Masuk
Setelah hampir dua bulan Sarah melupakan siapa dirinya, akhirnya wanita berwajah lembut itu sadar kembali. Ironisnya hari itu Zubaidah sang madu juga kebetulan sedang melahirkan sehingga demi menghindari pertemuan dengan sang suami, Sarah dibantu keluarga juga Dr. Wan akhirnya meninggalkan rumah sakit secepatnya.
“Kita mau ke mana? Bukanya harus menunggu Bayi Putri datang?” Sarah bingung karena sempat mendengar Laras menyuruh suaminya untuk membawa Putri ke rumah sakit tetapi tiba-tiba justeru terburu-buru bersiap keluar dari ruang rawatan.
“Rumah sakit tidak baik untuk bayi. Kita akan pulang dan bertemu di rumah karena kau sudah sembuh. Bagaimana menurutmu?” tanya Laras sambil tetap berkemas.
“Aku Setuju.”
“Ok, ayo cepat cepat ganti baju pasiennya dengan bajumu sendiri.” Sarah hanya menuruti kata-kata Laras dengan rasa heran yang berusaha diabaikan.
Lebih heran lagi karena mereka pulang menggunakan mobil Dokter Wan dan membawa beberapa peralatan. Hanya saja ketika hendak bertanya rasa kantuk lebih dulu menguasainya. Anton segera membatu istrinya mengatur pembaringan Sarah, lalu menatap pria yang diam-diam menyintikkan sesuatu ke tubuh pasiannya itu.
“Tenanglah, seperti ini lebih baik. Kebingungannya akan mengganggu ingatan yang baru saja datang.” Semua hanya menggangguk mengerti.
Pagi itu Dokter Wan berkunjung ke rumah sewa untuk melakukan pemeriksaan rutin.
“Maaf jadi menyusahkan Dokter. harus memeriksa ke rumah,” kata Ibu yang menyambut kedatangannya dengan tak enak hati.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya sama sekali tak merasa keberatan melakukannya,”jawab Dokter tampan itu sambil tersenyum tulus.
“Jam berapa kemarin terbangun?” Ibu paham siapa yang dimaksud.
“Sore. Alhadulillah langsung sibuk dengan bayinya dan tampaknya tak mempermasalahkan kejadian kemarin.”
“Syukurlah.”
Mata Ibunda Sarah berkaca-kaca karena haru.
“Mari, Dok, saya antar ke dalam. Sarah sudah menunggu,” kata Ibu yang hanya dijawab dengan senyum.
Pagi itu Sarah tampil segar dengan daster berbunga-bunga besar berwarna merah hati. Senyumnya tampak lepas memandang dua orang yang datang ke arahnya. Sementara Dokter Wan yang sempat tertegun sejenak segera berdehem menetralkan suasana.
“A-hemm. Apa kabar Bu Sarah?”
“Assalamualaikum, Dok,” sapa Sarah bersamaan membuat lelaki tampan berwajah putih itu tampak menjalar semburat merah. Gugup.
“Wa-waalaikumusalam.”
Dokter Wan merutuk dalam hati kenapa bisa mati gaya dan bertingkah bodoh hari ini. Sementara wanita tua yang hadir di antarta mereka hanya tersenyum menyaksikan mereka berdua.
“Baiklah, silakan dimulai pemeriksaannya. Saya akan membuat minum, biar bapak saja yang menemani,” katanya sambil berlalu ke dalam.
Suasana menjadi sedikit canggung, untungnya suara bapak segera terdengar ceria memanggil Dokter Wan. Mereka kemudian berbincang hangat sambil memeriksa dan menanyakan beberapa hal pada Sarah sesekali.
Selesai pemeriksaan, Dokter Wan kembali ke ruang tamu bersama Bapak sementara Sarah ke dapur mencari ibunya. Tampak wanita berjarik dengan kerudung lilit melingkupi kepala itu sedang sibuk menginstruksikan beberapa hal pada Bibi di ruang makan.
“Kenapa sibuk sekali, Bu?”
“Kita akan mengajak, Nak Dokter sarapan di sini.”
“Ssudah sampa sini artinya sudah sarapan di rumahnya, Bu.”
“Tawari saja barangkali berkenan.”
“Tapi , Bu … mungkin harus segera berangkat dinas,” kata Sarah masih tampak keberatan.”
