Share

Kehancuran Bima

Author: Erumanstory
last update Last Updated: 2026-01-08 22:01:13

Pagi itu, sinar matahari yang masuk melalui celah jendela kantor Niagara Property terasa begitu menyengat, seolah sedang menelanjangi kegagalan yang tersimpan di dalam ruangan mewah tersebut. Bima duduk di kursi kebesarannya dengan senyum yang belum pudar sepenuhnya.

Di hadapannya, terdapat dokumen kontrak pembelian lahan di Kalimantan yang baru saja dia kunci semalam dengan harga fantastis. Dia merasa telah menjadi pemenang. Dia merasa telah mengalahkan Dewa, sang "kakak" yang begitu diagungkan ayahnya.

​"Hari ini adalah awal dari kehancuranmu, Dewa," gumam Bima sambil menuangkan wiski ke dalam gelasnya, meski jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi.

​Seketika ketenangan semu itu pecah saat pintu kantornya digebrak tanpa permisi. Riko, asisten pribadinya, masuk dengan wajah pucat pasi. Napasnya tersengal-sengal, dan tangannya gemetar hebat sambil memegang sebuah tablet serta tumpukan kertas laporan.

​"Pak... Pak Bima..." suara Riko tercekat di tenggorokan.

​Bima mengerutkan kening,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Lily Pergi

    Di kantor, Dewa benar-benar menjadi bayangan dari dirinya sendiri. Ruangan kerja yang biasanya menjadi tempat ia menaklukkan angka-angka dan strategi bisnis kini terasa seperti penjara yang menyesakkan. Beberapa kali asistennya masuk untuk meminta tanda tangan pada dokumen penting, sementara Dewa hanya menatap kertas-kertas itu dengan pandangan kosong.Pikirannya melayang jauh ke meja makan pagi tadi—ke arah gelas susu yang mendingin dan punggung Lily yang menjauh dengan sangat dingin. Mereka seperti dua orang asing sekarang, dan Dewa sangat tidak suka dengan itu. ​Dia mencoba menghubungi ponsel Lily berkali-kali, namun hanya suara operator yang menyambutnya. Pesan-pesan singkatnya pun hanya menyisakan centang satu. Frustrasi, Dewa melempar ponselnya ke atas meja kerja. Dia tidak bisa fokus. Bayangan istrinya yang sedang hamil, menangis sendirian, dan menolak kehadirannya membuatnya merasa menjadi pria paling gagal di dunia.​"Sial!" umpatnya pelan.Dewa meremas rambutnya sendiri de

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Sulit Memaafkan

    Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, namun kehangatannya sama sekali tidak menyentuh hati Lily. Dia terbangun dengan mata yang sembab dan kepala yang berdenyut ringan akibat terlalu banyak menangis semalam. Di luar kamar, sayup-sayup terdengar bunyi denting sudip yang beradu dengan wajan dan aroma harum nasi goreng margarin—salah satu menu sarapan favoritnya yang biasa Dewa buatkan. ​Dewa sengaja bangun lebih pagi. Dia ingin menebus kesalahannya, ingin menjadi suami siaga yang mampu melunakkan hati istrinya melalui perhatian-perhatian kecil. Dia berharap, sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi yang dimasak sempurna bisa menjadi jembatan untuk memulai obrolan yang tertunda semalam.​Ketika Lily akhirnya keluar dari kamar dengan mata sembab, dan masih memakai baju tidur. Dewa segera berdiri dari kursi makan. Dia tersenyum lebar, meski matanya menyiratkan kelelahan karena kurang tidur di kamar tamu yang terasa hampa.​"Selamat pagi, Sayang. Mas sudah buatkan n

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Kekecewaan Mendalam

    Lily berdiri terpaku selama beberapa menit, menunggu Dewa mengejarnya, memohon maaf darinya, atau setidaknya menahan lengannya agar dia tidak pergi dalam keadaan hancur. Sayangnya, hingga dia mencapai pintu keluar otomatis dan melangkah menuju area parkir yang terik, langkah kaki yang dia harapkan tak kunjung terdengar.​Setibanya di dalam mobil, Lily meremas setir dengan tangan gemetar. Dia melirik ke arah pintu lobi melalui spion, berharap sosok suaminya muncul berlari. Kosong. Dewa tetap di sana, mungkin masih bersama wanita itu, atau mungkin dia terlalu malu untuk menghadapi kenyataan bahwa kebohongannya telah terbongkar.​"Kamu bilang aku nomor satu, Mas, tetapi nyatanya, kamu bohong," bisik Lily pedih. Air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya luruh, membasahi pipi yang tadi dia rias dengan penuh semangat. Hari yang seharusnya menjadi momen me-time yang menyenangkan berubah menjadi mimpi buruk yang menyesakkan dada. Lily total sedih. ​Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Li

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Siapa Wanita Itu?

