Share

Lily Hamil

Author: Erumanstory
last update publish date: 2025-12-08 10:09:06

Tiga bulan berlalu, proses perceraian Aldo dan Lily berjalan lancar. Mereka dinyatakan resmi berpisah setelah proses yang lumayan panjang. Sayang sekali, kesibukan Lily kesana-kemari mengurus segala hal yang berhubungan dengan sidang perceraiannya membuat tubuh wanita itu tumbang. Sudah beberapa hari wanita itu tergolek di dalam kamarnya. Sekedar info, sekarang Lily tinggal di sebuah unit apartemen yang dibelikan oleh Dewa. Dewa sendiri juga sudah mulai menjalankan kantor cabangnya di Jakarta s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Kembali Menjadi Suami Siaga

    Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar utama, jatuh tepat di atas wajah Lily yang masih terlelap. Suasana rumah begitu tenang, hanya terdengar kicauan burung dari arah taman belakang. Lily menggeliat pelan, tangannya secara instinktif meraba sisi tempat tidur di sebelahnya.​Kosong. Dingin.​Lily membuka matanya perlahan. Jantungnya sempat mencelos sesaat—trauma beberapa hari lalu di Bali masih menyisakan sedikit rasa was-was. Apakah Dewa pergi lagi? Apakah ada urusan mendadak dengan Jihan atau klien lainnya? Tapi, bau maskulin khas parfum suaminya yang masih tertinggal di bantal sedikit menenangkan hatinya.​Dengan gerakan hati-hati, mengingat pesan dokter untuk tidak banyak bergerak mendadak, Lily menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Dia mengusap perutnya yang masih rata dengan senyum tipis. "Selamat pagi, Sayang. Papa ke mana ya?" bisiknya lirih.​Keingintahuan mengalahkan rasa kantuknya. Lily menyampirkan cardigan tipis di bahunya dan melangka

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Ziarah

    Udara pagi di Jakarta terasa sedikit lebih bersahabat saat Dewa membantu Lily turun dari mobil. Kompleks perumahan mereka yang asri menyambut kepulangan sang nyonya rumah dengan lambaian dahan pohon pule yang berjajar di sepanjang trotoar. Lily menghirup napas dalam-dalam, merasakan aroma rumah yang sempat dia tinggalkan beberapa hari.​Setelah beberapa hari dalam perawatan intensif, dokter akhirnya mengizinkan Lily pulang dengan syarat bedrest total dan menghindari stres. Dewa, yang kini bertransformasi menjadi suami paling siaga, tidak membiarkan kaki Lily menyentuh lantai terlalu lama; dia menggendong istrinya masuk ke dalam kamar utama.​Tapi, begitu tubuhnya menyentuh kasur empuk yang sudah lama tidak dia tiduri, mata Lily tidak terpejam. Dia menatap sebuah bingkai foto kecil di atas nakas—sebuah foto siluet dua pasang sepatu bayi mungil yang pernah dia simpan.​"Mas," panggil Lily pelan.​Dewa yang sedang merapikan tas pakaian rumah sakit berpaling. "Iya, Sayang? Kamu butuh ses

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Peringatan Tegas

    Dewa terbangun oleh getaran ponsel di saku celananya. Sebuah nomor yang sudah dia hapus jejaknya di aplikasi pesan, namun memorinya masih mengenali siapa pemiliknya: Jihan. Dengan langkah berat, dia keluar dari ruang rawat Lily menuju balkon kecil di ujung koridor.​"Mau apa lagi, Jihan?" desis Dewa langsung saat mengangkat telepon.​Suara Jihan terdengar bergetar di seberang sana, kontras dengan kepercayaan diri yang ia tunjukkan di Ubud. "Dewa, aku di Jakarta. Aku sudah di depan lobi Medistra. Tolong... aku tidak bisa tenang sejak tahu apa yang terjadi pada Lily. Izinkan aku menjenguknya sebentar saja. Aku ingin meminta maaf secara langsung."​Dewa mendengus sinis. "Kamu pikir ini waktu yang tepat? Lily baru saja melewati masa kritis kandungannya karena tekanan mental yang—sejujurnya—kamu turut andil di dalamnya."​"Aku tahu, Dewa! Itulah sebabnya aku di sini. Aku merasa sangat bersalah. Aku tidak tahu dia sedang hamil. Kumohon, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja, lalu

