Partager

Bagian 207

last update Date de publication: 2026-08-21 21:25:12

Rosalynd mundur dengan sangat pelan dari balik daun pintu jati ruang kerja kekaisaran. Suara amarah Kenneth dan laporan militer yang dibawakan Sean masih terngiang-ngiang sangat jelas di telinganya.

Gadis itu berjalan kembali menyusuri lorong yang temaram Paviliun Utama dengan langkah yang teratur tanpa menimbulkan suara. Senyuman tipis yang penuh dengan dominasi dingin terukir di wajah pucatnya.

'Ah, ternyata Raymond memindahkan seluruh pasukan Utara ke perbatasan Verona. Dan Kenneth lag
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 208

    Matahari mulai merangkak naik dan mengusir kabut pagi yang menyelimuti Taman Mawar Istana Utama. Rosalynd berdiri anggun ke taman untuk menemui seorang perwira. Begitu jarak suaminya dirasa cukup jauh, Rosalynd segera berbalik badan dan menghampiri pelayan wanita senior yang sedang memangkas beberapa ranting semak di dekat air mancur. Dengan gerakan kilat dan sangat halus. Ia menyelipkan kain sapu tangan berisi sandi rahasia mengenai titik lemah pertahanan logistik Barat ke dalam saku celemek sang pelayan. "Kirimkan sebelum fajar menyingsing," bisik Rosalynd cepat tanpa mengubah raut wajahnya. Namun, hal yang tak pernah dibayangkan oleh Rosalynd adalah dari balik bayangan pilar lengkung taman, pandangan tajam Kenneth sama sekali tidak luput mengamati gerak-gerik nya. Sang Tiran sengaja menghentikan instruksi militernya sejenak ketika netranya yang setajam elang menangkap kain putih yang sudah berpindah tangan. Alih-alih marah besar. Kenneth justru menyunggingkan senyum miring yang

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 207

    Rosalynd mundur dengan sangat pelan dari balik daun pintu jati ruang kerja kekaisaran. Suara amarah Kenneth dan laporan militer yang dibawakan Sean masih terngiang-ngiang sangat jelas di telinganya. Gadis itu berjalan kembali menyusuri lorong yang temaram Paviliun Utama dengan langkah yang teratur tanpa menimbulkan suara. Senyuman tipis yang penuh dengan dominasi dingin terukir di wajah pucatnya. 'Ah, ternyata Raymond memindahkan seluruh pasukan Utara ke perbatasan Verona. Dan Kenneth lagi menyiagakan batalion Ksatria Hitam,' batin Rosalynd sambil meremas gaunnya erat-erat. Jika dia terus berakting menjadi batu yang keras dan menunjukkan kebencian secara terang-terangan, Kenneth semakin waspada. Sang Tiran pasti akan mengurungnya di dalam penjara emas ini dengan barisan pengawal yang jauh lebih ketat. Akan tetapi, jika ia ingin segera mempercepat bentrokan dua saudara itu. Ia harus membuat Kenneth meluruhkan seluruh pertahanan nya. 'Jangan gegabah, Rosalynd. Sebaiknya tebar

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 206

    Langkah Rosalynd menyusuri lorong panjang paviliun utama istana Blackwood bergema teratur di atas lantai pualam yang dingin. Suasana megah yang dulu sempat hangat, kini kembali asing dan membeku. Ratusan lilin aromaterapi yang di pasang di sepanjang dinding tembaga memancarkan aroma mawar yang sangat tajam. Aroma itu adalah aroma kesukaan Rosalynd yang sengaja dipesan Kenneth untuk menyambut kepulangan nya. Para pelayan lama yang berjejer di sepanjang lorong menunduk dalam-dalam dengan tubuh yang sedikit gemetar. Beberapa di antaranya tak sanggup menahan rasa haru ketika melihat sang Permaisuri mereka kembali hidup-hidup setelah tragedi di tebing Oakhaven. Namun, rasa haru itu perlahan sirna ketika mereka sedikit mendongak dan melihat aura Rosalynd. Wajah yang dulu dipenuhi dengan senyum dan pendar kehangatan kini mengeras dingin bagai pualam tanpa cela. Tak ada kebahagiaan. "Aku sudah mengganti semua perabotan dan melipatgandakan penjagaan di kamar ini, Rosalynd. Tidak akan ada lag