    Lily tengah memoles wajahnya dengan riasan tipis di depan cermin. Rencananya dia hari ini ingin jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Sudah lama Lily tidak menikmati waktu sendiri dengan berbelanja. Sesekali Lily ingin menikmati waktu tanpa Dewa. "Udah siap. Sekarang aku harus bilang dulu sama mas Dewa. Biar kalau misalnya dia pulang duluan dia nggak bingung nyariin aku," ucap Lily bermonolog. Dia meraih ponselnya lalu menggunakannya untuk menghubungi Dewa via panggilan suara. "Ada apa, Lily-ku Sayang? Kangen ya sama aku?" tanya Dewa lembut dari ujung sana. "Kangen terus sama kamu, Mas. Tapi sekarang bukan kangen yang mau aku bahas," balas Lily manja. "Terus apa, Sayang?" tanya Dewa lagi. "Aku mau jalan-jalan ke mall ya, Mas. Pengen banget jalan sendiri, sesekali me time. Sekalian aku mau beli beberapa baju hamil. Boleh, ya, Mas?" rengek Lily memohon. "Yakin, kamu nggak apa-apa pergi ke mall tanpa aku?""Iya, Mas. Soalnya aku pengen banget.""Ya udah, sana. Kamu boleh belanja sepua

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Perdamaian Dewa dan Bima

    Langkah Bima terasa sangat berat saat melewati pintu kaca otomatis gedung pusat Samudra Property yang menjulang tinggi. Setiap pasang mata karyawan di lobi seolah menjadi hakim yang tahu akan dosa-dosanya. Dia berusaha tidak peduli, dan terus berjalan. Tidak ada lagi ruang untuk melarikan diri. Di lantai paling atas, di sebuah ruangan luas dengan pemandangan kota yang tanpa batas, Dewa sudah menunggu. Tidak sendirian, di sana juga ada Johan yang duduk dengan raut wajah mendung namun penuh harap.​Saat pintu ruangan terbuka, Bima tidak berani mendongak. Dia melangkah perlahan ke tengah ruangan, lalu tanpa aba-aba, dia jatuh bersimpuh di depan Dewa. Suara tangisnya yang tertahan selama di perjalanan kini pecah tak terbendung.​"Mas... Mas Dewa... maafkan aku," isak Bima dengan suara parau. "Aku pengecut. Aku serakah. Aku sudah mengkhianati kepercayaan Mas dan Papa. Aku benar-benar menyesal."​Dewa diam sejenak, menatap adiknya dari kursi kebesarannya. Tidak ada gurat kepuasan di wajah

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Nasihat Seorang Ayah

    Tangan Bima bergetar hebat saat memegang ponselnya. Ruangan kantor yang biasanya terasa seperti singgasana kekuasaan, kini terasa seperti sel isolasi yang dingin dan menyesakkan. Napasnya pendek-pendek, keringat dingin membasahi kemeja mahalnya yang kini tampak kusut. Tidak ada lagi keangkuhan. Tidak ada lagi rencana licik. Yang tersisa hanyalah seorang lelaki yang sedang menatap jurang kehancuran total.​Dengan sisa keberanian yang ada, dia akhirnya menekan nomor Johan. Tidak ada pilihan lain. Dia tahu pasti kalau menelepon ayahnya saat ini sama saja dengan menyerahkan leher untuk disembelih, sayangnya Johan adalah satu-satunya pelampung yang tersisa di tengah badai yang menenggelamkan Niagara Property.​Nada sambung terdengar beberapa kali, setiap detiknya terasa seperti siksaan abadi bagi Bima. Hingga akhirnya, suara berat dan berwibawa itu terdengar.​"Halo, Bima? Kenapa tadi papa telepon kamu tidak angkat?" suara Johan terdengar tenang. Ada nada dingin yang tidak biasanya.Mungki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status