Share

03.

Author: silent-arl
last update publish date: 2026-04-07 17:34:00

Setelah melemparkan informasi soal Elise, Tatiana merasa tugasnya sudah selesai. Ia merasa sudah menjadi "arwah" yang cukup baik karena telah memperingatkan tokoh ciptaannya sendiri. Sekarang, ia hanya ingin pergi ke tempat yang seharusnya. Surga.

"Ya sudah kalau begitu. Anggap saja itu hadiah perpisahan dariku," ujar Tatiana santai sembari membalikkan badan. Ia menatap ke arah ujung peron yang berpendar cahaya biru. "Ngomong-ngomong, Kaliel... kau tahu di mana arah surga? Aku tidak tahu dimana jalannya.”

Kaliel tertegun sejenak. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Gadis ini baru saja membongkar rahasia paling krusial dalam hidupnya, lalu sekarang bertanya arah jalan seolah-olah ia hanya menanyakan letak toilet?

"Surga?" Kaliel mendesis, kerutan di keningnya mendalam.

Dalam satu gerakan kilat yang tidak sempat ditangkap mata Tatiana, Kaliel sudah berada di belakangnya. Ia mencengkeram lengan Tatiana, memutar tubuh gadis itu, dan menekannya hingga punggung Tatiana membentur tiang logam dingin stasiun.

"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja setelah membuat fitnah tentang kekasihku?" Kaliel menunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Tatiana. Tatapan matanya yang biru kini menggelap. Ia tidak suka ada yang menyentuh ranah pribadinya. "Jika kau sangat ingin tahu di mana surga, aku bisa merenggut nyawamu sekarang juga dan secara pribadi mengirimmu ke neraka yang paling dalam, Gadis Gila."

Tatiana bukannya gemetar, ia justru menghela napas panjang. Ia menatap lurus ke mata biru Kaliel yang indah itu.

"Neraka?" Tatiana tersenyum getir, wajahnya terlihat sangat sanati sekaligus menyimpan luka yang dalam. "Kaliel, aku sudah pernah melihat neraka. Aku baru saja keluar dari sana."

Ia teringat saat-saat ia dituduh plagiat, saat teman-temannya menjauh, dan saat Pak Bram menghancurkan karier yang ia bangun dengan darah dan air mata selama empat tahun. Baginya, ruangan kantor penerbitan itu jauh lebih menyiksa daripada todongan senjata Kaliel.

"Neraka milikmu ini... setidaknya udaranya jauh lebih segar dan parfummu lebih enak dicium," lanjut Tatiana polos, tanpa sadar ia malah menghirup aroma maskulin dari leher Kaliel yang berada sangat dekat dengan hidungnya.

Kaliel terpaku. Ia sudah biasa menghadapi ancaman kematian, pengkhianatan, dan musuh yang memohon ampun. Tapi ia belum pernah menghadapi wanita yang menatapnya dengan pandangan sedih sekaligus memuji di tengah ancaman pembunuhan.

Cengkeraman Kaliel di lengan Tatiana sedikit melonggar, tapi ia tidak melepaskannya. Ada sesuatu dalam diri Tatiana yang membuatnya merasa... terganggu.

"Kau tidak takut padaku?" tanya Kaliel dengan nada yang lebih rendah, hampir seperti bisikan.

Tatiana nyengir lebar, meski matanya masih berkaca-kaca karena menahan kantuk. "Buat apa takut pada pria yang bentuk otot perutnya saja aku yang tentukan jumlahnya?"

***

Kaliel tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat tajam dengan tangannya, dan dua pengawal itu langsung menyambar lengan Tatiana.

"Wow, kalian akan membawaku kemana?" protes Tatiana, tapi suaranya tenggelam saat ia diseret keluar peron menuju sebuah kendaraan hitam legam yang menjadi impian Tatiana.

Begitu pintu kendaraan itu mendesis terbuka, Tatiana didorong masuk ke kursi kulit yang sangat empuk. Detik berikutnya, Kaliel duduk di sampingnya. Jarak mereka sangat dekat, hingga bahu tegap Kaliel bersentuhan dengan bahu mungil Tatiana.

Kendaraan itu melesat sunyi, membelah hutan beton Sektor Onyx yang dipenuhi papan iklan di gedung.

"Wah..." Tatiana menempelkan wajahnya ke kaca jendela. "Aslinya lebih keren dari yang kutulis. Lihat itu! Lampu neonnya benar-benar berwarna ungu fuchsia, bukan ungu terong." alisnya naik turun dengan cepat.

“Oh ini jalan menuju rumahmu.” lanjut Tatiana menunjuk gedung tinggi yang sangat menonjol.

Kaliel menatap Tatiana dengan pandangan ngeri. Gadis ini baru saja diancam, diseret paksa, tapi sekarang malah sibuk mengkritik palet warna kotanya?

"Diamlah, Gadis Gila," desis Kaliel. Ia mengambil ponselnya,  menekan sebuah nomor di layar. "Ke kediaman pribadi. Aktifkan protokol keamanan maksimal.”

