Share

Bagian 07

last update publish date: 2026-06-04 12:24:33

Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.

Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. 

Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil membawa baki sederhana milik Rosalynd.

"Selamat datang, selir Rosalynd. Saya adalah kepala pelayan di paviliun mawar. Panggil saja dayang Nina," ujar salah satu wanita paruh baya dengan seulas senyum kaku yang dipaksakan.

Sembilan pelayan lain yang sudah berjejer rapi di depan aula membungkuk hormat, namun pandangan mereka begitu dingin.

Rosalynd tersenyum.

"Terima kasih atas sambutan kalian. Kalau begitu, tolong bantu saya untuk menata barang-barang di kamar utama." pinta Rosalynd.

"Tentu saja, Selir Rosalynd. Itu memang sudah menjadi tugas kami untuk memastikan Anda tidak kekurangan apa pun," respon dayang Nina.

Begitu para pelayan baru sibuk memindahkan dan menata barang, Rosalynd bergegas menarik Lily ke sudut ruangan dan tatapan matanya berubah tajam sekejap.

"Mulai detik ini, jangan pernah membicarakan apapun tentang klan Shanza di sini. Mengerti, Lily?" perintah Rosalynd dengan nada yang sangat rendah, namun sarat dengan tekanan.

"Saya mengerti, Nona," jawab Lily dengan bibir gemetar.

"Akan tetapi, sepertinya sepuluh pelayan itu memandang ke arah kita sejak tadi, Nona. Rasanya sesak sekali." gumam Lily lagi.

"Jangan heran, mereka memang mata-mata Kaisar." jawab Rosalynd sembari meraba pisau lipat yang masih tersimpan di balik gaunnya.

"Kita harus tetap tenang, Lily. Jika kita panik, Yang Mulia Permaisuri akan mengira kita benar-benar berkhianat." Tegas Rosalynd lagi.

***

Tak terasa, sudah menunjukkan pukul 15.00. 

Setelah mengurus pindahan kediaman, Rosalynd menyempatkan mandi sebelum mengunjungi taman.

Tak lama, Rosalynd menuju taman belakang dan ia memilih berdiri di samping pancuran.

"Bagaimana tempat tinggal mu, Rosalynd? Apakah mawar-mawar disini cukup menyambut mu dengan baik?" Tanya Kenneth dengan suara baritonnya yang berat dan santai.

Pria Tiran itu tak lagi mengenakan jubah kebesarannya, melainkan kemeja kasual warna hitam dengan beberapa kancing atas dibiarkan terbuka.

Tangan kanannya yang terbalut perban putih tampak kontras dengan pakaian gelapnya.

Menyadari kedatangannya, Rosalynd memberi hormat formal anggun.

"Paviliun ini sangat indah, Yang Mulia. Saya sangat berterimakasih atas kemurahan hati Anda." Jawab Rosalynd.

Kenneth terkekeh pelan.

"Tak perlu berkata manis disini. Tak ada ibu suri atau kakakmu yang sedang memperhatikan kita." 

Kenneth berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi tanaman hias.

Rosalynd pun bangkit, lalu dengan susah payah ia berusaha mengikuti langkah besar Kaisar.

"Saya sedang tidak bersandiwara, Yang Mulia. Saya hanya mencoba untuk menikmati umpan yang Anda berikan dengan baik." terang Rosalynd berani.

Kenneth langsung berhenti mendadak dan membuat Rosalynd hampir saja menabrak punggung Kaisar yang lebar.

"Kau memiliki keberanian yang unik untuk seorang wanita dari klan Shanza." Balas Kenneth sambil menyeringai tipis.

"Sebagian orang akan gemetar ketakutan jika berada di dekatku sedekat ini."

"Jika Saya terus merasa takut, bagaimana mungkin Saya akan bertahan di istana ini, Yang Mulia? Lagipula, Anda sendiri yang mengatakan bahwa sekarang kita adalah rekan dalam dusta malam pertama ini, bukan?" Jawab Rosalynd dengan nada yang sedikit menantang.

Kenneth terkekeh rendah. Tawa yang terdengar berbahaya namun entah mengapa terdengar sangat menawan di telinga Rosalynd.

Pria itu kembali melangkah, menuntun Rosalynd berjalan ke arah jembatan kayu kecil di atas kolam ikan.

"Rekan? Aku tidak pernah mempercayai ular sepertimu, Rosalynd." Desis Kenneth tajam tanpa mengalihkan pandangannya dari kolam.

"Dan Saya akan membuktikan bahwa Saya adalah ular yang sangat berguna untuk anda. Selama anda tidak memenggal kepala Saya," sahut Rosalynd dengan penuh keyakinan. 

Kenneth menoleh mendengar jawaban itu dari Rosalynd. Wajah polos yang di hadapan nya kini diterpa cahaya jingga matahari senja.

Untuk pertama kalinya, hati sang kaisar berdebar. Namun, ia dengan segera menormalkan kembali detak jantungnya.

