LOGINBeberapa bulan berlalu, dan kediaman mewah Dewa serta Lily di Jakarta kini tampak berubah total. Halaman belakang yang luas telah disulap menjadi sebuah taman asri dengan dekorasi tradisional Jawa yang kental namun tetap elegan. Aroma melati yang segar menyeruak di udara, bercampur dengan wangi mawar dan kenanga yang terapung di dalam sebuah bokor besar berisi air jernih dari tujuh sumber mata air.Hari ini adalah hari istimewa, upacara adat mitoni atau siraman tujuh bulanan untuk Lily.Lily duduk di atas kursi kayu jati yang telah dihiasi janur kuning dan bunga-bunga segar. Dia mengenakan ronce melati yang menutupi bahu dan dadanya, serta balutan kain jumputan berwarna hijau cerah yang menonjolkan perutnya yang kini sudah membesar sempurna. Wajahnya memancarkan aura inner beauty yang luar biasa; tidak ada lagi jejak kecemasan atau trauma masa lalu, yang ada hanyalah ketenangan seorang calon ibu yang bahagia.Di barisan depan, duduk orang-orang terkasih mereka. Rahma dan Darto, oran
Perjalanan pulang dari dataran tinggi menuju hiruk-pikuk Jakarta dimulai saat kabut tipis masih menyelimuti pucuk-pucuk pohon pinus. Dewa memastikan semua barang bawaan—termasuk keranjang-keranjang berisi anggur segar dari Adrian dan tumpukan sayuran organik dari Paman Surya—tersusun rapi di bagasi belakang. Aroma tanah basah dan sisa wangi bunga kopi seolah ikut melekat di dalam kabin mobil, menjadi kenangan fisik yang manis untuk dibawa pulang."Sudah siap kembali ke realita, Sayang?" tanya Dewa sambil memakaikan sabuk pengaman untuk Lily, memastikan talinya tidak menekan perut istrinya yang kini menjadi prioritas utamanya.Lily mengangguk dengan senyum yang jauh lebih lepas dibandingkan saat mereka berangkat beberapa hari lalu. "Siap, Mas. Kali ini aku pulang dengan perasaan yang lebih tenang. Terima kasih untuk semuanya."Dewa mengecup sekilas punggung tangan Lily sebelum mulai menginjak pedal gas. Mobil SUV hitam itu meluncur perlahan menuruni jalanan berkelok. Di kiri dan k
Setelah menghabiskan waktu yang manis di perkebunan anggur, Dewa tidak segera membawa Lily kembali ke villa. Dia masih memiliki satu destinasi terakhir dalam agenda "penyembuhan jiwa" ini. Mobil mereka kini meluncur turun menuju lembah yang lebih hijau, di mana hamparan terasering sayuran tertata rapi seperti tangga raksasa yang menyelimuti punggung bukit."Kita mau ke mana lagi, Mas?" tanya Lily sambil mengemil sisa anggur manis di pangkuannya."Ke tempat Paman Surya. Ingat kan, paman yang dulu pernah datang ke pernikahan kita? Dia mengelola perkebunan sayur organik di sini. Tadi pagi beliau telepon, katanya wortel dan brokoli kesukaanmu sedang masa panen raya," jawab Dewa sambil memutar kemudi dengan lihai melewati jalanan menurun.Lily teringat sosok Paman Surya yang humoris dan bersahaja. Membayangkan sayuran segar yang baru dipetik dari tanah membuat air liurnya hampir menetes. Bagi seorang ibu hamil, sayuran organik tanpa pestisida adalah kemewahan yang hakiki.Begitu sampai
Sinar matahari pagi yang tipis menerobos masuk melalui celah gorden berbahan linen, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas sprei sutra yang sedikit berantakan. Udara di dalam kamar masih terasa hangat, sisa-sisa keintiman malam panjang yang baru saja mereka lalui masih menggantung di udara, bercampur dengan aroma parfum maskulin Dewa yang menempel di bantal.Lily adalah yang pertama membuka mata. Dia tidak segera bergerak, melainkan hanya terdiam sambil menikmati beban hangat lengan kokoh Dewa yang melingkar posesif di pinggangnya. Mereka masih dalam posisi saling memeluk, sangat rapat hingga Lily bisa merasakan detak jantung Dewa yang tenang di punggungnya.Perlahan, Lily memutar tubuhnya di dalam dekapan itu agar bisa menghadap suaminya. Dia menumpu kepalanya dengan satu tangan, memandangi wajah tidur Dewa yang tampak begitu damai. Tanpa kerutan tegas di dahi yang biasanya muncul saat Dewa sedang memikirkan bisnis, pria itu terlihat jauh lebih muda dan... sangat miliknya
