Share

Bagian 02

last update publish date: 2026-06-04 11:53:43

Cengkeraman tangan Kaisar Kenneth di dagu Rosalynd terasa begitu kuat sehingga membuat tulang rahangnya linu. 

Rosalynd mendongak pasrah. 

Wajah Kenneth terlihat sangat tampan namun tanpa menyisakan rasa belas kasih. 

Hawa panas yang menguar dari tubuh pria itu seolah mampu mengubah suasana di dalam ruangan yang besar dan mencekam ini. 

Rosalynd dapat merasakan napasnya sendiri tak teratur, bersahut-sahutan dengan irama detak jantungnya yang bertalu gila di balik rongga dadanya.

"S-Saya .... Saya tidak membawa rencana busuk apapun, Yang Mulia," gumam Rosalynd dengan suaranya yang bergetar di ujung tenggorokan. 

Perlahan, kaisar mengendurkan cengkeramannya di dagu Rosalynd. Pria itu tak menjauh, justru membuat jarak diantara mereka semakin tak tersisa. 

Kaisar Kenneth justru menumpu satu lututnya di atas ranjang beludru hitam dan mengurung tubuh mungil Rosalynd di bawah tubuh kekarnya yang besar dan kokoh. 

"Jangan berlagak polos dan memasang wajah suci di hadapanku!" bentak Kaisar Kenneth seraya semakin mendekatkan wajahnya di wajah Rosalynd. 

"Demi Tuhan! Saya tidak pernah memiliki niat sejahat itu dengan anda! Saya juga seorang korban disini, Yang Mulia." Balas Rosalynd dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.

"Kau bilang korban? Seorang wanita dari klan Shanza tak akan pernah sudi menjadi korban tanpa ada keuntungan yang diincarnya!" Cibir Kenneth dengan senyum meremehkan.

"Saya tidak peduli dengan takhta, Yang Mulia." Rosalynd berusaha terus memohon untuk dilepaskan.

Entah dapat kekuatan dari mana, Rosalynd refleks mendorong dada bidang Kenneth yang sekeras batu ketika dirasa wajahnya terlalu dekat karena mengintimidasi akal sehatnya. 

Gaun sutra transparan yang melekat di badannya sama sekali tak mampu menghalangi hawa panas yang mulai menguasai sang Kaisar.

Rosalynd merasa dirinya telah ditelanjangi paksa oleh sang Kaisar.

"Berani juga kau melawanku, Rosalynd?" Desis Kenneth. Suaranya merendah dan sarat akan ancaman yang berbahaya. 

Tindakan berani yang dilakukan oleh Rosalynd membuat amarah menyambar di mata Kenneth. 

Kenneth menyergap kembali kedua pergelangan tangan Rosalynd dengan satu tangan besarnya yang kuat, menguncinya kuat di atas kepala, lalu kembali menghempaskan tubuh perempuan itu ke atas tumpukan bantal beludru yang empuk.

Tubuh tegap Kenneth langsung menindihnya, mengunci pergerakan kaki Rosalynd hingga gadis itu tak dapat berkutik atau melarikan diri sama sekali.

"To—tolong. Le-lepaskan Saya, Yang Mulia! Ji—jika anda begitu membenci suku saya, mengapa anda tidak membunuh Saya saja sekarang?! Rosalynd menantang Kenneth dengan napas yang terengah-engah dan langsung menatap sepasang mata elang di atasnya.

"Membunuhmu? Sebenarnya itu terlalu mudah dan menyenangkan sepertinya untuk klanmu," jawab Kenneth. 

Tatapannya turun perlahan, menyusuri garis leher Rosalynd yang perlahan menegang ketakutan, setelah itu jatuh pada lekuk tubuh yang tercetak jelas di balik kain sutra transparan mirip warna kulit yang dikenakannya.

“Aku tidak sudi menyentuh pelacur sepertimu.”

"Lalu, apa yang anda inginkan pada Saya jika tidak ingin membunuh Saya?!" Selidik Rosalynd dengan tubuhnya yang gemetar karena merasakan sentuhan kulit nya dan kulit Kenneth bersentuhan.

"Aku akan menghancurkan kesombongan kakakmu melalui dirimu," bisik Kenneth lagi. Kali ini bibirnya menyentuh daun telinga Rosalynd dengan hembusan napasnya yang hangat dan mampu membuat bulu kuduk gadis itu meremang. 

"Jika Cassandra berpikir dia bisa mengendalikan tahtaku dan memanipulasi keputusanku dengan mengirim adik cantiknya ini, dia salah besar."  Tegas Kenneth pada Rosalynd yang sudah ketakutan setengah mati.

