Share

Bagian 42

Penulis: Kirana Larasati
last update Tanggal publikasi: 2026-06-17 09:39:07

Suasana mencekam mendadak kembali menyelimuti lorong rumah sakit Istana setelah dokter selesai membacakan hasil diagnosisnya. Para tetua langsung tersenyum karena adanya bukti valid dari sang dokter.

Sementara itu, beberapa pengawal dari Istana Barat mulai mengepung Rosalynd.

"Anda sudah mendengar sendiri penjelasan medis dari dokter, Yang Mulia! Bukti ini sudah tidak dapat dielakkan!" seru kepala tetua klan dengan suara yang menuntut.

"Ekstrak mawar hitam itu setau saya hanya diproduksi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 220

    Dua jam setelah laporan darurat terdengar di Paviliun Mawar, suasana persidangan agung Kekaisaran Blackwood mendadak mencekam. Ratusan pasang mata pejabat dan petinggi militer berbaris kaku di bawah pilar-pilar megah. Di tengah aula yang dingin, Gavin Von Shanza dan Permaisuri Cassandra berlutut pasrah. Jubah kain kasar yang digunakan oleh tahanan menyelimuti tubuh keduanya yang masih terbelenggu rantai besi pekat. "Ampuni saya, Yang Mulia! Ini semua bukan rencana saya! Pangeran Raymond dan Pangeran Gavin yang telah merencanakan semuanya! Saya hanya diancam saja, Yang Mulia! Dan satu lagi, Anda harus ingat jasa keluarga saya pada Kekaisaran mu!" pekik histeris sambil mencoba merangkak maju, namun dadanya langsung ditahan oleh ujung tombak pengawal. Kenneth duduk di singgasana Naga Hitam tanpa mengalihkan pandangannya. Wajahnya yang tertutup bayangan zirah perang terlihat sedingin es. "Berisik sekali, Cassandra! Darah pengkhianat di tubuhmu membuat suaramu terdengar sangat menjiji

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 219

    Pintu jati berukir milik Paviliun Mawar tertutup rapat dengan dentuman keras yang menggemakan dominasi sang Penguasa. Puluhan prajurit Batalion Ksatria Hitam berbaris membelakangi kamar dan mengunci seluruh akses istana supaya tidak ada satu pun yang berani mengusik. Suasana di dalam kamar seketika berubah panas. Seolah sudah menahan hasrat itu lama sekali, Kenneth merobek gaun sutra yang membalut tubuh Rosalynd hingga kain halus itu terlepas dari tubuh Rosalynd. Kenneth mencengkeram pinggang Rosalynd dengan sedikit kuat, mengangkat tubuh wanita itu mendadak dan menghempaskan nya ke atas meja rias. Beberapa botol parfum dan cermin kaca berdenting dan hancur berkeping-keping seolah memantulkan kegilaan sang penguasa. "Arghhhh! Kau hanya milikku, Rosalynd! Seluruh jiwa mu yang beracun dan ragamu adalah milikku!" pekik Kenneth dengan suara yang lebih mirip hewan buas. Rosalynd tidak memberontak sedikit pun. Jemarinya yang dingin justru mencengkeram erat rambut hitam Kenneth, menarik

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 218

    Bilah pedang Kenneth mengenai udara temaram benteng Selatan. Suara nyaring dan bergema seketika memotong keheningan malam yang mencekam.Bilah besi tajam milik Kenneth berhasil menghantam zirah emas-perak milik Raymond hingga pelindung dada itu terbelah dua dan terlepas menyentuh tanah. Raymond tersentak hingga tersungkur dengan napas yang memburu. Pangeran kedua itu membelalakkan mata dan terkejut melihat kakaknya sudah berdiri di hadapannya.Kenneth menurunkan pedang besarnya yang kini meneteskan darah dari zirah Raymond. Iris mata sang Tiran yang menyala merah oleh oleh amarah gila dan pergulatan batin yang kuat."Aku bisa saja memusnahkan mu detik ini juga, Raymond! Namun, jika aku membunuh mu disini, itu hanya akan membuat bayang-bayang mu menetap selamanya di pikiran Rosalynd. Perempuan itu akan mengingatmu sebagai korban dan aku tak ingin membiarkan mu terkenang di hatinya!" desis Kenneth parau dengan suara dingin.Mendengar itu, Raymond tersenyum getir sambil menyeka darah di

