Início / Romansa / Dalam Pelukan Sang Musuh / Bab 32. Alasan Menerima Perjodohan

Compartilhar

Bab 32. Alasan Menerima Perjodohan

Autor: Sandra Dhee
last update Data de publicação: 2026-10-20 13:15:54

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu utama kediaman Hawk. Seorang pelayan bergegas membukakan pintu, dan Adam turun lebih dulu dengan mantel panjang yang masih melekat di bahunya. Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya tetap setajam biasa.

Sofia menyusul dari sisi lain dengan langkah anggun. Ia sengaja merapikan rambut pirangnya sambil tersenyum manis, bersiap melempar kalimat basa-ba

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 37. Air Mata Buaya

    Hening di ruang pertemuan itu begitu pekat hingga bunyi jam dinding terdengar jelas di telinga semua orang. Para direksi menunduk dalam-dalam, tak seorang pun berani bernapas terlalu keras. Hanya Sofia yang berdiri membeku di hadapan Adam, dengan wajah yang perlahan kehilangan warna.Namun Sofia bukan wanita yang mudah goyah. Dalam sekejap, ia mengatur napas, menyusun ekspresi, dan membiarkan matanya berkaca-kaca."Adam, aku... aku tidak mengusirnya," ucap Sofia dengan suara bergetar. "Aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Kau tahu aku tidak mungkin berbuat sekejam itu."Adam tidak menjawab. Tatapannya tetap dingin, menembus langsung ke dalam matanya."Tadi di pesta, Chloe bertengkar dengan seorang gadis bernama Amanda. Aku tidak tahu apa penyebabnya, tapi mereka saling berteriak. Aku dan Atalia berusaha melerai, tetapi Chloe tiba-tiba lari keluar begitu saja." Sofia menyeka sudut matanya dengan ujung jari. "Aku sempat memanggilnya, Adam. Sungguh. Tapi dia

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 36. Penyelamat

    "Chloe."Suara itu rendah, dalam, dan bergetar menahan sesuatu yang berbahaya. Bukan lembut seperti dalam mimpi Chloe. Bukan pula suara Nenek Brenda yang selalu penuh kehangatan. Ini suara seorang pria yang sedang berusaha keras mengendalikan amarahnya.Chloe mengerjap. Wajah di hadapannya terlalu nyata untuk sebuah bayangan. Air hujan menetes dari ujung rambut Adam, membasahi bahu jas hitamnya, namun ia seolah tidak peduli sama sekali."Adam?" bisik Chloe dengan bibir yang gemetar. "Kenapa kau... bisa ada di sini?""Aku yang seharusnya bertanya." Adam berjongkok, sorot matanya menusuk tajam, tetapi tangannya yang menggenggam payung terlihat mengepal terlalu kuat. "Apa yang terjadi? Kenapa kau ada di pinggir jalan, basah kuyup seperti ini? Di mana Atalia dan Sofia? Mengapa kau tak menelepon atau naik taxi pulang ke rumah?"Chloe membuka mulut hendak menjawab. Namun kata-kata itu tersangkut di tenggorokan. Wajah Amanda, tamparan itu, tawa para tamu, dan tatapan dingin Atalia berkelebat

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 35. Kenangan Nenek Brenda

    Itulah pertama kalinya Chloe bertemu dengan Nenek Brenda.Waktu itu usianya baru tujuh tahun. Ia tinggal di sebuah panti asuhan kecil di pinggiran kota, dan pagi itu salah seorang pengurus menyuruhnya pergi ke pusat kota seorang diri untuk membeli perlengkapan dapur. Tubuhnya masih terlalu mungil untuk menembus keramaian, tetapi tidak ada seorang pun yang peduli."Jangan mampir ke mana-mana, jangan menghilangkan uangnya, dan pulang sebelum sore," pesan pengurus panti itu tanpa menoleh. "Kalau terlambat, kau tidak dapat jatah makan malam."Chloe kecil hanya mengangguk dan berangkat dengan membawa keranjang rotan yang hampir sama besarnya dengan tubuhnya.Semua belanjaan berhasil ia dapatkan. Garam, minyak, dan sekantong tepung. Uang di genggamannya pun sudah habis sampai receh terakhir. Namun begitu ia hendak berjalan pulang, langit mendadak menggelap. Hujan turun tanpa aba-aba, deras dan dingin, mengguyur jalanan kota hingga orang-orang berlarian mencari

