INICIAR SESIÓNLangkah Bima terasa sangat berat saat melewati pintu kaca otomatis gedung pusat Samudra Property yang menjulang tinggi. Setiap pasang mata karyawan di lobi seolah menjadi hakim yang tahu akan dosa-dosanya. Dia berusaha tidak peduli, dan terus berjalan. Tidak ada lagi ruang untuk melarikan diri. Di lantai paling atas, di sebuah ruangan luas dengan pemandangan kota yang tanpa batas, Dewa sudah menunggu. Tidak sendirian, di sana juga ada Johan yang duduk dengan raut wajah mendung namun penuh harap.Saat pintu ruangan terbuka, Bima tidak berani mendongak. Dia melangkah perlahan ke tengah ruangan, lalu tanpa aba-aba, dia jatuh bersimpuh di depan Dewa. Suara tangisnya yang tertahan selama di perjalanan kini pecah tak terbendung."Mas... Mas Dewa... maafkan aku," isak Bima dengan suara parau. "Aku pengecut. Aku serakah. Aku sudah mengkhianati kepercayaan Mas dan Papa. Aku benar-benar menyesal."Dewa diam sejenak, menatap adiknya dari kursi kebesarannya. Tidak ada gurat kepuasan di wajah
Tangan Bima bergetar hebat saat memegang ponselnya. Ruangan kantor yang biasanya terasa seperti singgasana kekuasaan, kini terasa seperti sel isolasi yang dingin dan menyesakkan. Napasnya pendek-pendek, keringat dingin membasahi kemeja mahalnya yang kini tampak kusut. Tidak ada lagi keangkuhan. Tidak ada lagi rencana licik. Yang tersisa hanyalah seorang lelaki yang sedang menatap jurang kehancuran total.Dengan sisa keberanian yang ada, dia akhirnya menekan nomor Johan. Tidak ada pilihan lain. Dia tahu pasti kalau menelepon ayahnya saat ini sama saja dengan menyerahkan leher untuk disembelih, sayangnya Johan adalah satu-satunya pelampung yang tersisa di tengah badai yang menenggelamkan Niagara Property.Nada sambung terdengar beberapa kali, setiap detiknya terasa seperti siksaan abadi bagi Bima. Hingga akhirnya, suara berat dan berwibawa itu terdengar."Halo, Bima? Kenapa tadi papa telepon kamu tidak angkat?" suara Johan terdengar tenang. Ada nada dingin yang tidak biasanya.Mungki
Pagi itu, sinar matahari yang masuk melalui celah jendela kantor Niagara Property terasa begitu menyengat, seolah sedang menelanjangi kegagalan yang tersimpan di dalam ruangan mewah tersebut. Bima duduk di kursi kebesarannya dengan senyum yang belum pudar sepenuhnya. Di hadapannya, terdapat dokumen kontrak pembelian lahan di Kalimantan yang baru saja dia kunci semalam dengan harga fantastis. Dia merasa telah menjadi pemenang. Dia merasa telah mengalahkan Dewa, sang "kakak" yang begitu diagungkan ayahnya."Hari ini adalah awal dari kehancuranmu, Dewa," gumam Bima sambil menuangkan wiski ke dalam gelasnya, meski jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi.Seketika ketenangan semu itu pecah saat pintu kantornya digebrak tanpa permisi. Riko, asisten pribadinya, masuk dengan wajah pucat pasi. Napasnya tersengal-sengal, dan tangannya gemetar hebat sambil memegang sebuah tablet serta tumpukan kertas laporan."Pak... Pak Bima..." suara Riko tercekat di tenggorokan.Bima mengerutkan kening,
Persiapan pesta ulang tahun ke-5 Samudra Property berlangsung dengan kecepatan yang mengagumkan. Di bawah instruksi ketat Dewa, sekretarisnya, dan tim event organizer terbaik di Jakarta bekerja siang dan malam. Bagi dunia luar, ini adalah perayaan kesuksesan sebuah raksasa properti, tetapi bagi Dewa, setiap detail dari pesta ini adalah bagian dari struktur jebakan yang sangat presisi.Di sisi lain kota, di kantor Niagara Property yang mulai tampak suram, Bima duduk dengan mata memerah karena kurang tidur. Di depannya, layar monitor menampilkan deretan data yang berhasil "disedot" oleh virusnya dari komputer Dewa. Data itu berisi rencana akuisisi lahan besar-besaran di wilayah Kalimantan Timur, tepat di titik yang diklaim akan menjadi pusat komersial baru."Ini dia... ini adalah kunci keberuntunganku," gumam Bima dengan suara parau. "Dewa benar-benar bodoh. Dia menyimpan strategi bernilai triliunan ini di folder yang bisa aku akses. Jika aku bisa mendahuluinya membeli lahan-lahan k
Beberapa hari kemudian, pertemuan yang direncanakan kembali terjadi. Kali ini Bima mengundang Dewa untuk minum kopi di sebuah kafe eksklusif dengan pemandangan kota. Bima datang dengan senyum yang lebih lebar dari sebelumnya, sebuah senyum yang mengandung kemenangan terselubung. Di dalam tas kerjanya, dia sudah menyimpan salinan data yang dia "curi" dari flashdisk yang dicolokkan Dewa ke komputernya tempo hari.Tentu saja dia tidak sadar kalau ternyata itu bukan data yang dia inginkan. Sementara Dewa bersikap senormal mungkin. Dia berusaha menyembunyikan semua rasa kesal, dan juga kecewanya. Dia ingin memberi kesempatan pada Bima agar dia bangga dengan pencapaian palsunya. "Mas Dewa, terima kasih sudah mau meluangkan waktu lagi. Bagaimana draf proyek yang kemarin aku berikan? Apa ada masukan?" tanya Bima dengan nada bicara yang sangat sopan, seolah ia adalah adik yang haus akan ilmu.Dewa menyesap kopinya perlahan, wajahnya tampak tenang dan sangat bersahabat. Tak ada sedikit pun
Malam telah larut di Jakarta. Suasana di dalam ruang kerja pribadi Dewa terasa hening, hanya ditemani suara detak jam dinding dan desis halus pendingin ruangan. Dewa duduk menyandarkan punggungnya di kursi kulit besar, menatap lurus ke arah jendela kaca yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota dari kejauhan. Saat ini, pikirannya tidak sedang berada di sana.Pikirannya melayang kembali ke pertemuan tadi siang. Wajah antusias Bima, pelukan hangat ayahnya, Johan, dan flashdisk yang hampir saja melumpuhkan Samudra Property. Ada rasa sesak yang menghimpit dada Dewa. Bukan karena dia takut akan ancaman bisnis, melainkan karena kenyataan pahit tentang ikatan darah yang baru saja ditemukannya.Dia harus ditakdirkan bersaudara dengan orang yang menganggapnya lawan terberat. Dewa termenung. Dia membayangkan wajah Johan yang begitu bahagia saat memperkenalkan Bima sebagai adiknya. Dewa bisa melihat binar tulus di mata pria tua itu—seorang ayah yang hanya ingin menyatukan kepingan keluarganya







