LOGINMatahari pagi itu belum sempat menampakkan wujudnya di ufuk timur, namun pintu paviliun obsidian sudah digedor dengan sangat berwibawa.
"Perhatian, selir Rosalynd. Ibu Suri dan Permaisuri Agung telah tiba!" seru dayang Martha dari balik pintu kamar.
Rosalynd tersentak kaget.
Jantungnya berdegup kencang dan melirik sprei putih yang sudah terkena noda merah darah kaisar yang sudah mengering.
Karena tak ada jawaban dari dalam, pintu dibuka paksa menggunakan kunci master yang dibawa oleh dayang Martha.
Langkah kaki anggun namun masih membawa wibawa tegas yang dipimpin Ibu Suri, diikuti dengan permaisuri Cassandra yang menatap dingin sekaligus cemas ke arah Rosalynd.
"Bagaimana malam pertama mu, Rosalynd?" selidik ibu Suri langsung tanpa basa-basi.
Pandangannya langsung tertuju pada ranjang.
Rosalynd menunduk, tangannya meremas sisa gaun sutranya yang sudah tidak karuan.
"Saya—Saya telah melaksanakan kewajiban Saya, Ibu Suri."
"Rosalynd! Mengapa pakaianmu tak beraturan seperti itu?" potong Cassandra cepat.
"Ka—kaisar... Kaisar Kenneth yang melakukannya, karena beliau terlalu bersemangat malam ini, Permaisuri," sahut Rosalynd yang sengaja memasang wajah polos terintimidasi.
Akan tetapi, reaksi Ibu Suri berbeda. Tangannya mengisyaratkan dua dayang senior mendekati ranjang, menarik selimut dan memeriksa bercak darah di atas sprei putih.
"Bagaimana?" tanya Ibu Suri dingin.
Para dayang yang ditugaskan memeriksa pun mengangguk.
Cassandra tak berkutik.
"Apa—apa benar itu darah mu?"
Ibu Suri tersenyum tipis.
Senyum itu menunjukkan kepuasan langka yang muncul di wajah sedikit keriputnya.
"Bagus. Akhirnya aku tidak sia-sia menikahkan putraku dengan klan Shanza. Mulai sekarang, kau telah resmi menjadi wanita milik kaisar sekarang, selir Rosalynd."
Rosalynd bingung.
Ia tidak mengerti harus berekspresi bagaimana.
"Terima kasih atas pujian anda, Ibu Suri." respon Rosalynd pelan. Ia berusaha menekan seluruh rasa gemetarnya.
Suasana mendadak hening. Rosalynd tidak tau harus membuka percakapan bagaimana.
Sedetik kemudian.
"Mari, kita tinggalkan paviliun ini. Berikan waktu bagi selir Rosalynd untuk istirahat!" perintah ibu Suri sembari berbalik arah.
Akan tetapi, Cassandra tidak ikut melangkah pergi. Begitu Ibu Suri serta para dayang meninggalkan kamar Rosalynd, Cassandra langsung mendekati dan mencengkeram bahu Rosalynd kuat.
"Jujurlah padaku, Rosalynd! Posisiku sekarang bukan permaisuri, melainkan kakakmu!" Bentak Cassandra dengan suaranya yang tertahan, agar emosinya tak terdengar dari luar.
"Apa benar, Kenneth menyentuhmu?!"
Rosalynd mendongak. Ia menatap manik mata kakaknya yang sudah dipenuhi rasa ketakutan yang membuncah.
"Bukankah kakak sendiri yang melihat buktinya di atas sprei itu?"
"Jangan membual! Aku sangat paham betul bagaimana sifat suamiku! Dia sangat membenci klan kita, Rosalynd!"
"Namun, semalam beliau tidak sedingin itu pada Saya, Yang Mulia Permaisuri," tantang Rosalynd dengan nada yang sengaja dibuat angkuh.
"Kau—" Cassandra menatap gaun Rosalynd yang memang sudah tak beraturan.
"Dia memperkosa mu? Suara jeritanmu semalam terdengar sampai depan!"
Mendengar hal itu, Rosalynd tersenyum simpul. Sandiwara suara keras yang dibuat oleh sang Kaisar semalam sukses besar.
"Kaisar hanya mengambil apa yang menjadi hak nya saja. Bukankah Yang Mulia Permaisuri sendiri yang mendorong Saya ke atas ranjang pria Tiran tersebut?" selidik Rosalynd.
"Tutup mulutmu!" Cassandra menampar pipi Rosalynd kuat.
"Apakah dia membisikkan sesuatu padamu?!"
"Beliau tidak bicara banyak, Yang Mulia Permaisuri," bohong Rosalynd dengan wajah yang tanpa ekspresi.
Cassandra berjalan dengan hati yang sangat gelisah dan napas nya memburu.
"I—ini sangat tidak mungkin— kenapa dia bersedia untuk menyentuhmu begitu cepat? Pasti ada sesuatu yang sedang disembunyikan!"
Rosalynd mengeryit.