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 205

    Darah merah segar itu masih menetes pelan sampai-sampai membasahi ujung kerah mantel tebal yang dikenakan Rosalynd. Napas Kenneth seketika tercekat. Tangan sang Tiran yang biasanya begitu kokoh, kini bergetar hebat ketika meraih sapu tangan sutra dari dalam saku kemejanya. Dengan meruntuhkan keangkuhannya, Kenneth berlutut di atas papan kayu dermaga yang dingin dan menekan kain sutra itu dengan lembut ke leher Rosalynd untuk menghentikan pendarahan. "Tetap diam. Aku mohon, jangan bergerak Rosalynd." bisik Kenneth dengan suara serak yang hampir pecah oleh keputusasaan. Netra nya memerah menatap nanar wajah pucat permatanya di hadapannya. Rosalynd tidak menepis dan ia juga tidak meringis. Gadis itu hanya membiarkan Kenneth untuk mengobatinya dengan netra yang kosong, seolah tubuh yang disentuh pria itu hanyalah patung tanpa nyawa. Sedangkan, dari sudut gang pelabuhan yang remang-remang, Raymond menyaksikan pemandangan tersebut dengan jemarinya yang terkenal erat. Rahangnya menegang

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 204

    Brak! Genggaman tangan Kenneth sangat kuat sehingga membuat surat perkamen itu sampai hancur. Napas sang Kaisar memburu parah, netranya memerah berkilat panik dan keputusasaan yang luar biasa. Ancaman bunuh diri itu, bukan gertakan main-main. Kenneth paham betul seberapa keras kepalanya wanitanya jika sedang terdesak. Bayang-bayang tubuh Rosalynd yang melompat dari tebing di Oakhaven kembali melukai ingatannya. "Yang Mulia. Bagaimana dengan instruksi armada tempur di perbatasan?" tanya Sean cemas. Ia menjaga jarak karena melihat aura kehancuran tuannya. "Tarik!" desis Kenneth sambil memegangi dadanya yang terasa ngilu. "Tarik seluruh pasukan! Batalkan blokade pelabuhan! Jangan ada satu pun prajurit yang menyentuh warga kota ini!" Sean membelalak kaget. "Ta—Tapi, Yang Mulia, jika Anda menarik pasukan sekarang, Pangeran Raymond bisa saja—" "Aku bilang tarik semuanya, Sean! Jika terjadi sesuatu dengannya di dermaga itu—maka aku sendiri yang akan memenggal kepalamu dan meratakan sel

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 203

    Suasana di sepanjang pelabuhan bawah kota Verona mendadak riuh rendah. Bisik-bisik ketakutan di antara para pedagang ikan dan nelayan seolah menjadi desakan panik. "Tolong. Pangeran Raymond, pertimbangkan lah kembali!" "Kami tidak bisa makan jika jalur vital pelabuhan diblokade!" "Jangan korbankan seluruh warga kota hanya demi satu wanita asing, Pangeran!" Desakan demi desakan cemas dari warga yang berkerumun di luar Balai Obat terdengar semakin nyaring. Raymond yang berdiri mematung di depan pintu dan menatap warga Verona dengan rahang yang mengeras parah. "Cukup!" gertak Raymond dengan berat dan menggelegar. Gertakan itu seketika membuat warga yang riuh tadi bungkam seketika. "Aku tidak akan pernah tunduk pada gertakan sampah bajingan Blackwood itu! Bubar kalian semua dan kembali lah ke rumah masing-masing!" Raymond dengan kasar masuk ke dalam Balai Obat dan membanting pintu kayu dengan keras dan menguncinya dari dalam. Urat-urat di seluruh tubuhnya menegang ketika ia menyanda

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 07

    Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 06

    Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak t

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 05

    Pintu tersembunyi di balik lemari kayu ek berderit pelan. Jantung Rosalynd berdegup kencang, tangannya spontan menarik sisa robekan gaun untuk menutupi tubuhnya.Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa detik keluarlah wanita berpakaian pelayan sederhana melangkah keluar dengan buru-buru."Nona Rosal

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 04

    Matahari pagi itu belum sempat menampakkan wujudnya di ufuk timur, namun pintu paviliun obsidian sudah digedor dengan sangat berwibawa."Perhatian, selir Rosalynd. Ibu Suri dan Permaisuri Agung telah tiba!" seru dayang Martha dari balik pintu kamar.Rosalynd tersentak kaget.Jantungnya berdegup ken

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status