LOGINMatahari Sektor Onyx baru saja merayap naik, memantul pada gedung-gedung kaca yang dingin. Di dalam kendaraan hitam legam milik Kaliel, suasana terasa kaku. Tatiana duduk di kursi penumpang, mencoba merapikan dress kuning cerah yang ia temukan di tumpukan kopernya, satu-satunya pakaian yang tidak terlalu kusut.
Kaliel melirik ke samping, lalu menghela napas panjang. Ia mencengkeram kemudi dengan buku jari yang memutih.
"Kau tidak punya baju lain?" tanya Kaliel datar, namun ada nada penghinaan yang jelas di sana. "Kuning mencolok, potongan bulat di tengah... kau terlihat seperti telur mata sapi berjalan, Tatiana."
Tatiana mendesis, menatap Kaliel dengan pandangan menusuk. "Hei! Di duniaku, kuning itu warna keceriaan. Dan asal kau tahu, ini adalah baju keberuntunganku saat aku menyelesaikan bab terakhir buku ini. Kau tahu, kematian pertamamu…” Taitana langsung menutup mulutnya. Ada baiknya kita berhenti bicara disaat yang tepat.
Kaliel nyaris menginjak rem mendadak. "Kematian pertamaku? Jadi kau merayakan kematianku dengan memakai baju telur ini?"
"Situasinya darurat, Kaliel! Aku tidak punya pilihan lain. Semua bajuku yang lain sudah kulempar ke lantai semalam saat aku mencari buku itu," bela Tatiana, meskipun ia sendiri mulai merasa warna kuning ini terlalu kontras dengan interior mobil Kaliel yang serba hitam dan mahal.
Kaliel terdiam sejenak. Ia membayangkan membawa "telur mata sapi" ini ke hadapan Elise yang selalu tampil dengan pakaian desainer papan atas. Penyamaran sebagai "sepupu jauh" akan langsung terbongkar dalam satu detik karena selera fashion mereka yang bak bumi dan langit.
"Aku tidak bisa membawamu bertemu Elise dengan penampilan seperti ini," gumam Kaliel.
Tanpa aba-aba, Kaliel membanting setir ke arah kanan, membuat ban kendaraan itu berdecit tajam di atas aspal. Tatiana terpekik, tangannya refleks mencengkeram lengan kekar Kaliel yang terbalut kemeja.
"Wah! Kau mau membunuhku sekarang?" teriak Tatiana ketakutan.
"Aku mau menyelamatkan harga diriku," sahut Kaliel dingin. Ia mengarahkan kendaraannya menuju pusat perbelanjaan paling elit di Sektor Onyx. Mal megah yang hanya bisa dikunjungi oleh orang-orang dengan kartu akses khusus. "Kita ke mal. Aku akan membelikanmu sesuatu yang tidak membuat mataku sakit saat melihatmu."
Tatiana mengerucutkan bibirnya, tapi di dalam hati ia merasa geli. Siapa sangka, antagonis kejam yang kutulis ini ternyata punya sisi "fashion police" yang cukup akut, batinnya.
Begitu sampai di lobi mal, Kaliel turun dan membukakan pintu untuk Tatiana, dia bergerak otomatis yang biasa ditunjukan sebagai pria terhormat, meski wajahnya tetap terlihat sangat terganggu.
"Turun, Telur Mata Sapi," perintah Kaliel. "Kita punya waktu tiga puluh menit sebelum Elise mencariku."
Tatiana turun dengan dagu terangkat. "Ingat ya, Kaliel. Kau yang membayar semuanya. Anggap saja ini royalti karena aku sudah memberimu otot perut yang bagus itu."
Kaliel hanya memutar bola matanya, namun sudut bibirnya hampir, hampir saja, terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka.
***
Kaliel tidak membiarkan Tatiana memilih. Pria itu melangkah dengan pasti ke deretan gaun paling modis, matanya memindai dengan tajam. Ia mengabaikan semua warna cerah dan model yang terlalu imut. Pilihan Kaliel jatuh pada sebuah gaun slip dress sutra berwarna biru gelap yang dalam, hampir hitam. Potongannya sederhana namun sangat elegan, dengan belahan paha yang tinggi dan punggung yang terbuka.
Ini adalah gaya Elise. Elegan, seksi, dan menggoda.
"Pakai ini," perintah Kaliel, melemparkan gaun itu ke tangan Tatiana tanpa ekspresi.
Tatiana menerima gaun itu, merasakan kelembutan sutra di jemarinya. Ia mengerucutkan bibir, menatap model gaun itu dengan pandangan menilai. “Kamu memakaikan aku baju yang sangat Elise.”
“Pakai saja, kau cerewet sekali.” jawab Kaliel, tangannya masih memilih gaun.