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 217

    Asap pekat berwarna abu-abu membumbung tinggi menutupi langit perbatasan Kadipaten Selatan. Bau hangus dari markas logistik yang dibakar pasukan Gavin bercampur dengan aroma anyir darah yang menyengat di udara. Persekutuan antara Raymond dan Cassandra yang tadinya digembar-gemborkan sanggup meratakan tahta Blackwood, kini hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan jam. Tanpa pasokan senjata dan bahan makanan yang telah musnah dilalap api, barisan prajurit pemberontak panik kehilangan arah dan melarikan diri di bawah bantaian pedang Batalion Ksatria Hitam. "Tahan mereka! Jangan biarkan siapa pun lolos!" pekik Raymond murka. Tangan Pangeran kedua itu gemetar hebat. Zirah emas peraknya kini berubah menjadi merah dan sedikit berlumpur. Ia terus mengayunkan pedangnya membantai prajurit Blackwood, namun napasnya sudah memburu berat. Bahu kirinya menancap anak panah dan beberapa luka tebasan menghiasai dadanya. "Pangeran Raymond! Gerbang belakang benteng berhasil ditembus!" pekik se

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 216

    Derap ribuan langkah kuda Batalion Ksatria Hitam perlahan menghilang. Ibu kota tampak lengang dari luar. Namun berbeda dengan suasana dinding pualam Paviliun Mawar, sebuah gerakan tak terduga baru saja dimulai. Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika Livia berhasil kembali selamat dari pasar bawah ibu kota. Dengan napas yang tersengal-sengal dan pakaian serba gelap, ia segera menghadap Rosalynd. "Surat rahasia telah sampai pada Pangeran Gavin, Yang Mulia. Sesuai dengan dugaan Anda. Pangeran Gavin langsung bergerak membawa sisa pengikut setianya menuju ke jalur logistik perbatasan Selatan untuk menghadang Pangeran Raymond sebelum Yang Mulia Kaisar tiba." bisik Livia pelan. Rosalynd yang berdiri di dekat cermin besar tersenyum simpul. Jemari lentiknya kembali meraba permukaan dingin cincin segel kekaisaran pemberian Kenneth yang melingkar indah di jari manisnya. "Nah, benar kan. Gavin terlalu terobsesi pada kemenangan politik sialannya hingga mengabaikan bahaya di depan matanya se

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 215

    Suasana hening menyelimuti Paviliun Mawar setelah ucapan Komandan Garda Utama bergema dari balik pintu. Cengkeraman Kenneth pada pinggang Rosalynd semakin menguat hingga membuat Rosalynd sedikit meringis. Aroma darah serta amarah bercampur menjadi satu di tubuh Kenneth. Iris mata gelap milik Kenneth berkilat murka. "Ca—Cassandra da—dan Raymond?" desis Kenneth pelan. Sebuah tawa dingin yang mengerikan keluar dari mulut nya. "Dua tikus tanah itu berani menyatukan kekuatan untuk menantang ku?" Kenneth melepaskan pelukannya dari tubuh Rosalynd pelan. Pria itu tegak dan memutar tubuhnya menghadap pintu kamar yang masih tertutup rapat. Sosoknya yang kekar karena terbungkus zirah perang kembali memancarkan dominasi seorang penguasa. "Komandan!" panggil Kenneth dengan suara berat yang menggelegar dan sanggup menggetarkan pualam lantai. "Saya, Yang Mulia!" sahut Komandan Garda Utama dari luar dengan tubuh yang gemetar. "Kumpulkan seluruh Jenderal Utama di Dewan Perang dalam sepuluh men

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 07

    Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 06

    Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak t

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 05

    Pintu tersembunyi di balik lemari kayu ek berderit pelan. Jantung Rosalynd berdegup kencang, tangannya spontan menarik sisa robekan gaun untuk menutupi tubuhnya.Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa detik keluarlah wanita berpakaian pelayan sederhana melangkah keluar dengan buru-buru."Nona Rosal

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 04

    Matahari pagi itu belum sempat menampakkan wujudnya di ufuk timur, namun pintu paviliun obsidian sudah digedor dengan sangat berwibawa."Perhatian, selir Rosalynd. Ibu Suri dan Permaisuri Agung telah tiba!" seru dayang Martha dari balik pintu kamar.Rosalynd tersentak kaget.Jantungnya berdegup ken

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status