LOGIN"Hai.. jadi kamu yang bernama Regita?"
Regita memberikan senyumannya pada wanita paruh baya yang muncul di hadapannya. Bersama Silvya. Regita baru menyadari kemiripan wajah dua wanita tersebut."Benar, nyonya. Saya Regita." Sahut Regita tersenyum manis."Sayang.. ini mama Mahdalia. Mama dari Silvya." Elang memperkenalkan.Regita mengulurkan tangan terlebih dahulu, Mahdalia menerima. Keduanya saling berjabat tangan."Ini pertama kalinya kita bertemu"Selamat jalan, papa."Regita mengusap peti mati yang mengantarkan Henry ke dalam liang tempat istirahat terakhirnya. Semua orang menundukkan kepala untuk berdoa.Regita memandang peti itu dengan datar. Seolah perpisahan ini tak lagi menyakitkan. Ya, dia sudah menjalani banyak perpisahan dalam hidupnya. Dan pelaku yang sudah memberikannya banyak luka tak pantas untuk mendapatkan air mata.Sekarang Henry sudah tenang di rumah barunya. Papan nisan tertulis nama pendiri perusahaan Barnes yang dulu sempat terkenal. Namun semuanya hancur seperti kepercayaan Henry pada putra kesayangannya."Aku turut berduka, Jane." Michel mengusap bahu Regita dengan simpatik.Regita tersenyum. "Terima kasih, Michel.""Sekarang apa rencanamu? Mengambil alih harta yang tersisa?""Semuanya akan ku simpan, Michel. Aku adalah ahli waris dari papaku. Rumah dan harta tidak bergerak akan aku jual. Tabungan deposito akan ku simpan ke bank Swiss. Jika
"Mari kita berpisah."Suara lirih itu terdengar. Mata itu memerah dan berkaca-kaca.Elang yang melihat itu tertegun sejenak. Regita lah yang terlebih dulu nyatanya mengungkapkan keinginannya."Aku tahu pernikahan kita tidak bisa diselamatkan, Elang. Aku sangat berdosa padamu.. dengan sengaja aku menipumu agar aku bisa mencapai tujuanku.. ya, aku jahat sekali." Helaan nafas berat keluar dari mulut Regita."Aku melakukan semua ini untuk membalaskan dendamku pada Jonathan. Dia dan ibunya telah merusak pernikahan orang tuaku.. menghancurkan hidup ibuku hingga mati. Lalu dia berusaha melenyapkanku dengan merancang pembunuhan berencana." Regita meneguk ludahnya. "Aku sangat membenci mereka, Elang. Sebab itulah aku ingin membalaskan kejahatan yang mereka lakukan pada kami."Regita lalu menatap lekat pria yang masih menjadi suaminya dengan air mata yang menitik."Saat pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta, Elang. Si
Tak ada yang bisa mengalahkan penyesalan dari Raja saat ini. Oleh karena keegoisan Raja yang menginginkan cucu laki-laki membuat masalah bertubi-tubi menimpa anak kesayangannya.Istri pertama Elang yang manipulatif dan memiliki keinginan untuk melenyapkan istri yang lain.Istri kedua yang polos namun tak berdaya. Mudah sekali disinggung dan dimanfaatkan.Dan istri ketiga yang menjadi andalan Elang namun rupanya menyimpan rahasia yang menyakitkan.Raja sangat kecewa pada dirinya sendiri. Andai saja dia tak memaksa Elang menikah dengan Silvya ataupun Alisa, mungkin semuanya tak akan seperti ini.Di rumah sakit, Regita sendiri sudah mendapatkan kesadarannya. Di sisinya ada Arthur dan Darius yang tertidur di ranjang bayi. Saat melihat kedua putranya, mata Regita berkaca-kaca. Ia ingin memeluk kedua anaknya."Michel. Anak-anakku." Keluh Regita.Michel yang baru saja terlelap lantas terbangun."Jangan banyak bergerak,
Seharian Alisa tak keluar dari kamarnya. Sepanjang hari ini, ia terus memeluk putri tunggalnya. Menangis dan meminta maaf hingga membuat Aliyah meronta dilepaskan.Pintu yang diketuk akhirnya membuat pelukan itu terlepas. Aliyah lolos dan berlari memeluk pengasuhnya."Nyonya.." tegur Nilam. "Anda ingin makan sesuatu?"Alisa menggeleng. "Aku ingin sendirian.""Nyonya.. nyonya Silvya terbukti menjadi pelaku penculikan Arthur dan Darius. Sekarang nyonya Silvya sudah dibawa ke kantor polisi."Jantung Alisa sampai berhenti di tempat. Ia lalu meremas seprai tempat tidur karena ketakutan.Tok. Tok. Suara ketukan pintu membuat Nilam tertunduk. Ada Raja yang datang dan menatap menantu keduanya dari jauh."Alisa.."Alisa mengerjap. Ia menatap dengan penuh ketakutan. Di depan sana ada mertuanya yang pasti ingin menuntut segala hal."Papa! Aku.. aku tidak sengaja melakukannya." Ujar Alisa terisak. "Aku dipaksa.."
Dor!Dor!Tembakan itu melesat dengan bebas. Regita berlari saat melihat pistol itu ditujukan pada suaminya. Tubuh Elang ia peluk. Ia balik hingga tembakan tersebut mengenai bahunya.Elang merengkuh pinggang Regita ketika peluru itu bersarang di bahu istrinya. Ia lalu membawa Regita dalam pelukan."Brengsek!"Rico menendang pria itu sekali lagi hingga tak sadarkan diri. Bersama dengan pengawal lain, pria penculik itu berhasil diamankan. Sementara, Regita dibawa ke mobil oleh Elang."Bertahan!!"Elang melepaskan jas kerjanya dan membalut bahu Regita yang bercucuran darah. Wajah Regita memucat. Nadinya mulai melemah. Dibalik kursi kemudi, ia melihat Arthur dan Darius yang dipangku di kursi depan."Ma! Ma!" Arthur dan Darius menangis sambil memanggil nama ibunya.Elang membawa kepala Regita yang terkulai bersender di dadanya."Bertahanlah!" Seru Elang cemas. Ia mengusap wajah Regita yang
Nilam dan pengasuh Darius sampai berlari ikut mencari keberadaan kedua bayi yang tiba-tiba menghilang. Sedangkan Alisa memeluk Aliyah dengan erat. Anak itu menangis kencang karena baru saja terbebas dari ketakutan."Maafkan mama, nak." Bisik Alisa melirih. Ia jadi merasa bersalah karena sengaja mengurung Aliyah di kamar mandi."Nyonya! Kami sudah mencari si kembar berkeliling tapi tidak ditemukan!" Seru Nilam melapor."Kita harus memeriksa cctv! Aku sudah mencari mereka berkeliling taman bermain ini!" Ujar Regita muncul dengan emosi yang membuncah.Mata Alisa sampai melotot ketika melihat Regita yang tiba-tiba muncul dengan Michel. Peluh bercucuran tampak di wajahnya yang memerah."Regita.."Regita tak menyahuti. Dia menyuruh Michel untuk memeriksa kamera pengawas. Sementara Regita dan kedua pengasuh anaknya masih melanjutkan pencarian."Astaga! Bagaimana ini?" Alisa semakin ketakutan. Dia lalu diam-diam mengirim pesan p







