LOGINChloe berdiri membatu di tengah ruangan, memeluk koper tuanya rapat-rapat seolah benda kusam itu adalah satu-satunya perisai yang tersisa antara dirinya dan bahaya yang tak kasatmata.
Perlahan, sangat perlahan, kursi kulit hitam di depan sana berputar. Gerakannya tenang, presisi, tanpa keraguan sedikit pun. Sosok Adam Hawk akhirnya memanifestasikan dirinya secara utuh di depan mata Chloe. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, mengungkapkan garis otot lengan yang tegap dan jam tangan baja yang memantulkan cahaya remang ruangan. Wajahnya seperti pahatan batu pualam yang dingin, dengan garis rahang yang tajam, hidung mancung yang tegas, serta sepasang mata kelabu gelap yang memancarkan kebencian murni.
Chloe sempat terkejut sesaat. Ia tak menyangka jika Adam Hawk yang banyak dibicarakan orang itu, ternyata adalah pria yang cukup tampan.
Tatapan Adam menyapu sosok Chloe dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tidak ada kehangatan, tidak ada rasa penasaran, apalagi belas kasih. Yang terpancar dari iris matanya hanyalah jijik yang mendalam, seolah Chloe adalah kotoran yang terbawa angin masuk ke dalam kediamannya yang sempurna.
"Jadi, Jason Thorne benar-benar mengirimkan barang jaminannya tepat waktu," suara Adam mengalun berat, memecah kesunyian dengan nada rendah yang bergetar tajam. Pria itu berdiri dari kursinya, menegakkan tubuhnya yang tinggi menjulang, lalu melangkah pelan mendekati Chloe. Setiap helatan langkah sepatunya di atas lantai marmer terdengar bagaikan vonis hukuman mati.
"Aku membayangkan sosok seperti apa yang akan dikirimkan oleh pengkhianat licik seperti Jason," Adam terkekeh dingin, sebuah tawa tanpa rasa humor yang memotong keheningan. "Dan ternyata dia mengirimkan putri kesayangannya yang tampak begitu menyedihkan. Apakah ini strategi baru dari keluarga Thorne? Mengirimkan putri manja mereka dengan gaun murah dan koper sampah agar aku merasa iba?"
Kalimat itu menghantam Chloe tepat di dada. Putri kesayangan? Putri manja?
Sebuah kebenaran pahit mendadak terang benderang di dalam kepala Chloe. Adam Hawk benar-benar tidak tahu. Pria ini, dengan segala kekuasaan dan jaringan intelijennya yang mengerikan, ternyata tidak tahu sama sekali siapa sebenarnya Chloe. Dalam pandangan Adam, Chloe adalah putri kandung Jason Thorne, seorang putri bangsawan bisnis yang dibesarkan dalam kemewahan, dimanja oleh harta hasil curian, dan menikmati setiap sen uang kotor yang dikumpulkan keluarga Thorne.
Adam tidak tahu bahwa Chloe hanyalah anak angkat yang diperlakukan lebih buruk daripada pelayan. Pria ini tidak tahu bahwa gaun murah dan koper tua ini bukanlah bagian dari drama penyamaran, melainkan seluruh harta benda yang Chloe miliki di dunia ini. Dan yang paling tragis, Adam tidak tahu bahwa putri kesayangan Jason yang sebenarnya, Amanda, saat ini sedang duduk nyaman di rumah keluarga Thorne, menikmati kebebasan yang dibeli dengan penderitaan Chloe malam ini.
Chloe merasakan dorongan kuat untuk berteriak, untuk meluruskan kesalahpahaman fatal ini. Ia ingin mengatakan bahwa ia adalah korban, bukan pelaku. Ia ingin membongkar bahwa Jason telah menipunya, bahwa Amanda-lah putri manja yang dimaksud, dan bahwa Chloe sama sekali tidak menikmati satu sen pun dari harta Thorne Corp. Namun, tenggorokannya mendadak mengunci.
