เข้าสู่ระบบSiang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.
Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun.
Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil membawa baki sederhana milik Rosalynd.
"Selamat datang, selir Rosalynd. Saya adalah kepala pelayan di paviliun mawar. Panggil saja dayang Nina," ujar salah satu wanita paruh baya dengan seulas senyum kaku yang dipaksakan.
Sembilan pelayan lain yang sudah berjejer rapi di depan aula membungkuk hormat, namun pandangan mereka begitu dingin.
Rosalynd tersenyum.
"Terima kasih atas sambutan kalian. Kalau begitu, tolong bantu saya untuk menata barang-barang di kamar utama." pinta Rosalynd.
"Tentu saja, Selir Rosalynd. Itu memang sudah menjadi tugas kami untuk memastikan Anda tidak kekurangan apa pun," respon dayang Nina.
Begitu para pelayan baru sibuk memindahkan dan menata barang, Rosalynd bergegas menarik Lily ke sudut ruangan dan tatapan matanya berubah tajam sekejap.
"Mulai detik ini, jangan pernah membicarakan apapun tentang klan Shanza di sini. Mengerti, Lily?" perintah Rosalynd dengan nada yang sangat rendah, namun sarat dengan tekanan.
"Saya mengerti, Nona," jawab Lily dengan bibir gemetar.
"Akan tetapi, sepertinya sepuluh pelayan itu memandang ke arah kita sejak tadi, Nona. Rasanya sesak sekali." gumam Lily lagi.
"Jangan heran, mereka memang mata-mata Kaisar." jawab Rosalynd sembari meraba pisau lipat yang masih tersimpan di balik gaunnya.
"Kita harus tetap tenang, Lily. Jika kita panik, Yang Mulia Permaisuri akan mengira kita benar-benar berkhianat." Tegas Rosalynd lagi.
***
Tak terasa, sudah menunjukkan pukul 15.00.
Setelah mengurus pindahan kediaman, Rosalynd menyempatkan mandi sebelum mengunjungi taman.
Tak lama, Rosalynd menuju taman belakang dan ia memilih berdiri di samping pancuran.
"Bagaimana tempat tinggal mu, Rosalynd? Apakah mawar-mawar disini cukup menyambut mu dengan baik?" Tanya Kenneth dengan suara baritonnya yang berat dan santai.
Pria Tiran itu tak lagi mengenakan jubah kebesarannya, melainkan kemeja kasual warna hitam dengan beberapa kancing atas dibiarkan terbuka.
Tangan kanannya yang terbalut perban putih tampak kontras dengan pakaian gelapnya.
Menyadari kedatangannya, Rosalynd memberi hormat formal anggun.
"Paviliun ini sangat indah, Yang Mulia. Saya sangat berterimakasih atas kemurahan hati Anda." Jawab Rosalynd.
Kenneth terkekeh pelan.
"Tak perlu berkata manis disini. Tak ada ibu suri atau kakakmu yang sedang memperhatikan kita."
Kenneth berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi tanaman hias.
Rosalynd pun bangkit, lalu dengan susah payah ia berusaha mengikuti langkah besar Kaisar.
"Saya sedang tidak bersandiwara, Yang Mulia. Saya hanya mencoba untuk menikmati umpan yang Anda berikan dengan baik." terang Rosalynd berani.
Kenneth langsung berhenti mendadak dan membuat Rosalynd hampir saja menabrak punggung Kaisar yang lebar.
"Kau memiliki keberanian yang unik untuk seorang wanita dari klan Shanza." Balas Kenneth sambil menyeringai tipis.
"Sebagian orang akan gemetar ketakutan jika berada di dekatku sedekat ini."
"Jika Saya terus merasa takut, bagaimana mungkin Saya akan bertahan di istana ini, Yang Mulia? Lagipula, Anda sendiri yang mengatakan bahwa sekarang kita adalah rekan dalam dusta malam pertama ini, bukan?" Jawab Rosalynd dengan nada yang sedikit menantang.
Kenneth terkekeh rendah. Tawa yang terdengar berbahaya namun entah mengapa terdengar sangat menawan di telinga Rosalynd.
Pria itu kembali melangkah, menuntun Rosalynd berjalan ke arah jembatan kayu kecil di atas kolam ikan.
"Rekan? Aku tidak pernah mempercayai ular sepertimu, Rosalynd." Desis Kenneth tajam tanpa mengalihkan pandangannya dari kolam.
"Dan Saya akan membuktikan bahwa Saya adalah ular yang sangat berguna untuk anda. Selama anda tidak memenggal kepala Saya," sahut Rosalynd dengan penuh keyakinan.
Kenneth menoleh mendengar jawaban itu dari Rosalynd. Wajah polos yang di hadapan nya kini diterpa cahaya jingga matahari senja.
Untuk pertama kalinya, hati sang kaisar berdebar. Namun, ia dengan segera menormalkan kembali detak jantungnya.
"Kalau begitu, simpan pisau itu dengan baik ular kecil," bisik Kenneth di telinga Rosalynd.