"Aku justru akan mengambil apa yang menjadi mahkota dari tubuhmu. Aku akan menggunakan rahimmu demi menghadirkan ahli waris yang diminta oleh Ibu Suri."

"Ja-jangan, Yang Mulia.... Ku Mohon, jangan lakukan i-ini...." Rosalynd menatap nanar Kenneth, berharap dapat dilepaskan.

"Tapi ingat, Rosalynd. Kau tidak akan pernah mendapatkan cinta, kehangatan serta rasa hormat!" Tegas Kenneth dengan kejam.

Kenneth menundukkan kepalanya, melumat bibir Rosalynd dalam sebuah ciuman yang kasar dan penuh ketegasan.

Rosalynd yang mendapat perlakuan itu terbelalak. 

Air matanya menetes membasahi bantal beludru ketika merasakan ciuman yang sama sekali tidak dilandaskan oleh cinta. 

Penaklukan fisik yang kejam dengan cara Kenneth menghukum Cassandra melalui tubuh adiknya, sekaligus menegaskan bahwa mulai malam ini, harga diri dan tubuh Rosalynd telah sepenuhnya dimiliki oleh Kenneth.

"Lepas.... Yang Mulia...." Rintih Rosalynd di sela-sela ciuman mereka yang menyesakkan.

Bersambung 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 239

    Cahaya keemasan matahari pagi menyusup melalui celah tirai sutra Paviliun Mawar. Kenneth terbangun lebih dulu. Pria itu menyandarkan kepalanya pada siku tangannya, kemudian menatap lekat wajah anggun Rosalynd yang masih nyenyak di dekapan nya. Senyum miring yang sangat hangat terukir di bibirnya ketika kenangan manis semalam kembali terlintas di kepala nya. Jemari Kenneth yang usil mulai memainkan anak rambut yang menutupi dahi cantik istrinya. Kemudian memberikan kecupan hangat. "Selamat pagi, Permaisuri ku," bisik Kenneth sangat pelan di dekat telinga Rosalynd. Rosalynd menggeliat pelan. Lengannya spontan memeluk Kenneth lebih kuat sebelum mengerjapkan netranya perlahan. "Emthhhhh. Selamat pagi, Tuan." gumamnya dengan suara khas bangun tidur. Kenneth terkekeh. Ia mencondongkan badan untuk mengecup bibir manis istrinya. Namun, belum sempat bibir mereka menyatu, suara riuh celoteh pecah dari arah boks bayi. "Abbooo! Ba- Ba-Ba!" "Gaa-gaaa-gaaaa! Hihihi!" Rupanya, Valerius dan

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 238

    Suasana malam tenang di atas Istana Utama Kekaisaran Blackwood. Riuh tawa, jeritan bahagia, dan celotehan kecil yang sepanjang hari memadati setiap sudut Paviliun Mawar perlahan berhenti menjadi keheningan yang syahdu. Hembusan angin yang pelan, membawa aroma mawar yang sedang bermekaran indah di taman bawah. Di kamar tidur utama yang hangat, Valerius dan Rosalie sudah terlelap di dalam boks bayi ukiran perak mereka. Kenneth keluar pelan menuju balkon peraduan Utama. Pria gagah itu telah menanggalkan seluruh atribut Kekaisaran nya. Yang tersisa hanya celana kain hitam dan kaus putih longgar. Di tangannya, ia membawa dua cangkir teh herbal yang masih mengeluarkan asap ke udara. Rosalynd sedang berdiri bersandar pada pagar pembatas balkon dan membiarkan rambutnya terurai indah diterpa angin malam. Manik matanya menatap pendar bintang yang bertebaran di langit Kekaisaran. "Anak-anak sudah benar-benar tidur, Sayang?" selidik Kenneth lembut sambil menyerahkan salah satu cangkir pada i

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 237

    Tak terasa, lima bulan berlalu sejak sepasang penguasa Blackwood itu menikmati kehangatan sore di rumah kaca. Paviliun Mawar kini diwarnai dengan suara tawa dan celotehan-celotehan mungil yang tak pernah berhenti. Valerius dan Rosalie telah tumbuh menjadi sepasang bayi berusia lima bulan yang sangat menggemaskan, aktif berguling dan mulai memperlihatkan kepribadian unik mereka masing-masing. Di atas karpet bulu tebal di ruangan tengah, Kenneth terlihat duduk dikelilingi oleh beberapa berkas penting. Namun, fokusnya bukan pada dokumen di tangannya, melainkan fokusnya pada dua sosok mungil di hadapannya. Rosalie sedang asik menepuk-nepuk lutut kekar Kenneth sambil mengeluarkan celotehan yang tak berarti, sedangkan sang kakak Valerius sibuk merangkak pelan mendekati Rosalynd. "Emth Tuan. Kalau misalkan Anda terus bekerja sambil memangku putriku, pekerjaan itu tidak pernah selesai," tegur Rosalynd sambil melipat pakaian bayi. Kenneth mendongak, kemudian mengusap pelan puncak kepala

