Home / Romansa / Dalam Pelukan Sang Musuh / Bab 2. Bayangan Kekaisaran Hawk

Share

Bab 2. Bayangan Kekaisaran Hawk

Author: Sandra Dhee
last update publish date: 2026-09-09 20:41:15

Kamar kecil di sebuah gudang usang di belakang rumah itu terasa makin sempit malam ini. Chloe memasukkan potong demi potong pakaian sederhananya ke dalam koper tua berbahan kain kusam. Tak banyak yang ia bawa, hanya dua gaun katun rumahan yang pudar, serta satu set cat air tua peninggalan Nyonya Brenda dengan kuas yang bulunya mulai rontok. Keluarga Thorne tidak pernah membiarkannya memiliki barang berharga, terlebih lagi pakaian mahal.

Pintu kamar mendadak terdorong kasar hingga membentur dinding kayu. Langkah kaki dengan sepatu hak tinggi menggelegar angkuh menyertai sosok Amanda Thorne yang melangkah masuk. Saudara angkat Chloe itu berdiri melipat dada, mengenakan gaun sutra merah menyala yang berkilau, menatap koper tua Chloe dengan derai tawa meremehkan.

"Coba lihat anak jalanan yang miskin ini," cemooh Amanda, bibirnya yang berpoles gincu merah terangkat tajam. "Bahkan koper yang kau pakai lebih mirip tas gelandangan. Papa sungguh berbaik hati masih sudi memberikan marga Thorne di belakang namamu, padahal malam ini kau cuma diseret sebagai tumbal untuk pria berdarah dingin seperti Adam Hawk!"

Amanda melangkah mendekat, sengaja menendang sudut koper Chloe dengan ujung sepatunya. "Kau pikir Adam Hawk benar-benar mau menjadikanmu istri? Begitu pintu rumahnya tertutup, kau cuma akan jadi pelayan yang dipermalukan setiap hari. Kau itu bukan siapa-siapa, Chloe. Cuma anak buangan yang sialnya harus menanggung dosa keluarga ini!"

Chloe menghentikan gerakannya. Jemarinya yang menempel di tepi koper gemetar pelan, tetapi bukan karena takut. Rasa tertekan yang ia tahan bertahun-tahun di rumah ini mendadak meletup menjadi dingin yang membakar. Ia berdiri tegak, memutar tubuhnya dan menatap lurus mata Amanda tanpa rasa gentar sedikit pun.

"Kalau aku ini memang anak buangan yang tidak berguna..." suara Chloe mengalun tenang namun begitu menusuk, "lalu kenapa bukan kau saja yang duduk di mobil pengawal Hawk Corporation malam ini, Amanda?"

Senyum angkuh di wajah Amanda serta-merta membeku.

"Harusnya kau melihat cermin dan merasa malu," lanjut Chloe dengan lirikan dingin melirik gaun sutra mahal Amanda. "Kalian semua hidup dari sisa-sisa kehancuran Papa, tapi yang harus menjual diri demi menyelamatkan nyawa dan kenyamanan hidupmu yang manja itu adalah aku. Kau bisa tetap memakai gaun sutramu malam ini hanya karena aku mau melangkah ke neraka menggantikan posisi yang seharusnya milikmu."

"Kau... berani-beraninya kau bicara begitu padaku!" pekik Amanda, wajahnya berubah merah padam akibat murka dan rasa terhina.

"Tutup mulutmu dan singkirkan kakimu dari koperku," pangkas Chloe tajam sambil menarik koper tuanya hingga engsel koper itu hampir mengenai kaki Amanda.

Chloe membalikkan badan, menggenggam erat koper kusamnya lalu melangkah lebar keluar kamar tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, jeritan histeris dan teriakan penuh kemarahan Amanda menggema memenuhi lorong rumah, mengiringi setiap langkah Chloe menuruni tangga menuju pintu keluar.

***

Hujan gerimis mengguyur jalanan kota saat sedan hitam kedap suara membawa Chloe membelah malam. Di jok belakang yang dingin, Chloe menyandarkan kepalanya pada kaca mobil yang membias bayangan lampu jalanan. Jemarinya meremas saku dalam gaunnya, menyentuh permukaan kaca keras botol racun pemberian Jason yang terasa membakar.

Pikirannya melayang pada kronologi kehancuran Thorne Corp yang dilancarkan Adam Hawk tiga minggu terakhir. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu memimpin Hawk Corporation bagaikan kekaisaran tanpa ampun. Tiga minggu lalu, Jason Thorne mencoba curang dengan mengklaim hak paten teknologi Hawk Corp secara ilegal. Namun respons Adam Hawk sungguh mematikan. Tanpa banyak bicara di media, dalam waktu tujuh puluh dua jam pertama, seluruh investor utama Thorne Corp menarik modalnya. Di minggu kedua, jalur kredit dibekukan, dan tepat di minggu ketiga, saham Thorne Corp anjlok ke titik terendah hingga meninggalkan Jason dengan tumpukan utang dan ancaman penjara.