“Ada apa denganmu? Dokter Wan begitu baik. Kita hanya membalasnya. Bagaimanapun ini sedang di rumah bukan di rumah sakit.” Tatapan Ibu yang menyelidik membuat Sarah buang wajah lalu menunduk. Entah mengapa perasaannya tidak nyaman saat doter tampan itu menatapnya. Seperti ada sesuatu yang berbeda tapi Sarah tak tahu apa itu. Dia berpikir karena statusnya.
“Ibu, Sarah wanita bersuami. Sepertinya kami belakangan menjadi sangat dekat dan itu membuat perasaan Sarah tidak nyaman,” kata Sarah dengan wajah sendu.
Ibu menarik napas panjang dan mengelus punggung putrinya tanpa mnengatakan apa-apa. Kemudian kembali menyibukkan diri bersama Bibi. Sarah mendesah dan kembali ke kamar melihat bayi Putri yang kembali tertidur selepas berjemur.
Sementara di dapur Ibu dan Bibi saling pandang lalu mengikuti langkah Sarah dengan tatapan prihatin.
“Ndoro, …”
“Jangan tanya apa-apa, Bi. Saya saja bingung. Biar itu jadi urusan Bapak,” kata ibu sambil mengibaskan tangan dan kembali menyusun segala macam perlengkapan makan di meja.
Sarah mendapati putri kecilnya sedang bermain sendirian sambil menggigit kaki. Bibir wanita itu merekah sambil bergegas. Tawa Bayi Putri, selalu menimbulkan rasa bahagia. Satu hal yang baru disadari. Putri kecil ini sumber cahaya di antara kemelut yang menyertai kehadirannya.
“Sayang … kau sudah bangun?
Kenapa nggak panggil mama, hemm?”
“Ma ma ma,” celoteh Bayi Putri seolah menanggapi pertanyaan Sang Bunda.
Ketika berjalan ke depan sambil menggendong putrinya Sarah tertegun mendengar Bapak dan Dokter yang selama ini merawat dirinya dengan sangat telaten itu tampak sedang mendiskusikan hal yang pentinng dan serius.
Bersambung …
Bab 17. Amarah Itu Masih AdaSuara tangis dari kamar Sarah membuat kedua orang tuanya bergegas menghampiri. Bayi Putri terbangun dan merengek dengan suara melengkling. Terdengar Sang Bunda sedang berusaha menenangkannya. Mamun nampaknya bayi mungil itu sedang tak mau menurut.Tok! Tok!Suara pintu yang diketuk mengalihkan perhatian bayi mungil itu. Namun setelah berhenti sebentar suaranya tangisnya kembali terdengar.“Sarah. ibu masuk, ya.”“Masuk saja, Bu.”“Kenapa cucu, eyang? Sini biar ibu gendong.” Ibu mengambil alih Bayi Putri dari gendongan Sarah. Alih-alih diam Putri malah meliukkan badan me
“Assalamualaikum!”Seruan Salam dari pintu depan mengalihkan perhatian Bapak dan Dokter Wan yang sedang duduk mengobrol. Sambil mengangkat tangan tanda menjeda obrolan lelaki dengan sarung dan koko itu beranjak menghampiri daun pintu yang memang tidak ditutup.“Waalaikumusalam ….Wah Pak RT, silakan-silakan,” kata Bapak ramah sambil mempersilakan tamunya masuk.“Silakan duduk, Pak.” Dokter Wan bangkit dan meyalami tamu yang baru saja datang lalu mempersilakan duduk.Sikap Dokter Wan yang serupa tuan rumah membuat suami Bu Siti itu tampak canggung dan sungkan. Tatapannya mengarah pada Bapak dengan wajah mengisyaratkan tanya.“Silakan duduk dulu,Pak,” kata Bapak mengabaikan rasa ingin tahu tamunya.Pak Zulkarnain yang merupakan ketua RT di lingkungan Bapak duduk dengan sedikit gelisah. Penampilan Dokter di hadapannya itu sangat menonjol dengan karisma kuat membuatnya bingung bagaimana memulai percakapan. Untungnya Bapak sangat paham dan segera mengakhiri suasana kurang nyaman itu.“Nak
