MasukSuasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.
Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin.
Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget.
"N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak tadi Kaisar Kenneth mendengar semua pembicaraan kita?"
Rosalynd terdiam.
Jemarinya mencengkram erat gagang pisau lipat hingga buku-buku jarinya memutih.
Pilihan yang diberikan oleh Kenneth tidak bisa diganggu gugat. Ia harus patuh pada skenario kebohongan yang dibuatnya atau tewas di tangan pisau milik sang Kaisar sendiri.
"Berdiri, Lily. Seka air matamu sekarang juga!" perintah Rosalynd tegas.
"Jika dia memang ingin menghabisi kita, dia tidak akan repot memperingatkan ku lewat pisau ini." Terang Rosalynd pada Lily supaya Lily tidak semakin ketakutan.
Tak lama, terdengarlah suara ketukan pintu kamar.
"Selir Rosalynd. Waktu istirahat anda telah habis. Ibu Suri memerintahkan anda untuk segera menghadap ke Aula Utama Istana Barat untuk menerima berkat pagi," teriak dayang Martha dari luar pintu.
Mendengar hal itu, Rosalynd memejamkan mata sejenak. Setelah itu, mengulas senyum yang sangat dipaksakan.
"Baik, dayang Martha. Izinkan saya untuk bersiap terlebih dahulu." sahut Rosalynd.
Ia menatap kembali pantulan dirinya di cermin sekali lagi. Pakaian katun polos, rambut disanggul sederhana, perhiasan mewah serta bekas tamparan.
Penampilannya benar-benar mencerminkan seorang selir yang sangat malang.
'Sempurna. Biarkan seluruh istana melihat betapa brutal malam pertamaku,' gumamnya.
Setelah semua dirasa cukup, Rosalynd langsung dipandu menelusuri koridor istana yang megah.
Dalam perjalanannya menuju aula, ratusan pasang mata dari para pelayan sedang mengawasinya dari balik pilar batu.
Setelah sepuluh menit berjalan, akhirnya Rosalynd sampai juga di aula.
Begitu pintu aula terbuka, terlihat Ibu Suri yang duduk dengan senyum penuh kepuasan. Di sisi kirinya, Permaisuri Cassandra berdiri dengan wajah yang tegang.
Kaisar Kenneth berdiri di sisi kanan dengan mengenakan jubah militer hitamnya. Tangan kanannya terbalut perban putih, bukti luka yang ia buat sendiri semalam.
"Selamat datang menantuku yang malang. Akhirnya sampai juga," sambut Ibu Suri dengan nada suara yang lembut, namun penuh dengan tuntutan.
"Kemarilah, Rosalynd. Biarkan aku melihat setiap inci jejak yang ditinggalkan putraku padamu."
Dengan langkah ragu, Rosalynd mendekati ibu Suri dengan kepalanya yang menunduk dalam, lalu berlutut di atas lantai marmer.
"Saya menghadap, Ibu Suri, Permaisuri Agung dan— Yang Mulia Kaisar."
Rosalynd sedikit memicingkan netranya ke arah Kenneth.
"Bangkitlah, Rosalynd. Kau melakukan baik tugasmu," perintah Ibu Suri sembari melirik Kenneth.
"Kenneth, perhatikanlah selir cantikmu ini. Sayang sekali, kau semalam bertindak terlalu bersemangat sampai meninggalkan bekas luka di wajah cantiknya."
Kenneth melangkah mendekati Rosalynd dan memangkas jarak diantara keduanya.
"Saya hanya mengambil apa yang menjadi hak saya, Ibu Suri," balas Kenneth dengan suara baritonnya yang berat.
Tangan kiri yang terbungkus perban itu perlahan mengangkat dagu Rosalynd untuk menatap wajahnya.
Dengan pelan tapi pasti, jarak mereka seolah hanya hembusan napas saja.
"Oleh karena itu, sebagai hadiah atas malam pertama kita yang luar biasa—" Kenneth kembali menjeda omongannya dengan seringai liciknya yang sempurna ketika netranya melirik ke arah saku gaun Rosalynd dimana Rosalynd menyembunyikan pisau tersebut.
"—aku memutuskan untuk menghadiahkan Paviliun Mawar kepada mu, selir Rosalynd. Mulai siang ini, kau bisa memindahkan seluruh barangmu ke Paviliun itu."
DEG!
Bukan hanya Rosalynd, Cassandra yang berdiri di samping tahta langsung tercekat.
Selama dua tahun menjadi permaisuri, Cassandra bahkan tidak diizinkan memasuki pelatarannya. Sekarang, pria Tiran itu memberikannya cuma-cuma pada Rosalynd.
Ibu Suri pun terlihat terkejut, namun langsung tersenyum sumringah ketika putranya mulai terobsesi dengan klan Shanza.
"Hadiah yang sangat bagus, Kenneth." Puji ibu Suri.
Kenneth tidak mengalihkan pandangannya dari Rosalynd.