Untuk apa? batin Chloe kemudian, berbisik sinis pada dirinya sendiri. Memangnya Adam Hawk akan peduli jika tahu Chloe hanyalah anak angkat? Tentu saja tidak. Bagi pria ini, marga Thorne adalah dosa mutlak. Siapa pun yang menyandang nama itu adalah musuh yang harus dihancurkan. Menyuarakan kebenaran hanya akan membuat Chloe terlihat semakin menyedihkan dan patetis di mata pria berdarah dingin ini.
"Kenapa kau diam?" Adam melangkah satu tahap lebih dekat, memotong jarak hingga Chloe bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang kontras dengan dinginnya tatapan pria itu. Adam mencengkeram dagu Chloe dengan jari-jarinya yang kuat dan kasar, memaksa wajah Chloe terangkat secara paksa. "Di mana keangkuhan yang biasanya dimiliki oleh anggota keluarga Thorne? Mana senyum sok berkuasa yang selalu dipamerkan ayahmu di depan media? Apakah kau begitu ketakutan sampai kehilangan suaramu, Putri Thorne?"
Cengkeraman pada dagunya terasa menyakitkan, tetapi Chloe menolak untuk meringis. Rasa sakit fisik ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penghinaan dan penyiksaan bertahun-tahun yang ia terima dari Amanda dan Jason. Ditatapnya mata kelabu Adam dengan tatapan tajam yang tak kalah dingin.
"Aku tidak diam karena takut, Tuan Hawk," ucap Chloe, suaranya terdengar jernih dan terkontrol meskipun dadanya bergemuruh hebat. "Aku hanya sedang menilai, apakah pria yang berhasil menghancurkan perusahaan ayahku dalam tiga minggu benar-benar seorang jenius... atau hanya pria penuh kebencian yang senang membuang waktu untuk menyiksa orang yang lemah."
Mata Adam menyempit. Cengkeramannya di dagu Chloe makin mengetat selama sepersekian detik sebelum akhirnya ia menghentakkan tangannya melepaskan Chloe dengan kasar. Pria itu menyapu jarinya dengan saputangan kain dari saku celananya, seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang beracun.
"Berani sekali," gumam Adam dengan suara yang begitu pelan namun sarat akan ancaman mematikan. "Kau pikir kau punya posisi untuk menilai aku? Kau di sini sebagai garansi hutang dan jaminan bahwa Jason Thorne tidak akan pernah bernapas lega lagi, Chloe!"
Adam berbalik, melangkah kembali ke meja kerjanya yang luas dan mengambil sebuah dokumen tebal bersampul hitam. Tanpa peringatan, ia melemparkan dokumen itu ke atas meja kopi kaca di dekat Chloe.
"Baca itu," perintah Adam dingin, tanpa menatap Chloe saat ia menuangkan minuman keras berwarna amber ke dalam gelas kristal. "Itu adalah perjanjian pernikahan kita."
Chloe menurunkan kopernya ke lantai, jemarinya yang agak gemetar meraih dokumen tersebut dan membukanya. Halaman demi halaman berisi klausa-klausa hukum yang dirancang secara brutal dan sistematis untuk mengikat dirinya tanpa celah.
Perjanjian itu bukan sekadar kontrak pernikahan politik. Poin-poin di dalamnya tertulis secara eksplisit dan tanpa kompromi:
Chloe tidak berhak atas klaim harta, aset, maupun tunjangan dari Hawk Corporation. Seluruh pergerakannya di dalam penthouse ini akan berada di bawah pengawasan penuh tim keamanan Adam Hawk.
Selama Chloe mematuhi seluruh perintah dan tinggal di bawah atap Adam Hawk sebagai 'istri' yang tunduk, Adam akan menunda eksekusi kebangkrutan pribadi dan tuntutan pidana terhadap Jason Thorne. Namun, satu saja pelanggaran dari Chloe akan membuat dokumen tuntutan hukum Jason dilayangkan ke kejaksaan malam itu juga.
Pernikahan ini akan berlangsung selama jangka waktu yang ditentukan sepenuhnya oleh Adam Hawk, dan hanya Adam yang memiliki hak tunggal untuk mengakhiri atau menceraikan Chloe.