"Kita lihat seberapa bergunanya kau besok pagi." Lanjutnya.
Rosalynd kembali bingung.
Belum sempat ia mencerna kebingungannya, Kenneth mendekatkan wajahnya pada Rosalynd.
Tanpa aba-aba, Kenneth mencium Rosalynd dengan intens.
Di tengah-tengah ciumannya, Kenneth berbisik.
"Balas ciuman ini, karena di sebelah kanan ada pelayan yang sedari tadi mengawasi kita. Aku tidak ingin menjadi berita lagi besok. Dan panggil aku "Tuan" jika kita hanya berdua saja. Mengerti!"
Dengan cepat, Rosalynd mengangguk kemudian membalas ciuman itu. Sambil ujung netranya kembali menelisik dimana pelayan itu sedang berdiri.
Setelah tiga menit berciuman, kaisar Kenneth menyudahi ciuman itu. Ia segera bergegas meninggalkan taman dan meninggalkan Rosalynd sendiri dalam kebingungannya.
Setelah Kenneth meninggalkan Rosalynd sendirian di taman, ada suara batang kayu yang berbunyi sangat nyaring seperti telah diinjak oleh seseorang.
"Siapa disana."
Bersambung
Cahaya keemasan matahari pagi menyusup melalui celah tirai sutra Paviliun Mawar. Kenneth terbangun lebih dulu. Pria itu menyandarkan kepalanya pada siku tangannya, kemudian menatap lekat wajah anggun Rosalynd yang masih nyenyak di dekapan nya. Senyum miring yang sangat hangat terukir di bibirnya ketika kenangan manis semalam kembali terlintas di kepala nya. Jemari Kenneth yang usil mulai memainkan anak rambut yang menutupi dahi cantik istrinya. Kemudian memberikan kecupan hangat. "Selamat pagi, Permaisuri ku," bisik Kenneth sangat pelan di dekat telinga Rosalynd. Rosalynd menggeliat pelan. Lengannya spontan memeluk Kenneth lebih kuat sebelum mengerjapkan netranya perlahan. "Emthhhhh. Selamat pagi, Tuan." gumamnya dengan suara khas bangun tidur. Kenneth terkekeh. Ia mencondongkan badan untuk mengecup bibir manis istrinya. Namun, belum sempat bibir mereka menyatu, suara riuh celoteh pecah dari arah boks bayi. "Abbooo! Ba- Ba-Ba!" "Gaa-gaaa-gaaaa! Hihihi!" Rupanya, Valerius dan
Suasana malam tenang di atas Istana Utama Kekaisaran Blackwood. Riuh tawa, jeritan bahagia, dan celotehan kecil yang sepanjang hari memadati setiap sudut Paviliun Mawar perlahan berhenti menjadi keheningan yang syahdu. Hembusan angin yang pelan, membawa aroma mawar yang sedang bermekaran indah di taman bawah. Di kamar tidur utama yang hangat, Valerius dan Rosalie sudah terlelap di dalam boks bayi ukiran perak mereka. Kenneth keluar pelan menuju balkon peraduan Utama. Pria gagah itu telah menanggalkan seluruh atribut Kekaisaran nya. Yang tersisa hanya celana kain hitam dan kaus putih longgar. Di tangannya, ia membawa dua cangkir teh herbal yang masih mengeluarkan asap ke udara. Rosalynd sedang berdiri bersandar pada pagar pembatas balkon dan membiarkan rambutnya terurai indah diterpa angin malam. Manik matanya menatap pendar bintang yang bertebaran di langit Kekaisaran. "Anak-anak sudah benar-benar tidur, Sayang?" selidik Kenneth lembut sambil menyerahkan salah satu cangkir pada i
Tak terasa, lima bulan berlalu sejak sepasang penguasa Blackwood itu menikmati kehangatan sore di rumah kaca. Paviliun Mawar kini diwarnai dengan suara tawa dan celotehan-celotehan mungil yang tak pernah berhenti. Valerius dan Rosalie telah tumbuh menjadi sepasang bayi berusia lima bulan yang sangat menggemaskan, aktif berguling dan mulai memperlihatkan kepribadian unik mereka masing-masing. Di atas karpet bulu tebal di ruangan tengah, Kenneth terlihat duduk dikelilingi oleh beberapa berkas penting. Namun, fokusnya bukan pada dokumen di tangannya, melainkan fokusnya pada dua sosok mungil di hadapannya. Rosalie sedang asik menepuk-nepuk lutut kekar Kenneth sambil mengeluarkan celotehan yang tak berarti, sedangkan sang kakak Valerius sibuk merangkak pelan mendekati Rosalynd. "Emth Tuan. Kalau misalkan Anda terus bekerja sambil memangku putriku, pekerjaan itu tidak pernah selesai," tegur Rosalynd sambil melipat pakaian bayi. Kenneth mendongak, kemudian mengusap pelan puncak kepala
