Pelayan itu langsung melipir pergi dengan wajah pucat.Veny kembali menghantam pintu
Keheningan yang mencekam itu seolah membekukan waktu. Mikayla masih berdiri mematung di anak tangga pertama, namun seluruh kekuatannya terasa tersedot habis, seakan jatuh ke dasar bumi. Wajahnya yang semula merah karena amarah kini berubah pucat pasi, nyaris tanpa darah.Kalimat Aura barusan bukan lagi sekadar sindiran. Itu adalah hantaman—seperti gada besar—yang merobohkan mentalnya.“Apa…?” suara Mikayla keluar sangat lirih, hampir tak terdengar, bergetar di tenggorokannya sendiri. “Apa yang baru saja aku dengar…?”Kakinya gemetar. Bahkan untuk sekadar membayangkan kemungkinan kebenaran itu saja, tubuhnya seolah menolak.Lebih dari segalanya, kalau memang itu benar satu pertanyaan berputar-putar dengan kesal di kepalanya—kenapa mamanya menyembunyikan semua ini darinya?…Sementara itu, di ruang kerja, Pras menatap istrinya dengan heran.“Ada apa, Ra? Kenapa kamu tiba-tiba bersikap begitu?”Aura menghela napas panjang. Detak jantungnya baru saja kembali normal, seolah ia baru saja m
Aura berdiri mematung di balik dinding, mengatur napasnya yang sempat memburu. Ia membiarkan ibu dan anak itu lewat dengan gerutuan kesal yang masih terdengar jelas. Begitu langkah kaki Veny dan Mikayla menjauh, Aura menghela napas panjang—sebuah embusan napas yang sarat akan kelelahan.Rasanya sangat melelahkan jika harus terus bersikap tajam dan penuh konfrontasi seperti tadi. Ini benar-benar bukan jati dirinya yang asli. Namun, Aura sadar, di rumah yang penuh duri ini, kelembutan hanya akan membuatnya terinjak.Setidaknya, satu langkah kecilnya berhasil. Ia telah menanamkan peringatan di benak Veny dan Mika bahwa Aura yang sekarang tidak akan tinggal diam. Ia ingin mereka tahu bahwa kehadiran mereka di rumah ini tidak akan pernah terasa nyaman selama mereka masih menyimpan niat jahat.“Bu, ada panggilan dari Pak Pras.”Suara Tata yang tiba-tiba muncul di sampingnya membuat Aura tersentak. “Astaga, Tata! Kau mengagetkanku saja,” seru Aura sembari mengelus dadanya, mencoba menenangka