Di dalam ruang ganti yang mewah dengan lampu kuning yang membuat wajahnya tampak berbeda, Tatiana melepas dress kuning telur mata sapinya. Ia mengenakan gaun sutra biru malam itu. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya yang lebih mungil dari Elise, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan cara yang berbeda. Jika Elise terlihat seperti dewi kematian yang anggun, Tatiana... dia terlihat seperti peri yang sedikit nakal dan menggemaskan.
Tatiana merapikan rambutnya yang berantakan, mencoba memberikan penampilan terbaiknya agar Kaliel berhenti menyindirnya. Ia mengecap bibir, lalu keluar dari ruang ganti.
Di luar, Kaliel sedang bersandar pada dinding, tangannya terlipat di depan dada bidangnya yang bisa Tatiana bayangkan dengan sangat jelas. Ia mendongak saat mendengar suara langkah kaki Tatiana.
Pria itu mematung. Matanya yang biru membelalak sedikit, menatap Tatiana dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gaun itu sama persis dengan yang biasa disukai Elise, tapi... "rasanya" sangat berbeda.
Tatiana tidak berjalan dengan keanggunan yang sering ia banggakan dari Elise yang penuh kepura-puraan. Ia berjalan dengan langkah ringan, dagu terangkat, dan senyum tipis yang menggemaskan sekaligus menyebalkan menghiasi wajah bulatnya. Belahan gaun itu memperlihatkan kaki mulusnya, memberikan sentuhan seksi yang jarang Kaliel perhatikan.
"Nah, setidaknya sekarang kau terlihat seperti manusia," gumam Kaliel serak. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Tatiana. Tatiana tak pernah bosan dengan wangi Kaliel yang memabukan.
Pria itu mengulurkan tangannya, jemari kokohnya menyentuh kerah gaun di leher Tatiana, merapikannya dengan gerakan perlahan. Jarak mereka begitu dekat, dan Tatiana bisa merasakan embusan napas Kaliel di pipinya. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya. Pria fiksi ini benar-benar berbahaya bagi kesehatannya.
"Dan kau gadis telur mata sapi," lanjut Kaliel, menatap mata bulat Tatiana dengan tatapan yang sangat intens, "meski kau memakai baju yang mirip Elise... kau tetap terlihat seperti anak kecil yang mencoba memakai baju ibunya. Menggemaskan, tapi tetap saja menyebalkan."
Tatiana mendesis, matanya menyipit. "Hei. Aku ini seksi, Kaliel. Dan asal kau tahu, aku lah yang memberikan semua keindahan pada kekasihmu itu.”
Kaliel tertawa kecil. Ia melepaskan tangannya dari kerah gaun Tatiana. "Apa? Jangan membuatku mual, Tatiana. Jika kau membuatnya begitu sempurnya, setidaknya kau berkaca pada kaki pendekmu sendiri.”
Pria itu berbalik dan melangkah menuju kasir. Tatiana mengerucutkan bibirnya, menatap punggung tegap Kaliel dengan perasaan campur aduk. Dia tidak berhak mengatakan hal itu padaku. Lihat saja, aku akan membuat cerita ini semakin menarik.
Setelah membayar, mereka keluar dari mal. Kaliel membukakan pintu untuk Tatiana, kali ini dengan tatapan yang lebih lembut.
"Ayo, sepupu jauh," ujar Kaliel dingin. "Waktunya bertemu Elise. Dan jangan mengacau.”