"Kalau begitu, simpan pisau itu dengan baik ular kecil," bisik Kenneth di telinga Rosalynd.

"Kita lihat seberapa bergunanya kau besok pagi." Lanjutnya.

Rosalynd kembali bingung.

Belum sempat ia mencerna kebingungannya, Kenneth mendekatkan wajahnya pada Rosalynd. 

Tanpa aba-aba, Kenneth mencium Rosalynd dengan intens. 

Di tengah-tengah ciumannya, Kenneth berbisik. 

"Balas ciuman ini, karena di sebelah kanan ada pelayan yang sedari tadi mengawasi kita. Aku tidak ingin menjadi berita lagi besok. Dan panggil aku "Tuan" jika kita hanya berdua saja. Mengerti!"

Dengan cepat, Rosalynd mengangguk kemudian membalas ciuman itu. Sambil ujung netranya kembali menelisik dimana pelayan itu sedang berdiri.

Setelah tiga menit berciuman, kaisar Kenneth menyudahi ciuman itu. Ia segera bergegas meninggalkan taman dan meninggalkan Rosalynd sendiri dalam kebingungannya. 

Setelah Kenneth meninggalkan Rosalynd sendirian di taman, ada suara batang kayu yang berbunyi sangat nyaring seperti telah diinjak oleh seseorang.

"Siapa disana."

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 262

    Setelah audiensi resmi selesai dan rombongan warga desa Oakhaven melangkah keluar dari Aula Utama dengan perasaan haru serta napas lega, suasana di dalam ruangan megah berangsur-angsur hening kembali. Ketegangan politik yang biasanya menyelimuti batu marmer hitam kian mencair. Kenneth menoleh ke arah istrinya yang masih berdiri anggun di anak tangga tahta lalu merengkuh pinggang wanitanya dari belakang secara posesif. Ia menyandarkan dagunya di bahu Rosalynd, menghirup aroma harum minyak mawar dan lavender yang menyeruak dari rambut sang Permaisuri. "Apakah kau sangat senang bertemu dengan orang-orang dari masa lalu mu, Rosa?" Bisik Kenneth rendah dan serak di dekat telinga istrinya. Rosalynd memiringkan kepalanya dan tersenyum tulus sambil mengusap rahang tegas Kenneth yang menyender di bahunya. "Sangat senang, Tuan. Dulu, ketika saya dikejar oleh pasukan Anda dan merasa seluruh dunia menginginkan kejatuhan saya. Sementara, kakek Hans dan warga Oakhaven adalah orang-orang pertama

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 261

    Beberapa hari pasca-eksekusi di Lapangan Agung, suasana Kekaisaran Blackwood perlahan membaik menuju kedamaian. Setelah puas bermain dengan anak-anak mereka, Kenneth kembali menjalankan fungsinya yaitu memimpin Blackwood beserta wilayah kekuasaan di bawahnya. Kenneth duduk di tahta utamanya dengan gagah, memancarkan wibawa dingin dan dominasi mutlak. Sedangkan, Rosalynd yang berada di sebelah kanannya duduk anggun di tahta permaisuri. Hari ini, bukanlah sidang untuk menentukan hukuman, melainkan hari menerima suara rakyat dari berbagai wilayah di perbatasan. Sebuah tradisi lama kekasiaran untuk mendengarkan keluh kesah dan hasil bumi warga pasca-pembersihan fraksi pemberontak. "Bawalah rombongan perwakilan desa Oakhaven untuk menghadap!" perintah Caelan tegas. Rosalynd yang mendengar nama Oakhaven tertegun seketika. 'Oakhaven?' Desa itu tak asing untuknya. Di desa itulah, ia pertama kali bersembunyi dari kejaran Kenneth di tengah panasnya konflik yang bergejolak beberapa tahun

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 260

    Ciuman lembut yang mendarat di bibir Kenneth meluruhkan sisa-sisa dahaga darah yang sempat tersisa dalam dirinya. Pria itu membalas lumayan halus istrinya dengan ketulusan pekat. Seolah sedang menegaskan bahwa badai besar yang mengancam tahta mereka benar-benar luruh ditelan fajar. Ketika Rosalynd menarik diri dengan meninggalkan rona merah tipis di dua pipinya, Kenneth tersenyum tipis. "Ciuman pembuka pagi yang sangat manis, Sayang." Gumam Kenneth serak. Ia mengusap sudut bibir Rosalynd dengan ibu jarinya sebelum berdiri tegak dari tepi peraduan. Rosalynd terkekeh pelan, kemudian menepuk bahu Kenneth lembut. "Pergilah berganti pakaian, Tuan. Bau jubah perang dan sisa udara dingin Lapangan Agung masih menempel pada tubuh Anda. Saya tidak ingin si kembar alergi." Kenneth terkekeh rendah sambil mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. "Baiklah, Permaisuri. Perintah Anda adalah keharusan yang harus saya lakukan!" Setelah Kenneth melangkah ke baju ganti pribadi di balik tirai belu