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 34. Diusir Di Tengah Hujan

    Chloe membeku. Suara itu terlalu familiar, terlalu sering menghantuinya sepanjang masa kecil hingga remajanya. Perlahan ia menoleh, dan jantungnya serasa jatuh ke dasar perut.Amanda Thorne berdiri tak jauh darinya dengan gaun merah mencolok dan tas bermerek yang menggantung di lengannya. Putri tunggal keluarga Thorne itu dikelilingi tiga wanita muda berpenampilan glamor yang menatap Chloe dengan sorot geli dan penasaran."Astaga, benar kan itu kau," ujar Amanda dengan senyum yang menyiratkan kemenangan. "Aku pikir mataku salah lihat. Anak pungut yang dulu mencuci piring di rumahku, tiba-tiba berdiri di butik semewah ini?""Amanda..." Suara Chloe tercekat."Siapa dia, Manda?" tanya salah satu temannya sambil menutup mulut dengan tangan, menahan tawa."Oh, dia saudara angkatku. Atau lebih tepatnya, mantan pelayan di rumah kami." Amanda mengelilingi Chloe perlahan seperti sedang menilai barang dagangan. "Hebat sekali. Baru beberapa hari pindah ke kediaman Hawk, penampilanmu sudah sepert

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 33. Acara Di Butik Atalia

    Pagi harinya, ruang makan keluarga Hawk dipenuhi aroma roti panggang dan kopi yang baru diseduh. Meja panjang dari kayu jati itu kini ditempati empat orang. Adam duduk di kursi utama dengan koran pagi terbuka di tangannya, Chloe di sisi kanannya, sedangkan Sofia duduk di seberang dengan gaun krem yang tampak terlalu rapi untuk sarapan biasa.Suasana terasa canggung. Sejak tadi hanya terdengar denting alat makan dan sesekali suara lembar koran yang dibalik."Wah, sepi sekali meja ini. Kalian semua seperti sedang menghadiri rapat pemegang saham saja," celetuk seorang wanita dengan suara ceria yang tiba-tiba memecah keheningan.Atalia, adik perempuan Adam, melangkah masuk dengan rambut bergelombang yang jatuh anggun di bahunya dan senyum lebar yang tak pernah lepas. Ia menarik kursi di samping Sofia, lalu menyambar secangkir teh tanpa menunggu dipersilakan.

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 32. Alasan Menerima Perjodohan

    Mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu utama kediaman Hawk. Seorang pelayan bergegas membukakan pintu, dan Adam turun lebih dulu dengan mantel panjang yang masih melekat di bahunya. Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya tetap setajam biasa.Sofia menyusul dari sisi lain dengan langkah anggun. Ia sengaja merapikan rambut pirangnya sambil tersenyum manis, bersiap melempar kalimat basa-basi yang telah ia susun sepanjang perjalanan pulang."Adam, meeting tadi benar-benar melelahkan, ya? Bagaimana kalau kita minum teh hangat dulu di ruang tamu? Aku bisa menyuruh pelayan menyiapkannya."Adam tidak menjawab. Ia bahkan tidak menoleh. Langkah kakinya yang panjang terus melintasi lobi tanpa melambat sedikit pun, seolah suara Sofia hanyalah desau angin yang tak penting."Adam?" panggil Sofia lagi, kali ini sedikit lebih keras."Sudah malam, So

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status