เข้าสู่ระบบJarak wajah mereka yang telah menjauh, Kenneth tetap mengunci kedua pergelangan tangan Rosalynd di atas kepala dengan satu tangan besarnya yang kokoh.
"Ck! Kau pikir aku Sudi menyentuh wanita dari klan Shanza, Rosalynd?" desis Kenneth dengan suara yang mulai merendah.
Napas Rosalynd terengah-engah di atas bantal beludru. Tubuhnya mendadak lemas, melunak di bawah tindihan Kenneth sebagai tanda bahwa ia menyerahkan hidupnya pada Kenneth.
Akan tetapi, netra abu-abu Rosalynd menatap netra sang kaisar dengan tatapan lurus tanpa berkedip. Ia menggunakan sisa-sisa keberanian yang ia miliki.
Melihat sorot mata yang menantang di balik kepasrahan yang ditunjukkan Rosalynd, Kenneth terukir tipis di bibirnya.
Pria itu tau persis bagaimana cara merobohkan benteng pertahanan terakhir dari harga diri seorang wanita dari klan Shanza.
SREKKKK!
Tanpa aba-aba, tangan besar Kenneth merobek paksa bagian depan gaun sutra transparan yang dikenakan oleh Rosalynd.
Kain sutra itu robek seketika hingga terbelah menjadi dua dan memperlihatkan bahu serta sebagian dadanya.
"Ah! Jangan, Yang Mulia. Tolong jangan!" pekik Rosalynd spontan.
Suara jeritan Rosalynd yang melengking sangat tinggi lolos begitu saja dari tenggorokannya akibat rasa kaget karena perlakuan kasar Kenneth yang tiba-tiba.
Rosalynd refleks memejamkan matanya erat-erat, meremas sprei di bawahnya dengan kekuatan penuh, meskipun tubuhnya bergetar hebat.
Bukannya melanjutkan tindakan kasarnya setelah merobek pakaian Rosalynd, Kenneth justru menghentikan gerakannya.
Pria tiran itu terkekeh rendah. Kenneth mendekat ke telinga Rosalynd perlahan. Sebuah tawa dingin yang meremehkan.
Kenneth menunduk sedikit dan mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Rosalynd yang berusaha mengatur kembali ritme napasnya.
"Teruskan, Rosalynd," bisik Kenneth dengan nada intimidasi yang sangat kejam.
"Berteriaklah kembali. Teruskan suara-suara ketakutanmu itu sampai semua orang di paviliun ini mendengar dengan jelas." Tambah Kenneth lagi.
Rosalynd tertegun.
Di tengah rasa syoknya yang mendalam. Detik itu juga, otaknya langsung paham maksud busuk di balik perintah sang kaisar.
Ternyata, pria ini sedang menjalankan satu sandiwara besar. Kenneth memang sengaja merobek gaunnya karena Kenneth ingin Rosalynd berteriak supaya siapa pun pelayan istana bahkan mata-mata kiriman dari permaisuri Cassandra salah paham.
Kombinasi suara kain robek diiringi dengan jeritan melengking dari mulut Rosalynd memecah keheningan malam yang terdengar ambigu bagi orang yang menguping.
Orang-orang yang berada di luar kamar itu berspekulasi dan mengira telah terjadi permainan ranjang yang panas.
Menyadari situasi yang cukup pelik, Rosalynd perlahan membuka matanya. Tatapannya sedikit melunak demi keselamatan nyawanya sendiri malam ini.
"Mengapa anda melakukan ini, Yang Mulia?"
Kenneth justru semakin menekan kedua pergelangan tangan Rosalynd lebih dalam.
"Bukankah ini yang klanmu inginkan?"
Rosalynd tak menatap wajah Kenneth.
"Lepas.... Saya mohon, lepaskan Saya, Yang Mulia...."
Pria tiran itu langsung menarik dirinya menjauh. Ia bangkit berdiri ke sisi ranjang dengan napasnya yang memburu.
Ia menatap muak ke Rosalynd yang sudah meringkuk dan berusaha menutupi tubuhnya dengan robekan gaunnya yang tersisa.
Kenneth merapikan piyama hitamnya yang sedikit kusut sebelum akhirnya meraba saku celananya.
Ia mengeluarkan pisau lipat taktisnya yang sangat tajam, kini sudah berada di genggamannya.
Rosalynd tersentak.
"A-apa yang akan anda lakukan dengan pisau itu, Yang Mulia? Apa anda ingin membunuh Saya sekarang?"
Hening.
Tanpa ekspresi, Kenneth menggores telapak tangan kirinya sendiri dengan gerakan cepat.
Darah segar seketika mengucur deras dari luka menganga yang dihasilkan oleh sayatan itu.
"Yang Mulia!" Pekik Rosalynd.
