Share

Ekspektasi

Penulis: Erumanstory
last update Tanggal publikasi: 2025-12-22 12:18:41

“Pah, walaupun dokter bilang mama harus mulai menjalani kemoterapi mulai bulan depan, tetapi mama benar-benar bahagia bisa berkumpul bersama anak-anak di rumah ini. Setidaknya, mama bisa melihat Dewa menikah dengan Lily. Dewa tidak boleh sedih di hari bahagianya. Mama sendiri tidak tahu, sampai kapan mama masih bernapas. Bisa juga, mama masih bernapas, tetapi keadaan mama sudah tidak sama dengan hari ini. Papa dengar sendiri, bukan? Kanker ini langka, dan bisa sewaktu-waktu akan membuat kesadar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Kebun Anggur

    Sinar matahari pagi yang tipis menerobos masuk melalui celah gorden berbahan linen, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas sprei sutra yang sedikit berantakan. Udara di dalam kamar masih terasa hangat, sisa-sisa keintiman malam panjang yang baru saja mereka lalui masih menggantung di udara, bercampur dengan aroma parfum maskulin Dewa yang menempel di bantal.​Lily adalah yang pertama membuka mata. Dia tidak segera bergerak, melainkan hanya terdiam sambil menikmati beban hangat lengan kokoh Dewa yang melingkar posesif di pinggangnya. Mereka masih dalam posisi saling memeluk, sangat rapat hingga Lily bisa merasakan detak jantung Dewa yang tenang di punggungnya.​Perlahan, Lily memutar tubuhnya di dalam dekapan itu agar bisa menghadap suaminya. Dia menumpu kepalanya dengan satu tangan, memandangi wajah tidur Dewa yang tampak begitu damai. Tanpa kerutan tegas di dahi yang biasanya muncul saat Dewa sedang memikirkan bisnis, pria itu terlihat jauh lebih muda dan... sangat miliknya

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Malam Panjang

    Udara pegunungan yang semakin menusuk di luar sana sangat kontras dengan suhu di dalam kamar utama villa yang terasa hangat dan intim. Setelah makan malam yang romantis di bawah taburan bintang, Dewa sedang berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke lembah, menyesap sisa teh hangatnya sambil memikirkan betapa tenangnya malam ini.​"Mas..."​Suara lembut Lily memanggilnya dari arah ranjang king-size yang tertutup kelambu sutra tipis. Dewa menoleh, dan seketika itu juga, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Gelas di tangannya hampir saja terlepas jika ia tidak segera meletakkannya di nakas.​Lily berdiri di samping tempat tidur, diterangi oleh cahaya temaram lampu tidur yang berwarna kekuningan. Dia tidak lagi mengenakan gaun hamil yang longgar atau selimut kasmir tadi. Kini, tubuhnya terbalut sehelai lingerie tipis berwarna putih tulang dengan aksen renda halus yang kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Bahunya yang mulus terekspos, dan bahan pakaian itu begitu rin

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Di Bawah Taburan Bintang

    Matahari telah sepenuhnya tenggelam, digantikan oleh selimut beludru hitam yang membentang luas di angkasa pegunungan. Karena letak villa yang tinggi dan jauh dari polusi cahaya kota, langit malam itu menyuguhkan pemandangan yang luar biasa, ribuan bintang bertaburan seperti butiran berlian yang tumpah di atas permadani gelap.​Dewa membimbing Lily keluar menuju halaman samping villa. Di sana, sebuah meja kayu jati bundar telah tertata apik di bawah pohon pinus yang ramping. Tidak ada lampu gantung yang terang benderang, hanya ada deretan lilin aromaterapi di dalam lentera kaca dan untaian lampu kecil kekuningan yang melilit batang pohon, menciptakan suasana yang hangat dan magis.​"Mas... ini indah sekali," bisik Lily, kedua tangannya bertumpu di dada, terpesona melihat dekorasi yang begitu intim.​"Silakan duduk, Tuan Putri," goda Dewa sambil menarikkan kursi untuk Lily.​Di atas meja, koki pribadi mereka telah menyajikan hidangan pembuka berupa sup krim jamur yang mengepulkan aroma