Di puncak kebuntuan itulah Jason menumbalkan Chloe, dan Adam Hawk menyetujuinya bukan untuk perdamaian, melainkan sebagai bentuk penaklukan total. Namun satu hal yang sepertinya belum diketahui pria itu, bahwa gadis yang dikirim untuk menikah dengannya hanyalah seorang anak angkat.

Mobil perlahan berhenti di lantai bawah tanah kompleks griya tawang paling eksklusif di pusat kota. Petugas berjas hitam membukakan pintu, menuntun Chloe masuk ke dalam lift pribadi berkaca tembus pandang yang bergerak naik cepat menuju lantai paling atas.

Ting.

Pintu lift terbuka langsung menyajikan interior penthouse luas berdesain minimalis modern dengan pencahayaan remang. Suasana di dalam sana begitu hening, hanya ada deburan halus rintik hujan yang menghantam jendela kaca raksasa setinggi langit-langit.

Chloe melangkah keluar dengan ragu, memeluk koper tuanya rapat-rapat. Matanya menyapu ruangan mewah itu hingga pandangannya terhenti pada satu titik di tengah ruangan.

Di sana, di depan jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan gemerlap lampu kota di bawah guyuran hujan, berdiri sebuah kursi kerja berstruktur kulit hitam yang megah. Seorang pria duduk tenang di kursi itu, membelakangi posisi Chloe. Siluet bahunya yang lebar dan kokoh terbingkai sempurna oleh kegelapan malam.

Di tengah keheningan yang menyesakkan itu, detik-detik berputar begitu lambat hingga suara ketukan jemari Adam pada sandaran tangan kursi kulitnya terdengar bagaikan ritme kematian yang diperhitungkan. Chloe merasakan setiap inci napasnya tertahan di tenggorokan saat aura dominasi dingin dari pria itu merayap memenuhi setiap sudut ruangan, menembus gaun tipisnya dan membekukan seluruh keberanian yang sempat ia kumpulkan sepanjang perjalanan.

Pria di hadapannya bukan sekadar pengusaha kejam yang menghancurkan Thorne Corp dalam hitungan minggu, melainkan pemangsa puncak yang dengan sengaja membiarkan mangsanya melangkah masuk ke dalam jebakan tanpa perlu mengunci pintunya.

Chloe mengencangkan pelukannya pada koper kusam yang membentengi dadanya, berusaha keras menyembunyikan getaran hebat di lututnya agar tidak terlihat menyedihkan di mata penguasa kegelapan ini. Senjata beracun di balik sakunya terasa makin berat dan membakar kulitnya, seolah mengingatkan bahwa di dalam ruangan ini, satu kesalahan kecil saja tidak hanya akan menggagalkan misinya, tetapi juga menghapus keberadaannya dari dunia tanpa menyisakan jejak sedikit pun. Namun, bayangan makam nenek angkatnya dan ingatan akan kekejaman keluarga Thorne menghentakkan kesadarannya kembali, memaksa matanya tetap terbuka lebar menatap punggung tegap yang angkuh itu dengan sisa tekad yang membara.

Ia tahu bahwa mulai detik ini, dirinya telah menyeberangi garis batas menuju arena permainan mematikan tempat di mana rasa takut adalah dosa terbesar yang bisa menghancurkannya seketika, dan tak ada jalan untuk berbalik arah lagi.

Bahkan setelah beberapa detik, pria itu sama sekali tidak berbalik. Kehadirannya memancarkan aura intimidasi murni yang begitu pekat hingga membuat udara di sekitar Chloe mendadak terasa menipis.

Chloe menelan ludah. Ia sadar Adam Hawk telah menunggunya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 5. Pesona dan Bintik Rahasia

    Suasana kamar tidur yang tenang mendadak diwarnai ketegangan halus tatkala Mary berdiri dari ranjang, menepuk-nepuk gaun seragamnya yang rapi, lalu melangkah mantap menuju lemari pakaian raksasa berukir elegan di sudut ruangan. Chloe masih duduk terpaku, mencoba mencerna setiap patah kata yang baru saja diucapkan Mary mengenai luka dan masa lalu kelam Adam Hawk. Kebingungan masih menggelayut di benaknya tatkala Mary menarik pintu lemari tersebut hingga terbuka lebar."Nona, kita tidak punya banyak waktu untuk bersantai," ucap Mary dengan suara profesional namun hangat. "Tuan Adam telah menginstruksikan agar Anda mendampingi beliau untuk makan malam bersama di ruang makan utama malam ini."Chloe tersentak dari lamunannya. "Makan malam... bersama Tuan Hawk?""Benar," Mary tersenyum tipis sembari menunjuk ke arah bagian dalam lemari. "Dan Tuan Adam secara khusus meminta Anda mengenakan pakaian yang sudah disiapkan di sini."Chloe memiringkan kepalanya, perlahan berdiri dan melangkah mend