"Diam!" potong Kenneth kejam.
Kenneth berjalan ke ranjang dan mengarahkan telapak tangannya yang terluka, membiarkan cairan pekat itu di atas sprei putih.
"Kenapa anda melukai diri anda sendiri, Yang Mulia?" tanya Rosalynd semakin bingung.
"Sebelum matahari terbit, Ibu Suri akan datang langsung memeriksa kamar kamar ini," desis Kenneth.
"La-lalu, apa hubungannya dengan darah anda, Yang Mulia?" selidik Rosalynd.
"Dengar baik-baik, Rosalynd," Kenneth berbisik sambil mengusapkan bekas darah yang ada di telapak tangan kirinya.
"Sampaikan pada semua orang kalau darah ini adalah darah kesucianmu sendiri!"
Rosalynd membeku.
"Apakah anda ingin Saya membohongi Ibu Suri dan permaisuri Cassandra?"
Kenneth hanya mengangguk.
Setelah menjatuhkan perintah kejam yang mengikat Rosalynd. Kenneth berbalik dan berjalan keluar dari paviliun mewah itu tanpa kembali menoleh ke belakang.
Pintu paviliun berdentum keras. Suara kunci yang diputar memekakkan telinga Rosalynd.
"Bagaimana ini. Apakah aku harus berbohong pada Ibu Suri dan kakak ku sendiri kalau aku sudah tidak suci lagi?"
Kepala Rosalynd kian berkecamuk karena memikirkan apa yang harus ia katakan besok pagi?
Bersambung
Setelah audiensi resmi selesai dan rombongan warga desa Oakhaven melangkah keluar dari Aula Utama dengan perasaan haru serta napas lega, suasana di dalam ruangan megah berangsur-angsur hening kembali. Ketegangan politik yang biasanya menyelimuti batu marmer hitam kian mencair. Kenneth menoleh ke arah istrinya yang masih berdiri anggun di anak tangga tahta lalu merengkuh pinggang wanitanya dari belakang secara posesif. Ia menyandarkan dagunya di bahu Rosalynd, menghirup aroma harum minyak mawar dan lavender yang menyeruak dari rambut sang Permaisuri. "Apakah kau sangat senang bertemu dengan orang-orang dari masa lalu mu, Rosa?" Bisik Kenneth rendah dan serak di dekat telinga istrinya. Rosalynd memiringkan kepalanya dan tersenyum tulus sambil mengusap rahang tegas Kenneth yang menyender di bahunya. "Sangat senang, Tuan. Dulu, ketika saya dikejar oleh pasukan Anda dan merasa seluruh dunia menginginkan kejatuhan saya. Sementara, kakek Hans dan warga Oakhaven adalah orang-orang pertama
Beberapa hari pasca-eksekusi di Lapangan Agung, suasana Kekaisaran Blackwood perlahan membaik menuju kedamaian. Setelah puas bermain dengan anak-anak mereka, Kenneth kembali menjalankan fungsinya yaitu memimpin Blackwood beserta wilayah kekuasaan di bawahnya. Kenneth duduk di tahta utamanya dengan gagah, memancarkan wibawa dingin dan dominasi mutlak. Sedangkan, Rosalynd yang berada di sebelah kanannya duduk anggun di tahta permaisuri. Hari ini, bukanlah sidang untuk menentukan hukuman, melainkan hari menerima suara rakyat dari berbagai wilayah di perbatasan. Sebuah tradisi lama kekasiaran untuk mendengarkan keluh kesah dan hasil bumi warga pasca-pembersihan fraksi pemberontak. "Bawalah rombongan perwakilan desa Oakhaven untuk menghadap!" perintah Caelan tegas. Rosalynd yang mendengar nama Oakhaven tertegun seketika. 'Oakhaven?' Desa itu tak asing untuknya. Di desa itulah, ia pertama kali bersembunyi dari kejaran Kenneth di tengah panasnya konflik yang bergejolak beberapa tahun
Ciuman lembut yang mendarat di bibir Kenneth meluruhkan sisa-sisa dahaga darah yang sempat tersisa dalam dirinya. Pria itu membalas lumayan halus istrinya dengan ketulusan pekat. Seolah sedang menegaskan bahwa badai besar yang mengancam tahta mereka benar-benar luruh ditelan fajar. Ketika Rosalynd menarik diri dengan meninggalkan rona merah tipis di dua pipinya, Kenneth tersenyum tipis. "Ciuman pembuka pagi yang sangat manis, Sayang." Gumam Kenneth serak. Ia mengusap sudut bibir Rosalynd dengan ibu jarinya sebelum berdiri tegak dari tepi peraduan. Rosalynd terkekeh pelan, kemudian menepuk bahu Kenneth lembut. "Pergilah berganti pakaian, Tuan. Bau jubah perang dan sisa udara dingin Lapangan Agung masih menempel pada tubuh Anda. Saya tidak ingin si kembar alergi." Kenneth terkekeh rendah sambil mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. "Baiklah, Permaisuri. Perintah Anda adalah keharusan yang harus saya lakukan!" Setelah Kenneth melangkah ke baju ganti pribadi di balik tirai belu