"Tentu saja, Ibu Suri. Aku juga sudah menyiapkan sepuluh pelayan baru dari kediaman pribadi untuk melayanimu disana, Rosalynd." ujar Kenneth dengan suara yang sengaja dikeraskan.
Bukannya bahagia, Rosalynd justru merinding mendengarnya. Namun Rosalynd berusaha tetap tenang.
"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Yang Mulia," respon Rosalynd dengan nada suara yang sengaja dibuat bergetar dan memasang wajah polos.
Ibu Suri yang mendengar hal itu puas.
"Bagus. Segera urus kepindahan mu siang ini, Rosalynd. Aku berharap ada kabar baik dari rahimmu."
Kenneth tidak melepaskan cengkeramannya pada dagu Rosalynd. Ibu jari Kaisar yang kasar, perlahan mengusap pinggiran luka memardi pipi Rosalynd.
Tekanannya begitu lembut, namun menyalurkan rasa sakit tersembunyi.
Pria tiran itu sedikit membungkuk, menundukkan kepalanya hingga bibirnya berada tepat di sisi telinga Rosalynd.
Dengan suara yang sangat rendah dan mustahil di dengar oleh Ibu Suri maupun Cassandra, Kenneth membisikkan kalimat ancaman.
"Selamat menikmati kehidupan barumu, Rosalynd. Mari kita lihat, berapa jam kau dapat bertahan hidup sebelum akhirnya kakakmu sendiri yang mengirim teh beracun ke tempat tinggal mu."
Bersambung
Setelah audiensi resmi selesai dan rombongan warga desa Oakhaven melangkah keluar dari Aula Utama dengan perasaan haru serta napas lega, suasana di dalam ruangan megah berangsur-angsur hening kembali. Ketegangan politik yang biasanya menyelimuti batu marmer hitam kian mencair. Kenneth menoleh ke arah istrinya yang masih berdiri anggun di anak tangga tahta lalu merengkuh pinggang wanitanya dari belakang secara posesif. Ia menyandarkan dagunya di bahu Rosalynd, menghirup aroma harum minyak mawar dan lavender yang menyeruak dari rambut sang Permaisuri. "Apakah kau sangat senang bertemu dengan orang-orang dari masa lalu mu, Rosa?" Bisik Kenneth rendah dan serak di dekat telinga istrinya. Rosalynd memiringkan kepalanya dan tersenyum tulus sambil mengusap rahang tegas Kenneth yang menyender di bahunya. "Sangat senang, Tuan. Dulu, ketika saya dikejar oleh pasukan Anda dan merasa seluruh dunia menginginkan kejatuhan saya. Sementara, kakek Hans dan warga Oakhaven adalah orang-orang pertama
Beberapa hari pasca-eksekusi di Lapangan Agung, suasana Kekaisaran Blackwood perlahan membaik menuju kedamaian. Setelah puas bermain dengan anak-anak mereka, Kenneth kembali menjalankan fungsinya yaitu memimpin Blackwood beserta wilayah kekuasaan di bawahnya. Kenneth duduk di tahta utamanya dengan gagah, memancarkan wibawa dingin dan dominasi mutlak. Sedangkan, Rosalynd yang berada di sebelah kanannya duduk anggun di tahta permaisuri. Hari ini, bukanlah sidang untuk menentukan hukuman, melainkan hari menerima suara rakyat dari berbagai wilayah di perbatasan. Sebuah tradisi lama kekasiaran untuk mendengarkan keluh kesah dan hasil bumi warga pasca-pembersihan fraksi pemberontak. "Bawalah rombongan perwakilan desa Oakhaven untuk menghadap!" perintah Caelan tegas. Rosalynd yang mendengar nama Oakhaven tertegun seketika. 'Oakhaven?' Desa itu tak asing untuknya. Di desa itulah, ia pertama kali bersembunyi dari kejaran Kenneth di tengah panasnya konflik yang bergejolak beberapa tahun
Ciuman lembut yang mendarat di bibir Kenneth meluruhkan sisa-sisa dahaga darah yang sempat tersisa dalam dirinya. Pria itu membalas lumayan halus istrinya dengan ketulusan pekat. Seolah sedang menegaskan bahwa badai besar yang mengancam tahta mereka benar-benar luruh ditelan fajar. Ketika Rosalynd menarik diri dengan meninggalkan rona merah tipis di dua pipinya, Kenneth tersenyum tipis. "Ciuman pembuka pagi yang sangat manis, Sayang." Gumam Kenneth serak. Ia mengusap sudut bibir Rosalynd dengan ibu jarinya sebelum berdiri tegak dari tepi peraduan. Rosalynd terkekeh pelan, kemudian menepuk bahu Kenneth lembut. "Pergilah berganti pakaian, Tuan. Bau jubah perang dan sisa udara dingin Lapangan Agung masih menempel pada tubuh Anda. Saya tidak ingin si kembar alergi." Kenneth terkekeh rendah sambil mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. "Baiklah, Permaisuri. Perintah Anda adalah keharusan yang harus saya lakukan!" Setelah Kenneth melangkah ke baju ganti pribadi di balik tirai belu
