Share

07.

Author: silent-arl
last update publish date: 2026-04-24 14:52:20

Matahari Sektor Onyx baru saja merayap naik, memantul pada gedung-gedung kaca yang dingin. Di dalam kendaraan hitam legam milik Kaliel, suasana terasa kaku. Tatiana duduk di kursi penumpang, mencoba merapikan dress kuning cerah yang ia temukan di tumpukan kopernya, satu-satunya pakaian yang tidak terlalu kusut.

Kaliel melirik ke samping, lalu menghela napas panjang. Ia mencengkeram kemudi dengan buku jari yang memutih.

"Kau tidak punya baju lain?" tanya Kaliel datar, namun ada nada penghinaan yang jelas di sana. "Kuning mencolok, potongan bulat di tengah... kau terlihat seperti telur mata sapi berjalan, Tatiana."

Tatiana mendesis, menatap Kaliel dengan pandangan menusuk. "Hei! Di duniaku, kuning itu warna keceriaan. Dan asal kau tahu, ini adalah baju keberuntunganku saat aku menyelesaikan bab terakhir buku ini. Kau tahu, kematian pertamamu…” Taitana langsung menutup mulutnya. Ada baiknya kita berhenti bicara disaat yang tepat.

Kaliel nyaris menginjak rem mendadak. "Kematian pertamaku? Jadi kau merayakan kematianku dengan memakai baju telur ini?"

"Situasinya darurat, Kaliel! Aku tidak punya pilihan lain. Semua bajuku yang lain sudah kulempar ke lantai semalam saat aku mencari buku itu," bela Tatiana, meskipun ia sendiri mulai merasa warna kuning ini terlalu kontras dengan interior mobil Kaliel yang serba hitam dan mahal.

Kaliel terdiam sejenak. Ia membayangkan membawa "telur mata sapi" ini ke hadapan Elise yang selalu tampil dengan pakaian desainer papan atas. Penyamaran sebagai "sepupu jauh" akan langsung terbongkar dalam satu detik karena selera fashion mereka yang bak bumi dan langit.

"Aku tidak bisa membawamu bertemu Elise dengan penampilan seperti ini," gumam Kaliel.

Tanpa aba-aba, Kaliel membanting setir ke arah kanan, membuat ban kendaraan itu berdecit tajam di atas aspal. Tatiana terpekik, tangannya refleks mencengkeram lengan kekar Kaliel yang terbalut kemeja.

"Wah! Kau mau membunuhku sekarang?" teriak Tatiana ketakutan.

"Aku mau menyelamatkan harga diriku," sahut Kaliel dingin. Ia mengarahkan kendaraannya menuju pusat perbelanjaan paling elit di Sektor Onyx. Mal megah yang hanya bisa dikunjungi oleh orang-orang dengan kartu akses khusus. "Kita ke mal. Aku akan membelikanmu sesuatu yang tidak membuat mataku sakit saat melihatmu."

Tatiana mengerucutkan bibirnya, tapi di dalam hati ia merasa geli. Siapa sangka, antagonis kejam yang kutulis ini ternyata punya sisi "fashion police" yang cukup akut, batinnya.

Begitu sampai di lobi mal, Kaliel turun dan membukakan pintu untuk Tatiana, dia bergerak otomatis yang biasa ditunjukan sebagai pria terhormat, meski wajahnya tetap terlihat sangat terganggu.

"Turun, Telur Mata Sapi," perintah Kaliel. "Kita punya waktu tiga puluh menit sebelum Elise mencariku."

Tatiana turun dengan dagu terangkat. "Ingat ya, Kaliel. Kau yang membayar semuanya. Anggap saja ini royalti karena aku sudah memberimu otot perut yang bagus itu."

Kaliel hanya memutar bola matanya, namun sudut bibirnya hampir, hampir saja, terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka.