Tatiana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tangisnya pecah seketika. Tubuhnya gemetar hebat di bawah tekanan rasa bersalah. "Kukira aku tidak akan pernah goyah... aku mengaku aku salah, Kaliel!" seru Tatiana di balik tangannya, suaranya parau dan tersedat. "Tapi sampai detik ini... demi Tuhan, aku tidak mencintainya! Hanya kau, Kaliel. Hanya kau."Kaliel menyeringai, sebuah senyuman pahit dan penuh sarkasme yang memperlihatkan betapa hancur harga dirinya saat ini. "Kau pikir mudah bagiku untuk tidak cemburu pada pria itu?!" cetus Kaliel, matanya menatap Tatiana dengan amarah yang belum reda. "Kau membelanya, kau menyimpan kuncinya, kau memberinya peluang untuk masuk terlalu jauh, Tatiana! Tapi kau bertingkah seolah kau korban dan pura-pura tidak bersalah di sini. Kau egois!"Tatiana tidak bisa menjawab tuduhan itu, ia sadar dia telah melu
Edward memaksakan sebuah senyuman tipis, menatap wajah Tatiana yang tampak begitu kuyu di bawah pendar lampu kamar. "Kau kelihatan lelah," bisiknya parau.Tatiana menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan gelombang kesedihan yang mendesak di dadanya. "Kau kelihatan payah. Apa yang sebenarnya terjadi, Ed?" tuntutnya dengan suara bergetar.Edward langsung mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar, menghindari kontak mata dengan Tatiana. "Aku sakit," jawabnya singkat, seolah kata itu cukup untuk menjelaskan segalanya.Mendengar jawaban yang begitu enteng, Tatiana memukul lengan Edward pelan, frustrasi karena pria itu selalu menutup diri. "Jelaskan apa penyakitmu!"Edward meringis pelan, karena rasa sakit yang kembali menusuk dadanya. "Sesu
Kaliel tidak langsung menyambut uluran tangan Joe. Alih-alih terharu, ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai. Sebuah senyuman tipis, setengah sinis, terukir di sudut bibirnya. Sebagai pria yang sudah kenyang dengan intrik, Kaliel tidak akan sebodoh itu langsung memercayai loyalitas instan dari seorang anak buah Laura."Apa motifmu, Joe?" tanya Kaliel dingin, matanya menyipit, mengunci pergerakan pria di hadapannya. "Kau rela membuang karier mapan di firma hukum sebesar ini hanya demi membela sepasang kekasih yang sedang diburu masalah? Jangan bercanda."Kedua alis Joe terangkat, sedikit terkejut dengan skeptisisme Kaliel, namun sedetik kemudian ekspresinya melembut, menyiratkan luka lama. "Entahlah," sahut Joe lirih, tatapannya menerawang ke arah tumpukan berkas. "Mungkin karena saya melihat diri saya yang dulu pada posisi Anda. D
Perjalanan menuju Sektor Onyx terasa berbeda dari biasanya. Di dalam kendaraan diselimuti keheningan yang agak tegang, meski kehadiran Tatiana di kursi sebelah kemudi sedikit banyak meredam kecemasan Kaliel. Pemandangan luar jendela perlahan berubah, dari pembatas sektor yang dijaga ketat hingga deretan bangunan tinggi khas Onyx yang mulai terlihat di cakrawala.Di tengah keheningan itu, Tatiana tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah Kaliel yang fokus menatap jalanan di depan. “Kaliel, kenapa Edward tidak ada kabar seharian ya?" tanya Tatiana, keningnya sedikit berkerut cemas. "Biasanya dia selalu memberi kabar.”Mendengar nama Edward disebut,mood Kaliel seketia rusak. Kaliel mengangkat satu tangannya dari kemudi, menggosok hidungnya sekali dengan gerakan refleks yang menunjukkan rasa tidak nyaman sekaligus jengkel. "Tidak tahu," sahut
Kaliel memutar tubuhnya menjadi tengkurap dan membenamkan sebagian wajahnya di bantal. Namun, matanya tetap melirik tajam ke arah Tatiana. "Mandilah, Sayang, sebelum aku berubah pikiran untuk tidak membuatmu hamil sekarang juga," ancam Kaliel dengan suara tertahan yang justru terdengar sangat seksi dan penuh penekanan.Tatiana tertawa mendengarnya. Ia mencondongkan kepalanya ke belakang, menatap Kaliel dari atas bahunya dengan senyum kemenangan yang menghiasi bibirnya. "Baiklah, pikirkan saja itu sesukamu," sahut Tatiana santai sembari melangkah mundur menuju kamar mandi. "Tapi setelah itu kita harus sarapan. Kau butuh banyak energi untuk menghadapi apa pun yang menunggumu di luar sana hari ini."Pintu kamar mandi pun tertutup, menyisakan Kaliel yang perlahan memudarkan senyumnya di atas kasur. Begitu sendirian, bayangan tentang pria misterius yang
Malam menyelimuti rumah dengan kegelapan dan keheningan yang mencekam. Namun di dalam kamar, Kaliel memastikan di sekitar mereka terasa sehangat mungkin. Ia menyalakan lampu tidur, mengunci semua celah rumah dengan pengamanan, dan tidak membiarkan Tatiana lepas dari jangkauan pandangannya bahkan untuk sedetik pun.Kaliel merebahkan tubuhnya di sebelah Tatiana, menarik selimut tebal untuk membungkus tubuh wanita itu yang masih sesekali berjengit kecil karena sisa takut siang tadi.Tanpa suara, Kaliel membawa Tatiana ke dalam dekapan dadanya, membiarkan wanita itu mendengarkan detak jantungnya."Tidurlah, Sayang. Aku menjaga sepanjang malam," bisik Kaliel lembut di telinga Tatiana, sambil mengecup pelan pelipisnya.Jemari kekar Kaliel bergerak perlahan, m







