LOGIN"Hai.. jadi kamu yang bernama Regita?"
Regita memberikan senyumannya pada wanita paruh baya yang muncul di hadapannya. Bersama Silvya. Regita baru menyadari kemiripan wajah dua wanita tersebut."Benar, nyonya. Saya Regita." Sahut Regita tersenyum manis."Sayang.. ini mama Mahdalia. Mama dari Silvya." Elang memperkenalkan.Regita mengulurkan tangan terlebih dahulu, Mahdalia menerima. Keduanya saling berjabat tangan."Ini pertama kalinya kita bertemu"Anak-anakku yang tampan.." Regita mencium hidung anak-anaknya secara bergantian.Wanita ini mengulum senyum manis dan menaruh keduanya satu per satu di box bayi. Tak jauh dari sana ada Michel yang ikut memandang. Wanita ini ikut merasakan bahagia."Aku bersyukur sekali kamu bisa melewati semuanya, Jane. Bila tidak, anak-anakmu bisa menjadi anak piatu.""Hush!" Regita mendelik. "Jangan sebut aku dengan panggilan itu. Semua orang mengenalku dengan nama Regita."Michel melipat bibirnya. Dia sudah keceplosan menyebut nama asli temannya."Jam berapa Elang pulang?"Michel menggeleng. "Aku akan bertanya pada Rico. Apa ada yang kamu butuhkan?""Tidak ada. Aku hanya ingin tahu saja."Tak lama, pintu kamar Regita terbuka. Rupanya ada kunjungan dari Elang. Melihat siapa yang datang, Michel langsung menyingkir. Regita menyambut dan memberikan pelukan."Apa kabar dua raja ku hari ini?""Mereka sedang terti
Plak!!!Pipi Diana ditampar dengan keras. Diana terjatuh dengan pinggul terlempar ke lantai. Matanya menggelepar ketakutan.Sekarang bukan lagi pengawal yang memukulnya. Melainkan tuan muda dari perusahaan Cakrawala."Tuan!" Diana menangis tersedu-sedu.Silvya yang melihat kemarahan suaminya langsung bergidik. Ia bersembunyi di balik tubuh kecil Alisa."Putar videonya!" Seru Elang pada pengawal. Rahangnya mengeras mengkilatkan kemarahan.Tayangan itu diputar. Diana masuk dengan cara mengendap-ngendap. Senyum licik dan mata penuh ambisi itu terlihat dari wajahnya.Sapu tangan yang diisi oleh racun sebagai bukti dari kekejaman wanita ini. Namun nama yang disebutkan oleh Diana membuat Elang meradang.Silvya, istri pertamanya. Sahabat kecilnya telah menjadi dalang pembunuhan istri ketiganya sendiri."Silvya!" Teriak Elang menggelegar. "Kau!""Mas.." tahan Alisa. Silvya semakin memeluk Alisa dari be
Kedua bayi itu menangis mencari air susu ibunya. Kesadaran Regita belum pulih. Wanita itu masih berjuang melewati masa kritisnya.Michel bergantian menjaga Regita dan melihat dua kembar di kamar bayi. Pun Elang begitu.Sudah tiga hari, Regita tak terjaga kesadarannya. Hingga Elang hampir putus asa. Pria kaku yang tak bisa mengekspresikan wajahnya itu kini mengalirkan air mata."Bangunlah.. kumohon.." lirih pria ini.Di belakang Elang ada Michel yang ikut menatap sedih. Sahabatnya sejak kecil, Janina sekarang tengah terbaring lemah.Tidak. Jane tidak boleh kalah. Perjuangan mereka baru saja dimulai. Dan Michel juga berjanji akan membantu sahabatnya itu mencapai tujuannya.Seorang perawat datang lagi untuk memberikan transfusi, hingga empat jam darah itu mengalir.. wajah Regita yang tadinya pucat sudah memerah."Regita.." Elang menyentuh pelan kedua pipi itu. "Aku disini untukmu.. dengarkan lah.. aku akan setia menunggumu.
Pikiran Elang terpecah belah. Hatinya menjadi kacau. Bagaimana tidak? Dia bersuka cita karena kelahiran dua putra kembarnya.Namun, Regita saat ini tengah meregang nyawa.Begitu banyak darah yang keluar. Belum lagi kelelahan membuat Regita tak sadarkan diri.Wanita ini segera mendapatkan pelayanan intensif. Tak hanya Elang dan ayahnya, kini Silvya dan juga Alisa ikut menunggu di rumah sakit."Oh.. lihatlah cucu-cucuku." Raja sangat bahagia mendapatkan dua cucu laki-laki yang amat tampan.Alisa ikut tersenyum. Mereka bertiga bersama dengan Silvya sekarang ada di kamar bayi."Mereka sangat sehat dan sempurna." Alisa takjub sekali dengan anak-anak yang dilahirkan oleh Regita."Benar. Mereka sangat sempurna." Sahut Raja samgat bangga.Dibantu oleh perawat, Raja menggendong satu per satu cucu-cucu kebanggaannya. Alisa yang melihat itu juga ikut bahagia. Kecuali satu orang, Silvya yang berwajah muram."Silvya
Mendekati masa persalinan, Regita lebih banyak menghabiskan waktu di luar ruangan. Ia berjemur, berjalan santai dan melakukan olahraga ringan agar bisa melahirkan normal.Selama itu juga ada Michel yang selalu menjagainya. Elang melihat Regita yang tak bersikap canggung pada Michel. Itu artinya dua wanita itu sangat cocok. Elang pun tak perlu khawatir."Wanita itu.. masih saja menjadi simpanan Jonathan!" Ujar Michel saat mereka berjalan ke taman yang agak jauh dari rumah utama."Dari nada suaramu sepertinya kamu masih menaruh hati pada adik tiriku." Sindir Regita.Michel tergelak. "Aku hanya tidak suka wanita itu. Dasar penggoda! Harusnya dia tahu dari kalangan mana dia berasal, tapi Serine malah bisa duduk di pangkuan Jonathan.""Tapi harus kamu ingat, Michel. Papaku pasti tak menyetujui hubungan mereka."Regita lalu mengedarkan pandangannya ke area taman. Begitu luas dan temaram. Sama seperti rumahnya dulu.. rumah yang tenang d
Nama Barnes turun, Cakrawala kembali ke puncak setelah berhasil melawan manipulasi. Saham Barnes anjlok karena keluar dari pasar putih. Berbanding terbalik dengan Cakrawala yang memimpin.Selentingan terdengar jika Jonathan Barnes sekarang ragu mencalonkan dirinya sebagai politisi. Itu semua karena efek saham perusahaannya yang turun drastis.Namun siapa yang suruh bermain curang? Jelas, ini adalah hukumannya."Beritahu Jorgi untuk memblacklist perusahaan Barnes dari Cakrawala. Jonathan pasti tak akan tinggal diam." Perintah Elang pada Rico.Jonathan pasti mencari cara untuk menaikkan reputasinya. Dan Elang tak mau pria itu bersinggungan dengan perusahaannya.Elang tiba di rumah. Sekarang rumah ini lebih tenang karena tak ada Silvya dan juga dayang-dayangnya. Mereka semua pindah ke pondok di bagian belakang. Sekarang hanya tinggal Raja, Regita dan Elang yang menetap."Sayang." Elang masuk tanpa mengetuk pintu. Regita sedang dilay