Asap tipis yang menguar dari air hangat di kamar mandi perlahan menghilang ketika pintunya kembali terbuka. Kenneth keluar dengan celana panjang dan kemeja putih longgar yang kedua kancing atasnya sengaja dibiarkan terbuka. Hal itu membuat dada bidang Kenneth terlihat.Manik mata merah gelapnya langsung tertuju pada Rosalynd yang sedang duduk santai di sofa sambil menyisir rambutnya yang bergelombang."Jadi— Kau berani menggodaku soal malam itu, Sayang?" Kenneth melangkah mendekat dengan senyum miring yang penuh intrik. Langkahnya tegap tanpa suara seketika mengurung Rosalynd di sofa.Rosalynd yang sedang memegang sisir seketika menghentikan aktivitasnya. Wanita itu mendongak dan mendapati jarak wajah suaminya yang kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya."A—anak-anak sedang tidur di boks nya, Tuan." cicit Rosalynd pelan, ia mendadak gugup melihat binar godaan di netra Kenneth.Kenneth merendahkan tubuhnya, menumpukan kedua lengan kekarnya di sandaran sofa, tepat di kanan-kir
Pintu kamar mandi tertutup rapat menyisakan suara gemericik air yang samar-samar terdengar dari balik pintu.Kenneth yang masih terduduk di tepi peraduan menghela napas panjang sambil merapikan kemejanya yang agak kusut. Namun, ketenangan yang ia harapkan pupus.OEKKKK! OEKKKK!Rosalie tiba-tiba terbangun dan mulai menangis. Lengkingan putri kecil itu seketika memicu Valerius di sebelahnya untuk ikut menyuarakan protes yang tak kalah nyaring. Kedua bayi kembar itu saling bersahut-sahutan dan memecah ketenangan peraduan Paviliun Mawar pagi-pagi buta.Kenneth tersentak kaget. Sang Tiran melompat berdiri seolah baru saja mendengar dentuman meriam perang musuh."Hei! Hei! Kenapa terbangun bersamaan seperti ini?!" gumam Kenneth panik setengah mati sambil menghampiri boks bayi."Sayang! Anak-anak mu bangun bersamaan!" pekik Kenneth sedikit kencang ke arah pintu kamar mandi "Tuan! Saya baru saja bilas badan! Tolong, jaga sebentar. Itu anak anak Anda juga!" sahut Rosalynd dari dalam kamar ma
Dua minggu sejak hari Upacara Pengenalan di aula Utama. Kehidupan di paviliun Mawar bergulir dengan irama baru yang jauh lebih hangat. Meskipun kerap diwarnai oleh drama-drama kecil di pagi hari.Rosalynd yang fisiknya telah berangsur pulih, kini sibuk bolak-balik di sekitar ranjang peraduan. Di lengan kirinya, Valerius sibuk merengek meminta susu, sementara tangan kanannya menepuk pelan tempat tidur Rosalie menggeliat pelan."Anak pintar. Sebentar ya, Jagoan." bisik Rosalynd sangat halus sambil memfokuskan seluruh perhatian nya pada si kembar.Sementara Rosalynd masih sibuk dengan anak-anaknya, Kenneth duduk bersedekap. Manik mata yang tajam milik Kenneth menatap lurus ke arah istrinya dengan alis bertaut kencang dan bibir yang ditekuk tipis."Rosalynd," panggil Kenneth dengan suara berat yang memang sengaja diberatkan."Hemth? Ada apa Tuan? Ah sebelumnya, bisakah Anda ambilkan kain bedong bersih di atas meja?" jawab Rosalynd cepat tanpa berpaling sedikit pun dari Valerius.Kenneth m
Matahari pagi itu belum sempat menampakkan wujudnya di ufuk timur, namun pintu paviliun obsidian sudah digedor dengan sangat berwibawa."Perhatian, selir Rosalynd. Ibu Suri dan Permaisuri Agung telah tiba!" seru dayang Martha dari balik pintu kamar.Rosalynd tersentak kaget.Jantungnya berdegup ken
Jarak wajah mereka yang telah menjauh, Kenneth tetap mengunci kedua pergelangan tangan Rosalynd di atas kepala dengan satu tangan besarnya yang kokoh."Ck! Kau pikir aku Sudi menyentuh wanita dari klan Shanza, Rosalynd?" desis Kenneth dengan suara yang mulai merendah.Napas Rosalynd terengah-engah
Cengkeraman tangan Kaisar Kenneth di dagu Rosalynd terasa begitu kuat sehingga membuat tulang rahangnya linu. Rosalynd mendongak pasrah. Wajah Kenneth terlihat sangat tampan namun tanpa menyisakan rasa belas kasih. Hawa panas yang menguar dari tubuh pria itu seolah mampu mengubah suasana di dala
"Kaisar malam ini akan datang. Bersiaplah dan jangan berani-berani membuat kesalahan jika kau masih ingin hidup dengan tenang.” Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.Seluruh dunianya seolah hancur saat kakaknya sendiri, Permaisuri Cassandra, menyuruhnya untuk tidur dengan suaminya sendiri…Itu