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Jalan-jalan

    Setelah mobil terparkir sempurna di depan teras villa yang beraroma kayu pinus, Dewa tidak langsung mengajak Lily masuk untuk beristirahat. Dia melihat binar di mata istrinya saat menatap hamparan pohon kopi yang berbaris rapi di lereng bukit pribadi milik keluarga mereka.​"Mau jalan-jalan sebentar? Udara sedang bagus-bagusnya, tidak terlalu dingin," tawar Dewa sambil mengulurkan tangan.​Lily menyambutnya dengan antusias. "Mau, Mas! Aku ingin melihat bunga-bunga putih itu dari dekat."​Mereka melangkah perlahan menyusuri jalan setapak yang telah dilapisi batu alam agar tidak licin. Dewa berjalan di sisi luar, tangannya selalu sigap memegangi pinggang Lily, menjaga keseimbangan istrinya yang kini membawa beban tambahan di perutnya. Suasana begitu hening, hanya ada suara gesekan daun kopi yang tertiup angin dan kicauan burung pegunungan yang bersahut-sahutan.​Saat mereka sampai di tengah perkebunan, Dewa berhenti di depan sebuah dahan yang dipenuhi bunga kopi yang sedang mekar sempu

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Perjalanan Menyenangkan

    Mobil SUV mewah yang dikendarai Dewa melaju mulus meninggalkan hiruk-pikuk kota yang menyesakkan. Begitu memasuki wilayah dataran tinggi, udara panas yang kering perlahan berganti menjadi sejuk yang memanjakan kulit. Kaca jendela mobil sengaja dibuka sedikit oleh Dewa, membiarkan angin pegunungan yang murni masuk dan mengacak-acak pelan rambut Lily.​"Coba hirup ini, Ly," ujar Dewa sambil melambatkan laju mobilnya.​Lily memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Seketika, aroma manis yang khas dan menenangkan memenuhi rongga dadanya. Itu bukan sekadar bau tanah basah atau pepohonan, melainkan aroma bunga kopi yang sedang bermekaran di sepanjang lereng bukit.​"Wangi sekali, Mas! Seperti melati, tapi ada sentuhan aroma madu dan... kopi yang masih sangat segar," seru Lily dengan mata berbinar.​Di kanan dan kiri jalan, hamparan perkebunan kopi yang luas membentang seperti karpet hijau raksasa. Bunga-bunga putih kecil tampak menyembul di antara dedaunan hijau gelap, menciptakan pemanda

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Ketakutan

    Tangan Elia bergetar hebat hingga amplop cokelat tebal itu terjatuh ke lantai marmer ruang tamunya. Bunyi gedebuk pelan itu terdengar seperti dentum meriam di telinganya yang mendadak berdenging. Napasnya memburu, sementara butiran keringat dingin mulai merusak lapisan masker wajah yang belum sempat dia bilas.​Joni, pria utusan Dewa itu, masih berdiri mematung di ambang pintu. Tatapannya kosong namun menusuk, seolah sedang menatap seonggok benda tak berharga, bukan seorang manusia.​"T-tunggu... ini pasti salah paham," gagap Elia, suaranya naik satu oktav karena panik. "Aku dan Lily... kami dulu tetangga. Aku hanya bercanda. Biasalah, obrolan sesama wanita. Dewa tidak mungkin seserius ini, kan?"​Joni tidak bergeming. "Bagi Tuan Dewa, tidak ada yang 'remeh' jika itu menyangkut air mata istrinya. Anda baru saja membangunkan singa yang sedang menjaga sarangnya, Nyonya Elia."​Setelah Joni berbalik dan deru mobil hitam itu menjauh, Elia segera memungut surat itu kembali. Dengan jemari

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Kejutan Di Vila

    Mobil Dewa melaju membelah kegelapan malam, meninggalkan hiruk-pikuk kota menuju udara dingin pegunungan. Di dalam kabin mobil yang hangat, suasana terasa sangat kontras dengan kesunyian di luar. Lampu-lampu jalanan yang kuning berpendar masuk bergantian, menciptakan bayangan lembut di wajah mereka

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Nasihat Seorang Ayah

    Tangan Bima bergetar hebat saat memegang ponselnya. Ruangan kantor yang biasanya terasa seperti singgasana kekuasaan, kini terasa seperti sel isolasi yang dingin dan menyesakkan. Napasnya pendek-pendek, keringat dingin membasahi kemeja mahalnya yang kini tampak kusut. Tidak ada lagi keangkuhan. Tid

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Memasang Jebakan

    "Mmmhhhh!"Lily mendorong dada dewa yang tiba-tiba saja mencium bibirnya, padahal mereka masih ada di depan pintu. Apalagi Dewa mencium bibirnya dengan sangat rakus seperti tidak bertemu satu minggu. "Lily jahat! Kok aku didorong sih, Sayang? Kamu nggak tau, aku kangen banget sama kamu. Di jalan a

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Keresahan Dewa

    Malam telah larut di Jakarta. Suasana di dalam ruang kerja pribadi Dewa terasa hening, hanya ditemani suara detak jam dinding dan desis halus pendingin ruangan. Dewa duduk menyandarkan punggungnya di kursi kulit besar, menatap lurus ke arah jendela kaca yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota dar

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status