"Benar tebakanku," Tatiana menoleh, matanya berbinar polos. "Maksudmu apartemen lantai 99 yang punya kolam renang kaca dan akses pemandangan Onyx. Lalu bagaimana soal Tutu, burung hantu kita?”

Kaliel tersentak. Tangannya yang sedang mengoperasikan ponsel  membeku di udara. Ia menoleh perlahan, menatap Tatiana dengan intensitas yang sanggup membakar kulit. "Bagaimana kau tahu tentang Tutu? Tidak ada satu pun tahu kalau aku memeliharanya.”

Tatiana hanya mengedipkan sebelah mata, tampak tidak berdosa. "Ya karena aku yang paling pusing memikirkan logikanya saat menulis bab itu, Kaliel. Aku sampai riset hewan apa yang paling mudah dipelihara.”

Tak lama, kendaraan itu berhenti di sebuah penthouse mewah yang sangat futuristik. Begitu pintu terbuka, Tatiana langsung melesat masuk ke dalam ruangan luas yang didominasi marmer hitam dan cahaya biru redup. Kaliel mengekor di belakangnya dengan langkah lebar, tangannya sudah siap merogoh senjata jika gadis ini melakukan hal aneh.

Tapi Tatiana tidak lari ke pintu keluar. Ia justru berlari lurus menuju meja kerja besar yang terbuat dari kayu mahoni langka di sudut ruangan.

"Nah, ini dia." Tatiana langsung berlutut dan merangkak ke bawah meja tanpa mempedulikan roknya yang sedikit tersingkap.

"Apa yang kau lakukan di bawah sana?!" bentak Kaliel, suaranya menggelegar di ruangan yang sunyi itu.

Tatiana merayap keluar dengan wajah tersenyum penuh kemenangan. Di tangannya, ia menggenggam sebuah kalung perak dengan liontin safir yang berpendar redup.

"Kalung ibumu," bisik Tatiana. Ia menatap benda itu dengan sayang. "Kalau tidak salah, seharusnya ini muncul di bab tiga, di mana kau akan berkencan dengan Elise dan memberikan ini padanya sebelum kalian berciuman dengan sangat... emm, panas?" ia mengibaskan tangan yang kosong ke wajahnya.

Kaliel mematung. Ia merasa dunianya baru saja jungkir balik. Gadis asing berpakaian aneh ini bukan hanya tahu rahasia keamanannya, tapi dia memegang benda paling suci dalam hidup Kaliel seolah itu hanya properti.

"Siapa kau sebenarnya?" bahu Kaliel merosot dengan tatapan yang sangat frustasi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   06.

    Cengkeraman tangan Kaliel di pinggang Tatiana tidak melonggar, justru semakin mengunci. Jarak mereka begitu dekat hingga Tatiana bisa merasakan hawa panas yang menguar dari dada bidang Kaliel yang tak tertutup kemeja dengan sempurna."Jelaskan," desis Kaliel. Suaranya rendah, bergetar oleh perpaduan antara amarah dan rasa penasaran yang menyiksa. "Bagaimana kau tahu soal pulpen itu? Bagaimana kau tahu soal laci rahasia itu? Katakan padaku siapa yang memberimu informasi ini sebelum aku kehilangan kesabaranku."Tatiana terdiam sesaat. Ia menatap mata biru Kaliel yang berkilat tajam. Mata yang ia tulis sebagai 'samudera yang sanggup menenggelamkan siapa pun yang berani menantangnya'."Kaliel... dengarkan aku," Tatiana memulai,. Ia mencoba melepaskan diri, tapi kekuatan Kaliel jauh di atasnya. "Meski terdengar sangat tidak masuk akal, dan kau mungkin akan menganggapku lebih gila dari sebelumnya... percaya padaku. Aku adalah... penulis duniamu."Kaliel membeku. Alisnya bertaut rapat, menat

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   05.

    Di penthouse, suasana tidak lagi sunyi. Koper kecil milik Tatiana yang entah bagaimana berhasil diamankan oleh anak buah Kaliel dari gerbong kereta kini tergeletak terbuka di tengah lantai marmer.Tatiana berlutut, napasnya memburu. Ia melempar baju-baju, alat rias, dan beberapa bungkus camilan ke segala arah. Tangannya merogoh hingga ke dasar koper, berharap menemukan benda itu."Harusnya di sini... aku yakin memasukkannya tadi," bisik Tatiana, suaranya bergetar.Buku itu. Buku I Will Die For You yang selalu ia bawa untuk pembanding. Satu-satunya bukti bahwa dunia ini adalah imajinasinya. Tapi, koper itu kosong dari kertas apa pun. Naskah itu lenyap, seolah-olah semesta sedang menghapus jejak pelariannya.Tatiana terduduk lemas di antara tumpukan pakaiannya. Ia menatap tangannya yang gemetar. Dinginnya lantai marmer, aroma kayu mahoni, bahkan tekstur kain bajunya terasa terlalu nyata untuk sebuah mimpi."Kalau dugaanku benar, aku tidak mati," gumamnya, matanya mulai panas. "Aku terje

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   04.