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 259

    Suasana lega yang menenangkan menyelimuti peraduan utama Paviliun Mawar setelah dentang lonceng ketiga meredam sepenuhnya. Rosalynd masih duduk, memangku Valerius dan Rosalie di atas selimut empuk. Udara di dalam kamar terasa hangat, berbanding terbalik dengan dinginnya suasana Lapangan Agung tempat eksekusi baru saja dilangsungkan. Pintu ukir yang tebal mendadak terdorong pelan dari luar. Langkah nya mantap, berwibawa, namun masih menyimpan sedikit keletihan terdengar mendekat. Kenneth melangkah masuk dengan jubah kebesarannya. Hawa membunuh yang dingin dan pekat mendadak luntur tak berbekas begitu pandangannya melihat istri dan kedua anak kembarnya. "Tuan—" panggil Rosalynd lembut. Ia memperhatikan Kenneth yang melepaskan sarung pedang naga hitamnya di atas meja kayu Cendana. Kemudian melonggarkan jubah luar yang masih membawa udara dingin dari panggung eksekusi. Valerius yang melihat kedatangan ayahnya seketika melepas genggamannya dari baju Rosalynd. "Daa! Daaa—naik! Daaa!" ser

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 258

    Denting lonceng tembaga di puncak Menara Hitam bergema berat membelah kabut pagi yang menyelimuti Lapangan Agung Kekaisaran Blackwood. Suara itu menjadi pertanda dimulainya pengadilan terbuka, sebuah panggung penghakiman terakhir bagi para pengkhianat tahta. Ratusan bangsawan dari berbagai klan utama telah berkumpul di tribun kehormatan. Suasana terasa sangat mencekam. Tidak ada satu pun yang berani bersuara keras. Semua pandangan tertuju pada panggung ekseskusi di tengah lapangan, tempat tiga tiang kayu tebal dengan rantai besi berat telah disiapkan. Langkah kaki yang mantap berbunyi nyaring ketika Kenneth memasuki podium utama. Ia mengenakan jubah hitam berhiaskan sulaman benang emas serta pedang naga hitam yang menggantung di pinggang nya. "Hormat pada Yang Mulia Kaisar!" seru Caelan memberi komando, seketika membuat seluruh bangsawan membungkuk dalam. Kenneth menduduki tahta di podium tinggi. Manik mata nya menatap dingin ke arah pintu besi penjara bawah tanah yang terbuka den

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 257

    Suasana di Paviliun Mawar sudah sepenuhnya bersih dari ketegangan politik. Keheningan yang awalnya melingkupi peraduan utama, berganti dengan kehangatan keluarga kecil yang baru saja melewati badai besar. Di atas peraduan luas berlapis katun lembut, Valerius dan Rosalie sudah kembali lincah. Suhu tubuh si kembar telah normal sepenuhnya. Valerius sibuk merangkak menaiki dada Kenneth yang sengaja berbaring terlentang, menepuk belum jubah rumah ayahnya dengan tawa renyah yang menggelar. Sementara itu, Rosalie duduk tenang di pangkuan ibunya. Ia sibuk memainkan helai rambut ibunya sambil bergumam yang tidak jelas. "Lihatlah, Tuan," ujar Rosalynd sambil mengusap pipi gembul Rosalie yang mulai merona, segar kembali. "Ekspresi mereka malam ini jauh lebih tenang. Keputusan Anda untuk tidak menumpahkan darah di hadapan mereka tadi pagi adalah pilihan yang bijak." Kenneth terkekeh rendah, membiarkan Valerius menduduki perutnya dan menepuk pelan punggung jagoan kecilnya supaya tidak terjatuh

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 06

    Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak t

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 05

    Pintu tersembunyi di balik lemari kayu ek berderit pelan. Jantung Rosalynd berdegup kencang, tangannya spontan menarik sisa robekan gaun untuk menutupi tubuhnya.Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa detik keluarlah wanita berpakaian pelayan sederhana melangkah keluar dengan buru-buru."Nona Rosal

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 04

    Matahari pagi itu belum sempat menampakkan wujudnya di ufuk timur, namun pintu paviliun obsidian sudah digedor dengan sangat berwibawa."Perhatian, selir Rosalynd. Ibu Suri dan Permaisuri Agung telah tiba!" seru dayang Martha dari balik pintu kamar.Rosalynd tersentak kaget.Jantungnya berdegup ken

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 03

    Jarak wajah mereka yang telah menjauh, Kenneth tetap mengunci kedua pergelangan tangan Rosalynd di atas kepala dengan satu tangan besarnya yang kokoh."Ck! Kau pikir aku Sudi menyentuh wanita dari klan Shanza, Rosalynd?" desis Kenneth dengan suara yang mulai merendah.Napas Rosalynd terengah-engah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status