***

Kaliel tidak membiarkan Tatiana memilih. Pria itu melangkah dengan pasti ke deretan gaun paling modis, matanya memindai dengan tajam. Ia mengabaikan semua warna cerah dan model yang terlalu imut. Pilihan Kaliel jatuh pada sebuah gaun slip dress sutra berwarna biru gelap yang dalam, hampir hitam. Potongannya sederhana namun sangat elegan, dengan belahan paha yang tinggi dan punggung yang terbuka.

Ini adalah gaya Elise. Elegan, seksi, dan menggoda.

"Pakai ini," perintah Kaliel, melemparkan gaun itu ke tangan Tatiana tanpa ekspresi.

Tatiana menerima gaun itu, merasakan kelembutan sutra di jemarinya. Ia mengerucutkan bibir, menatap model gaun itu dengan pandangan menilai. “Kamu memakaikan aku baju yang sangat Elise.”

“Pakai saja, kau cerewet sekali.” jawab Kaliel, tangannya masih memilih gaun.

Di dalam ruang ganti yang mewah dengan lampu kuning yang membuat wajahnya tampak berbeda, Tatiana melepas dress kuning telur mata sapinya. Ia mengenakan gaun sutra biru malam itu. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya yang lebih mungil dari Elise, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan cara yang berbeda. Jika Elise terlihat seperti dewi kematian yang anggun, Tatiana... dia terlihat seperti peri yang sedikit nakal dan menggemaskan.

Tatiana merapikan rambutnya yang berantakan, mencoba memberikan penampilan terbaiknya agar Kaliel berhenti menyindirnya. Ia mengecap bibir, lalu keluar dari ruang ganti.

Di luar, Kaliel sedang bersandar pada dinding, tangannya terlipat di depan dada bidangnya yang bisa Tatiana bayangkan dengan sangat jelas. Ia mendongak saat mendengar suara langkah kaki Tatiana.

Pria itu mematung. Matanya yang biru membelalak sedikit, menatap Tatiana dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gaun itu sama persis dengan yang biasa disukai Elise, tapi... "rasanya" sangat berbeda.

Tatiana tidak berjalan dengan keanggunan yang sering ia banggakan dari Elise yang penuh kepura-puraan. Ia berjalan dengan langkah ringan, dagu terangkat, dan senyum tipis yang menggemaskan sekaligus menyebalkan menghiasi wajah bulatnya. Belahan gaun itu memperlihatkan kaki mulusnya, memberikan sentuhan seksi yang jarang Kaliel perhatikan.

"Nah, setidaknya sekarang kau terlihat seperti manusia," gumam Kaliel serak. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Tatiana. Tatiana tak pernah bosan dengan wangi Kaliel yang memabukan.

Pria itu mengulurkan tangannya, jemari kokohnya menyentuh kerah gaun di leher Tatiana, merapikannya dengan gerakan perlahan. Jarak mereka begitu dekat, dan Tatiana bisa merasakan embusan napas Kaliel di pipinya. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya. Pria fiksi ini benar-benar berbahaya bagi kesehatannya.

"Dan kau gadis telur mata sapi," lanjut Kaliel, menatap mata bulat Tatiana dengan tatapan yang sangat intens, "meski kau memakai baju yang mirip Elise... kau tetap terlihat seperti anak kecil yang mencoba memakai baju ibunya. Menggemaskan, tapi tetap saja menyebalkan."

Tatiana mendesis, matanya menyipit. "Hei.  Aku ini seksi, Kaliel. Dan asal kau tahu, aku lah yang memberikan semua keindahan pada kekasihmu itu.”

Kaliel tertawa kecil. Ia melepaskan tangannya dari kerah gaun Tatiana. "Apa? Jangan membuatku mual, Tatiana. Jika kau membuatnya begitu sempurnya, setidaknya kau berkaca pada kaki pendekmu sendiri.”