Suasana lega yang menenangkan menyelimuti peraduan utama Paviliun Mawar setelah dentang lonceng ketiga meredam sepenuhnya. Rosalynd masih duduk, memangku Valerius dan Rosalie di atas selimut empuk. Udara di dalam kamar terasa hangat, berbanding terbalik dengan dinginnya suasana Lapangan Agung tempat eksekusi baru saja dilangsungkan. Pintu ukir yang tebal mendadak terdorong pelan dari luar. Langkah nya mantap, berwibawa, namun masih menyimpan sedikit keletihan terdengar mendekat. Kenneth melangkah masuk dengan jubah kebesarannya. Hawa membunuh yang dingin dan pekat mendadak luntur tak berbekas begitu pandangannya melihat istri dan kedua anak kembarnya. "Tuan—" panggil Rosalynd lembut. Ia memperhatikan Kenneth yang melepaskan sarung pedang naga hitamnya di atas meja kayu Cendana. Kemudian melonggarkan jubah luar yang masih membawa udara dingin dari panggung eksekusi. Valerius yang melihat kedatangan ayahnya seketika melepas genggamannya dari baju Rosalynd. "Daa! Daaa—naik! Daaa!" ser
Denting lonceng tembaga di puncak Menara Hitam bergema berat membelah kabut pagi yang menyelimuti Lapangan Agung Kekaisaran Blackwood. Suara itu menjadi pertanda dimulainya pengadilan terbuka, sebuah panggung penghakiman terakhir bagi para pengkhianat tahta. Ratusan bangsawan dari berbagai klan utama telah berkumpul di tribun kehormatan. Suasana terasa sangat mencekam. Tidak ada satu pun yang berani bersuara keras. Semua pandangan tertuju pada panggung ekseskusi di tengah lapangan, tempat tiga tiang kayu tebal dengan rantai besi berat telah disiapkan. Langkah kaki yang mantap berbunyi nyaring ketika Kenneth memasuki podium utama. Ia mengenakan jubah hitam berhiaskan sulaman benang emas serta pedang naga hitam yang menggantung di pinggang nya. "Hormat pada Yang Mulia Kaisar!" seru Caelan memberi komando, seketika membuat seluruh bangsawan membungkuk dalam. Kenneth menduduki tahta di podium tinggi. Manik mata nya menatap dingin ke arah pintu besi penjara bawah tanah yang terbuka den
Suasana di Paviliun Mawar sudah sepenuhnya bersih dari ketegangan politik. Keheningan yang awalnya melingkupi peraduan utama, berganti dengan kehangatan keluarga kecil yang baru saja melewati badai besar. Di atas peraduan luas berlapis katun lembut, Valerius dan Rosalie sudah kembali lincah. Suhu tubuh si kembar telah normal sepenuhnya. Valerius sibuk merangkak menaiki dada Kenneth yang sengaja berbaring terlentang, menepuk belum jubah rumah ayahnya dengan tawa renyah yang menggelar. Sementara itu, Rosalie duduk tenang di pangkuan ibunya. Ia sibuk memainkan helai rambut ibunya sambil bergumam yang tidak jelas. "Lihatlah, Tuan," ujar Rosalynd sambil mengusap pipi gembul Rosalie yang mulai merona, segar kembali. "Ekspresi mereka malam ini jauh lebih tenang. Keputusan Anda untuk tidak menumpahkan darah di hadapan mereka tadi pagi adalah pilihan yang bijak." Kenneth terkekeh rendah, membiarkan Valerius menduduki perutnya dan menepuk pelan punggung jagoan kecilnya supaya tidak terjatuh
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem
Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak t
Cengkeraman tangan Kaisar Kenneth di dagu Rosalynd terasa begitu kuat sehingga membuat tulang rahangnya linu. Rosalynd mendongak pasrah. Wajah Kenneth terlihat sangat tampan namun tanpa menyisakan rasa belas kasih. Hawa panas yang menguar dari tubuh pria itu seolah mampu mengubah suasana di dala
"Kaisar malam ini akan datang. Bersiaplah dan jangan berani-berani membuat kesalahan jika kau masih ingin hidup dengan tenang.” Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.Seluruh dunianya seolah hancur saat kakaknya sendiri, Permaisuri Cassandra, menyuruhnya untuk tidur dengan suaminya sendiri…Itu







