MasukBrak! Daun pintu pualam Paviliun Utama terkunci rapat, disusul dengan suara denting kunci besi yang diputar dari dalam. Kenneth melangkah lebar melintasi karpet beludru dan membawa tubuh Rosalynd dalam dekapan bridal style nya. Hawa panas yang membakar tubuh Rosalynd telah menguasai aliran darahnya. Kulit pucatnya terlihat merona kemarahan, napasnya memburu cepat dan jemari halusnya tanpa diminta mencengkeram kemeja Kenneth. Ia meronta antara penolakan dan gairah nya yang memuncak karena obat itu. Kenneth menidurkan Rosalynd di atas ranjang. Sang Tiran langsung menindihnya dan mengunci kedua pergelangan tangan Rosalynd di atas kepalanya dengan satu genggaman tangan kekarnya yang tak terelakkan. "Le—lepas. Lepaskan a—aku." pinta Rosalynd parau. Air matanya kini menggenang di pelupuk matanya. "Ka—kau. Kau benar-benar biadab!" Kenneth hanya tersenyum tipis yang sangat kelam. Wajah tampannya mendekat dan merapatkan bibirnya ke pelipis Rosalynd yang telah basah oleh keringat dingin.
Matahari mulai merangkak naik dan mengusir kabut pagi yang menyelimuti Taman Mawar Istana Utama. Rosalynd berdiri anggun ke taman untuk menemui seorang perwira. Begitu jarak suaminya dirasa cukup jauh, Rosalynd segera berbalik badan dan menghampiri pelayan wanita senior yang sedang memangkas beberapa ranting semak di dekat air mancur. Dengan gerakan kilat dan sangat halus. Ia menyelipkan kain sapu tangan berisi sandi rahasia mengenai titik lemah pertahanan logistik Barat ke dalam saku celemek sang pelayan. "Kirimkan sebelum fajar menyingsing," bisik Rosalynd cepat tanpa mengubah raut wajahnya. Namun, hal yang tak pernah dibayangkan oleh Rosalynd adalah dari balik bayangan pilar lengkung taman, pandangan tajam Kenneth sama sekali tidak luput mengamati gerak-gerik nya. Sang Tiran sengaja menghentikan instruksi militernya sejenak ketika netranya yang setajam elang menangkap kain putih yang sudah berpindah tangan. Alih-alih marah besar. Kenneth justru menyunggingkan senyum miring yang
Rosalynd mundur dengan sangat pelan dari balik daun pintu jati ruang kerja kekaisaran. Suara amarah Kenneth dan laporan militer yang dibawakan Sean masih terngiang-ngiang sangat jelas di telinganya. Gadis itu berjalan kembali menyusuri lorong yang temaram Paviliun Utama dengan langkah yang teratur tanpa menimbulkan suara. Senyuman tipis yang penuh dengan dominasi dingin terukir di wajah pucatnya. 'Ah, ternyata Raymond memindahkan seluruh pasukan Utara ke perbatasan Verona. Dan Kenneth lagi menyiagakan batalion Ksatria Hitam,' batin Rosalynd sambil meremas gaunnya erat-erat. Jika dia terus berakting menjadi batu yang keras dan menunjukkan kebencian secara terang-terangan, Kenneth semakin waspada. Sang Tiran pasti akan mengurungnya di dalam penjara emas ini dengan barisan pengawal yang jauh lebih ketat. Akan tetapi, jika ia ingin segera mempercepat bentrokan dua saudara itu. Ia harus membuat Kenneth meluruhkan seluruh pertahanan nya. 'Jangan gegabah, Rosalynd. Sebaiknya tebar