Pria itu berbalik dan melangkah menuju kasir. Tatiana mengerucutkan bibirnya, menatap punggung tegap Kaliel dengan perasaan campur aduk. Dia tidak berhak mengatakan hal itu padaku. Lihat saja, aku akan membuat cerita ini semakin menarik.

Setelah membayar, mereka keluar dari mal. Kaliel membukakan pintu untuk Tatiana, kali ini dengan tatapan yang lebih lembut.

"Ayo, sepupu jauh," ujar Kaliel dingin. "Waktunya bertemu Elise. Dan jangan mengacau.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 150 (end)

    Waktu rasanya berjalan begitu cepat. Luke Kalien, bocah kecil yang dulu lahir prematur di usia delapan bulan dan sempat membuat ayah serta ibunya tak bisa melepaskan pandangan di ruang NICU, kini sudah bertumbuh menjadi balita aktif yang pandai berjalan, bahkan berlari ke sana kemari.Pagi itu, tepat tiga tahun setelah kelahiran Luke. Kehidupan di Sektor Onyx sudah banyak berubah. Kaliel, yang dulunya selalu menuntut kendali penuh atas segala urusan, kini telah resmi mundur dari berbagai jabatan birokrasi yang merepotkan.Pria itu sekarang lebih memilih memonitor seluruh pergerakan bisnis dan wilayahnya langsung dari rumah yang nyaman. Bagi Kaliel saat ini, melangkah keluar dari rumah adalah hal yang paling menyebalkan di dunia. Ia sudah cukup dengan segala hiruk-pikuk luar dan hanya ingin menikmati ketenangannya.

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 149

    Kamar suite terbaik yang disewa Kaliel memiliki dinding kaca besar yang langsung menghadap ke arah Rumah Sakit Pusat Sektor Onyx. Di depan jendela itu, Tatiana berdiri diam, menatap lampu-lampu rumah sakit yang benderang di kejauhan dengan tatapan kosong dan penuh kerinduan.Kaliel melangkah mendekat tanpa suara, lalu melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang Tatiana dari belakang. Ia menarik tubuh istrinya bersandar sepenuhnya pada dada bidangnya, mencoba menyalurkan kehangatan dan rasa aman."Jangan suka menyiksa dirimu," bisik Kaliel rendah, tepat di tengkuk Tatiana. "Luke tidak sendirian di sana dan kau tidak perlu merasa bersalah."Kaliel membalikkan sedikit tubuh Tatiana agar wanita itu bisa melihat sudut pandang yang i

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 148

    Ketegangan yang sempat mencekam koridor rumah sakit itu mendadak luruh ketika pintu ganda ruang tindakan darurat kembali terbuka. Dokter melangkah keluar, melepas masker medisnya, dan langsung menyunggingkan senyum lebar yang penuh kelegaan."Semua selamat, Tuan Kaliel," ujar dokter itu dengan nada mantap. "Ibu dan bayinya berhasil melewati masa kritis. Jagoan kecil Anda lahir dengan selamat melalui tindakan vakum darurat, dan Nyonya Tatiana saat ini sudah sadar kembali, meskipun kondisinya masih sangat lemas."Mendengar kalimat itu, bahu kaku Kaliel yang sejak tadi tegang langsung merosot. Kepalan tangannya perlahan melonggar, dan helaan napas panjang lolos dari bibirnya.Tanpa membuang waktu, Kaliel segera melangkah masuk ke dalam ruang perawatan pasca operasi. Di sana, di atas ranjang yang bersih, Tatiana berbari

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 147

    Melihat celah kecil di antara himpitan mobil, mata Kaliel menangkap kilatan lampu rotator merah-biru yang berjarak sekitar lima puluh meter di depan mereka. Sebuah ambulans sektor kebetulan sedang berada di lokasi kecelakaan, baru saja selesai mengevakuasi korban tabrakan beruntun.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kaliel menarik pintu mobilmya hingga terbuka lebar. Ia keluar dari kabin sambil mendekap tubuh pucat Tatiana dengan protektif, melangkah lebar dan cepat menerobos sela-sela kendaraan yang berhenti total.Para pengendara lain yang terjebak macet sempat menoleh dengan pandangan ngeri dan segan melihat sosok pria yang kerap berseliweran di majalah bisnis Sektor Onyx berjalan dengan aura sedingin es, menggendong seorang wanita yang lemah di bawah siraman lampu jalan."Buka pintunya!" titah Kaliel menggeleg