Chloe menatap lembar terakhir dokumen tersebut, tempat di mana tanda tangan Jason Thorne sudah tertera dengan tinta hitam yang tebal, sebuah bukti otentik betapa murahnya harga diri Chloe di mata ayah angkatnya.
"Satu bulan dari sekarang, kau akan resmi menjadi Nyonya Hawk hanya di atas kertas," suara Adam terdengar dari balik gelas kristalnya saat ia menyesap minumannya pelan. "Tapi mulai malam ini, kau adalah tawanan di rumah ini. Kau akan merasakan sendiri bagaimana rasanya kehilangan segalanya, persis seperti apa yang dicoba dilakukan ayahmu pada perusahaanku."
Chloe meremas tepi kertas dokumen itu. Di balik gaun tipisnya, botol kaca racun kecil di dalam saku terasa makin menekan paha luarnya. Satu bulan. Pria ini memberinya waktu satu bulan sebelum pernikahan resmi dilangsungkan. Satu bulan untuk memikat, mendekat, dan menyusupkan racun mematikan itu ke dalam minuman atau makanan Adam Hawk.
Ia menengadah, menatap punggung tegap Adam Hawk yang kembali membelakanginya, menatap hujan kota.
"Aku mengerti, Tuan Hawk," jawab Chloe tenang, menutup dokumen tebal itu dengan gerakan teratur. "Aku akan menandatanganinya."
Adam tidak berbalik, tetapi terkekeh sinis kembali terdengar dari bibirnya. "Bagus. Kamarmu ada di ujung lorong sebelah kiri. Jangan pernah keluar dari sana tanpa izin dariku. Selamat datang di nerakamu yang baru, Chloe Thorne."
***
Suasana di meja makan utama seketika membeku. Ketegangan yang berhembus terasa begitu tajam hingga memotong gemericik suara piring porselen. Adam Hawk menatap adiknya dan Sofia dengan pandangan mata yang menggelap, memancarkan aura kegelapan yang siap menghancurkan siapa saja yang berani menguji batas kesabarannya.Rahang Adam mengeras kaku. Pria itu menarik kursinya hingga menimbulkan suara keras yang bergema di seluruh ruangan."Atalia," pangkas Adam dengan suara bariton rendah yang sarat akan penekanan dingin. "Sofia adalah tamu di rumah ini. Tapi tempat duduk di sebelah kananku adalah milik calon istriku, Nyonya di rumah ini. Paham di mana batasanmu?"Atalia tersentak, wajahnya seketika pucat pasi mendengar ketegasan kakaknya. Sementara itu, Sofia menahan napasnya, meremas serbet di pangkuannya dengan jemari yang gemetar karena terkejut dan malu atas tegura
Sinar matahari sore menembus celah gorden merah muda di kamar Atalia, menciptakan suasana hangat di dalam ruangan yang luas itu. Di atas sofa empuk berlapis beludru, Atalia Hawk dan Sofia Maxwell duduk bersisian sambil menikmati teh herbal dan camilan manis. Gelak tawa khas wanita high-society terdengar beberapa kali menyelingi obrolan hangat dua sahabat masa kecil itu, menuntaskan rasa rindu setelah bertahun-tahun Sofia menetap di luar negeri.Setelah saling bertukar cerita tentang kehidupan sosial dan mode terbaru di Eropa, raut wajah Sofia berubah sedikit serius. Ia meletakkan cangkir porselen mewahnya ke piring alas, lalu menatap Atalia dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang terselubung."Atalia," panggil Sofia dengan suara lembut mendayu. "Soal kabar yang kudengar dari ibumu... apakah benar Adam benar-benar berencana untuk menikah