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 4. Kehangatan Di Balik Dinding Es

    Langkah kaki Chloe beriringan dengan seorang wanita paruh baya berambut keperakan yang mengenakan seragam pelayan rapi berwarna abu-abu gelap. Mary, nama pelayan tua itu, berjalan dengan postur tubuh yang tenang dan keibuan, jemarinya yang terampil membawakan koper tua kusam milik Chloe tanpa sedikit pun menyiratkan rasa risih atau jijik. Lorong panjang penthouse itu dilapisi karpet tebal bernuansa monokrom yang meredam setiap jejak langkah mereka, melewati dinding-dinding marmer yang dihiasi lukisan abstrak berbingkai logam dingin.Ketika Mary menekan handle pintu kayu mahoni di ujung lorong sebelah kiri, pintu itu terdorong pelan tanpa suara. Suasana di dalam ruangan seketika menyajikan kejutan luar biasa bagi Chloe. Sebuah kamar tidur luas berdesain elegan dengan dominasi warna krem hangat dan pencahayaan lampu temaram menyapa pandangannya. Di tengah ruangan, berdiri kokoh sebuah tempat tidur berukuran king-size berbingkai kayu jati halus, dilapisi sprei katun tebal serta selimut b

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 3. Pertemuan Penuh Kebencian

    Chloe berdiri membatu di tengah ruangan, memeluk koper tuanya rapat-rapat seolah benda kusam itu adalah satu-satunya perisai yang tersisa antara dirinya dan bahaya yang tak kasatmata.Perlahan, sangat perlahan, kursi kulit hitam di depan sana berputar. Gerakannya tenang, presisi, tanpa keraguan sedikit pun. Sosok Adam Hawk akhirnya memanifestasikan dirinya secara utuh di depan mata Chloe. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, mengungkapkan garis otot lengan yang tegap dan jam tangan baja yang memantulkan cahaya remang ruangan. Wajahnya seperti pahatan batu pualam yang dingin, dengan garis rahang yang tajam, hidung mancung yang tegas, serta sepasang mata kelabu gelap yang memancarkan kebencian murni.Chloe sempat terkejut sesaat. Ia tak menyangka jika Adam Hawk yang banyak dibicarakan orang itu, ternyata adalah pria yang cukup tampan.Tatapan Adam menyapu sosok Chloe dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tidak ada kehangatan, tidak ada rasa penasaran, a

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 2. Bayangan Kekaisaran Hawk

    Kamar kecil di sebuah gudang usang di belakang rumah itu terasa makin sempit malam ini. Chloe memasukkan potong demi potong pakaian sederhananya ke dalam koper tua berbahan kain kusam. Tak banyak yang ia bawa, hanya dua gaun katun rumahan yang pudar, serta satu set cat air tua peninggalan Nyonya Brenda dengan kuas yang bulunya mulai rontok. Keluarga Thorne tidak pernah membiarkannya memiliki barang berharga, terlebih lagi pakaian mahal.Pintu kamar mendadak terdorong kasar hingga membentur dinding kayu. Langkah kaki dengan sepatu hak tinggi menggelegar angkuh menyertai sosok Amanda Thorne yang melangkah masuk. Saudara angkat Chloe itu berdiri melipat dada, mengenakan gaun sutra merah menyala yang berkilau, menatap koper tua Chloe dengan derai tawa meremehkan."Coba lihat anak jalanan yang miskin ini," cemooh Amanda, bibirnya yang berpoles gincu merah terangkat tajam. "Bahkan koper yang kau pakai lebih mirip tas gelandangan. Papa sungguh berbaik hati masih sudi memberikan marga Thorne d

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 1. PENUMBALAN DI RUANG KERJA

    "Kau harus membunuhnya tepat di tengah malam sebelum janji suci itu diucapkan, Chloe. Atau kau tak akan pernah menyentuh peninggalan nenekmu selamanya."Suara dingin Jason Thorne menggema di ruang kerja bergaya gothic yang remang. Aroma debu kertas tua dan tembakau menyengat bercampur dengan hawa dingin malam yang menusuk. Di atas meja kayu mahoni berukir kelam, sebuah dokumen tebal berisi kesepakatan penyerahan Chloe kepada Adam Hawk sudah terhampar dengan tanda tangan basah ber tinta hitam.Chloe berdiri mematung di tengah ruangan. Gaun sederhana yang melekat di tubuhnya tampak teramat kontras dengan kemewahan interior ruang kerja ayah angkatnya. Matanya tertuju lurus pada sebuah botol kaca kecil berukuran tak lebih dari ibu jari yang diletakkan Jason tepat di samping berkas perjanjian. Cairan di dalamnya jernih, menyerupai air murni, tetapi membawakan aroma keputusasaan yang begitu nyata."Tapi... Dia menghancurkan seluruh lini bisnis Thorne Corp hanya dalam kurun waktu tiga minggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status