Rumah bapak dan ibu Sarah tampak lebih tenang sore ini. Keberadaan Anton dan keluarga kecilnya kemarin membuat beberapa tetangga mampir untuk menyapa sekaligus menjenguk Sarah dan keluarga karena lama di kota sana dan diketahui pergi untuk menjaga Sarah pasca melahirkan. Sebagian dari mereka menjenguk untuk mengetahui apakah Sarah sudah sehat kembali dan ingin melihat anak yang baru dilahirkannya. Namun sebagian dari mereka adalah untuk mengorek berita untuk bekal obrolan kala duduk bersama bergosip dengan yang lain. Penyebabnya Sarah pulang kembali ke kampung halaman tanpa sang suami sedangkan saat hamil juga sendirian di rumah orang tuanya. Anton dikenal karena memang asli warga desa itu dan sebagian penduduk terutama mereka yang sepuh tahu. Namun tamu lain dan ternyata seorang dokter membuat wanga desa sangat penasaran. Apa lagi saat mobil Anton sudah tidak ada dan dipastikan kembali ke kota sana, kendaraan sang dokter masih anteng parkir di halaman samping keluarga Sarah. Sontak
Hari kunjungan berakhir menjelang waktu asyar. Para Santri harus shalat berjamaah bersama para pengampu mereka. Dengan berat hati Sarah melepaskan kedua putranya kembali ke asrama. Lalu mereka kembali ke area parkir. Cuti Anton telah selesai dan esok hari harus kembali ke kantor, jadi mereka langsung berpisah karena keluarga kecil itu akan mengambil jalur jalan yang berbeda. Bapak dan Ibu pulang bersama Dokter Wan di mobilnya bersama Sarah dan bayi Putri.“Apa tidak merepotkan, Nak Dokter?” tanya bapak sungkan.“Saya bisa pesan kendaraan online, Dok,” kata Sarah menimpali.Dokter Wan tampak bimbang. Misinya datang jelas belum mendapatkan kesempatan untuk disampaikan pada wanita di hadapannya itu. Tanpa sadar tatapannya melembut ke bawah di mana sosok kecil masih meringkuk nyaman di lengan besarnya yang hangat. Melihatnya membuat Sarah jadi serba salah. Bayinya itu sulit dilepaskan dari pria yang dipanggilnya Papa. Tatapan sendi mata Sarah membuat ujung bibir Dokter tampan itu sedikit
“Assalamualaikum!” Beberapa Santri mendekati keluarga Sarah dan mengangsurkan tangan untuk menyalami semuanya. Syamil dengan antusias memperkenalkan keluarga pada teman-temannya. Suasana canggung antara Sarah dan Dokter Wan tersamar begitu saja. Mereka melanjutkan dengan makan bersama dan bercerita. Secara garis besar kedua anak lelaki Sarah betah di tempat belajar baru meski jauh dari orang tua. Si pendiam Rayyan lebih banyak mengangguk mengiyakan setiap celoteh adiknya tentang asyiknya sekolah berasramah. Punya banyak teman yang membersamai dalam suka dan duka baik siang maupun malam membuat mereka sangat bersyukur menemukan sekolah baru, pengalaman baru juga teman baru yang lebih bermakna. Menghadapi banyak hal bersama seperti mengatasi rasa kangen pada keluarga. Persamaan rasa sebagai yang jauh dari ayah dan bunda membuat mereka menjadi saling menjaga dan saling mengisi setiap kekososngan. Seperti ketika teman-temannya di jenguk wali mereka, Syamil dan Rayyan juga kerap diajak ber
Pada akhirnya Sarah dan Dokter Wan duduk di jok depan mobil yang mereka kendarai. Bayi Putri kekeh tak melepaskan sosok yang selalu dipanggilnya, Papa. Bayi mungil itu bahkan tetap memegang ujung kemeja Dokter War sepanjang jalan. Sang ibu pun hanya bisa pasrah menghadapi tingkah putri kecilnya kali ini.“Maaf,” gumamnya jengah sambil melirik lelaki di sampingnya yang hanya dibalas dengan senyuman hangat.Kendaraan mereka terah berbelok dari jalan raya memasuki kawasan hijau dan daerah berbukit. Pohon rindang di sepanjang jalan membuat suasana sangat asri dan menyenangnkan. Makin ke dalam mulai terlihat jejak-jejak tangan terampil. Tempat duduk dinaungi pohon rindang dan juga beberapa bangunan joglo berbentuk saung yang berjejer mengarah ke bangunan induk. Dengan selingan taman kecil berpetak dengan bunga dan dan juga sayuran hijau sungguh memanjakan mata.Mobil Anton meluncur dinamis memasuki area parkir yang kemudian diikuti Dokter Wan dari belakang yang memarkirkan kendaraan tepat