Udara pegunungan yang semakin menusuk di luar sana sangat kontras dengan suhu di dalam kamar utama villa yang terasa hangat dan intim. Setelah makan malam yang romantis di bawah taburan bintang, Dewa sedang berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke lembah, menyesap sisa teh hangatnya sambil memikirkan betapa tenangnya malam ini."Mas..."Suara lembut Lily memanggilnya dari arah ranjang king-size yang tertutup kelambu sutra tipis. Dewa menoleh, dan seketika itu juga, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Gelas di tangannya hampir saja terlepas jika ia tidak segera meletakkannya di nakas.Lily berdiri di samping tempat tidur, diterangi oleh cahaya temaram lampu tidur yang berwarna kekuningan. Dia tidak lagi mengenakan gaun hamil yang longgar atau selimut kasmir tadi. Kini, tubuhnya terbalut sehelai lingerie tipis berwarna putih tulang dengan aksen renda halus yang kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Bahunya yang mulus terekspos, dan bahan pakaian itu begitu rin
Matahari telah sepenuhnya tenggelam, digantikan oleh selimut beludru hitam yang membentang luas di angkasa pegunungan. Karena letak villa yang tinggi dan jauh dari polusi cahaya kota, langit malam itu menyuguhkan pemandangan yang luar biasa, ribuan bintang bertaburan seperti butiran berlian yang tumpah di atas permadani gelap.Dewa membimbing Lily keluar menuju halaman samping villa. Di sana, sebuah meja kayu jati bundar telah tertata apik di bawah pohon pinus yang ramping. Tidak ada lampu gantung yang terang benderang, hanya ada deretan lilin aromaterapi di dalam lentera kaca dan untaian lampu kecil kekuningan yang melilit batang pohon, menciptakan suasana yang hangat dan magis."Mas... ini indah sekali," bisik Lily, kedua tangannya bertumpu di dada, terpesona melihat dekorasi yang begitu intim."Silakan duduk, Tuan Putri," goda Dewa sambil menarikkan kursi untuk Lily.Di atas meja, koki pribadi mereka telah menyajikan hidangan pembuka berupa sup krim jamur yang mengepulkan aroma
Di saat bersamaan, pintu apartemen terbuka. Dewa berdiri di sana, dan dia melihat tangan Nindi masih mencengkeram pipi Lily dengan sangat kuat. Dan di detik itu juga, Nindi langsung cepat-cepat melepaskan cengkeramannya. Dia kembali duduk dan berusaha bersikap normal.Dewa bergegas duduk mendekati
Lily tersenyum menatap tangan Dewa yang memeluk perutnya dengan posesif. Lelaki bertubuh kekar itu tidur tanpa baju seperti biasa. Dia hanya mengenakan celana pendek putih berbahan katun untuk menutupi area privasinya. Perlahan, Lily mengulurkan tangannya, dan mengusap rambut lelaki kesayangannya i
Aldo terbangun dari tidurnya karena suara nada panggilan yang terdengar dari ponselnya. Dia menatap ke arah jam dinding yang ada di ruang rawat ibunya, sudah jam satu dini hari. Pandangan lelaki itu dia edarkan ke arah ibunya yang masih lelap, juga ayahnya yang berada di kursi dekat dengan ibunya j
“Ma ... Mama serius, kan? Lily seneng banget, Ma. Makanya Mama cepet sembuh, biar nanti kita bisa cepet masak-masak bareng. Kalau kita makan dalam suasana gembira, pasti seru.” Lily berucap sambil memandangi wajah Rahma penuh sayang.“Mama pasti akan berusaha untuk cepat sembuh, dan bisa pulang ke