    Kaliel menyambar liontin safir itu dari tangan Tatiana dengan gerakan yang sangat cepat, seolah takut kulit Tatiana akan mengotori peninggalan ibunya lebih lama pergi. Ia menggenggam kalung itu erat di telapak tangannya, menatap Tatiana dengan amarah yang bercampur dengan rasa frustrasi yang amat sangat."Dengar, aku tidak tahu kau ini penyihir, peramal, atau apa pun itu," desis Kaliel, melangkah maju hingga Tatiana terdesak ke pinggiran meja mahoni. "Tapi kau tidak akan keluar dari ruangan ini sampai—"Ponsel di saku mantel Kaliel bergetar. Kaliel mengerang rendah, ia mendengus saat melihat nama yang tertera di layar. Elise.Tatiana, melirik ke arah ponsel itu. "Wah, si pemeran utama wanita sudah menelpon. Dia pasti sudah di kafe Red Moon. Menunggumu sambil memesan latte tanpa gula karena dia sedang diet ketat.”Kaliel memejamkan mata sejenak, memijat pangkal hidungnya. "Demi Tuhan... berhenti bicara seolah kau tahu segalanya.” Ia mengangkat telepon itu. "Ya, Elise? ... Aku sedikit t

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   03.

    Setelah melemparkan informasi soal Elise, Tatiana merasa tugasnya sudah selesai. Ia merasa sudah menjadi "arwah" yang cukup baik karena telah memperingatkan tokoh ciptaannya sendiri. Sekarang, ia hanya ingin pergi ke tempat yang seharusnya. Surga."Ya sudah kalau begitu. Anggap saja itu hadiah perpisahan dariku," ujar Tatiana santai sembari membalikkan badan. Ia menatap ke arah ujung peron yang berpendar cahaya biru. "Ngomong-ngomong, Kaliel... kau tahu di mana arah surga? Aku tidak tahu dimana jalannya.”Kaliel tertegun sejenak. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Gadis ini baru saja membongkar rahasia paling krusial dalam hidupnya, lalu sekarang bertanya arah jalan seolah-olah ia hanya menanyakan letak toilet?"Surga?" Kaliel mendesis, kerutan di keningnya mendalam.Dalam satu gerakan kilat yang tidak sempat ditangkap mata Tatiana, Kaliel sudah berada di belakangnya. Ia mencengkeram lengan Tatiana, memutar tubuh gadis itu, dan menekannya hingga punggung Tatiana m

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   02.

    Cengkeraman di dagu Tatiana terasa begitu nyata. Dingin, keras, dan menuntut jawaban. Namun, alih-alih gemetar ketakutan seperti karakter Elise yang biasanya ia tulis, otak Tatiana yang sedang error justru mengirimkan sinyal yang salah."Wah..." gumam Tatiana pelan. Matanya yang bulat menatap lurus ke arah pori-pori kulit pria di depannya. "Halus banget. Aku nulis dia pakai perawatan apa, ya?"Tanpa aba-aba, Tatiana mengangkat telunjuknya dan... Ia mencolek pipi Kaliel. Sekali. Lalu dua kali, memastikan apakah jari tangannya akan menembus bayangan atau tidak."Lembut," bisik Tatiana dengan wajah tanpa dosa. "Mimpinya terasa nyata banget. Bau parfumnya juga mahal.”Rahang Kaliel menegang. Mata birunya yang sedalam samudra itu berkilat berbahaya. Ia melepaskan dagu Tatiana dengan sentakan kecil, seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor."Kau... baru saja menyentuhku?" dengus Kaliel, terdengar seperti geraman singa yang terganggu tidurnya.Tatiana tidak menghiraukan tatapan mem

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   01.

    Suara ketukan bolpoin di atas meja kayu itu terdengar seperti detak jam menuju eksekusi mati. Tatiana mengepalkan tangan di bawah meja, berusaha menahan gemetar yang merambat dari ujung jarinya."Lima ratus juta, Tatiana. Itu kerugian yang harus kami tanggung karena skandal ini," suara Pak Bram, sang direktur, terdengar datar namun tajam. "Kamu tidak hanya menghancurkan namamu sendiri, tapi juga mencoreng kredibilitas perusahaan kami!"Tatiana mendongak mantap, dia tidak gentar karena dia tahu bukan dirinya yang harus bertanggung jawab. "Saya tidak meniru satu kalimat pun dari buku itu, Pak. Saya menulisnya dari nol. Saya yang menciptakan semua tokohnya! Saya yang—""Cukup!" Seorang editor senior di pojok ruangan menyela dengan dengusan sinis. "Semua penulis amatir yang tertangkap basah akan mengatakan hal yang sama. Faktanya, alur ceritamu identik dengan buku yang terbit di luar negeri itu. Kamu pikir kami bodoh?"Tatiana menghela napas panjang, ia merasa seperti sedang ditelanjangi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status