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Kembali Berdamai

    Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Lorong rumah sakit sudah sangat sepi, hanya menyisakan suara dengung mesin pendingin ruangan dan langkah kaki perawat yang sesekali melintas di kejauhan. Dewa masih terduduk di kursi tunggu, namun matanya tidak sedetik pun terpejam. Pikirannya penuh dengan kata-kata Bi Ijah tentang kehamilan Lily yang tidak terduga dan luka hati yang dia goreskan.​Melihat Bi Ijah tertidur pulas di kursi panjang seberang karena kelelahan, Dewa merasa inilah kesempatannya. Dengan gerakan sangat pelan, nyaris tanpa suara, dia memutar gagang pintu kamar nomor 402. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat dia menghadapi negosiasi bisnis paling krusial dalam hidupnya.​Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur di sudut dinding yang memancarkan cahaya kekuningan yang lembut. Bau antiseptik bercampur dengan aroma samar parfum Lily yang masih tersisa, membuat dada Dewa sesak oleh rasa rindu yang menyakitkan.​Di atas ranjang, Lily terbaring lem

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Tidak Ingin Bertemu

    Suasana di koridor rumah sakit itu terasa semakin mencekam. Dewa baru saja hendak menerjang masuk ke dalam kamar, namun langkahnya terhenti secara paksa. Bi Ijah, yang biasanya selalu menunduk patuh, kini berdiri tegak di depan pintu kamar VVIP itu. Kedua tangannya gemetar, tapi tatapannya menunjukkan kecemasan yang jarang terlihat."Bapak... mohon, Pak Dewa. Jangan masuk dulu," suara Bi Ijah serak, menahan tangis yang sejak tadi pecah di balik masker medisnya.Dewa mengerutkan kening, rahangnya mengeras karena frustrasi. "Bi Ijah, minggir! Saya suaminya. Saya harus memastikan keadaan Ibu Lily dengan mata kepala saya sendiri!""Ibu tidak mau bertemu Bapak!" potong Bi Ijah, suaranya naik satu nada karena kalut. "Tadi saat Ibu siuman sebentar, beliau langsung bertanya apakah Bapak ada di sini. Begitu tahu Bapak sedang dalam perjalanan dari Bali, Ibu histeris, Pak. Ibu bilang kalau sampai Bapak masuk ke ruangan ini, Ibu lebih baik pulang sekarang juga meski kondisinya masih sangat lema

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Rencana Gagal

    Suasana intim di restoran tepi tebing itu mendadak beku bagi Dewa. Jihan baru saja menyandarkan kepalanya di bahu Dewa, jemarinya mengusap lengan pria itu dengan kelembutan yang manipulatif, ketika ponsel di atas meja bergetar hebat. Getaran itu terasa kasar, merusak simfoni musik klasik dan deburan ombak di bawah sana.​Dewa melirik layar. Nama BI Ijah tertera di sana. ​Biasanya, Dewa akan mengabaikan telepon rumah di jam sepuluh malam seperti ini, menganggapnya hanya urusan logistik dapur atau tagihan bulanan. Tapi, ada firasat buruk yang mencubit tengkuknya. Sesuatu yang lebih dingin dari angin malam Ubud.​"Sebentar, Jihan," ucap Dewa, suaranya mendadak datar. Dia melepaskan tangan Jihan dari bahunya dengan gerakan yang tidak lagi ragu.​"Halo, Bi? Ada apa menelepon saya jam segini?"​Suara di seberang sana pecah oleh tangisan. "Pak... Pak Dewa... Tolong, Pak! Bu Lily... Bu Lily pingsan!"​Dewa tersentak berdiri. Kursi kayu jati yang didudukinya bergeser kasar, menimbulkan buny

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Rencana Ke Depan

    Sinar matahari menyapa setiap jengkal kota Surabaya. Sesuai dengan janjinya semalam, Dewa benar-benar memeluk Lily sampai wanita itu terbangun. Selain itu, rasa lelah juga merajai dirinya sehingga setelah memastikan Lily terlelap, Dewa juga menyusul wanita itu, terlelap tanpa ada satu pun hal yang

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Kunjungan Lily

    Di pesawat, Lily lebih banyak diam. Semalam dia kurang tidur, tetapi sekarang dirinya tidak merasakan kantuk sama sekali. Tadi pagi, Lily juga tidak sarapan dengan benar. Selera makannya hilang begitu saja. Dia memang sudah cukup menerima keadaan. Di sisinya juga ada Dewa yang bersedia menjaganya.

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Curiga

    “Joni, kamu sudah kembali ke Batam?” Dewa bicara via telepon dengan Joni, orang kepercayaannya yang kemarin dia minta untuk menyelidiki Aldo.“Iya, Bos. Sejak semalam saya sudah ada di sini. Ada apa, Bos?” Joni mengajukan pertanyaan. Dewa bisa mendengar kalau di ujung sana ada suara anak-anak. Pert

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Galau

    Sejak kepergian Lily, Aldo memilih menyendiri di kamar tamu. Dia tidak mengizinkan Nila untuk masuk. Dia ingin merenungi semuanya sendirian. Aldo juga sedang memikirkan cara untuk bisa membujuk Lily agar wanita itu tidak jadi menggugat cerai. Terlalu sulit bagi Aldo untuk bisa melepaskan Lily begit

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status