"Kenapa Yang Mulia terlihat kecewa seperti itu? Bukankah jika Saya berhasil memikat Kaisar, posisi klan Shanza di istana ini akan semakin kuat?"
Rosalynd berusaha membakar kecemburuan Cassandra.
"Kau tidak paham apa-apa, Rosalynd!" Cassandra memekik frustasi.
"Kenneth adalah iblis yang menyamar menjadi malaikat! Jika ia melunak semudah ini, itu artinya dia sedang menyiapkan perangkap yang lebih besar untuk kita!"
Cassandra terdiam sejenak, sampai pada akhirnya Rosalynd kembali menyulut emosinya.
"Lantas, apa yang harus Saya lakukan, Yang Mulia? Menolak Kaisar dan membiarkan kepala Saya terpenggal hari ini?"
Cassandra menarik napas dalam-dalam, kemudian ia menatap tajam adiknya.
"Mulai sekarang, awasi setiap gerak-gerik Kenneth di Paviliun ini. Laporkan padaku apa pun yang ia lakukan, sekecil apapun!"
"Kau punya rahim yang diinginkan oleh Ibu Suri! Gunakan itu sebaik mungkin!"
Cassandra kembali mendekatkan wajahnya dan membisikkan kata-kata penuh ancaman.
"Dan jangan coba-coba mengkhianati ku, Rosalynd. Ingat, siapa yang membawamu masuk ke istana ini!" ancam Cassandra.
"Saya mengerti Yang Mulia Permaisuri," respon Rosalynd dengan sangat tenang. Sambil menundukkan kepalanya dalam kepasrahan palsu.
Cassandra melenggang begitu saja, lalu berbalik melangkah keluar kamar dengan emosi yang masih meluap-luap.
Setelah Cassandra meninggalkan kamarnya, Rosalynd perlahan mengangkat wajahnya.
Rasa pasrah yang ia tunjukkan di hadapan Ibu Suri dan kakaknya terganti dengan tatapan tajam dan dingin.
Netranya beralih menatap noda darah sang Tiran di sprei putih. Kemudian, menatap pintu yang baru saja ditutup.
Di tengah lamunannya, Rosalynd mendengar suara langkah kaki yang berat mendekat dari arah pintu penghubung rahasia di balik lemari paviliun.
Bersambung
Setelah audiensi resmi selesai dan rombongan warga desa Oakhaven melangkah keluar dari Aula Utama dengan perasaan haru serta napas lega, suasana di dalam ruangan megah berangsur-angsur hening kembali. Ketegangan politik yang biasanya menyelimuti batu marmer hitam kian mencair. Kenneth menoleh ke arah istrinya yang masih berdiri anggun di anak tangga tahta lalu merengkuh pinggang wanitanya dari belakang secara posesif. Ia menyandarkan dagunya di bahu Rosalynd, menghirup aroma harum minyak mawar dan lavender yang menyeruak dari rambut sang Permaisuri. "Apakah kau sangat senang bertemu dengan orang-orang dari masa lalu mu, Rosa?" Bisik Kenneth rendah dan serak di dekat telinga istrinya. Rosalynd memiringkan kepalanya dan tersenyum tulus sambil mengusap rahang tegas Kenneth yang menyender di bahunya. "Sangat senang, Tuan. Dulu, ketika saya dikejar oleh pasukan Anda dan merasa seluruh dunia menginginkan kejatuhan saya. Sementara, kakek Hans dan warga Oakhaven adalah orang-orang pertama
Beberapa hari pasca-eksekusi di Lapangan Agung, suasana Kekaisaran Blackwood perlahan membaik menuju kedamaian. Setelah puas bermain dengan anak-anak mereka, Kenneth kembali menjalankan fungsinya yaitu memimpin Blackwood beserta wilayah kekuasaan di bawahnya. Kenneth duduk di tahta utamanya dengan gagah, memancarkan wibawa dingin dan dominasi mutlak. Sedangkan, Rosalynd yang berada di sebelah kanannya duduk anggun di tahta permaisuri. Hari ini, bukanlah sidang untuk menentukan hukuman, melainkan hari menerima suara rakyat dari berbagai wilayah di perbatasan. Sebuah tradisi lama kekasiaran untuk mendengarkan keluh kesah dan hasil bumi warga pasca-pembersihan fraksi pemberontak. "Bawalah rombongan perwakilan desa Oakhaven untuk menghadap!" perintah Caelan tegas. Rosalynd yang mendengar nama Oakhaven tertegun seketika. 'Oakhaven?' Desa itu tak asing untuknya. Di desa itulah, ia pertama kali bersembunyi dari kejaran Kenneth di tengah panasnya konflik yang bergejolak beberapa tahun