Langkah Rosalynd menyusuri lorong panjang paviliun utama istana Blackwood bergema teratur di atas lantai pualam yang dingin. Suasana megah yang dulu sempat hangat, kini kembali asing dan membeku. Ratusan lilin aromaterapi yang di pasang di sepanjang dinding tembaga memancarkan aroma mawar yang sangat tajam. Aroma itu adalah aroma kesukaan Rosalynd yang sengaja dipesan Kenneth untuk menyambut kepulangan nya. Para pelayan lama yang berjejer di sepanjang lorong menunduk dalam-dalam dengan tubuh yang sedikit gemetar. Beberapa di antaranya tak sanggup menahan rasa haru ketika melihat sang Permaisuri mereka kembali hidup-hidup setelah tragedi di tebing Oakhaven. Namun, rasa haru itu perlahan sirna ketika mereka sedikit mendongak dan melihat aura Rosalynd. Wajah yang dulu dipenuhi dengan senyum dan pendar kehangatan kini mengeras dingin bagai pualam tanpa cela. Tak ada kebahagiaan. "Aku sudah mengganti semua perabotan dan melipatgandakan penjagaan di kamar ini, Rosalynd. Tidak akan ada lag
Darah merah segar itu masih menetes pelan sampai-sampai membasahi ujung kerah mantel tebal yang dikenakan Rosalynd. Napas Kenneth seketika tercekat. Tangan sang Tiran yang biasanya begitu kokoh, kini bergetar hebat ketika meraih sapu tangan sutra dari dalam saku kemejanya. Dengan meruntuhkan keangkuhannya, Kenneth berlutut di atas papan kayu dermaga yang dingin dan menekan kain sutra itu dengan lembut ke leher Rosalynd untuk menghentikan pendarahan. "Tetap diam. Aku mohon, jangan bergerak Rosalynd." bisik Kenneth dengan suara serak yang hampir pecah oleh keputusasaan. Netra nya memerah menatap nanar wajah pucat permatanya di hadapannya. Rosalynd tidak menepis dan ia juga tidak meringis. Gadis itu hanya membiarkan Kenneth untuk mengobatinya dengan netra yang kosong, seolah tubuh yang disentuh pria itu hanyalah patung tanpa nyawa. Sedangkan, dari sudut gang pelabuhan yang remang-remang, Raymond menyaksikan pemandangan tersebut dengan jemarinya yang terkenal erat. Rahangnya menegang
Brak! Genggaman tangan Kenneth sangat kuat sehingga membuat surat perkamen itu sampai hancur. Napas sang Kaisar memburu parah, netranya memerah berkilat panik dan keputusasaan yang luar biasa. Ancaman bunuh diri itu, bukan gertakan main-main. Kenneth paham betul seberapa keras kepalanya wanitanya jika sedang terdesak. Bayang-bayang tubuh Rosalynd yang melompat dari tebing di Oakhaven kembali melukai ingatannya. "Yang Mulia. Bagaimana dengan instruksi armada tempur di perbatasan?" tanya Sean cemas. Ia menjaga jarak karena melihat aura kehancuran tuannya. "Tarik!" desis Kenneth sambil memegangi dadanya yang terasa ngilu. "Tarik seluruh pasukan! Batalkan blokade pelabuhan! Jangan ada satu pun prajurit yang menyentuh warga kota ini!" Sean membelalak kaget. "Ta—Tapi, Yang Mulia, jika Anda menarik pasukan sekarang, Pangeran Raymond bisa saja—" "Aku bilang tarik semuanya, Sean! Jika terjadi sesuatu dengannya di dermaga itu—maka aku sendiri yang akan memenggal kepalamu dan meratakan sel
Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak t
Pintu tersembunyi di balik lemari kayu ek berderit pelan. Jantung Rosalynd berdegup kencang, tangannya spontan menarik sisa robekan gaun untuk menutupi tubuhnya.Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa detik keluarlah wanita berpakaian pelayan sederhana melangkah keluar dengan buru-buru."Nona Rosal
Matahari pagi itu belum sempat menampakkan wujudnya di ufuk timur, namun pintu paviliun obsidian sudah digedor dengan sangat berwibawa."Perhatian, selir Rosalynd. Ibu Suri dan Permaisuri Agung telah tiba!" seru dayang Martha dari balik pintu kamar.Rosalynd tersentak kaget.Jantungnya berdegup ken
Jarak wajah mereka yang telah menjauh, Kenneth tetap mengunci kedua pergelangan tangan Rosalynd di atas kepala dengan satu tangan besarnya yang kokoh."Ck! Kau pikir aku Sudi menyentuh wanita dari klan Shanza, Rosalynd?" desis Kenneth dengan suara yang mulai merendah.Napas Rosalynd terengah-engah