Setelah mobil sedan hitam yang dikendarai Adam menghilang dari balik gerbang utama penthouse, Sofia Maxwell berbalik dengan langkah anggun. Wanita berambut pirang itu menarik koper besar bermerek mahal serta menenteng dua tas jinjing berdesain elegan di tangannya. Pandangan mata Sofia yang tajam seketika menangkap sosok Chloe yang berdiri tidak jauh dari area taman, lengkap dengan gaun krem yang ternoda tanah dan noda debu di jemarinya.Chloe baru saja berniat membalikkan badan untuk kembali ke ruang dalam, berusaha menghindari interaksi apa pun yang dapat melukai hatinya lebih jauh. Namun, suara tinggi dan tegas Sofia menghentikan langkahnya."Hei, kau! Pelayan!" panggil Sofia dengan nada memerintah yang begitu alami.Chloe menghentikan langkahnya dan berbalik perlahan. Ia menatap Sofia yang kini melangkah mendekatinya dengan raut wajah berkuasa.Sofia menghentikan langkah beberapa tindak di hadapan Chloe, dan memperhatikan penampilan Chloe dari atas ke bawah. Sedetik kemudian ia men
Pagi harinya, sinar matahari hangat menembus celah-celah tirai kamar Chloe Thorne, membawa suasana yang jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Chloe terbangun dengan senyuman tipis yang mengembang alami di bibirnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dadanya tidak lagi dihimpit rasa cemas atau ketakutan akan siksaan keluarga Thorne. Bayangan wajah tegas Adam Hawk, suara baritonnya yang menenangkan, serta sentuhan lembutnya saat melindunginya semalam terus berputar manis di dalam ingatan.Dengan semangat yang membara, Chloe melangkah menuju lemari pakaian. Ia tidak ingin lagi terlihat kusam atau menyedihkan. Ia harus menghargai Adam, dan memberikan penampilan yang lebih segar dan manis, agar pantas berada di samping pria itu. Setelah memilih cukup lama, akhirnya pilihan pakaiannya jatuh pada sebuah gaun sederhana selutut berwarna krem yang simpel namun sangat manis dengan potongan yang pas di tubuhnya. Chloe
Suara terisak Atalia menggema di dalam kamar mewahnya yang bernuansa emas. Setelah berlari keluar dari kamar Adam dengan perasaan hancur dan dipermalukan, Atalia melempar tubuhnya ke atas ranjang dan mulai menangis penuh kemarahan. Matanya memerah, dan jemarinya yang gemetar membakar rasa dendam yang kian menyala. Ia sungguh tak menyangka kakaknya yang selama ini memanjakannya, kini berubah menentangnya hanya karena gadis kumuh itu.Dengan amarah yang meluap-luap, ia menyambar ponselnya dari atas meja rias dan langsung menekan nomor panggilan cepat. Ia harus melakukan sesuatu. Dan satu-satunya orang yang bisa membantunya hanyalah Ibunya.Hanya dalam dua kali nada panggil, suara lembut penuh kewibawaan dari Mariana Hawk. ibu kandung Adam dan Atalia, terdengar dari ujung telepon."Atalia? Ada apa, Sayang? Kau menangis? Apa yang membuatmu menangis malam-malam begi
Derap langkah kaki Adam terasa begitu mantap saat ia membawa Chloe keluar dari kediaman Thorne. Malam yang dingin diiringi rintik hujan tak sedikit pun menghalangi kehangatan yang mengalir dari dekapan pria itu. Begitu pintu sedan hitam bernuansa mewah ditutup rapat oleh Thomas, seluruh pertahanan diri Chloe meletus tanpa sisa.Di dalam kabin mobil yang hening dan temaram, Chloe menyembunyikan wajahnya di dada bidang Adam. Air matanya menetes deras, membasahi kain jas mahal yang dikenakan pria itu. Bahunya naik turun oleh isak tangis yang selama belasan tahun ini selalu ia tahan seorang diri. Namun, ini bukanlah tangisan keputusasaan atau rasa sakit akibat tamparan Jason. Melainkan ini adalah luapan rasa haru, bahagia, dan rasa syukur yang teramat dalam.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh penindasan, ada seseorang yang berdiri tegak di hadapannya, memasang badan, dan melindunginya dengan mempertaruhkan segalanya.Adam tidak memprotes kemeja mewahnya yang basah oleh air ma