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 146

    Suasana kamar sudah sepenuhnya sunyi ketika jarum jam dinding melewati angka dua malam. Hanya ada suara dengung halus dari pendingin ruangan dan lampu tidur yang menyelimuti ranjang besar mereka.Kaliel, yang sejak tadi tidak benar-benar terlelap, perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping, mendapati Tatiana masih terjaga, bersandar malas dengan mata yang sayu namun menatapnya balik. Keheningan malam itu mendadak terasa pekat oleh sisa gairah yang sempat mereka tunda beberapa jam lalu.Mencoba peruntungannya, Kaliel bergeser mendekat. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap tengkuk Tatiana, lalu menunduk, mendaratkan kecupan dalam dan lembut di bibir istrinya. Ciuman yang awalnya pelan itu perlahan berubah menjadi hisapan menuntut yang sarat akan kerinduan sebulan penuh.Ketika tautan bibir mereka terlepas, Kaliel

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 145

    Sore itu, angin berembus perlahan, membawa kesejukan di teras depan rumah yang megah. Sesuai dengan saran dokter untuk lebih banyak menghirup udara segar, Tatiana duduk santai di kursi malas yang nyaman. Salah satu tangannya bergerak telaten, mengelus permukaan perutnya yang terasa tenang dan lembut.Anehnya, sejak Kaliel berangkat ke kantor pagi tadi, si kecil di dalam kandungan sama sekali tidak membuat ulah. Tidak ada tendangan beruntun, tidak ada gerakan heboh yang membuat ibunya kesakitan seperti beberapa hari lalu.Tatiana menunduk, menatap perut buncitnya dengan senyum kecil yang geli sekaligus heran. "Kenapa kau sangat diam saat tidak ada Ayah, Nak?" bisiknya lembut, suaranya mengalun pelan di keheningan sore.Ia mengetuk pelan perutnya dengan ujung jari, mencoba memancing respons yang tak kunjung datang. "K

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   05.

    Di penthouse, suasana tidak lagi sunyi. Koper kecil milik Tatiana yang entah bagaimana berhasil diamankan oleh anak buah Kaliel dari gerbong kereta kini tergeletak terbuka di tengah lantai marmer.Tatiana berlutut, napasnya memburu. Ia melempar baju-baju, alat rias, dan beberapa bungkus camilan ke

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   04.

    Kaliel menyambar liontin safir itu dari tangan Tatiana dengan gerakan yang sangat cepat, seolah takut kulit Tatiana akan mengotori peninggalan ibunya lebih lama pergi. Ia menggenggam kalung itu erat di telapak tangannya, menatap Tatiana dengan amarah yang bercampur dengan rasa frustrasi yang amat s

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   03.

    Setelah melemparkan informasi soal Elise, Tatiana merasa tugasnya sudah selesai. Ia merasa sudah menjadi "arwah" yang cukup baik karena telah memperingatkan tokoh ciptaannya sendiri. Sekarang, ia hanya ingin pergi ke tempat yang seharusnya. Surga."Ya sudah kalau begitu. Anggap saja itu hadiah perp

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   02.

    Cengkeraman di dagu Tatiana terasa begitu nyata. Dingin, keras, dan menuntut jawaban. Namun, alih-alih gemetar ketakutan seperti karakter Elise yang biasanya ia tulis, otak Tatiana yang sedang error justru mengirimkan sinyal yang salah."Wah..." gumam Tatiana pelan. Matanya yang bulat menatap lurus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status