Suasana lega yang menenangkan menyelimuti peraduan utama Paviliun Mawar setelah dentang lonceng ketiga meredam sepenuhnya. Rosalynd masih duduk, memangku Valerius dan Rosalie di atas selimut empuk. Udara di dalam kamar terasa hangat, berbanding terbalik dengan dinginnya suasana Lapangan Agung tempat eksekusi baru saja dilangsungkan. Pintu ukir yang tebal mendadak terdorong pelan dari luar. Langkah nya mantap, berwibawa, namun masih menyimpan sedikit keletihan terdengar mendekat. Kenneth melangkah masuk dengan jubah kebesarannya. Hawa membunuh yang dingin dan pekat mendadak luntur tak berbekas begitu pandangannya melihat istri dan kedua anak kembarnya. "Tuan—" panggil Rosalynd lembut. Ia memperhatikan Kenneth yang melepaskan sarung pedang naga hitamnya di atas meja kayu Cendana. Kemudian melonggarkan jubah luar yang masih membawa udara dingin dari panggung eksekusi. Valerius yang melihat kedatangan ayahnya seketika melepas genggamannya dari baju Rosalynd. "Daa! Daaa—naik! Daaa!" ser
Denting lonceng tembaga di puncak Menara Hitam bergema berat membelah kabut pagi yang menyelimuti Lapangan Agung Kekaisaran Blackwood. Suara itu menjadi pertanda dimulainya pengadilan terbuka, sebuah panggung penghakiman terakhir bagi para pengkhianat tahta. Ratusan bangsawan dari berbagai klan utama telah berkumpul di tribun kehormatan. Suasana terasa sangat mencekam. Tidak ada satu pun yang berani bersuara keras. Semua pandangan tertuju pada panggung ekseskusi di tengah lapangan, tempat tiga tiang kayu tebal dengan rantai besi berat telah disiapkan. Langkah kaki yang mantap berbunyi nyaring ketika Kenneth memasuki podium utama. Ia mengenakan jubah hitam berhiaskan sulaman benang emas serta pedang naga hitam yang menggantung di pinggang nya. "Hormat pada Yang Mulia Kaisar!" seru Caelan memberi komando, seketika membuat seluruh bangsawan membungkuk dalam. Kenneth menduduki tahta di podium tinggi. Manik mata nya menatap dingin ke arah pintu besi penjara bawah tanah yang terbuka den
Suasana di Paviliun Mawar sudah sepenuhnya bersih dari ketegangan politik. Keheningan yang awalnya melingkupi peraduan utama, berganti dengan kehangatan keluarga kecil yang baru saja melewati badai besar. Di atas peraduan luas berlapis katun lembut, Valerius dan Rosalie sudah kembali lincah. Suhu tubuh si kembar telah normal sepenuhnya. Valerius sibuk merangkak menaiki dada Kenneth yang sengaja berbaring terlentang, menepuk belum jubah rumah ayahnya dengan tawa renyah yang menggelar. Sementara itu, Rosalie duduk tenang di pangkuan ibunya. Ia sibuk memainkan helai rambut ibunya sambil bergumam yang tidak jelas. "Lihatlah, Tuan," ujar Rosalynd sambil mengusap pipi gembul Rosalie yang mulai merona, segar kembali. "Ekspresi mereka malam ini jauh lebih tenang. Keputusan Anda untuk tidak menumpahkan darah di hadapan mereka tadi pagi adalah pilihan yang bijak." Kenneth terkekeh rendah, membiarkan Valerius menduduki perutnya dan menepuk pelan punggung jagoan kecilnya supaya tidak terjatuh
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem
Pintu tersembunyi di balik lemari kayu ek berderit pelan. Jantung Rosalynd berdegup kencang, tangannya spontan menarik sisa robekan gaun untuk menutupi tubuhnya.Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa detik keluarlah wanita berpakaian pelayan sederhana melangkah keluar dengan buru-buru."Nona Rosal
Matahari pagi itu belum sempat menampakkan wujudnya di ufuk timur, namun pintu paviliun obsidian sudah digedor dengan sangat berwibawa."Perhatian, selir Rosalynd. Ibu Suri dan Permaisuri Agung telah tiba!" seru dayang Martha dari balik pintu kamar.Rosalynd tersentak kaget.Jantungnya berdegup ken
Jarak wajah mereka yang telah menjauh, Kenneth tetap mengunci kedua pergelangan tangan Rosalynd di atas kepala dengan satu tangan besarnya yang kokoh."Ck! Kau pikir aku Sudi menyentuh wanita dari klan Shanza, Rosalynd?" desis Kenneth dengan suara yang mulai merendah.Napas Rosalynd terengah-engah