Ciuman lembut yang mendarat di bibir Kenneth meluruhkan sisa-sisa dahaga darah yang sempat tersisa dalam dirinya. Pria itu membalas lumayan halus istrinya dengan ketulusan pekat. Seolah sedang menegaskan bahwa badai besar yang mengancam tahta mereka benar-benar luruh ditelan fajar. Ketika Rosalynd menarik diri dengan meninggalkan rona merah tipis di dua pipinya, Kenneth tersenyum tipis. "Ciuman pembuka pagi yang sangat manis, Sayang." Gumam Kenneth serak. Ia mengusap sudut bibir Rosalynd dengan ibu jarinya sebelum berdiri tegak dari tepi peraduan. Rosalynd terkekeh pelan, kemudian menepuk bahu Kenneth lembut. "Pergilah berganti pakaian, Tuan. Bau jubah perang dan sisa udara dingin Lapangan Agung masih menempel pada tubuh Anda. Saya tidak ingin si kembar alergi." Kenneth terkekeh rendah sambil mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. "Baiklah, Permaisuri. Perintah Anda adalah keharusan yang harus saya lakukan!" Setelah Kenneth melangkah ke baju ganti pribadi di balik tirai belu
Suasana lega yang menenangkan menyelimuti peraduan utama Paviliun Mawar setelah dentang lonceng ketiga meredam sepenuhnya. Rosalynd masih duduk, memangku Valerius dan Rosalie di atas selimut empuk. Udara di dalam kamar terasa hangat, berbanding terbalik dengan dinginnya suasana Lapangan Agung tempat eksekusi baru saja dilangsungkan. Pintu ukir yang tebal mendadak terdorong pelan dari luar. Langkah nya mantap, berwibawa, namun masih menyimpan sedikit keletihan terdengar mendekat. Kenneth melangkah masuk dengan jubah kebesarannya. Hawa membunuh yang dingin dan pekat mendadak luntur tak berbekas begitu pandangannya melihat istri dan kedua anak kembarnya. "Tuan—" panggil Rosalynd lembut. Ia memperhatikan Kenneth yang melepaskan sarung pedang naga hitamnya di atas meja kayu Cendana. Kemudian melonggarkan jubah luar yang masih membawa udara dingin dari panggung eksekusi. Valerius yang melihat kedatangan ayahnya seketika melepas genggamannya dari baju Rosalynd. "Daa! Daaa—naik! Daaa!" ser
Denting lonceng tembaga di puncak Menara Hitam bergema berat membelah kabut pagi yang menyelimuti Lapangan Agung Kekaisaran Blackwood. Suara itu menjadi pertanda dimulainya pengadilan terbuka, sebuah panggung penghakiman terakhir bagi para pengkhianat tahta. Ratusan bangsawan dari berbagai klan utama telah berkumpul di tribun kehormatan. Suasana terasa sangat mencekam. Tidak ada satu pun yang berani bersuara keras. Semua pandangan tertuju pada panggung ekseskusi di tengah lapangan, tempat tiga tiang kayu tebal dengan rantai besi berat telah disiapkan. Langkah kaki yang mantap berbunyi nyaring ketika Kenneth memasuki podium utama. Ia mengenakan jubah hitam berhiaskan sulaman benang emas serta pedang naga hitam yang menggantung di pinggang nya. "Hormat pada Yang Mulia Kaisar!" seru Caelan memberi komando, seketika membuat seluruh bangsawan membungkuk dalam. Kenneth menduduki tahta di podium tinggi. Manik mata nya menatap dingin ke arah pintu besi penjara bawah tanah yang terbuka den
Suasana di Paviliun Mawar sudah sepenuhnya bersih dari ketegangan politik. Keheningan yang awalnya melingkupi peraduan utama, berganti dengan kehangatan keluarga kecil yang baru saja melewati badai besar. Di atas peraduan luas berlapis katun lembut, Valerius dan Rosalie sudah kembali lincah. Suhu tubuh si kembar telah normal sepenuhnya. Valerius sibuk merangkak menaiki dada Kenneth yang sengaja berbaring terlentang, menepuk belum jubah rumah ayahnya dengan tawa renyah yang menggelar. Sementara itu, Rosalie duduk tenang di pangkuan ibunya. Ia sibuk memainkan helai rambut ibunya sambil bergumam yang tidak jelas. "Lihatlah, Tuan," ujar Rosalynd sambil mengusap pipi gembul Rosalie yang mulai merona, segar kembali. "Ekspresi mereka malam ini jauh lebih tenang. Keputusan Anda untuk tidak menumpahkan darah di hadapan mereka tadi pagi adalah pilihan yang bijak." Kenneth terkekeh rendah, membiarkan Valerius menduduki perutnya dan menepuk pelan punggung jagoan kecilnya supaya tidak terjatuh
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem
Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak t
Cengkeraman tangan Kaisar Kenneth di dagu Rosalynd terasa begitu kuat sehingga membuat tulang rahangnya linu. Rosalynd mendongak pasrah. Wajah Kenneth terlihat sangat tampan namun tanpa menyisakan rasa belas kasih. Hawa panas yang menguar dari tubuh pria itu seolah mampu mengubah suasana di dala
"Kaisar malam ini akan datang. Bersiaplah dan jangan berani-berani membuat kesalahan jika kau masih ingin hidup dengan tenang.” Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.Seluruh dunianya seolah hancur saat kakaknya sendiri, Permaisuri Cassandra, menyuruhnya untuk tidur dengan suaminya sendiri…Itu