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 236

    Asap tipis yang menguar dari air hangat di kamar mandi perlahan menghilang ketika pintunya kembali terbuka. Kenneth keluar dengan celana panjang dan kemeja putih longgar yang kedua kancing atasnya sengaja dibiarkan terbuka. Hal itu membuat dada bidang Kenneth terlihat.Manik mata merah gelapnya langsung tertuju pada Rosalynd yang sedang duduk santai di sofa sambil menyisir rambutnya yang bergelombang."Jadi— Kau berani menggodaku soal malam itu, Sayang?" Kenneth melangkah mendekat dengan senyum miring yang penuh intrik. Langkahnya tegap tanpa suara seketika mengurung Rosalynd di sofa.Rosalynd yang sedang memegang sisir seketika menghentikan aktivitasnya. Wanita itu mendongak dan mendapati jarak wajah suaminya yang kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya."A—anak-anak sedang tidur di boks nya, Tuan." cicit Rosalynd pelan, ia mendadak gugup melihat binar godaan di netra Kenneth.Kenneth merendahkan tubuhnya, menumpukan kedua lengan kekarnya di sandaran sofa, tepat di kanan-kir

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 235

    Pintu kamar mandi tertutup rapat menyisakan suara gemericik air yang samar-samar terdengar dari balik pintu.Kenneth yang masih terduduk di tepi peraduan menghela napas panjang sambil merapikan kemejanya yang agak kusut. Namun, ketenangan yang ia harapkan pupus.OEKKKK! OEKKKK!Rosalie tiba-tiba terbangun dan mulai menangis. Lengkingan putri kecil itu seketika memicu Valerius di sebelahnya untuk ikut menyuarakan protes yang tak kalah nyaring. Kedua bayi kembar itu saling bersahut-sahutan dan memecah ketenangan peraduan Paviliun Mawar pagi-pagi buta.Kenneth tersentak kaget. Sang Tiran melompat berdiri seolah baru saja mendengar dentuman meriam perang musuh."Hei! Hei! Kenapa terbangun bersamaan seperti ini?!" gumam Kenneth panik setengah mati sambil menghampiri boks bayi."Sayang! Anak-anak mu bangun bersamaan!" pekik Kenneth sedikit kencang ke arah pintu kamar mandi "Tuan! Saya baru saja bilas badan! Tolong, jaga sebentar. Itu anak anak Anda juga!" sahut Rosalynd dari dalam kamar ma

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 234

    Dua minggu sejak hari Upacara Pengenalan di aula Utama. Kehidupan di paviliun Mawar bergulir dengan irama baru yang jauh lebih hangat. Meskipun kerap diwarnai oleh drama-drama kecil di pagi hari.Rosalynd yang fisiknya telah berangsur pulih, kini sibuk bolak-balik di sekitar ranjang peraduan. Di lengan kirinya, Valerius sibuk merengek meminta susu, sementara tangan kanannya menepuk pelan tempat tidur Rosalie menggeliat pelan."Anak pintar. Sebentar ya, Jagoan." bisik Rosalynd sangat halus sambil memfokuskan seluruh perhatian nya pada si kembar.Sementara Rosalynd masih sibuk dengan anak-anaknya, Kenneth duduk bersedekap. Manik mata yang tajam milik Kenneth menatap lurus ke arah istrinya dengan alis bertaut kencang dan bibir yang ditekuk tipis."Rosalynd," panggil Kenneth dengan suara berat yang memang sengaja diberatkan."Hemth? Ada apa Tuan? Ah sebelumnya, bisakah Anda ambilkan kain bedong bersih di atas meja?" jawab Rosalynd cepat tanpa berpaling sedikit pun dari Valerius.Kenneth m

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 01

    "Kaisar malam ini akan datang. Bersiaplah dan jangan berani-berani membuat kesalahan jika kau masih ingin hidup dengan tenang.” Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.Seluruh dunianya seolah hancur saat kakaknya sendiri, Permaisuri Cassandra, menyuruhnya untuk tidur dengan suaminya sendiri…Itu

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 07

    Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 06

    Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak t

  • Dalam Sentuhan Candu Yang Mulia Kaisar   Bagian 05

    Pintu tersembunyi di balik lemari kayu ek berderit pelan. Jantung Rosalynd berdegup kencang, tangannya spontan menarik sisa robekan gaun untuk menutupi tubuhnya.Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa detik keluarlah wanita berpakaian pelayan sederhana melangkah keluar dengan buru-buru."Nona Rosal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status